
Mereka bicara dalam bahasa Rusia.
TOK! TOK! TOK!
CEKREK!
"ДА?" tanya Manda saat membuka pintu ruang kerja dan mendapati Arthur di hadapannya.
"Sia. New York."
Mata Manda terbelalak seketika. Ia bergegas mendekati meja komputer dan meminta Arthur menutup pintu. Arthur mengangguk dan segera melakukannya.
Arthur mengamati gerak-gerik bosnya yang sedang melakukan sesuatu dengan komputer dan men-speaker pembicaraannya.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Q, report," tegas Manda terlihat serius.
"Mandy. Sia di sini, tapi dia menjadi tahanan Rahul. Ia bersama Agent CIA itu. Rahul bodoh atau bagaimana? Kenapa dia membawa William ke dalam? Bagaimana jika dia mencari sesuatu di sini, GIGA barangkali?" jawab Q terdengar cemas.
Manda terlihat berpikir keras. "Di mana Jordan?"
"Virginia. Sepertinya ... hah, dia mengunjungi CIA," jawab Q lesu.
"What?!" pekik Manda kaget setengah mati.
"Aku harus bagaimana, Mandy? Aku bingung. Dua anakmu sungguh membuatku pusing!" pekik Q gusar.
Arthur mendekati bosnya dan menatap Manda tajam. Manda kini memperhatikannya.
"Kirimkan saja Red Skull untuk melindungi Sia. Saya sudah mendengar dari penyadap di mobil Mustang William. Tujuan mereka Denzel Flame, New Hampshire."
Mata Manda kembali melebar. Ia terlihat pusing dan duduk lesu di kursi kerja, memijat kepalanya.
"CIA mempermainkan anakku," ucap Manda dengan nafas menderu.
"Atau mungkin sebaliknya," sahut Arthur tersenyum licik.
"Maksudmu?" tanya Q ikut bergabung.
"Selama saya mendengarkan pembicaraan mereka, saya cukup yakin jika Sia memiliki rencana dalam usahanya melenyapkan The Circle. Saran saya, kita lindungi Sia selama ia menjalankan misinya. Kedatangan Jordan kemarin sangat mencolok. Selain itu, saya mendengar sebuah nama "Yes". Saya yakin jika orang itu pengganti Rika. Hanya saja seperti apa sosoknya, saya belum tahu," ucap Arthur serius.
"Selidiki. Kau ahli melakukannya, Arthur," perintah Manda dan lelaki tampan itu mengangguk.
"Lalu Jordan bagaimana?" tanya Q masih cemas.
"Sambungkan," perintah Manda dan Q segera melaksanakannya.
Tak lama, "Yes, Mom."
"Jordan. Apa yang kau lakukan di CIA?" tanya Manda menahan emosi.
"Hanya mengirimkan paket kepala Liev dan aku sudah tahu siapa bosnya sekarang. Aku kirimkan fotonya," jawab Jordan santai, tapi membuat tiga orang dewasa itu terkejut.
__ADS_1
TING!
Manda langsung meraih ponselnya dan seketika, matanya melotot. Arthur mendekati bosnya dan ikut mengintip gambar di ponsel itu.
"Siapa dia?" tanya Arthur bingung.
"Yes. Kau bisa membantu dengan mencari tahu siapa lelaki itu, Paman Arthur. Tugasku selesai dan aku berpikir untuk singgah di Apartement William. Aku penasaran dengan kehidupannya," ucap Jordan yang kembali mengejutkan semua orang.
"Hei! Jangan menyelinap ke rumah orang sembarangan!" pekik Manda gusar.
"Sorry, Mom. Aku sudah di sini. Akan kuhubungi lagi. Aku sibuk."
KLEK! TUT ... TUT ... TUT!
"JORDAN? JORDAN!" pekik Manda panik karena anaknya mulai bertindak seenaknya.
"Q! Pastikan Apartement William aman!" pekik Manda panik.
"Terlambat, Mandy. Jordan bertemu dengan Cecil dan Rika. Ia ... sudah masuk ke dalam," jawab Q terdengar cemas.
"Oh God! Agh! Jordan!" pekik Manda kesal setengah mati.
"Hubungi Mix atau Match!" pinta Arthur tegas.
"Agh, mereka menolak panggilanku! Bagaimana ini? Bagaimana jika Jordan membunuh mereka berdua? Mandy!" pekik Q panik malah terdengar seperti akan menangis.
Arthur dan Amanda panik seketika. Manda memegangi kepalanya yang mendadak pusing seperti bumi berguncang bagaikan gempa.
"Nyonya Manda!" teriak Arthur saat Manda tiba-tiba pingsan.
Apartment William, Virginia.
"Aku mengenali kalian berdua. Apa mau kalian?" tanya Cecil menatap Mix and Match yang berdiri mengapit Jordan di kanan kirinya.
"Apa yang kalian rencanakan pada kakakku, Sia? Berani berbohong, aku tak segan melakukan hal yang sama seperti Liev," tanya Jordan tegas.
Mata Cecil dan Rika melebar. Mereka terkejut akan sosok remaja di depan mereka yang terlihat seperti tak memiliki belas kasih di balik ketampanannya itu.
"Ka-kau yang memutilasi Liev?" tanya Rika gugup.
"Apa ucapanku kurang jelas? Apa karena kalian sudah tua jadi pendengaran kalian bermasalah? Haruskah ku naikkan intonasiku?" tanya Jordan dengan wajah dinginnya.
Rika dan Cecil shock. Mereka tak menyangka jika remaja tampan di hadapan mereka ini berhati iblis.
"Semua rencana Sia. Kami sudah pensiun. Kami tak terlibat lagi. Kami hanya memberikan nasehat saja pada Sia dan William. Aku sudah mengatakan semuanya," jawab Cecil tegas dan tetap tenang.
"Sampai kapan kakakku bersama William?" tanya Jordan lagi dengan pedang Silent Red dalam genggaman tangan kanan tanpa laser.
"Kau tak mengerti? Mereka menikah. Mereka sudah menjadi suami isteri seperti ayah ibumu. Nantinya mereka akan memiliki anak. Tak bisakah kau menghargai keputusan kakakmu untuk hidup seperti manusia normal tanpa terlibat kekacauan seperti ini?" tegas Rika.
Namun, Jordan malah tersenyum seakan ucapan Rika lelucon baginya. Rika dan Cecil menyipitkan mata.
"Sejak kakakku lahir, dia sudah hidup di keluarga bencana. Apa kalian sedang menghina kehidupan kami? Omong kosong macam apa yang kalian ucapkan dengan kehidupan normal? Lalu ... kalian pikir, yang kami lakukan selama ini tak normal? Bagi kami, kehidupan yang kami jalani sampai saat ini adalah NORMAL! Jika aku tak membunuh, itu tidak normal!" pekik Jordan terlihat begitu marah.
__ADS_1
Mix and Match melirik Jordan yang terlihat seperti tersinggung dengan ucapan Rika.
"Jordan, kita pergi," ajak Mix yang kini berdiri di sampingnya.
"Aku ingin memotongnya," ucapnya dengan nafas menderu dan sorot mata tajam.
Sontak Rika dan Cecil terkejut. Keduanya segera menyiagakan pistol dan di arahkan ke hadapan Jordan.
Match memberikan kode dari belakang dengan mata dan telunjuknya agar dua wanita tua itu menurunkan senjata.
Namun, Cecil dan Rika tetap bertahan dalam posisi mereka. Match makin melebarkan mata dan memberikan kode tegas di telunjuknya.
Cecil dan Rika akhirnya menurunkan pistol meski terlihat ragu. Jordan yang tak menyadari pergerakan Match di belakangnya menyipitkan mata menatap dua wanita tua itu seksama.
"Kami minta maaf jika menyinggungmu, mm ... Jordan? Kau Jordan Boleslav 'kan?" tanya Cecil sembari meletakkan pistolnya di lantai perlahan.
Jordan diam saja tak menjawab.
"Jordan dengar. Kakakmu Sia ingin membuktikan diri. Aku tahu dia gagal dalam seleksi anggota dewan menggantikan ayahmu, Boleslav. Dia mengincar Denzel Flame yang selama ini menjadi parasit di kehidupan kalian. Aku tahu hal ini karena Sia menceritakan betapa dia kecewa pada dirinya sendiri. Ia pergi dari keluargamu karena merasa tak pantas. Dia menyayangi keluarga mafia-nya, tapi ... ia memiliki harapan besar jika bersama William, ia bisa seperti warga sipil. Ia ingin menuntaskannya dendam keluarga kalian dengan kehancuran The Circle. Setelah semua selesai, biarkan Sia menjalani kehidupan sesuai pilihannya bersama orang yang dicintainya," ucap Cecil panjang lebar mencoba membuka pikiran dan hati remaja di depannya yang terlihat seperti memperdulikan kakaknya.
Jordan diam tertunduk.
"Jordan. Aku tahu kau pasti sangat menyayangi Sia, begitupula ayahmu dan semua orang-orang dalam jajaranmu. Hanya saja, semua orang memiliki pilihan hidup. Pilihan Sia memang menyimpang jauh dan bertolak belakang dari kehidupan kalian selama ini. Meski demikian, dia tetap keluargamu. Bahkan Sia mengorbankan perasaannya dan terlibat sekali lagi untuk ikut menyelesaikan masalah kalian selama ini, The Circle," ucap Rika menambahkan.
Jordan masih diam tak berkomentar. Mix and Match saling melirik dalam diam.
"Seandainya saja saat itu ibumu tak mengatakan jika ia masih hidup dan memintanya kembali kepada keluarganya, mungkin Sia sudah menikah dengan William sedari dulu. Hidup bahagia bersamanya. Namun, kau lihat sendiri. Sia pergi meninggalkan William. Kau lelaki, kau pasti tahu bagaimana perasaan William yang kehilangan cintanya di saat ia hampir menikah dengan Sia. Itu ... sangat menyakitkan, Jordan," sambung Cecil makin mempertegas.
Jordan tertohok. Sekilas, ia teringat akan Sandara yang tak pernah membalas cintanya. Pandangan Jordan tak menentu.
"William mengorbankan reputasinya di CIA yang sudah ia capai dengan penuh perjuangan, Jordan. Hanya karena Sia, dia menjadi seperti orang bodoh. William menjadi lelucon di Agensi. Ia mempermalukan dirinya sendiri demi cintanya pada Sia. Jika kau tak pernah merasakan jatuh cinta, kau tak akan bisa mengerti yang kami katakan. Semua ini percuma. Jadi, terserah kau saja. Jika menurutmu kami berdua hanya pembual, bunuh saja. Kami sudah tua, tak ada lagi obsesi yang ini dicapai. Kami sudah lelah," ucap Rika yang kini terlihat malas dan memilih duduk di mana sedari tadi ia berdiri di samping Cecil.
"Yah, pastikan kau membersihkan rumah William tanpa meninggalkan jejak. Kami hanya tamu di sini. Kirimkan saja tubuh kami ke CIA sebagai bingkisan. Mungkin aku masih bisa dimakamkan bersama para pahlawan Negara," sahut Cecil ikut pasrah dengan takdirnya.
Mix and Match mengerutkan kening melihat dua wanita tua di hadapan mereka malah duduk dan menunggu Jordan mengeksekusi.
Jordan menaikkan pandangan dan menatap Rika dan Cecil tajam. Namun, dua wanita tua itu terlihat cuek dengan nyawa mereka yang seakan sudah tidak ada artinya lagi.
Jordan mulai mendekati Cecil dan Rika dengan pedang Silent Red dalam genggaman. Cecil dan Rika mulai menarik nafas dalam terlihat tegang.
"Oh, pastikan potongannya sempurna seperti Liev," pinta Cecil yang duduk tegap mendongakkan wajah.
Rika terkekeh dan ikut merapikan rambutnya, seolah-olah mereka berdua akan berfoto. Match and Mix terlihat tegang melihat Jordan mulai meluruskan tangannya ke samping siap menebas
Rika dan Cecil duduk berdampingan, memejamkan mata terlihat siap untuk mati.
Namun, tiba-tiba mata Rika terbuka saat di atas pahanya ada sebuah kalung dengan liontin cincin. Rika bingung saat mengambil cincin itu.
"Berikan itu pada William dan kak Sia," ucap Jordan yang dengan terampil memutar pedangnya dan menyarungkan di pinggul kanan.
Cecil membuka matanya. Ia melihat Jordan berpaling dan pergi bersama Mix and Match meninggalkan mereka berdua.
CEKLEK!
__ADS_1
Cecil dan Rika saling memandang terlihat kebingungan dengan hal ini. Mereka tak jadi mati. Namun entah kenapa, keduanya malah terlihat seperti kecewa akan hal itu.
"Kita masih harus menderita, Rika," keluh Cecil dan Rika hanya menghembuskan nafas panjang sembari mengusap cincin pemberian Jordan.