
William terkejut saat memasuki sebuah ruangan dan mendapati seorang lelaki yang terlihat begitu serius, tapi berkarisma.
Jantung William berdebar. Ia teringat wajah itu pada foto jajaran 13 Demon Heads saat misi diberikan padanya.
William yakin, lelaki yang berada di depannya adalah Antony Boleslav.
Terlihat Antony berdiri diam menatapnya tajam sembari membenarkan setelannya. William gugup karena aura yang dipancarkan Boleslav berbeda dari mafia lainnya, bahkan Denzel.
Mereka bicara bahasa Rusia.
"Waktumu 5 menit. Aku tak suka basa-basi," ucap Antony serius yang kemudian duduk perlahan di sofa dengan elegan.
William dibiarkan berdiri. Mantan Agent CIA itu malah gugup dan seakan semua ucapan yang sudah ia siapkan sirna begitu saja karena sosok Boleslav.
"Satu menit berlalu," ucap Boleslav lagi melirik jam tangan.
"Sir, saya sangat mencintai Sia. Saya tak mau bercerai. Saya merelakan pekerjaan sebagai Agent CIA demi bisa hidup bersama Sia. Jadi kumohon, izinkan saya bertemu dengannya," ucap William sopan berbicara formal.
Namun, wajah Antony masih datar. "Tiga menit."
William panik. "Tuan Boleslav. Saya dan Sia saling mencintai. Kami memiliki impian yang sama. Kami berdua ingin hidup bahagia, memiliki keluarga seperti dirimu, memiliki anak dan jauh dari dunia kepolisian serta mafia. Biarkan kami berdua menentukan tujuan hidup. Anda sebagai Ayah, pasti ingin melihat anakmu hidup bahagia bersama orang yang dikasihinya bukan?" tanya William memelas.
Antony masih diam mendengarkan. "Dua menit."
William tak habis pikir. Ia sudah mengatakan semua yang ada dipikiran dan hatinya. Ia tak tahu harus berkata apa lagi.
"Anda ingin saya mengatakan apa? Tujuanku datang kemari untuk meminta restumu. Saya ingin kau mengizinkanku dan Sia hidup bersama," tegas William.
"Kau berencana membunuhku," ucap Antony menatap William tajam.
William terlihat gugup dengan wajah tertunduk. Semua orang dalam jajaran Antony menyipitkan mata.
"Ya, itu benar. Namun itu dulu, saat saya masih bekerja untuk CIA dan membuat kesepakatan dengan Denzel Flame. Namun, Denzel sudah tewas dan saya sudah keluar dari CIA. Saya sudah tak terikat dengan semua perjanjian itu. Saya kini hanya orang biasa. Saya bahkan tak bersenjata dan hanya membawa obat untuk luka, dompet serta ponsel. Saya meninggalkan semua yang telah dicapai selama di CIA demi Sia. Tak bisakah Anda mengerti?" ucap William panjang lebar terlihat begitu serius dengan ucapannya.
"Kau tak ingin kalungmu dilepaskan?" tanya Boleslav yang mengejutkan semua orang.
"Saya lebih memilih kalung ini terpasang asalkan Sia kembali padaku, Tuan Boleslav. Saya ... saya kesepian. Saya sangat merindukannya. Kepergian Sia membuatku seperti orang tak memilki tujuan, tak memiliki gairah hidup. Hanya Sia penyemangatku," ucap William mengutarakan seluruh perasaannya.
__ADS_1
"Apa kau tak ingat, William? Sia meninggalkanmu. Kau membohonginya. Wanita mana yang mau menikahi lelaki yang ingin membunuh keluarganya? Kau egois, kau hanya memikirkan perasaanmu saja, tapi tidak dengan Sia. Kau yatim piatu, sedang Sia memiliki keluarga. Jangan samakan Sia denganmu, William," ucap Antony tegas masih menatapnya tajam.
William tersentak mendengar perkataan Boleslav barusan. Tiba-tiba, Antony berdiri.
William panik karena ia tak mendapatkan jawaban atas usahanya untuk membawa Sia kembali padanya.
"Sir! Saya tak akan pergi sampai bertemu dengan Sia dan membawanya bersamaku!"
CEKREK!
Semua orang tertegun. Antony mengeluarkan pistol dari balik jas depannya. Ia mengarahkan tepat ke wajah William dengan sorot mata pembunuh.
"Hidupmu penuh dengan kebohongan, William. Meskipun umur kita terpaut hampir 30 tahun, tapi kebohongan yang kau buat lebih banyak dari yang ku lakukan selama ini. Aku tak mau anakku menghabiskan sisa hidupnya bersama seorang penipu," ucapnya bengis dan masih mengarahkan pistol ke wajah William di kejauhan.
Nafas William tersengal. Entah kenapa semua perkataan yang diucapkan oleh Boleslav terasa begitu benar dan menohok di hatinya. William menarik nafas dalam.
"Ya, saya memang egois dan saya menjadi orang bodoh karena Sia. Namun, hanya Sia satu-satunya yang bisa menerima semua keburukanku, Tuan Boleslav. Anda ingin bukti dariku? Anda ingin agar tak ada lagi kebohongan dan tipu daya dariku? Baiklah. Saya akan beritahu semua yang ingin Anda ketahui tentang CIA dan lainnya. Silakan Anda korek semua isi kepalaku, asalkan ... ijinkan saya hidup selamanya dengan Sia."
Sontak, mata orang-orang di ruangan itu terbelalak mendengar perkataan William yang berkesan serius. William berdiri tegak menatap Antony tajam.
Antony menyipitkan mata, seperti mencoba mencari kebohongan di mata biru William yang kini menatapnya di kejauhan tak terlihat takut padanya lagi seperti saat datang.
"Saya tak peduli Anda akan terus berperang dengan CIA ataupun pemerintah dunia. Anda ingin menghancurkan dunia pun, saya tak akan ikut campur. Saya hanya ingin hidup bahagia bersama Sia layaknya warga sipil. Menjadi orang normal, tanpa kebohongan dalam hidup kami berdua," ucap William tegas.
Namun, Antony terkekeh. Orang-orang dalam jajaran Boleslav saling melirik dalam diam. William kembali gugup melihat sikap aneh Boleslav.
"Aku pernah muda seperti dirimu, William. Namun, aku tahu tempatku berada. Aku tahu kemana arah dari masa depanku nanti. Namun kau, bagaimana bisa Sia mencintai lelaki naif sepertimu, William? Yang kau ucapkan, itu hanya akan terjadi di dunia mimpi. Kau dan Sia, sudah ditandai. Takdir dunia tak akan meloloskanmu dari penderitaan dan kematian," ucap Antony bengis.
William kembali tertunduk dan diam. Ia tak menyangka jika pemikiran Boleslav sungguh kritis.
Saat William sudah hampir menyerah, ia teringat akan ucapan Sia. William menaikkan pandangan.
"Apakah Anda pernah menanyakan pada Sia, apa yang dia inginkan?" tanya William berwajah sendu. Antony menyipitkan mata.
"Sia pernah mengatakan padaku jika Anda sangat menyayanginya padahal Anda bukan Ayah kandungnya. Ia juga menyayangimu, Sir. Oleh karena itu, tiga kali ... tiga kali Sia meninggalkanku saat saya sudah terlanjur mencintainya," ucap William terlihat begitu sedih.
Antony dan lainnya masih menatap William tajam.
"Sia meninggalkanku karena ibunya Amanda. Kedua kalinya ia meninggalkanku karena ia tahu jika lahir dalam keluarga mafia dan takkan mungkin bisa lepas. Lalu yang ketiga kalinya, ia memilihmu dan kembali meninggalkanku karena ia menyayangi keluarganya. Namun, apa Anda tahu apa yang sangat Sia inginkan? Apa Anda pernah mendengarkan pengakuan darinya? Ia ingin sepertiku, Sir. Ia ingin hidup normal tanpa belenggu polisi dan mafia," ucap William panjang lebar penuh perasaan.
__ADS_1
Semua orang terdiam. Antony menurunkan pistol dan melemparkannya ke arah Daniel.
Dengan sigap, Daniel menangkapnya meski ia bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Antony berbalik dan memunggungi William.
"Aku ingin melihat kejujuranmu dulu, William. Aku yang akan memutuskan kau berhak bertemu Sia dan layak menjadi suaminya atau tidak. Sampai saat itu tiba, kau dalam pengawasanku. Menolak, pergi dari sini dan jangan kembali lagi," ucap Antony tegas tak memandangnya.
William terlihat bingung, tapi ia merasa hal ini pantas untuk diperjuangkan. Ia tak bisa kembali ke CIA ataupun Amerika. Ia sudah memutuskan untuk hidup bersama Sia apapun resikonya.
"Baik. Saya terima, Tuan Boleslav," jawabnya terlihat gugup.
"Maksim. Bawa dia. Ia kini menjadi tawanan kita sampai waktu yang tak ditentukan," ucap Antony tegas dan Maksim mengangguk paham.
William tak bisa melawan saat kedua lengannya dipegangi kuat bahkan tongkat penyangganya sampai terjatuh. Namun, tiba-tiba, ia didudukkan.
William kaget saat ia didorong oleh salah satu anak buah Boleslav dengan kursi roda menuju ke sebuah ruangan.
Antony sengaja berdiri karena ia khawatir jika melangkah akan jatuh. Ia menjaga harga diri dan wibawanya pada calon menantunya itu.
"Sir. Anda yakin untuk menempatkan William di sini? Bagaimana jika ia memang ditugaskan untuk memata-matai kita?" tanya Daniel cemas.
"Oleh karena itu, pastikan dia tak membelot. Jika sampai hal itu terjadi, itu salahmu, Daniel," jawab Antony melirik asistennya tajam.
Daniel tertegun karena malah dilibatkan. Yuri terlihat panik saat Antony kini menatapnya tanpa berkedip.
"Interogasi William sampai ia tak memiliki rahasia apapun lagi di kepalanya selama berada di sini. Pastikan, jika orang itu tak diikuti CIA. Pastikan kebenaran jika William memang keluar dari CIA. Lakukan semua hal yang dirasa perlu, telusuri semua. Mulai dari Apartement-nya di Virginia, kedatangannya kemari, di mana ia tinggal selama di Krasnoyarsk hingga orang-orang yang terlibat. Buat berita jika William telah tewas. Lakukan dengan rapi. Kau bisa?"
"Ye-yes, Sir," jawab Yuri gugup.
"Bicara yang jelas!"
"Yes, Sir! Saya mengerti apa yang harus dikerjakan! Saya akan melaksanakannya saat ini juga!" jawab Yuri lantang karena panik, tapi Antony malah kaget karena lelaki itu berteriak di hadapannya.
Yuri langsung pergi begitu saja sebelum kena amukan Bosnya. Daniel menghela nafas panjang dan mulai paham situasinya.
Ia tak menyangka jika Antony masih memiliki belas kasih pada calon menantunya itu, meskipun Sia sudah menikah dengannya, tapi Antony tak pernah mengakuinya.
ILUSTRASI
SOURCE : PINTEREST
__ADS_1