Secret Mission

Secret Mission
Opsi Kedua


__ADS_3

Suasana tegang dan mencekam makin begitu terasa di persidangan siang hari itu. Amanda terlihat tak nyaman dan berulang kali membenarkan dudukkannya. Ia tahu jika tak boleh memihak kali ini.


Sedang Konstantin, terlihat begitu kesakitan hingga nafasnya tersengal dan badannya lunglai.


Sia dan Yena tak tega melihat paman mereka yang terus disiksa karena berusaha menutupi kebohongannya.


Tiba-tiba, Yena mengangkat tangan kanannya dengan gugup. Mata semua orang kini tertuju pada gadis cantik yang duduk pada mimbar khusus dari kayu samping altar tersangka.


"Yes, Yena?" tanya Vesper yang merasa jika Yena ingin menyampaikan sesuatu.


"Aku hanya ingin mengatakan ... Sudahlah, Paman. Tak ada gunanya lagi melawan. Kita sudah terlalu banyak kehilangan orang-orang yang dicintai. Aku sangat menyayangimu. Begitupula Sia dan bibi Manda. Kurasa ... sudah waktunya bagi kita untuk menghentikan ini semua. Aku tahu, kau terpaksa menuruti perintah Yes demi keselamatan keluargamu, tapi ... Selena sudah tak ada. Begitupula Tomy. Akhiri saja, Paman," ucap Yena terlihat gugup.


"Hmm, begitu ya? Terdengar mudah, Yena. Baiklah. Aku akan menuruti kata keponakanku yang cantik ini. Oke. Tanyakan saja apapun yang ingin kalian ketahui. Aku akan jujur kali ini," jawab Konstantin dengan wajah tengilnya.


Sandara menyipitkan mata. Yena, Sia dan Amanda terlihat lega karena Konstantin mau bekerja sama.


"Baiklah. Pertanyaan selanjutnya. Di mana William?" tanya Sandara menatap kedua bola mata Konstantin tajam.


Jantung Sia berdebar. Boleslav melirik anak perempuannya yang duduk di sebelahnya.


"Aku tidak tahu."


Sandara diam. Para petugas penyetrum dan semua orang terlihat begitu serius menunggu jentikan jari Sandara, tapi ....


"Pertanyaan selanjutnya," ucap Sandara sembari menyentuh layar tablet dengan telunjuknya.


"Dia berkata jujur? Sungguh?" tanya Sia tiba-tiba dari tempatnya duduk.


Mata semua orang kini menatap Sia tajam yang entah apa yang menggerakkan dirinya, ia menyela jalannya persidangan.


"Nona Sia, tenanglah. Aku tahu kau mencemaskan keadaan suamimu, tapi ... jangan mengganggu proses interogasi. Jika kau melanggar, dengan terpaksa kau harus menunggu di luar," ucap Vesper tegas menunjuknya dan Sia mengangguk pelan dengan wajah tertunduk.


Semua orang kembali fokus pada Sandara dan Konstantin di bawah sana. Terlihat Konstantin tak melepaskan pandangannya dari sosok gadis Asia yang berdiri di depannya sedang menginterogasi.


"Kau pasti sangat cerdas hingga berada di posisi ini, Nona Sandara. Pesanku ... jagalah diri baik-baik. Jika Yes tahu tentangmu, aku tak bisa menjamin, kau akan bisa berdiri di sini lagi untuk melaksanakan tugasmu," ucap Konstantin tiba-tiba yang mengejutkan semua orang.


Mata Kai dan Jordan melebar. Mereka berdua tahu maksud dari ucapan Konstantin barusan. Terlihat Jordan menatap Konstantin tajam dari tempatnya duduk.


Sandara berdiri mematung seketika setelah mendengar perkataan pria di hadapannya. Tiba-tiba, Jordan berdiri dan mendatangi Sandara.


Orang-orang terkejut. Mereka khawatir jika Jordan akan melakukan tindak kekerasan karena tersinggung dengan ucapan Konstantin.


Namun ternyata, Jordan mengambil tablet dari genggaman Sandara. Gadis Asia itu menatap wajah Jordan lekat yang terlihat sibuk mengotak-atik layar tablet-nya.


"Terima kasih, Nona Sandara. Silakan duduk, biar aku yang melanjutkan," ucapnya sopan dan Sandara mengangguk pelan.


Vesper mengangguk mengizinkan. Jordan berdiri tegap di hadapan Konstantin yang kini memandanginya dengan sorot mata tajam.


"Perkenalkan. Aku, Jordan Boleslav dari tim eksekutor. Aku yang bertugas untuk menghukum mati para terdakwa setelah pengadilan memutuskan kau bersalah," ucapnya menjelaskan dengan wajah datar.


Namun lagi-lagi, Konstantin tertawa terbahak. Jordan diam saja melihat Pamannya ini tertawa bahkan sampai mengeluarkan air mata.

__ADS_1


Jordan memberikan kode pada Monica dan isteri Eiji tersebut menyalakan rekaman dari proses eksekusi mati di persidangan tersebut dari dua layar yang muncul dari atap ruangan.


Seketika, tawa Konstantin lenyap. Wajahnya pucat usai menonton tayangan horor di depannya yang terlihat begitu nyata.


"Teruslah tertawa, aku tak akan melarang. Anggap saja itu tawa terakhirmu di dunia ini, Paman Konstantin," ucap Jordan santai dan masih berdiri tegap di hadapannya.


Nafas Konstantin terasa tercekat. Ia sungguh tak menyangka jika ada pengadilan berisi orang-orang psikopat di dalamnya bahkan ada dua remaja yang terlibat.


Sistem pengadilan yang diterapkan pun berbeda. Tak ada pengacara, hakim, jaksa dan orang-orang yang menggeluti dunia hukum. Konstantin panik. Ia menatap wajah para mafia yang kini menyorotnya tajam.


"Terima kasih, Monica. Aku akan melanjutkan sesi interogasi," ucap Jordan sopan menoleh sekilas ke meja Monica.


Salah satu anggota kelompok Red Skull Amerika tersebut mengangguk pelan. Tayangan dimatikan dan layar kembali masuk ke atap. Jordan menatap Konstantin seksama.


"Aku juga bisa melihat kebohongan, Paman Konstantin. Aku tak memiliki kenangan manis denganmu. Bahkan ... aku menganggap kau seperti orang asing. Lakukan dengan benar dan berdoalah kau tak mati di tanganku. Jikapun mati, aku yakin jika mommy, Yena dan Sia akan berduka. Setidaknya ... ada yang menangisi kuburanmu," ucap Jordan dengan wajah datar.


"Hehe, dia makin banyak bicara. Setidaknya, meski Jordan seperti patung es, tapi udah gak mirip robot lagi," celetuk Jonathan dengan senyum tengilnya.


Orang-orang yang duduk di sebelahnya berkerut kening. Mereka memakai earphone translator karena dikhawatirkan akan muncul pembicaraan dalam bahasa lain seperti persidangan sebelumnya yang menimbulkan kecurigaan dan kericuhan.


Konstantin tertunduk. Ia terlihat berpikir keras memikirkan nasibnya. Jordan menatap gerak-gerik Konstantin lekat.


"Apa jaminan untukku jika aku mengatakan semua?" tanya Konstantin tiba-tiba.


Semua orang tertegun. Empat dewan tertinggi saling berpandangan.


"Kau ingin mengajukan negosiasi?" tanya Vesper.


"Aku ingin diamankan. Jangan sampai Yes dan orang-orangnya mendapatkanku. Aku menandatangani banyak kesepakatan dengannya. Jika bisa, lenyapkan saja dia dan satu hal lagi. Yes, bukan orang sembarangan. Di atas Yes, ada seseorang yang lebih berkuasa darinya bahkan ... dia dekat dengan Presiden," jawabnya serius.


"Who?" tanya Jordan penasaran.


"Aku tidak tahu. Yes belum percaya sepenuhnya padaku. Aku belum pernah berjumpa dengannya, tapi bisa kupastikan, Yes dikendalikan olehnya," jawab Konstantin menatap Jordan tajam.


Empat dewan tertinggi saling berbisik seperti merundingkan sesuatu. Cukup lama keempat orang itu berbicara dan membuat semua orang penasaran.


"Maaf sudah menunggu lama. Dengan ini, dewan tertinggi memutuskan untuk melepaskan Konstantin, tapi dengan syarat," ucap Amanda tegas.


Semua orang kembali berbisik, tapi mereka lalu terdiam karena penasaran dengan lanjutan dari persyaratan tersebut.


"Apa itu?" tanya Konstantin menatap wajah Saudarinya lekat di kejauhan.


"Cari tahu siapa orang yang kau maksud tadi, Tuan Konstantin. Pengadilan akan mengawasi, melindungi dan membantumu dalam menguak kasus kali ini untuk menemukan, siapa pengendali boneka dalam CIA bahkan sepertinya ini lebih dari itu. Jika dia dekat dengan presiden, bisa jadi ... ia juga terlibat dengan pemerintahan negara luar," ucap Amanda tegas.


Konstantin dan semua orang tertegun.


"Kami akan mempersempit pencarianmu. Hanya orang-orang tertentu yang bisa dekat dengan Presiden dalam jajaran pemerintahan. Para menteri salah satunya. Namun, kau tak mungkin bisa melangkah sejauh itu. Jadi ... lakukan hal ini, maka kami akan menjanjikan hidup untukmu," ucap Vesper menegaskan.


"Kau ingin aku lakukan apa?" tanya Konstantin yang kini menatap sosok wanita tak dikenalnya tajam.


"Kembalilah pada Yes. Dapatkan kepercayaannya. Kau tak perlu memberikan informasi apapun pada kami. Kami akan mengetahuinya," jawab Vesper dengan senyum tipis sebagai penutup.

__ADS_1


"Kalian bisa mengetahuinya? Bagaimana caranya? Kalian memiliki semacam teknologi peretas, begitu? Atau sebuah ilmu sihir yang bisa membaca pikiran seseorang? Melihat masa depan. Hah!" kekehnya kembali merasa orang-orang yang bicara padanya sungguh konyol.


"Jaga ucapanmu, Tuan Konstantin. Kau bicara dengan ketua 13 Demon Heads. Vesper," ucap Jordan tegas menatapnya tajam.


Sontak, mata Konstantin melebar. Pandangannya langsung terkunci pada wajah Vesper seorang yang tersenyum tipis padanya. Konstantin menelan ludah.


"A-aku minta maaf atas kelancanganku, Nyonya Vesper," ucapnya tiba-tiba mengangguk hormat.


Kening Vesper berkerut.


"Ada apa, Tuan Konstantin? Apa yang kau sembunyikan? Apa yang salah dengan namaku?" tanya Vesper curiga.


Konstantin masih tertunduk. Jordan menatapnya tajam begitupula semua orang.


"Hm, percuma memaksanya. Baiklah, jalankan opsi kedua. Gas halusinasi," perintah Vesper cepat.


Segera, para wanita Red Skull memasuki ruangan sembari membawa sebuah tabung oksigen dan masker gas.


Konstantin panik saat wajahnya dipakaikan paksa masker gas itu. Kepalanya dipegangi kuat oleh Julia. Jordan kembali duduk ke kursinya menunggu proses halusinasi selesai dijalankan.


Galina memakaikan masker gas dan memeganginya kuat agar tak lepas. Merry segera memutar benda seperti roda kecil di tabung besi tersebut.


Seketika, gas mulai menyeruak. Konstantin memberontak mencoba untuk melepaskan diri. Namun, kekuatan para wanita gank itu sungguh kuat.


Roza melirik penunjuk waktu dan melihat respon dari Konstantin selama menghirup gas tersebut.


Julia merasakan jika tubuh Konstantin mulai melemah tak tegang lagi. Galina juga melihat pandangan Konstantin mulai tak menentu.


Roza mengangguk pelan. Merry kembali memutar benda seperti roda besi berlawanan arah. Gas berhenti menyeruak.


Galina melepaskan masker gas dan para wanita Red Skull menjauh dari Konstantin.


Roza menarik kursi kayu dan kini duduk di depan Konstantin sangat dekat. Para pria berseragam abu-abu siap dengan senjata sengatan listrik jika Konstantin berulah.


Roza mengikuti arah mata Konstantin yang tak menentu karena kepalanya terus bergerak. Roza lalu menjentikkan jari kanannya ke samping telinga kiri Konstantin dan lelaki itu mulai merespon ke arah suara.


"Hei, hei, look at me!" ucap Roza lantang.


Konstantin berusaha menangkap wajah Roza.


"Namamu Konstantin. Apa itu benar?"


Konstantin mengangguk.


"Isterimu bernama Rebecca. Kau memiliki dua anak. Selena dan Tomy. Apa itu benar?"


Konstantin kembali mengangguk.


"Kau bekerja untuk lelaki bernama Yes. Apa itu benar?"


Konstantin mengangguk meski kepalanya bergeleng-geleng. Semua orang mulai terlihat tegang.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan di Guatemala saat itu, Tuan Konstantin?" tanya Roza tegas sembari menerima tablet yang diserahkan oleh Jordan. Karena kini, Roza yang mengambil alih proses interogasi.


"A-aku ...."


__ADS_2