Secret Mission

Secret Mission
Gas Halusinasi


__ADS_3

Kastil Antony Boleslav, Krasnoyarsk, Rusia.


Pagi itu. William terlihat sudah bersiap dengan baju casual. Ia mulai meninggalkan kehidupan mewahnya semenjak bisa menjalani hidup sederhana mengingat ia kini tak memiliki pekerjaan lagi.


William berpikir jika ia harus berhemat sampai nantinya terbebas dari Boleslav dan hidup bersama Sia.


William berencana untuk mencari pekerjaan seperti warga sipil meskipun gajinya tak seperti kehidupannya dulu.


Mereka bicara dalam bahasa Rusia.


TOK! TOK! TOK!


"William! Sudah waktunya," panggil Maksim dari balik pintu.


William segera mendekati pintu tersebut dengan kursi roda yang ditinggalkan untuknya. Maksim menatap William tajam yang balas menatapnya saat membuka pintu.


"Apakah ... yang menginterogasiku Tuan Boleslav?" tanya William gugup.


Maksim tak menjawab dan membuka pintu lebih lebar agar mantan agent itu lebih mudah saat keluar.


Maksim berjalan lebih dulu dan William mengikuti dengan mendorong kursi rodanya perlahan.


Yuri berjalan di belakang William menjaganya. Dua lelaki bertubuh besar dan bertato itu terlihat kesal karena harus menjaga William yang notabene adalah musuh para mafia 13 Demon Heads.


Hingga akhirnya, William tiba di sebuah ruangan interogasi. William bahkan tak menyangka jika Boleslav memiliki ruangan khusus seperti di markas CIA.


Maksim memintanya masuk di mana sudah ada seorang wanita di depannya terlihat garang, duduk di kursi menunggunya.


"William Tolya, right?" tanya wanita itu dan William mengangguk pelan saat mendekatkan kursi rodanya ke meja interogasi.


Maksim menunggu di dekat pintu dan Yuri masuk ke ruangan kendali bersama P-807 yang mengawasi proses interogasi.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


Tiba-tiba, BUZZ!


"Apa ini?" tanya William panik ketika melihat dari atap ruangan muncul gas berwarna putih.


William menatap wanita di depannya yang terlihat cuek dengan gas tersebut termasuk Maksim. William panik dan menutup hidungnya dengan kaos bagian bawah.


"Ini dosis rendah. Jangan mencoba untuk melawan atau berbohong jika masih ingin bertemu dengan Sia. Gas ini akan membawa ke ingatan lamamu yang bahkan mungkin sudah mulai memudar. Jadi, hiruplah," ucap wanita itu masih duduk dengan tenang menatap William seksama.


William panik dan berpikir gas itu semacam obat kimia untuk mencuci otaknya. Wanita itu tak melihat William mau bekerja sama, ia geram. Maksim mengangguk dan mendekati William cepat.


GRAB!!


"AGH!"


"Lakukan, atau akan kugoyangkan paksa kalung pemenggalmu, William. Kenapa? Apa kau takut jika semua kebusukanmu terkuak selama ini? Bukankah kau yang bilang sendiri jika ingin terbebas dari belenggu CIA. Inilah salah satu caranya. Lepaskan semua, katakan yang kau ketahui tentang CIA. Kau, akan terlahir kembali saat interogasi ini berakhir, William. Kau akan terbebas dan tak ada lagi beban di pundakmu," ucap Maksim memegang kalung pemenggal di tengkuk William hingga kepala mantan agent itu mendongak.


Nafas William menderu dan jantungnya berdebar kencang.


"Benarkah? Semua beban itu akan lenyap?" tanya William melirik Maksim tajam dan lelaki berwajah garang itu mengangguk.


"Oke, oke," jawab William pasrah pada akhirnya.


Maksim melepaskan cengkeramannya di kalung tersebut dan kembali berdiri di dekat pintu melipat kedua tangan di depan dada.


William kembali duduk dengan tegap dan membenarkan posisi kalung pemenggalnya dengan wajah pucat.


Ia menarik nafas dalam dan memejamkan mata sejenak menguatkan hatinya. Ia mulai menghirup gas tersebut.


"Oke, aku siap," jawabnya yakin.


"Baiklah. Kita akan lakukan tes pertama. Ingat namaku. Aku ... Roza dari kelompok Red Skull yang berpusat di Rusia. Ulangi," ucap Roza menatap William tajam.


"Roza dari kelompok Red Skull yang berpusat di Rusia," jawab William cepat dan Roza mengangguk.


"Kau sudah mengenal Antony Boleslav dan anak buahnya. Kau sangat mencintai Sia, apa itu benar?"


William mengangguk cepat.

__ADS_1


"Oke, akan kita buktikan. Apakah kau sungguh mencintai Sia atau tidak. Jika ya, Sia tak mungkin lenyap dari pikiranmu, jika tidak, Sia akan menghilang dari pikiranmu."


Mata William terbelalak dan keningnya berkerut.


"Apa maksudmu?" tanya William bingung.


"Kau menghirup gas halusinasi, William. Gas itu bisa membuatmu lupa ingatan jika kau tak menginginkannya, tapi gas itu juga bisa membawamu ke masa lalu dan membuatmu mengingat kembali kejadian-kejadian yang terlupakan. Jadi, pilihan kini ada padamu," ucap Roza cepat.


William mulai merasakan dampak dari gas tersebut. Ia merasa jika pandangannya mulai kabur dan berbayang. Ia merasa seperti orang linglung ketika bangun tidur.


William mencoba untuk tetap sadar, tapi ia merasa sangat lelah dan letih. Ia tak bisa berpikir dan pada akhirnya mata dan telinganya hanya terfokus pada Roza seorang.


"William, can you hear me?" tanya Roza dan William mengangguk.


"William, apakah kau masih berstatus agent CIA?"


William menggeleng. Ia mencoba untuk mempertajam pandangannya yang kabur karena berulang kali matanya tak bisa fokus menatap Roza. Kepalanya bergerak ke sana-kemari tanpa ia kehendaki.


P-807 merekam dalam format video dan suara untuk ditunjukkan pada Boleslav nantinya. Boleslav ingin mendengar kejujuran William tanpa harus menyiksanya.


Orang-orang yang ikut menyaksikan di pusat kendali ikut dibuat penasaran dengan pengakuan William.


Terlihat wajah orang-orang itu tegang. Roza tetap tenang melakukan interogasinya.


"William. Apa tujuanmu datang kemari?"


"Sia. Aku ingin bertemu dengan Sia. Membawanya pergi dari keluarga mafianya. Hidup bersamanya," jawabnya memandang Roza, tapi kemudian kepalanya tertunduk menatap lantai.


Semua orang yang mendengar menarik nafas dalam.


"Apa kau bertujuan membunuh Boleslav atau orang-orang dalam jajarannya?"


William menggeleng. Roza menyipitkan mata.


"Yes. Kau kenal lelaki itu?"


William mengangguk.


"Siapa dia?"


"Ceritakan tentang Yes."


William terlihat seperti berpikir. Pandangannya tak menentu.


"Aku tak tahu apapun tentang dia. Aku tak pernah melihatnya. Namun, kata Shamus, dia dekat dengan orang-orang di angkatan laut Amerika. Dulu dia bekerja sebagai agent rahasia yang menyamar di kedutaan besar Amerika di beberapa negara."


Roza melirik Maxim dan lelaki itu mengangguk.


"Ceritakan tentang Jack, Catherine dan Ara. Kawan-kawanmu saat di CIA."


William pun menceritakan siapa orang-orang tersebut, pekerjaan mereka di agensi bahkan rumah dan data diri mereka.


Siaran langsung itu terhubung dengan Q yang berada di Apartement Theresia di New York. Q dengan sigap mencari data diri tiga orang itu dengan bantuan GIGA.


"Aku sudah mendapatkannya. Yang dikatakan William benar," ucap Q dari sambungan telepon dan Yuri mengangguk paham.


"Ceritakan soal Rika dan Cecil," pinta Roza dan William pun menceritakan dengan gamblang tentang dua pensiunan senior agent CIA itu.


Namun, cerita William tentang Rika membuat Roza berkerut kening. Ia melirik Maksim dan lelaki bertato itu kembali mengangguk.


"William, ceritakan kisahmu sebelum bertemu dengan Rika saat masih tinggal di Rusia bersama kedua orang tuamu," pinta Roza dan William berkerut kening seketika.


Ia terlihat membuka dan menutup matanya berulang kali seperti berpikir keras. Roza mendekatkan dudukkannya.


"William, hei, hei," panggil Roza menjentikkan jari hingga terdengar suara dari gesekan dua jarinya itu.


William mendongak dan matanya berusaha menangkap Roza.


"Kenapa ayahmu meninggal?" tanya Roza.


William kembali tertunduk dan kini pandangannya tertuju pada meja di depannya. Roza menatap William tajam.

__ADS_1


"Sick. But ... no, no. Yes, he is sick," jawabnya terlihat seperti bingung.


"Meninggal karena sakit?" tanya Roza memastikan.


William mengangguk, tapi kemudian menggeleng.


Roza mengangkat tangan kanannya ke atas dan menunjukkan dua jari.


Tiba-tiba, dari atap ruang interogasi muncul kembali asap berwarna putih. Maksim dan Roza terlihat gugup sembari mengibas-ngibaskan tangan. Roza melihat waktu di jam tangannya.


"10 menit lagi," ucap Maksim dan Roza mengangguk.


"William," panggil Roza lagi dan William kini berliur.


"Apakah ayahmu meninggal karena sakit?" tanya Roza lagi.


"I ... I'm not sure," jawabnya makin terlihat seperti orang linglung.


"Apakah ia dibunuh?" tanya Roza curiga.


William menggeleng.


"Ceritakan bagaimana ayahmu meninggal."


William diam sejenak seperti berpikir keras.


"Malam itu ... ayah pulang dari tempatnya bekerja. Ia sudah terlihat seperti orang sakit. Ia batuk-batuk sepanjang malam hingga aku dan ibu tak bisa tidur. Kami ... membawanya ke klinik dan dokter mengatakan jika ia terkena infeksi pernafasan. Ayah diberikan obat jalan karena ia tak mau dirawat di Rumah Sakit," jawab William dengan mata berlinang tanpa ia kehendaki.


"Ayahmu sakit. Lalu?" desak Roza.


"Ya, ayah sakit cukup lama dan tak kunjung sembuh hingga fisiknya makin lemah. Tempatnya bekerja memecatnya karena takut penyakit ayah menular. Namun, selama ayah sakit, aku sering melihat seorang lelaki berdiri di depan rumah ketika malam menjelang tidur."


"Apa yang lelaki itu lakukan? Seperti apa dia?" tanya Roza curiga.


"Tak ada. Ia hanya berdiri dan pergi, tapi ia selalu datang tiap malam. Aku takut. Lalu ... saat penyakit ayah semakin parah hingga ia muntah darah, aku nekat keluar menemui lelaki itu," ucap William dengan kepala bergeleng-geleng tak menentu.


Roza dan Maksim saling berpandangan terlihat serius.


"Apa yang kau bicarakan padanya?" tanya Roza semakin penasaran.


"Aku tanya dia siapa. Aku tanya apa maunya. Aku bilang jika aku tahu selama ini dia mengintai rumah kami. Dia tak menjawab pertanyaanku bahkan tak mau melihatku. Ia hanya bilang, 'itulah akibat berurusan dengan anak Madison dan Lawrence'. Aku tak tahu apa maksudnya. Orang itu lalu pergi dan tak pernah kembali. Namun, ia muncul saat pemakaman ayah. Aku tak mengatakan hal ini pada ibu karena ibu sudah sangat sedih dengan kematian ayah," ucap William meneteskan air mata dengan sendirinya meski tak ada isak tangis, tapi terlihat ia begitu sedih mengingat masa kelam itu.


Roza terkejut. Ia menarik nafas dalam begitupula Maksim yang mengusap mulutnya.


"William, hey. Look at me! Siapa aku?" tanya Roza menatap William tajam.


William menaikkan pandangan dan menggeleng. Roza melirik Maksim dan lelaki itu segera mendekati William.


CLEB!!


"Agggg," rintih William saat sebuah jarum suntik menusuk pergelangan tangannya.


William lalu dibawa keluar oleh Maksim. Terlihat William seperti akan muntah. Roza diam saja saat William keluar dari ruangan dan suara mesin penetralisir ruangan berbunyi.


"Roza. Ayah William sengaja dibunuh karena pernah menolong nyonya Manda. Apakah begitu?" tanya Yuri dari pengeras suara yang terdengar di ruang interogasi.


"Aku rasa demikian. Namun, siapa? Apakah The Circle?" tanya Roza menebak.


"Hmm, mungkin. Tentang lelaki itu, kita harus menyelidikinya. Kuncinya ada pada William. Namun, kita tak bisa mewawancarainya sekarang. Sepertinya fisiknya tak kuat karena kakinya yang sakit. Kau lihat sendiri jika ia sampai berliur dan ingatannya hampir terperangkap di masa lalu," ucap Yuri dari pengeras suara.


"Baiklah. Akan aku kirimkan data ini ke Nyonya Manda. Sepertinya William memang sudah diincar oleh The Circle sejak lama mengingat Denzel juga sangat menginginkannya," sahut P-807 dan Roza mengangguk setuju.


Hari itu, interogasi dihentikan karena kondisi fisik William kurang prima. Maksim melihat William muntah-muntah di wastafel kamar mandi.


Lelaki itu terlihat pucat dan sudah kembali sadar. William dibantu Maksim merebahkan diri di atas ranjang bahkan Maksim menyelimutinya.


"Minumlah air yang banyak. Interogasi selanjutnya akan aku beritahukan nanti. Pulihkan dulu fisikmu," ucap Maksim sembari mendekatkan air minum ke meja samping ranjang William.


"Thank you, Maksim. Aku ... aku merasa tidak enak badan. Kepalaku pusing," ucap William berkeringat dingin.


"Kau akan baik-baik saja. Istirahatlah," ucap Maksim tersenyum tipis.

__ADS_1


William menggigil dan meringkuk di kasur. Maksim mengintip di balik pintu menatap William seksama.


"Kau ... memang sudah ditakdirkan dalam garis kehidupan keluarga Nyonya Manda, William. Kau sudah masuk di dalamnya sejak dulu. Hanya saja, kau tak menyadarinya. Bahkan aku yakin jika kau tak mengingat Nyonya Manda," ucap Maksim lirih lalu menutup pintu.


__ADS_2