Secret Mission

Secret Mission
Next Session


__ADS_3

Hallo ketemu di sini dah. Baiklah, jangan lupa vote poin, koin dan vocer beralih ke novel SM ya biar semua novel karya Lele kebagian jatah dipromosiin. Harap maklum aja kalo nemu tipo tipis-tipis. Tak ada manusia yang sempurna.


Boleh kasih koreksi malah Lele sangat berterima kasih, tapi kalo isi komen menggurui dan sotoy maratoi, lele cuma bisa ketawa aja dan siap2 lele bales komen sepanjang struk belanjaan. Kekekeke. Makasih atas dukungan kalian semua selama ini. Lele padamu^^


-------- back to Story :


William melaju kencang mobilnya menuju Boston, kediaman Adrian Axton. Salah satu mafia senior dari jajaran 13 Demon Heads.


Sebelumnya, William berhasil menyelesaikan kasus dengan anggota keluarga mafia dengan level lebih rendah dari para anggota dewan, Julius Adam.


Kini, William mulai terbiasa dengan gaya para mafia tersebut meski tak bisa dipungkiri, kali ini lawannya adalah keluarga Sia di mana agent CIA itu masih sangat mencintainya.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Maafkan aku, Sia. Sungguh, aku tidak peka dengan kondisimu saat itu yang menolak menikah denganku. Aku sangat bodoh dan kini membuatmu kesulitan menghadapinya sendiri. Namun, aku akan menebusnya, tunggu aku," ucap William serius dengan sorot mata tajam menatap jalanan aspal panjang demi menemui kekasih hatinya.


Kediaman Adrian Axton, Boston.


"Sergei! Sergei!" panggil Axton gusar sembari merapikan setelannya karena ia ingin pergi melihat perkembangan bisnis yang dijalankan oleh Torin, anak angkatnya.


"Yes, Sir," jawab Sergei santai, masuk dari pintu kamar.


"Mana Nandra? Suruh ia segera bersiap," tanya Axton sembari menyisir rapi rambutnya.


"Dia belum keluar kamar? Oh, baik. Tunggu sebentar," jawab Sergei segera keluar dari kamar bosnya dan kini menuju ke kamar Nandra, wanita milik Rahul.


TOK! TOK! TOK!


"Nandra! Tuan Axton memanggilmu," panggil Sergei terlihat malas di depan pintu.


CEKLEK!


Kening Sergei berkerut. Ia merasa penampilan Nandra seperti gadis desa, tak elegan seperti biasa. Nandra bahkan tak ber-make up. Sergei terheran-heran.


"Aku ingin bicara dengan Tuan Axton," ucap Nandra gugup.


Sergei merasa ada yang tak beres. Saat ia akan pergi dari kamar Nandra, Axton ternyata sudah menyusul karena tak sabar. Namun, kening Axton berkerut karena Nandra belum bersiap.


"Apa kau kehabisan baju? Kenapa kau jadi seperti upik abu?" tanya Axton bingung.


Nandra meminta Axton masuk ke kamarnya. Ia ingin bicara berdua saja dengan sang Casanova. Namun, Sergei bersikeras ikut masuk karena ia mencurigai gelagat Nandra yang tak biasa.


Nandra pun pasrah. Ia menutup pintu rapat dan berdiri dengan gugup di depan dua lelaki yang memasang wajah menyeramkan.


"Ada apa? Ku harap ini sangat penting. 5 menit," tegas Axton bertolak pinggang menatap Nandra yang malah memainkan jemarinya terlihat gugup dalam berucap.


"A-aku hamil."


"WHAT?!" pekik Axton dan Sergei bersamaan dengan mata melotot lebar serta suara lengkingan karena terkejut.

__ADS_1


"Apa kau bilang tadi?!" tanya Axton terlihat panik.


"A-aku akan menggugurkannya. Aku cukup yakin jika kandunganku belum ada satu bulan," jawab Nandra cepat.


Sergei segera berlari keluar kamar. Terlihat sang Casanova panik dan terlihat takut melihat sosok Nandra yang memiliki bayi dalam perutnya.


"Aku memang belum pernah menggugurkan kandungan sebelumnya, tapi aku terima resikonya meski itu bisa membahayakan rahimku nanti," ucap Nandra lagi karena Axton terlihat panik seperti menghindar darinya.


"Aku masih memiliki pil untuk menggugurkan kandungan. Cepat minumlah," sahut Sergei tiba-tiba memberikan sebuah pil kepada Nandra dan segelas air putih.


Nandra pun dengan sigap menerimanya. Saat Nandra akan meminumnya, Axton berlari ke arahnya dan menampik gelas itu hingga pecah. Dua orang itu kaget seketika.


Axton mengambil pil dalam genggaman tangan Nandra dan malah menginjaknya. Nandra dan Sergei terheran-heran saat Axton kembali bersikap aneh sembari menjauh dari wanita India itu.


"Biarkan saja. Biarkan mahluk mengerikan itu hidup. A-aku penasaran saat ia lahir nanti apakah ... setampan aku atau lebih jelek," ucap Axton gugup sembari menunjuk perut Nandra dengan takut-takut.


"Ka-kau serius dengan yang kau ucapkan, Tuan?" tanya Sergei kaget bukan kepalang.


"Haruskah kuulang?!" teriak Axton geram.


Sergei diam seketika. Nandra terlihat bingung.


"Mulai saat ini. Kau fokus saja pada kehamilanmu. Pastikan calon anakku tumbuh dengan baik dan lahir dengan selamat. Aku tak tahu apa yang harus dilakukan. Kalian yang cari tahu," ucap Axton gugup, mondar-mandir dengan panik.


"Ka-kau membiarkanku hamil anakmu, begitu?" tanya Nandra memperjelas. Axton mengangguk.


"Tidak bisa. Bagaimana jika Rahul tahu? Hubungan bisnis antara ayahku, Khan dengan Raja Khrisna bisa terancam!" ucapnya panik.


"Khan? Kau dari keluarga Khan? Mafia kelas teri dalam jajaran Khrisna?" tanya Axton memperjelas dan Nandra mengangguk lugu.


Axton malah tertawa terbahak begitupula Sergei ikut tersenyum tipis.


"Biarkan saja mereka saling berselisih. Itu akan menguntungkanku. Ayahmu tak akan berani datang padaku. Jika pun datang dan ia berani mengambilmu, ia akan keluar dari rumah ini dalam kantong mayat. Dan kau, tak kan bisa menghalangiku untuk membunuhnya," ucap Axton tegas menunjuk Nandra dari kejauhan.


Wanita cantik India itu shock. Axton meminta kepada Nandra untuk segera bersiap ikut dengannya menemui Torin. Sergei pamit keluar untuk menyiapkan keberangkatan.


Axton duduk di pinggir ranjang menatap Nandra yang gugup saat melepaskan pakaian di hadapan sang Casanova dan hanya mengenakan pakaian dalam.


Axton menyipitkan mata, ia merasa jika tak ada perubahan dalam tubuh Nandra. Tubuh wanita cantik itu masih seksi, ramping dan memiliki otot perut yang indah.


"Kau sungguh hamil? Berani kau membohongiku, aku tak segan membunuhmu, Nandra," tegas Axton menatapnya tajam.


"Kita bisa ke dokter untuk memastikannya. Aku sudah mengeceknya dengan test pack dua kali dan hasilnya positif," jawab Nandra gugup saat mengambil sebuah gaun seksi di lemari pakaiannya.


"Oh, bisa kau ambilkan test pack itu? Aku penasaran seperti apa bentuknya," pinta Axton terlihat riang.


Kening Nandra berkerut, tapi ia melakukannya. Ia mengambil test pack yang sudah ia buang ke tempat sampah di kamar mandi, tapi masih bersih karena ia memasukkannya dalam wadah kemasan alat itu.


"Ahh, tanda garis dua ini maksudnya positif hamil. Begitukah?" tanya Axton penasaran dengan mata berbinar. Nandra mengangguk.

__ADS_1


"Kenapa kau membuangnya? Kau akan menyakiti bayiku! Kau pikir bayiku sampah hingga kau membuangnya ke bak? Kau juga memasukkan alat ini dalam kemasan. Bagaimana jika dia tak bisa bernafas? Kau ingin membunuhnya?!" pekik Axton garang.


"Itu ... hanya test pack. Dicek dengan urin, Tuan Axton. Bayimu ada dalam rahimku, di perutku, di tubuhku," jawab Nandra keheranan sembari menunjuk perutnya yang berotot.


"Kau kencing di alat ini? Aku memegang kencingmu begitu?" tanya Axton merasa jijik seketika, tapi Nandra mengangguk sambil meringis.


"Hiss, buang! Buang!" teriaknya jijik dan langsung melemparkan test pack yang ia pegang di tangannya tadi penuh kekaguman.


Nandra memungutnya dengan senyum tipis saat melihat Axton berlari cepat ke kamar mandi mencuci tangannya dengan sabun sampai berulang kali.


"Hemm, dia sangat lucu dan menggemaskan. Aku tak menyangka, dia sudah tua, tapi bisa menghamiliku. Sp*rmanya sungguh hebat," guman Nandra sembari membuang test pack miliknya ke tempat sampah.


Hari itu, Axton dan Nandra pergi untuk menemui Torin di salah satu markas bekas mafia yang pernah berurusan dengan Axton sebelumnya.


Axton mengakuisisi bisnis dan tempat itu. Kini, Torin yang mengelolanya.


Di sisi lain.


Red dan Daniel yang ditugaskan untuk memberi pelajaran kepada William atas permintaan bos besar mereka, Antony Boleslav dibuat pusing.


Keberadaan William tak ditemukan setelah mereka mencoba mencari jejaknya dengan bantuan GIGA yang dioperasikan oleh Monica.


"Alat pelacak di tubuh agent itu sudah dicabut. Sinyal terakhir berada di kediaman Jamal, New Delhi. Sepertinya, agent itu kini bebas berkeliaran tak terpantau oleh kita, Red. Ini gawat," ucap Daniel sembari mengemudikan mobil menuju ke suatu tempat.


"Aku masih penasaran. Setelah William dan Sia berpisah, apakah agent itu masih akan mencarinya? Bukankah yang kita lakukan ini hanya sia-sia saja?" tanya Red terlihat malas sembari mengotak-atik tablet-nya seperti melakukan sesuatu.


Saat keduanya sedang malas untuk berpikir, tiba-tiba panggilan telepon masuk dari Yuki. Red terkejut dan segera menerimanya.


"Yes, Yuki."


"Hai. Apakah Sia bersama kalian?" tanya Yuki tanpa basa-basi.


"Tidak, dia di Krasnoyarsk, aman di Kastil bersama Tuan Antony dan Nyonya Manda. Kenapa?" tanya Red heran.


"Aku sudah kembali ke mansion Axton. Ternyata William datang kemari untuk mengambil wanita dari Rahul, namanya Nandra. Sepertinya terjadi perselisihan antara Axton dan Raja Khrisna. Kenapa aku tak mengetahui hal ini? Apa kau tahu, Red?" tanya Yuki heran.


Namun, Red juga mengatakan hal serupa, termasuk Daniel. Yuki terdengar kesal.


"Namun, ada satu temuan dari aksi malam itu. William berhasil menangkap seseorang yang sepertinya memiliki maksud untuk melenyapkan Axton. Orang itu anak buah dari Denzel Flame. Sepertinya mereka mengincar William. Namun, belum selesai interogasi dilakukan, orang itu bunuh diri saat salah satu anggota Black Armys memberikan makan siang untuknya. Sial!" ucap Yuki geram.


"William diincar? The Cirlce mengenali William? Wah, dia terkenal juga diam-diam," sahut Red kagum. Daniel tak berkomentar.


"Kepalaku pusing, kenapa semakin rumit ya? Bisa kau sampaikan hal ini pada Tuan Antony Boleslav atau Nyonya Manda? Aku sungkan jika harus bicara pada mereka. Aku sudah menyampaikan hal ini pada Nyonya Vesper lewat pesan khusus, tapi belum ada balasan darinya. Mungkin sibuk," ucap Yuki terdengar sebal.


"Kau sudah melakukan hal bagus, Yuki. Terima kasih infonya," jawab Red menutup panggilan dengan senyum tipis.


"Kita kembali saja ke Rusia dengan alasan informasi penting dari Yuki. Aku merasa pencarian William sungguh membuang waktu. Kita seperti orang tak punya kerjaan," sahut Daniel kesal yang terlihat tak menyukai tugas kali ini.


Red terkekeh. Ia setuju dengan ucapan Daniel. Mereka berdua pun sepakat pulang ke Rusia hari itu juga dengan pesawat komersil.

__ADS_1


__ADS_2