Secret Mission

Secret Mission
Welcome Home


__ADS_3

Acara pemakaman pada hari itu diliputi oleh duka mendalam di hati semua orang. Para senior dalam jajaran 13 Demon Heads mulai berguguran satu persatu.


Bahkan Robert dan Wilson yang sudah sangat tua merasa jika kematian tak adil pada keduanya.


Mereka yang merasa sudah jenuh dengan kehidupan di dunia dan berharap bisa segera menemui ajal malah tak kunjung datang.


Kematian itu malah merenggut orang-orang yang mereka berdua anggap bisa berumur lebih panjang. Namun, Tuhan berkehendak lain.


Usai pemakaman, tak ada pembicaraan baik mengenai bisnis atau apapun seperti ketika para mafia elite itu berkumpul.


Mereka memilih untuk segera pulang usai pemakaman dan memberikan waktu khusus bagi keluarga untuk berduka.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Aku tahu kesulitanmu, Sia. Aku juga berusaha untuk menemukan suamimu. Jadi ... kita berdua sedang bersusah payah. Semoga kita berdua mendapatkan apa yang telah disepakati," ucap Rohan saat akan pergi dengan menyalami anak perempuan Amanda.


"Aku tahu Rohan, terima kasih," jawab Sia sembari menyambut jabat tangannya.


Saat Rohan akan berpaling, ia kembali mendatangi Sia dan hal itu membuat perempuan cantik tersebut kembali menatapnya meski masih terlihat jelas kesedihan di wajahnya.


"Waktu itu, mobil yang dulu dipakai oleh Rahul dibeli oleh seseorang. Lalu, aku mencoba mencari tahu dari mana Rahul mendapatkan mobil tersebut. Menurut Rajesh, itu adalah Mustang milik William yang dijual Axton."


Praktis, mata Sia melebar seketika.


"Lalu, beberapa waktu yang lalu, alasan aku ada di Amerika karena mendapat kabar dari orangku yang mengatakan jika mobil itu terlihat di Ohio."


"Maksudmu ... mobil William dibeli seseorang yang tinggal di Ohio?" tanya Sia memastikan.


Rohan mengangguk.


"Orangku sedang menyelidiki pembeli tersebut. Rajesh mengatakan jika yang membelinya orang Amerika. Dari data yang didapat oleh Rajesh, pemiliknya warga sipil. Ia seorang pedagang mobil bekas. Namun, tak ada salahnya untuk menyelidiki bukan?" imbuh Rohan dan Sia mengangguk dengan senyuman.


"Semoga penyelidikanmu tak sia-sia, Rohan. Terima kasih atas informasinya. Aku sangat menghargainya."


Rohan pamit pulang bersama dengan Rajesh dan Jamal yang juga ikut acara pemakaman. Hanya saja, Rohan kembali ke Amerika karena ia masih menyelidiki tentang mobil tersebut.


Rohan tinggal di Apartment Theresia di mana ia membeli salah satu aset milik Axton yang ternyata memiliki kamar di gedung tersebut.


Jantung Sia berdebar. Ia sangat mengharapkan agar suaminya segera ditemukan.


Namun, rasa sedih kembali menyelimuti hatinya saat melihat ke halaman tempat ayah tirinya dibaringkan untuk selamanya.


Sia memilih untuk menenangkan diri dengan kembali ke kamar. Ia tak bisa ikut bergabung dengan tamu lainnya yang masih berada di Kastil.


Sia mengurung dirinya di kamar dengan memeluk boneka merah muda pemberian Boleslav saat ia masih kecil dulu.


Sia kembali menangis mengingat kenangan yang masih diingatnya saat bersama Boleslav ketika ia memilih jalan mafia sebagai kehidupannya.


Entah kenapa, kematian Antony Boleslav lebih menyayat hati ketimbang kematian ayah kandungnya sendiri, Julius Adam.


Sosok Boleslav yang terlihat garang, tapi begitu peduli padanya sangat dirindukan oleh Sia.


"Siapa yang akan memakan ice cream buatanku lagi? Hiks, siapa yang akan membuatkanku ice cream lagi? Daddy ...," tangis Sia membenamkan wajah di dada boneka beruang merah muda dalam pelukannya.


...***...

__ADS_1


Tak terasa, satu bulan telah terlewati. William masih dikurung dalam sel bawah tanah mansion Adrian Axton, Boston, Amerika.


Para petugas sengaja menayangkan video yang pernah Cecil putarkan secara terus-menerus hingga membuat William merasa jengah dengan keadaan tersebut.


"Boleslav mati itu bukan salahku, dia menembak dirinya sendiri," ucapnya mencoba menghilangkan rasa bersalah dalam dirinya.


William terlihat kesal karena video itu terus ditayangkan. Ia berdiri dan menatap proyektor di atap dengan sorot mata tajam.


"Hei! Matikan video itu atau akan kuhancurkan dari sini!" teriak William penuh emosi menunjuk kamera di belakang mesin proyektor.


Tiba-tiba, proyektor tersebut padam dan lampu kembali menyala. William terkejut karena permintaannya langsung dikabulkan. Amarah William mereda.


Saat ia akan kembali duduk, tiba-tiba, pintu ruangan terbuka dan muncul seorang wanita dengan seragam hitam yang William kenali.


William segera mendatangi jeruji besi dan menatap sosok itu tajam.


"William Tolya?" tanyanya berwajah serius. William mengangguk.


KLEK!


William tertegun saat sel penjaranya terbuka. William melangkah keluar dengan ragu. Ia masih menatap sosok yang tak dikenalinya itu seksama.


"Kau siapa?" tanya William waspada.


"TC-B-555," jawabnya serius.


"What?"


"Panggil saja, Buffalo. Cepat, waktu kita tak banyak. Madam ingin bertemu denganmu," ucapnya sembari memegangi lengan William dan menariknya keluar dari ruangan tersebut.


"Ma-Madam? Benarkah?" tanyanya ragu, tapi Buffalo diam saja tak menjawab.


"Kau yang melakukan ini semua?" tanya William heran.


"Itu hal mudah, tak usah heboh begitu. Cepat, segera masuk. Kita harus segera pergi dari sini sebelum para mafia menyadarinya," jawab Buffalo yang sudah siap menjadi pengemudi dalam aksi kabur William hari itu.


William mengangguk dan ia juga baru menyadari jika mobil yang ditumpanginya adalah mobil yang sama saat bersama Cecil.


Namun, seingat William, mobil itu ia tinggal di sebuah hanggar. William memilih diam dan kembali menatap Buffalo tajam.


"Apa ... kau pengganti Cecil? Kau datang menyelamatkanku?" tanya William serius.


"Hem, anggaplah begitu," jawab Buffalo meliriknya sekilas dan masih memasang wajah dingin.


William mengangguk. Perasaan lega menyelimuti hatinya karena tak menyangka jika bisa kabur dengan mudah.


"Fal, bolehkah aku memanggilmu begitu?" tanya William tak enak hati, tapi Buffalo mengangguk mengizinkan.


"Bisakah ... kau melepaskan alat di lenganku?" tanyanya gugup.


"Madam yang akan melakukannya. Aku tak memiliki teknologinya. Tugasku hanya menjemput dan mengantarkanmu ke sana," jawab Buffalo cepat terlihat fokus dengan tujuannya.


William mengangguk paham. Hingga akhirnya, mereka tiba di sebuah hanggar pesawat pribadi di mana terlihat orang-orang berseragam sama seperti Buffalo telah menunggunya.


William menurut dan mengikuti Buffalo masuk ke dalam pesawat. William melihat gerak-gerik orang-orang yang duduk bersamanya di pesawat itu berstelan rapi khas The Circle.

__ADS_1


"Kita mau kemana?" tanya William curiga.


"Rusia."


"Madam ada di Rusia?"


Buffalo mengangguk, tapi ia segera memejamkan mata. William menyadari jika Buffalo tak mau bicara dengannya lagi.


William akhirnya ikut merebahkan diri karena ia sadar jika penerbangannya akan sangat jauh untuk sampai ke negara tersebut.


William terbangun saat pesawat singgah di Spain untuk mengisi bahan bakar. Orang-orang dalam pesawat tak ada yang turun dan tetap berada di cabin untuk menikmati santapan lezat yang disediakan di sana.


"Makanlah, Will. Lalu gantilah pakaianmu dengan yang lebih sopan. Kau berantakan," ucap Buffalo sembari memberikan sebuah piring berisi steak di papan saji yang berada di bangkunya.


"Oke. Thank you," jawab William sopan sembari membenarkan dudukkannya.


William pun segera menyantap makanan tersebut dengan lahap karena tak menyangka jika steak tersebut sangat lezat.


Orang-orang dalam pesawat menatap gerak-gerik William seksama entah apa yang dipikirkan.


Usai makan, William diberikan sebuah setelan khusus dalam hanger yang tergantung rapi. William menerimanya dengan senyum merekah, tapi saat ia berada di ruangan untuk berganti pakaian, keningnya berkerut.


Ia seperti mengenali pakaian tersebut. Ia juga memegangi sepatu fantovel di mana ia merasa sudah pernah melihatnya termasuk jam tangan yang juga tersedia satu set dengan setelan itu.


"Bukankah ... ini yang dipegang oleh Jack, Ara dan Catherine saat di video? Kenapa mirip sekali," tanya William terheran-heran.


Saat William berpikir keras, ia tertegun ketika Buffalo memintanya segera cepat karena pesawat akan lepas landas. William segera bergegas mengenakan satu set pakaian formal tersebut.


Tak lama, William sudah keluar meski ia tak sempat menyisir rambut dan merapikan penampilannya. Buffalo tersenyum ketika melihat William kembali duduk di sampingnya.


"Lumayan," puji Buffalo dan William memilih diam tak menjawab.


Pesawat kembali terbang menuju ke Rusia, seperti yang telah di jadwalkan.


Jantung William berdebar karena akan menemui Madam yang selama ini membuatnya penasaran seperti apa sosoknya bahkan Boleslav sampai menanyakan padanya.


Hingga akhirnya, penerbangan itu berakhir. William terlihat bingung ketika pesawat mendarat di bandara Novosibirsk, bukan Moscow seperti dugaannya.


Namun, William memilih diam dan menurut. Ia mengikuti Buffalo yang membawanya masuk ke dalam sebuah mobil SUV hitam penjemput dengan empat buah mobil lainnya mengiringi konvoi mereka.


Mata William terlihat sibuk mengingat rute yang membawanya ke kediaman Madam. Namun, keningnya berkerut saat menyadari jika tempat yang ia tuju seperti dikenalinya.


"Kita sudah sampai. Jaga sikap, William," ucap Buffalo mengingatkan sebelum turun dari mobil dan William mengangguk.


William turun perlahan dan terlihat seperti orang bingung. Orang-orang yang ikut dalam tim Buffalo menatap William seksama yang berputar-putar sembari mendekati beberapa perkakas yang ada di sekitar tempat itu.


"Aku ... aku mengenali tempat ini, Fal," ucap William serius.


"Benarkah? Memangnya tempat siapa ini?" tanya Buffalo santai.


"Rumahku. Rumahku saat kedua orang tuaku masih hidup," jawabnya gugup.


"Welcome home, William Tolya," ucap Buffalo dengan senyum terkembang.


***

__ADS_1


wahhh ada tips koin lagi😍 kwkwkw pd gak puas keknya kalo cuma dikasih 1 eps tiap hari. baiklah dobel eps ya utk besok. lele terharu dg antusiasme kalian. lele padamu😘



__ADS_2