
Jangan ditanya kenapa telat up. Lele baru bangun. Kwkwkw. Maap😆
------ back to Story :
Persidangan berakhir dengan hukuman mati yang dijatuhkan kepada Raja Khrisna dan delapan orang anak buahnya. Rohan tertunduk sedih dalam air mata.
Jamal dan Rajesh mendekati anak ketiga dari Raja Khrisna lalu memeluknya. Rohan menangis terisak dalam pelukan sang kakak.
Namun, saat Rohan akan dibawa pergi oleh Jamal, tiba-tiba Amanda Theresia mengetukkan palunya lagi.
Sontak, semua orang dalam ruangan langsung menoleh ke arah meja empat dewan tertinggi dalam persidangan.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Menindaklanjuti ancaman yang dilontarkan oleh pihak keluarga Khrisna. 30 hari terhitung dari sekarang, pengadilan akan dilanjutkan dengan keputusan vote untuk mengangkat Rohan sebagai salah satu anggota dewan menggantikan posisi ayahnya, Raja Khrisna sebagai bentuk antisipasi agar tak terjadi pembunuhan terkait balas dendam kepada jajaran Axton."
Sontak, mata Jamal, Rohan dan Rajesh melotot lebar.
"What? Kau mengangkat Rohan sebagai salah satu anggota dewan?" tanya Jamal kaget.
"Itu baru akan diputuskan dari hasil vote nanti. Silakan kalian beristirahat malam ini dan Rohan, nikmati waktu bebasmu meski kau tetap dalam penjagaan ketat hingga sidang diputuskan," ucap Amanda tegas.
Para mafia yang masih berada dalam ruang persidangan mengangguk setuju. Usulan Amanda terlihat seperti diterima dengan baik oleh para undangan.
Amanda lalu mengetukkan palu sebanyak tiga kali sebagai tanda persidangan untuk kasus penyerangan di mansion Axton telah usai.
Para mafia pun membubarkan diri dan bersiap untuk terbang meninggalkan Italia esok hari.
Jamal, Rohan dan Rajesh tersudut. Bahkan kini banyak para mafia yang tak memihak pada mereka karena kasus penyerangan hingga menewaskan Axton dan jajarannya.
Nandra terlihat begitu membenci keluarga Khrisna. Jamal tak ingin membebani dirinya di mana ia juga masih baru menjabat menjadi anggota dewan.
"Kita pikirkan nanti. Sebaiknya kita istirahat dan menikmati makan siang. Mayat ayah akan diurus dan kita tetap akan mengkremasi dengan layak sesuai kepercayaan kita," ucap Jamal menenangkan sang adik yang masih kalut dan larut dalam kesedihan. Rohan mengangguk pelan.
Mayat dari Raja Khrisna dan kedelapan orang-orangnya dimasukkan dalam peti khusus.
Pengadilan masih memberikan toleransi untuk keluarga Khrisna melakukan penuaian terakhir meskipun para terdakwa dijatuhi hukuman mati.
Mayat kesembilan orang tersebut diterbangkan dengan pesawat kargo milik Pengadilan 13 Demon Heads. Begitu tiba di India, proses kremasi dilakukan sesuai kepercayaan agama mereka, Hindu.
Rohan, Jamal dan Rajesh dijaga ketat oleh orang-orang Silhouette berikut Mix and Match. Selama tiga orang tersebut dalam masa berkabung, mereka dalam pengawasan ketat Pengadilan.
__ADS_1
Para anggota dewan lainnya kembali ke negara masing-masing untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda karena harus menghadiri pengadilan.
Sidang akan dilanjutkan bulan depan untuk keputusan pengangkatan Rohan Krisna sebagai anggota dewan yang tentu saja banyak catatan yang akan ia kantongi selama menjabat.
Rohan baru akan dibebaskan dari masa hukuman setelah Adrian Giamoco menduduki kursi mendiang ayahnya, Adrian Axton Giamoco saat berumur 20 tahun.
Di sebuah ruang bawah tanah yang dijadikan markas. Menjelang pergantian bulan.
"Bagaimana kakimu, Mr. Tolya?" tanya Tessa melipat kedua tangan di depan dada sembari melihat kaki William yang dipakaikan besi penyangga.
"Better, Mam. Kapan ditugaskan dalam misi? Mereka harus dilenyapkan. Mereka adalah ancaman bagi kelangsungan The Circle," ucap William serius, berdiri tegap menatap Tessa tajam.
"Axton dan Rahul telah tewas. Targetmu berkurang. Kini kau harus menyingkirkan Yes dan Cecil sebagai gantinya," jawab Tessa tegas.
William mengangguk. Tessa tersenyum sembari menepuk pipi budak barunya. Meskipun ia tak mendapat kaki robot dari Tobias, tapi rencananya tetap berjalan tanpa dukungan dari lelaki bertato itu.
Black diam saja menatap William yang kini sikapnya sudah lebih manusiawi meski pikirannya telah dikendalikan sepenuhnya oleh Tessa.
Selama dalam cengkeraman Tessa, secara terus-menerus, otak William dicuci. Hampir semua kenangan masa lalunya dihapuskan dan digantikan dengan misi-misi yang diberikan oleh wanita berambut pirang itu.
Kini, William hanya mengabdi pada Tessa seorang.
"Black, apa kau sudah temukan di mana keberadaan target baruku?" tanya William melirik Black tajam.
William terdiam menatap foto itu seksama. Black dan semua orang penasaran dengan respon mantan agent tersebut.
"Beritahukan padaku bagaimana cara masuk ke markas tersebut?" tanya William tegas.
Black terlihat lega. Ternyata William sungguh tak ingat tentang CIA.
"Good news. Kau bisa masuk ke tempat itu dengan mudah, Will, bahkan bisa menemui Yes kapan pun kau mau. Namun, akan sangat aneh jika kau muncul dan melakukan pembunuhan. Jadi, kita lakukan di luar," jawab Black serius yang kini menunjuk halaman parkir pada foto tersebut.
Mata William tertuju pada telunjuk Black yang mengetuk layar monitor pelan ke sebuah mobil sedan warna hitam yang diperbesar tampilanya hingga terlihat nomor plat dan ciri-ciri mobil tersebut.
"Milik Yes?" tanya William menebak dan Black mengangguk.
Saat William berpaling untuk menyiapkan kepergiannya, langkah William terhenti. Ia membalik tubuhnya dan berjalan dengan langkah lebar mendekati Black lagi.
"Lepaskan kalung ini," pinta William memegang kalung pemenggal di lehernya.
"Tidak bisa. Itu akan lepas dengan sendirinya ketika semua misimu selesai," jawab Black tenang.
__ADS_1
William mengangguk paham dan segera pergi meninggalkan ruangan tersebut dengan wajah datar tanpa ekspresi. Black diam saja melihat kepergian William.
Keesokan harinya.
Orang-orang yang tergabung dengan tim William bersiap untuk pergi dengannya. Tessa dan Black mengantarkan kepergian William sampai ke mobil yang akan membawanya pergi menjalankan misi.
"Ingat apa saja yang harus kau lakukan, William," ucap Tessa mengingatkan. William mengangguk.
Akhirnya, dua buah mobil SUV hitam Ford pergi meninggalkan markas yang selama ini menyekap William.
Ekspresi mantan agent CIA tersebut sedikit berubah ketika melihat indahnya dunia luar. Mata William tak jemu-jemu melihat dedaunan hijau, birunya langit dan bunga-bunga bermekaran.
Orang-orang yang ikut dalam tim William saling melirik dalam diam. Salah seorang diantaranya yang berambut pirang menyenggol lengannya.
"Will," panggilnya.
William tersentak dan langsung kembali duduk dengan tenang. Tiga orang yang duduk satu mobil dengannya menatap William seksama.
"Lakukan pekerjaan ini dengan benar. Ingat, senyap, tak menarik perhatian dan cepat. Kau mengerti?" tanya lelaki berambut pirang cepak.
William mengangguk. Namun, ia terlihat seperti memikirkan sesuatu. Tiga orang yang ditugaskan oleh Tessa untuk terus mengawasi gerak-gerik William.
"Kenapa Yes mengkhianati The Circle?" tanya William tiba-tiba.
"Pemimpin tunggal. Lelaki itu parasit dalam tubuh The Circle, William. Dulu dia sangat setia bahkan pernah menjadi salah satu D. Namun ternyata, itu hanya kebohongannya belaka. Masih banyak orang-orang sepertinya yang membelot. Oleh karena itu, kita harus menangkap dan membawanya agar ia mengatakan di mana kawan-kawan pengkhianatnya," ucap lelaki pirang itu serius.
"Apakah tujuannya untuk melawan No Face, The Circle dan khususnya Big Mother?" tanya William lebih mendetail.
"Sebelum dia pergi dan akhirnya memutuskan bergabung dengan CIA, seperti pendahulunya, Tuan Lucifer Flame, Yes pernah mengatakan jika ia ingin mengembalikan kesatuan dari pecahnya The Circle. Ia ingin mengembalikan tatanan The Circle seperti bentukan awal, hanya ada satu kelompok. Namun, hal itu tidak mungkin. Adanya 8 Mens dan No Face karena Big Mother. Berkat dua pecahan ini, The Circle makin kuat dan sulit untuk dihancurkan. Oleh karena itu, kita masih bertahan," jawab lelaki berambut pirang lainnya.
"Ya, tapi karena orang-orang 13 Demon Heads, 8 Mens hancur. Beban berat dipikul oleh No Face sendirian. Oleh karena itu, Nona Tessa membutuhkanmu, Will. Seperti janji ibumu pada keluarga Nyonya Besar untuk mengabdi padanya," jawab lelaki berambut pirang dengan gaya mohawk.
"Yes bertanggung jawab atas kematian kedua orang tuamu. Kakaknya yang membunuh mereka, Will. Balaskan dendam kedua orang tuamu. Tangkap Yes, interogasi dia lalu bunuh."
"HARGGHH!"
BRAKK!
Orang-orang di dalam mobil terkejut karena William tiba-tiba mengamuk. Ingatan masa lalu William tentang kedua orang tuanya sengaja tak dihapus oleh Tessa agar lelaki bermata biru itu tahu alasan kenapa ia masih dibiarkan hidup oleh The Circle.
"Akan kubuat kematiannya sangat menyakitkan," ucap William bengis dengan kedua tangan mengepal hingga seluruh otot-otot ditubuhnya terlihat menonjol.
__ADS_1
Ketiga lelaki itu mengangguk mantab. Mereka mendukung usaha William.