Secret Mission

Secret Mission
Baby Ryan


__ADS_3

Kalo ada tipo2 harap maklum. Ngetiknya sambil nahan migren ini. Up eps selanjutnya jamnya gak tentu ya. Tapi up hari ini kok. Tunggu aja. Yg komennya belom dibales sabar ya. Tengkiyuw Lele padamu💋💋💋


---- back to Story :


Baik Nandra ataupun Axton terlihat pucat selama perjalanan menuju ke Dermaga penjemputan.


Tim Baracuda mengamankan evakuasi dengan speedboad di kanan dan kiri yacht, melindungi Axton serta lainnya dari segala jenis serangan.


Yuki dan Torin panik karena Axton sudah berdarah hebat. Mereka berusaha menolong Axton sebisa mungkin dengan perlengkapan medis seadanya.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Tuan, bertahanlah. Kita sebentar lagi sampai," ucap Torin menenangkan sembari menekan luka tembak di punggung Axton di mana Sang Casanova di dudukkan di geladak kapal.


"Jangan cemaskan aku. Bagaimana, arg ... hmpf, bagaimana keadaan Nandra?" tanya Axton karena ia tak bisa melihat Nandra yang duduk di ruangan dalam kapal.


"Aku akan melihatnya," jawab Yuki cepat segera berdiri dan masuk ke dalam.


Nafas Axton tersengal. Dua anak buah Axton ikut panik mencoba menyelamatkan Tuannya.


Panggilan-panggilan terus dilakukan agar yacht mereka bisa selamat ke dermaga terdekat dan penjemputan siap.


"Axton! Nandra akan melahirkan! Air ketubannya sudah pecah!"


"WHAT?!" pekik empat lelaki yang mendengar kabar mengejutkan dari Yuki bersamaan.


Axton berusaha bangun dan Torin dengan sigap menolongnya. Hingga tiba-tiba, terdengar suara helikopter mendekat ke yacht. Yuki keluar untuk mengecek keadaan. Ternyata itu Arjuna dan timnya.


Yuki melambaikan tangan dan memberi kode dengan tangannya bahwa mereka membutuhkan bantuan. Arjuna yang berada di dekat pintu mengangguk mengerti.


"Daratkan di dermaga. Kita akan mengangkut Axton dan Nandra ke mansion ayah. Minta semua petugas medis bersiap. Nandra akan melahirkan," ucap Arjuna serius dan semua orang dalam helikopter mengangguk paham.


Naomi segera menghubungi mansion Han. Para petugas medis sudah bersiap begitu mendapat kabar mengejutkan dari Lysa melalui surat Tobias, meski informasi tersebut dinyatakan palsu.


Hingga akhirnya, helikopter telah mendarat. Yusuke Tendo dan Arjuna berlari mendekati Yacht. Naomi menjaga Rohan yang masih dalam pengaruh gas halusinasi dosis rendah.


Kedua tangannya yang diborgol dikaitkan pada besi atap helikopter agar tak kabur. Naomi menatap lelaki India itu tajam dengan pistol di arahkan ke tubuhnya.


"Ayo, cepat! Cepat!" teriak Arjuna lantang saat ia bersama Yusuke membopong Nandra bersamaan ke dalam helikopter.


"Hati-hati, hah," pinta Axton yang ikut digendong oleh Torin karena sudah tak mampu berlari.


Yuki berlari lebih dahulu dan menyiapkan matras di lantai helikopter untuk merebahkan Nandra karena ia sudah tak bisa duduk lagi. Nandra tak sanggup menahan rasa nyeri di perutnya.


"Bertahanlah, Nandra. Sebentar lagi kita akan sampai," ucap Axton ikut duduk di sampingnya menemani calon Ibu dari anaknya.


Pandangan Rohan tertuju pada Nandra yang mencengkeram kuat tangan Axton menahan sakit hingga keningnya berkerut.

__ADS_1


Yuki dan Naomi ikut panik karena mereka belum pernah berurusan dengan wanita yang akan melahirkan.


"Oh, perutku mendadak ikut nyeri," ucap Naomi memegangi perutnya seakan ia yang akan melahirkan.


Arjuna tersenyum melihat Naomi pucat dan berusaha untuk tetap tenang. Yuki pun demikian, ia sampai berkeringat dan bibirnya kering karena melihat Nandra kesakitan sembari memegangi perutnya.


"Axton ... sakit ...," rintih Nandra hingga wajahnya memerah.


"Ya, aku tahu, aku tahu. Jangan takut, aku akan menemanimu. Kau akan baik-baik saja," jawab Axton sembari mengelus kepala Nandra dan menghapus keringatnya.


Seketika, semua orang terdiam dan menatap Axton lekat. Torin yang duduk di belakang Axton sembari menekan lukanya menggeleng pelan.


Orang-orang terlihat panik karena berulang kali Torin mengganti kain yang menutup luka Axton di punggungnya.


Tubuh Axton mulai gemetaran dan dingin. Orang-orang cemas karena Axton mulai terlihat lesu. Pandangannya mulai meredup seperti orang akan pingsan.


Yusuke memegangi kedua lengan Axton agar ia tak roboh. Nandra yang sedang menahan sakit di perutnya hanya bisa memejamkan mata dan berulang kali berusaha mengatur nafasnya agar ia tak panik.


Semua orang terlihat tegang akan situasi ini. Tak pernah mereka melihat Axton selemah ini.


Bahkan suntikan yang Torin berikan saat di kapal sebagai pereda nyeri dan anti infeksi di sekitar luka tembak Axton, seperti tak memberikan pengaruh banyak untuk kesembuhannya.


Obat-obat itu hanya memperlambat kematiannya saja. Terlihat wajah-wajah yang mulai berusaha untuk merelakan Sang Casanova di mana lelaki itu masih terus berusaha tetap hidup sampai melihat anaknya lahir, sesuai janjinya.


"Tuan, kita sudah sampai!" teriak Lopez dan praktis, perasaan lega menghampiri hati semua orang.


Namun, saat Axton dan Nandra akan dipisahkan, Sang Casanova menolak.


"Biarkan aku melihat bayiku lahir. Aku ingin melihatnya," ucapnya penuh permohonan menatap Jeremy tajam sembari memegang tangannya.


Jeremy menoleh ke arah Dokter yang akan menindak Nandra. Mereka mengangguk dan Jeremy pun menginstruksikan kepada perawat untuk membawa Axton di ruang yang sama.


Axton dan Nandra dibaringkan di sebuah ranjang khusus pasien. Pakaian Axton dilepaskan dan hanya disisakan boxer-nya saja. Keduanya berusaha menahan sakit hingga keringat hebat membanjiri tubuh mereka.


Axton dipakaikan masker oksigen karena ia mulai kesulitan bernafas. Jeremy menyuntikkan pereda nyeri agar Axton tenang.


Jeremy juga menyuntikkan bius lokal di sekitar lukanya. Ternyata, benda tajam tersebut tersangkut makin dalam dan hampir mengenai organ vital karena Axton terlalu banyak bergerak selama proses evakuasi.


Jeremy dan tim medis berusaha agar tak membuat Axton koma karena proses pengambilan peluru yang tersangkut.


Peluru tersebut tak bisa diambil dengan tabung penyedot seperti yang dilakukan pada Yena dan Red kala itu.


Transfusi darah juga dilakukan karena Axton sudah kehilangan banyak darah. Semua petugas medis terlihat begitu sigap menindak dua pasien mereka yang nembutuhkan pertolongan cepat.


"Hah ... Nandra ... Bagaimana anakku?" tanya Axton sembari melepaskan masker oksigen.


"Axton, tenanglah. Kami sedang mengobatimu. Peluru di kaki dan punggungmu harus dikeluarkan. Sudah, tenanglah. Nandra baik-baik saja," jawab Jeremy merebahkan Axton lagi karena lelaki itu nekat bangun.

__ADS_1


Axton yang lemas kembali berbaring. Petugas medis di buat bingung karena Axton terus bergerak. Axton ngotot ingin melihat kelahiran puteranya.


Akhirnya, tubuh Axton dimiringkan karena ia bersikeras ingin melihat Nandra yang berada di ranjang lain. Ia sangat mencemaskan keadaannya.


Axton bisa melihat Nandra berusaha sakuat tenaga untuk melahirkan bayinya. Entah kenapa, Axton tak tega melihat Nandra sampai kesakitan hingga otot-ototnya menegang.


Axton sampai tak menyadari ketika petugas medis sedang berusaha mengeluarkan peluru di punggungnya.


Namun ternyata, peluru tersebut tersangkut cukup dalam dan harus dibedah. Jeremy yang melihat hasil pemindaian dari alat khususnya itu berkerut kening.


"Axton. Kau harus dioperasi. Percayalah jika bayimu akan lahir dengan selamat. Kau ...."


"Arrggghhh!" teriak Nandra lantang yang mengejutkan Sang Casanova dan Jeremy serta petugas medis yang menolong Axton.


"Oakkk!"


"Oh!" pekik Axton saat mendengar suara bayi menangis.


Ia meminta semua orang menyingkir karena ingin melihat bayinya. Axton tersenyum ketika bayinya yang masih berlumuran darah diberikan pada Ibunya dan kini di dekapnya.


Nandra menoleh dan tersenyum pada Ayah sang bayi. Axton meneteskan air mata. Ia sangat terharu. Ia tak menyangka satu-satunya dari keturunan Giamoco lahir di saat terakhirnya.


"Biarkan ... Biarkan aku menggendongnya, please," pinta Axton dengan sangat meski kedua tangannya gemetaran.


Nandra mengangguk dengan air mata. Ia meminta kepada petugas medis untuk memberikan bayinya pada Axton.


Jeremy mengangguk mengizinkan. Petugas medis yang mengobati Axton gagal untuk kesekian kali menolong pasiennya itu.


Perlahan, Axton yang berbaring lemas dengan wajah pucat dan tubuh gemetaran, menerima bayinya yang terbungkus handuk.


Axton terlihat gugup ketika perawat wanita meletakkan bayi Ryan di atas dadanya. Axton memberanikan diri memegangnya dan menatapnya lekat.


Axton tersenyum lebar dan seperti tertawa meski suara tawanya tak terdengar. Axton mencium kepala bayinya lembut hingga matanya terpejam.


Bayi itu pun seperti tahu dan merasa nyaman dalam pelukan sang Ayah. Semua orang terdiam.


Mereka yang sudah mengenal Axton tak menyangka jika Sang Casanova yang dikenal tak suka anak kecil kini berani menggendong bahkan menciumnya.


Nandra menangis haru. Ia tak menyangka jika Axton menepati janjinya. Ia lega karena bisa melahirkan dengan selamat meski tadinya ia ketakutan setengah mati jika keguguran dan Axton meninggal saat perjalanan.


Cukup lama Axton mencium kepala anaknya dengan mata terpejam sembari memeluknya erat.


Perawat wanita merasa jika Axton sudah cukup bersama anaknya karena bayi mungil itu harus segera dimandikan.


Namun, saat perawat itu akan mengambil bayi Ryan, tiba-tiba wajahnya serius seketika.


"Sir? Sir? Tuan Axton?" panggilnya panik saat merasakan Axton diam saja tak bergerak dan seketika bayi Ryan menangis.

__ADS_1


"Axton? Axton!" teriak Jeremy panik.


__ADS_2