
Selama perjalanan ke Mansion Ramos, suasana hening di dalam mobil. Naomi menahan sakit di pipinya yang kini sudah lebam.
Arjuna tertunduk terlihat bersalah, tapi Jordan meliriknya dengan senyum sinis seperti mengejek.
Hingga akhirnya, perjalanan itu berakhir. Mereka tiba di Mansion Ramos dan telah disambut oleh orang-orang yang bertugas.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Kau kenapa, Naomi? Apa kalian di serang di jalan?" tanya Buffalo menghampirinya dan memegangi pipinya yang bengkak.
Naomi tak menjawab. Buffalo segera membawa Naomi ke ruang medis dan Arjuna mengikutinya dengan tergesa. Jordan turun dari mobil begitu pula Sia yang kini berdiri di sampingnya.
"Mm, kita tak jadi memburu Afro?" tanya Sia melirik Jordan yang berjalan pelan memasuki mansion Vesper.
"Jadi, hanya saja ditunda," jawabnya ketus.
Tiba-tiba, Jordan berdiri di depan Sia dan gadis cantik itu berhenti seketika karena Jordan menatapnya tajam.
"Kenapa kau membocorkan alasan kita datang ke Borka? Kau sengaja?" tanya Jordan penuh selidik.
"Tidak. Aku kira itu bukan hal rahasia. Kau tak memberikan peringatan apapun soal informasi itu. Aku minta maaf," ucap Sia tertunduk.
Ia takut melihat wajah saudaranya yang menatapnya bengis.
"Percuma minta maaf. Kali ini, diamlah di tempat ini dan tak usah ikut aku berburu. Kau, menghalangiku, Kak Sia," ucap Jordan dingin dan berpaling pergi meninggalkannya.
Kening Sia berkerut, ia seperti akan menangis. Ia merasa dirinya tak pernah diinginkan dan selalu mengecewakan semua orang.
Sia berjalan menjauh dan mendekati kandang karena ia melihat seekor jerapah di sana. Sia duduk di dekat tumpukan jerami, memeluk lututnya dan pada akhirnya meneteskan air mata.
"Sepertinya keputusanku salah, Will. Kau di mana?" ucap Sia yang pada akhirnya menangis dan membenamkan wajah di lututnya.
Sia melepaskan semua belenggu di hatinya dengan mengeluarkan seluruh air matanya. Ia ingin agar beban berat yang diterimanya bisa terbebas dan mampu menjalani hidupnya yang dirasa penuh tekanan.
Hingga tiba-tiba, Sia menghentikan air matanya ketika ia melihat seseorang seperti berjalan mengendap, melintas melewati kandang.
Sia beranjak dari tempatnya duduk sembari menghapus air matanya. Ia melihat seorang wanita berambut pirang seperti ingin menyelinap ke dalam Mansion.
"Siapa dia? Apa orang-orang Vesper? Ngomong-ngomong kemana semua orang? Kenapa tempat ini sepi sekali?" guman Sia lirih melihat sekitar yang terasa sunyi.
Sia curiga pada sosok itu dan ia pun mengikutinya diam-diam. Sia sungguh heran, para Black Armys penjaga yang di temuinya hampir di tiap sudut tempat tak terlihat.
"Kemana perginya orang-orang itu?" tanya Sia heran.
Saat Sia akan menghubungi Jordan, ia tertegun ketika sosok wanita berambut pirang sudah menghilang dari pandangannya.
"Oh! Kemana dia?" pekik Sia lirih tak jadi menelepon Jordan.
Sia masih mengendap dan melihat sekeliling. Ketika ia akan memasuki Mansion, mata Sia terbelalak ketika mendapati para penjaga tergeletak di berbagai sudut ruangan dengan kepulan asap berwarna putih, menyeruak di sekitar ruangan.
"Apa kita diserang?" tanyanya berspekulasi dengan jantung berdebar.
__ADS_1
Ketika ia mencoba mencari sesuatu untuk menutup hidung dan mulutnya agar tak terkena dampak dari gas yang diyakini seperti gas bius, ia mendengar suara teriakan di lantai atas.
Sia mendongak dan mundur beberapa langkah untuk melihat apa yang terjadi. Mata Sia melebar ketika mendapati Arjuna keluar dari jendela kamarnya di lantai dua.
Namun, kening Sia berkerut saat melihat Arjuna seperti orang bermain-main. Arjuna terlihat panik ketika seorang gadis berambut pirang melongok keluar dari jendela dan tertawa melihat tingkah Arjuna yang seperti takut dengannya.
"Orang aneh," guman Sia tak jadi panik.
Saat Sia merasa jika tak ada hal buruk terjadi, ia terkejut ketika namanya dipanggil dengan lantang. Sia kembali mendongak ke atas.
"SIA! TOLONG!" teriak Arjuna panik yang kebingungan karena tak bisa kabur kecuali lompat dari ketinggian 5 meter.
Sia mendekat dan menatap Arjuna keheranan. Wanita berambut pirang malah menopang dagunya dan tersenyum padanya.
"Aku bertemu William, Sia. Ia ada di Virginia, di apartment-nya. Sebaiknya, kau cepat pergi ke sana karena saat terakhir kali bertemu denganku, ia mengatakan ingin bunuh diri," ucap gadis itu yang praktis membuat mata Sia melotot lebar.
"Apa katamu barusan?!" pekik Sia dengan jantung berdebar kencang.
Gadis berambut pirang itu melemparkan sebuah ponsel dari atas. Arjuna terlihat bingung dengan keadaan ini. Sia menangkap ponsel itu dan kembali mendongak ke atas.
"Jika ingin bertemu William, pergi sekarang, sebelum kau menyesalinya. Go!" ucapnya lantang dari balik jendela.
"No, Sia! Ini pasti jebakan! Dia anggota No Face! Tak mungkin William bekerjasama dengannya!" teriak Arjuna yang kini menempel ke tembok seperti cicak.
"Juna sayang, kemarilah. Nanti kau jatuh. Sini, genggam tanganku," ucap wanita berambut pirang mengulurkan tangannya.
"Naomi! Tolong!" teriak Arjuna panik, tapi malah membuat gadis pirang itu terkekeh geli.
"Tak mau ke sini ya? Baiklah, aku yang akan ke sana menjemputmu," ucap gadis pirang mulai melangkahkan kaki keluar jendela.
"Ada apa denganmu?! Kau begitu tangguh melawan calon anggota dewan saat di akuarium tadi, tapi kenapa kau takut pada seorang wanita?!" teriak Sia terheran-heran.
"Oh, dia tak bisa memukul wanita, Sia. Arjuna sudah berjanji tak akan melukai wanita semenjak tragedi dengan ibunya, Vesper. Benar 'kan, Juna sayang?" tanya gadis pirang melepaskan sepatu berhaknya dan kini merambat mendekati Arjuna.
Arjuna tertegun. Ia tak menyangka jika gadis pirang si Lucy palsu tahu hal itu. Namun kini, apa yang sedang dihadapinya lebih penting. Ia tak bisa pergi kemanapun.
Sia kebingungan. Saat ia akan mencari bantuan, ponsel pemberian gadis pirang berbunyi. Sia segera menerimanya dengan gugup karena tak ada nomor tertera di sana.
"Kau meneleponku? Ada apa, Tessa?"
Mata Sia terbelalak. Ia mengenali suara itu. Tangan Sia gemetaran seketika.
"Wi-William? Kau kah itu?"
"Sia? Kau kah itu?" tanyanya balas bertanya.
"Oh, Will. Benarkah ini kau? Sungguh?" tanya Sia berlinang air mata.
"Yes, yes, Babe. Kau di mana? Kenapa kau bisa memiliki nomor Tessa. Apa dia bersamamu? Apa dia melakukan hal buruk padamu?" tanya William terdengar cemas.
"Tidak. Dia memberitahuku jika ... kau ingin bunuh diri. Benarkah itu?" tanya Sia dengan jantung berdebar.
__ADS_1
William tak menjawab. Sia bingung dan kembali melihat ponselnya untuk memastikan jika masih terhubung.
"William?"
"Ya, itu benar, Sayang. Segeralah kemari jika kau sungguh mencintaiku. Aku tahu kau dalam posisi sulit karena harus memilih antara aku atau keluarga mafiamu. Namun, aku sendirian, Sia. Hanya kau yang kumiliki. Kembalilah padaku. Aku kesepian," ucap William terdengar begitu menyesakkan dada.
Sia kembali melihat ke atas di mana tangan Arjuna kini sudah dipegang erat oleh gadis bernama Tessa.
Sia kebingungan. Ia tak bisa berpikir jernih karena Arjuna berteriak minta tolong, tapi tak ada satupun yang datang untuk membantunya.
"Jemput aku, Will. Aku akan menunggumu di Bandara," pinta Sia sudah memutuskan pilihannya.
"Yes, Babe. Segeralah pergi dari sana. Beritahu aku jika kau sudah lolos dari tempat terkutuk itu," ucap William dan Sia segera mematikan sambungan telepon.
"Sia!" teriak Arjuna yang dipeluk oleh Tessa yang terlihat begitu bahagia bisa mendapatkan pujaan hatinya itu.
"Uruslah dirimu sendiri, Kim Arjuna. Sampai jumpa," ucap Sia ketus dan ia segera berlari menuju ke halaman depan di mana semua penjaga tergeletak tak sadarkan diri entah apa yang Tessa lakukan padanya.
Sia mendapati mobil yang dikendarainya tadi. Ia menarik sopir yang tak sadarkan diri di kursi kemudi dan membiarkannya tergeletak di conblock.
Sia melihat orang-orang dalam jajaran Vesper di sekelilingnya. Sia menyalakan mesin mobil dan melaju kendaraannya pergi meninggalkan Mansion Ramos untuk menemui kekasihnya.
Di sisi lain, tempat Arjuna dan Tessa berada di pijakan dinding yang hanya muat dilewati satu orang saja.
SHOOT! SHOOT!
CLEB! CLEB!
"Emph," rintih Arjuna saat tangan kanan dan kaki kanannya mati rasa seketika.
Saat Arjuna akan jatuh dari tempatnya berpijak, Tessa dengan cepat memeluknya dengan tali pengait sudah terpasang di pinggangnya.
"Peluk aku erat, Sayang," ucap Tessa tersenyum.
Mereka berdua meluncur ke bawah dengan sebuah pistol yang memiliki ujung seperti pengait dalam genggaman tangan kanan gadis berambut pirang.
Arjuna kesulitan bergerak saat ia sudah mendarat dengan mulus di atas rerumputan. Tessa melepaskannya.
Arjuna merayap di atas tanah dan berusaha berdiri di mana hanya tangan dan kaki kirinya saja yang masih bisa digerakkan.
SHOOT! SHOOT!
CLEB! CLEB!
"Kau milikku, Kim Arjuna," ucapnya gemas sembari mendekati Arjuna yang tengkurap tak bisa bergerak terkena peluru bius pelemah syaraf.
Mata Arjuna terbelalak saat tubuhnya di balik dan kini terlentang. Ia mengerang dan berteriak minta tolong berulang kali, tapi tak ada satupun bantuan yang datang.
Tessa duduk di atas pinggul Arjuna menggigit bibir bawahnya dengan gemas. Mata Arjuna melebar.
Ia menutup bibirnya rapat saat Tessa mencondongkan wajahnya dan mencium bibirnya.
__ADS_1
"Emmphhh!" erangnya dengan suara tertahan dan mata terpejam rapat.
Namun, tiba-tiba erangannya sirna dan berubah menjadi kenikmatan saat ia merasakan sensasi dalam ciuman yang diberikan oleh gadis berambut pirang itu. Arjuna pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya.