Secret Mission

Secret Mission
Axton "CASSANOVA"


__ADS_3

Nandra menatap mata Axton dalam. Perlahan Axton mengangkat tangan Nandra dan mengecup punggung tangannya lembut lalu tersenyum manis padanya. Nandra diam saja dan hanya membalas senyum.


"Anda ikut, Tuan?" tanya wasit dalam permainan poker itu.


Axton membalik tubuhnya dan menatap semua orang seksama.


"No. Permainan kalian sangat membosankan. Aku punya yang lebih menarik," jawab Axton sembari memberikan lengannya pada wanita India yang baru saja ditemuinya.


Nandra menerima ajakan itu dan meraih lengan Axton lembut. Axton mengajak Nandra pergi dari ke ramaian ke restaurant yang ada di roof top untuk makan malam bersama.


Sergei dan lainnya segera mengamankan lokasi. Nandra berjalan perlahan berdampingan dengan Axton.


Ia melihat pengawalan dari para bodyguard Axton saat menyisir koridor. Mereka terkoneksi dengan earphone di telinga dan pistol di balik pinggang.


Nandra gugup seketika. Penjagaan Axton lebih ketat ketimbang Rahul ataupun Jamal. Axton menatap Nandra seksama yang terlihat kikuk.


"Jangan takut, Sayang. Mereka pelindung kita. By the way, what's your name, Babe?" tanya Axton ramah.


"Oh. Nandra, Sir. And you?" tanya Nandra balik mencoba terlihat normal.


"Axton. Aku masih muda dan tampan. Kau mengakuinya, 'kan?" tanya Axton menaikkan salah satu alisnya meminta penegasan.


"Oh yes. Oleh karena itu, aku langsung terpesona padamu. Sayang, kau sepertinya memang buruk dalam permainan poker," ucap Nandra menyindir.


"Hah! Itu hanya poker. Permainan sejati seorang lelaki itu di atas ranjang. Kau paham 'kan maksudku, Nandra?" tanya Axton berbisik di telinga kanan wanita Rahul itu.


Nandra tersenyum tipis. Ia paham betul maksud ucapan Axton. Mereka masuk dalam lift dan naik sampai ke lantai paling atas.


Terdapat sebuah taman terbuka dengan meja dan kursi khusus dilengkapi lampu-lampu bernuansa redup. Sangat romantis.


Sebuah meja bundar dikelilingi oleh taman bunga mawar merah yang sedang bermekaran.


Nandra terpesona seketika akan tempat romantis tersebut. Axton menarik salah satu kursi dan Nandra duduk di sana.


Pemandangan indah dengan lampu di bawah menjadikan Las Vegas seperti bintang di daratan.


Sergei dan lainnya segera pergi dari tempat Axton dan Nandra sedang memadu kasih dari makan malam mewah romantis.


Kawasan roof top di block khusus tak ada pengunjung lain selain Axton, Nandra dan kelompok Axton.


Sergei dan lainnya juga menikmati makan malam di roof top. Sayangnya makan malam itu berisi para lelaki bujang.


"Jadi, Nandra. Apa yang membawamu sampai jauh dari rumah?" ucap Axton sembari menuangkan wine di gelas Nandra.


"Well. Aku sedang mencari pekerjaan. Aku dulunya seorang model di India, tapi karirku berjalan sangat lambat bagaikan siput. Bahkan uang yang kudapatkan juga tak bisa memenuhi gaya hidupku. Jadi yah, aku mengadu nasib di kota ini," ucap Nandra sembari menggoyangkan gelas wine-nya.


"Hmm. Menarik. Kebetulan aku sedang butuh teman wanita. Yah, bisa dibilang "Sekretaris". Aku tak butuh resume yang rumit asalkan kau fleksibel, kau bisa bekerja untukku mulai malam ini," ucap Axton sembari mengajak bersulang wine.


Senyum Nandra merekah. Ia pun menerima ajakan bersulang Axton. Mereka minum bersama dan makan steak yang tersaji hangat.


Gemerlap dan hingar-bingar kota Las Vegas seakan tak mengusik mereka malam itu. Nandra dan Axton terlihat bagai sepasang kekasih meski umur mereka terpaut cukup jauh, tapi Axton tak mau mengakuinya.


Ace yang meneropong gerak-gerik Nandra dari seberang gedung di lantai yang sama, mulai mencari sudut bidikan untuk menembak Axton yang sedang lengah itu.


"Ace. Position, over," panggil William dari sambungan earphone-nya.


William bertugas sebagai mata dari berbagai mini cam yang ia pasang di beberapa sudut ruangan dimana Axton biasa melintas.


Ace fokus meneropong pada senjata laras panjang miliknya. Ia bertugas menjadi sniper seperti keahliannya.


Ia membidik kepala belakang Axton meski terhalang sebuah tanaman bunga mawar.


"Ace in position, over," jawab Ace yang sudah siap menembak.


"Lingkungan aman. Segera eksekusi," perintah William.


Para bodyguard Rahul yang mendengar dari sambungan earphone ikut berdebar. Rahul melihat dari pantauan mini cam yang terhubung ke sebuah monitor di depannya. Mini cam itu diletakkan Ace di samping senapannya.


"Yes, Sir."


Saat Ace siap menekan pelatuknya dimana ia sudah sangat yakin dengan bidikkannya, tiba-tiba ....


"ARGGHH!"


Semua orang tertegun seketika. Salah satu bodyguard Axton tertembak di tengkuk dan membuat wajahnya menghantam sajian di atas meja. Ia tewas di tempat.


Sergei dan para bodyguard Axton segera berdiri, menyiagakan senjata. Nandra dan Axton juga ikut terkejut.


Ace tak jadi menembak karena ia merasa ada sniper lain di antara mereka yang tak ia ketahui keberadaannya.


"Ace, report!" pekik William dari sambungan earphone.


"Ada yang lain, Will," jawab Ace yang kembali pada teropong senapannya itu mencari keberadaan sniper tersebut.


Axton segera membawa Nandra bersamanya pergi meninggalkan roof top. Sergei dan pasukannya mengarahkan senjata ke berbagai sudut karena tak tahu keberadaan musuh.


PRANG!!


Lagi-lagi. Sebuah tembakan mengenai pot bunga di samping Axton. Axton tak terlihat ketakutan, ia malah makin sigap dan waspada dengan serangan berikutnya.


"Shit! Amankan bos! Go go go!" pekik Sergei menginstruksikan anak buahnya untuk segera membawa Axton pergi.


"Liftnya macet!" jawab bodyguard yang kini berdiri di depan Axton yang sedang memeluk wanitanya.


"Pakai tangga darurat!" perintah Sergei segera.


Axton memegang dagu Nandra dan tiba-tiba, CUP. Nandra tertegun. Axton malah menciumnya dan memamerkan senyum menawannya lagi.

__ADS_1


"Jangan takut, Sayang. Tetaplah di dekatku, maka kau akan hidup," ucap Axton sembari menggandeng tangan Nandra.


Nandra berdiri diam mematung dimana ia tak pernah dalam kondisi seperti ini sebelumnya saat bersama Rahul.


Axton membawa Nandra menuruni tangga. Nandra yang terburu-buru itu malah terpeleset dan keseleo karena heels tinggi yang dipakainya.


"Argh!" rintih Nandra saat ia roboh di tangga memegangi pergelangan kakinya yang terkilir.


"Tinggalkan saja dia, Bos!" pekik salah satu bodyguard Axton yang merasa jika Nandra menghambat pergerakan mereka.


Seketika ....


DOR! BRUKK!


Bodyguard Axton yang mengamankan bosnya itu malah ditembak mati tepat di keningnya. Semua orang terkejut termasuk Nandra.


"Dia lebih berharga daripadamu," ucap Axton keji menatap bodyguard yang mati karena peluru tajamnya.


Axton lalu menarik kedua tangan Nandra agar berdiri perlahan. Nandra diam mematung menatap Axton yang kembali tersenyum padanya.


"Tolong pegangkan senjataku, Sayang. Dan berpeganglah yang kuat padaku," ucap Axton sembari menyerahkan pistolnya dan Nandra menerimanya dengan gugup.


"Oh!"


Nandra tertegun saat Axton menggendongnya di depan menuruni tangga. Ia tak menyangka jika Axton sangat kuat padahal ia sudah tua.


Nandra menatap Axton seksama yang menuruni tangga dengan hati-hati agar mereka berdua tak jatuh.


"Sir! Lift ini berfungsi!" pekik salah satu bodyguard yang berhasil membuka salah satu pintu lift.


Axton mengangguk dan segera berjalan ke arah lift itu. Saat bodyguard tersebut masuk ke dalam untuk menahan pintu lift dengan menekan tombol, tiba-tiba ....


KREKKK!!


"AARGGHH!!!"


BRANGG!! DOOM! BLARRR!


Semua orang kembali terkejut. Lagi-lagi ada jebakan yang terpasang untuk membunuhnya.


William dan lainnya yang masih mengamati gerak-gerak Axton serta pasukannya dibuat bingung seketika.


William merasa ada pihak lain yang ingin melenyapkan Axton selain dirinya. William kembali menghubungi Ace untuk mengetahui lokasi di sekitar gedung.


"Ace! Report!" panggil William dari sambungan earphone.


"Negative, Will. Sekarang bagaimana?" tanya Ace yang tak menemukan apapun dari balik teropong senapannya.


"Berkumpul," jawab William memerintahkan.


Ace paham kondisinya dan segera merapikan seluruh peralatannya. Ia lalu bergegas pergi meninggalkan roof top dari gedung tersebut menuju ke tempat berkumpul.


William menggelengkan kepala. Ia dan team tak bisa menunjukkan diri karena takut jika Nandra akan terkena imbasnya dari serangan tersebut.


Axton tetap menggendong Nandra menuruni tangga hingga akhirnya Sergei memastikan jika lift yang kini dimasukinya aman. Axton menatap Sergei seksama.


"Trust me. Yang ini aman. Aku melihat seseorang baru saja keluar dengan lift ini," ucap Sergei dengan pistol di tangan kanan.


Axton menarik nafas dalam dan mengangguk. Ia segera masuk ke lift dan berdiri di samping Sergei.


Bodyguard Axton tersisa 8 orang. Mereka membagi menjadi 2 kelompok. Satu team ikut dalam lift dan team lain tetap menuruni tangga mengamankan keadaan sampai ke kamar Axton.


Axton tetap tak menurunkan Nandra meski ia sudah berkeringat. Nandra menatap Axton seksama dimana ia tak menyangka jika lelaki tua tersebut rela mengorbankan dirinya untuk melindunginya.


Jantung Nandra berdebar tak seperti biasanya. Ada perasaan aneh dihatinya.


TING!


Pintu lift terbuka. Keempat bodyguard Axton segera keluar dari lift dan mengamankan keadaan. Sergei berdiri di samping Axton melindungi Tuannya sampai ke pintu kamar.


Sergei segera membuka pintu dan menyusuri ruangan besar itu. Mengecek dan mengamankan lokasi.


"Clear!" ucap Sergei yakin dan Axton segera membawa Nandra masuk ke dalam.


Nandra tak menyangka jika kamar hotel Axton sangat mewah. Axton langsung membawa Nandra ke kamarnya dan mendudukkannya di atas ranjang.


Nandra diam saja saat Axton melepaskan pakaiannya yang basah karena berkeringat. Nandra memberikan pistol yang sedari tadi dibawanya kepada Axton.


"Terima kasih, Sayang."


CUP.


Nandra kembali tertegun. Axton menciumnya kembali. Sergei ikut masuk ke dalam kamar dan terlihat Axton berbicara serius padanya.


"Hubungi jasa pembersih mayat Vesper. Segera siapkan pesawat. Kita pergi malam ini juga. Aku bersiap dulu," ucap Axton serius dan Sergei mengangguk paham.


Axton menutup pintu dan kembali mendatangi Nandra dengan raut wajah yang berbeda. Jantung Nandra berdebar kencang seketika. Axton terlihat menyeramkan.


"Kenapa tiba-tiba kita diserang? Siapa kau sebenarnya, Nandra?" tanya Axton curiga menatap Nandra tajam sembari melepas ikat pinggangnya.


"A-aku bukan siapa-siapa. Sungguh!" jawab Nandra gugup dan malah merayap mundur ke tengah ranjang.


"Hmm, benarkah? Kau pasti sangat berharga hingga banyak penyerang ingin membunuhku. Apa kau kabur dari seseorang?" tanya Axton sembari melepaskan kedua sepatu fantovelnya.


"Ti-tidak. Aku tak kabur dari siapapun. Aku tak bohong," jawab Nandra yang sudah terpojok di sandaran kasur dimana Axton melilitkan ikat pinggang dalam genggaman tangannya.


Nandra ketakutan setengah mati. Ia tak bisa menghubungi Rahul dan lainnya karena tasnya tertinggal di meja roof top.

__ADS_1


Axton naik perlahan dan kini merangkak mendatangi Nandra dengan bertelanjang dada.


Meski ia sudah tua, tapi masih terlihat jelas tubuhnya yang atletis meski tak sepadat dulu. Nanda menelan ludah.


"Tak mau jujur ya? Baiklah, akan kuberikan sebuah penyiksaan penuh kenikmatan padamu, Nandra," ucap Axton dengan seringainya.


Nandra panik seketika. Axton menarik kedua pergelangan kakinya dan mengikatnya dengan sabuk dalam genggamannya.


Nandra meronta mencoba melepaskan diri, tapi tenaga Axton sangat kuat. Nandra bahkan tak menyangkanya.


Teriakan Nandra malah membuat Axton makin bersemangat. Ia lalu menerkam Nandra dengan menaiki tubuhnya.


Axton memegang kedua pergelangan tangan Nandra dimana ia sudah terlentang tak berdaya karena Axton mendekatkan wajahnya tepat di mukanya.


Nandra diam seketika dengan jantung berdebar.


"Berteriaklah lagi, maka akan kupastikan kau akan tertidur lelap malam ini, Sayang," ucap Axton dengan seringainya.


Nandra ketakutan. Ia kembali berteriak dan meronta mencoba melepaskan diri. Nandra takut jika ia akan dibunuh oleh Axton, tapi yang terjadi malah sebaliknya.


Nandra dipuaskan Sang Cassanova malam itu. Teriakan ketakutan berubah menjadi erangan kenikmatan karena Axton tak henti-hentinya menciuminya dan memijat tubuhnya dengan sentuhan-sentuhan penuh gairah.


"Yah begitu, Sayang. Lebih kuat lagi, nah ... lebih dalam lagi ... nah, benar begitu, Nandra sayang," ucap Axton sembari memijat kuat dua tempurung kenyal yang sangat menggemaskan bagi Axton.


Nandra duduk di atas pinggul Axton yang memasrahkan tubuhnya dengan posisi terlentang.


Nandra menggoyangkan pinggulnya kuat hingga ia mabuk kepayang dengan kejantanan Axton yang terasa begitu dalam mengenai intinya.


"Oh, aku akan keluar banyak sekali malam ini. Teruskan, Nandra ... teruskan," pinta Axton yang kini bangun dan merapatkan pinggul Nandra ke tubuh depannya itu.


Axton menciumi wajah Nandra yang begitu sensual dan sangat cantik sangat bergairah. Desahannya pun mampu membuat Axton mabuk kepayang.


Rintihan lirih dengan goyangan kuat membuat tubuh Nandra tak banyak berkeringat. Axton merasa jika gaya bercinta Nandra berbeda dengan wanita lainnya.


Tiba-tiba, Axton merebahkan Nandra dan membuatnya terlentang. Nafas Nandra tersengal dimana ia sudah hampir berada di puncak setelah 30 menit bercinta dengan Axton.


Axton dengan sigap melepaskan pengaman pada kejantanannya itu dan membuangnya ke lantai.


Axton kembali menghampiri Nandra dan kembali memasukkan miliknya itu dengan cepat.


Nandra kembali meronta dalam kenikmatan. Axton yang kini bersemangat menggoyangkan dan menyodokkan miliknya dengan penuh penekanan.


Axton memainkan dua bulatan menggemaskan itu dengan lidah nakalnya tanpa henti hingga Nandra merintih sampai keningnya berkerut.


"Arghh! Nandra!" teriak Axton yang sudah tak tahan untuk segera menggelontorkan seluruh amunisi dari senjatanya itu.


Nandra sudah tak bisa bicara lagi. Pikirannya melayang jauh karena kenikmatan dari gaya bercinta Axton yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.


Axton mengerang saat ia menyemburkan miliknya di lubang kenikmatan itu hingga Nandra ikut tertegun saat ia menyadari jika milik Axton sudah tak berpengaman.


"Ahh ... Nandra. Milikmu sangat nikmat. Aku ingin melakukannya lagi, hanya saja tidak malam ini. Kita harus segera pergi. Bersiaplah," ucap Axton yang menjatuhkan dirinya di tubuh bagian depan Nandra dengan peluh.


Nafas Nandra masih tersengal. Ia tak bisa berpikir jernih dan malah lupa akan misinya. Nandra mengangguk paham dan segera berdiri dibantu oleh Axton.


Mereka berdua malah mandi bersama di bawah guyuran shower air hangat.


Nandra yang biasanya harus berbagi Rahul dengan wanita lain merasa spesial malam itu dimana Axton begitu memanjakannya.


Ia juga tak menyangka jika Axton yang terlihat tua masih sangat perkasa. Bahkan menurut Nandra, milik Axton lebih hebat ketimbang Rahul.


Axton sungguh memberikan perhatian penuh pada Nandra dan membuat wanita India itu jatuh dalam pesona Axton.


Axton bahkan memijat pergelangan kaki Nandra yang sakit. Nandra hanya diam saja menatap Axton yang memijatnya penuh perhatian.


"Kenapa kau begitu baik padaku, Tuan Axton? Kau pasti juga melakukan hal yang sama dengan wanita lainnya. Benar, 'kan?" tanya Nandra memastikan perasaannya lagi.


"No. Aku tak pernah menggendong wanita sampai harus menuruni tangga dan ditembaki. Ini juga pertama kalinya aku memijat. Apakah pijatanku enak? Atau keseleomu menjadi lebih parah?" tanya Axton yang terlihat jujur dengan apa yang ia katakan barusan.


Nandra tersenyum manis dan mendekatkan wajahnya ke wajah Axton. Entah kenapa sikap Nandra malah membuat jantung Axton berdebar.


Nandra mencium bibir Axton lembut hingga matanya terpejam. Axton yang merasakan sensasi berbeda dalam ciumannya kali ini ikut terbuai.


Saat kejantanan Axton kembali mengeras dan gairah bercintanya bangkit lagi, tiba-tiba ....


"Bos! Kita siap berangkat! Ups ...." ucap Sergei tiba-tiba yang memutus ucapannya karena melihat sebuah adegan panas di depan matanya.


Axton melepaskan ciumannya dan melirik Sergei tajam. Sergei menelan ludah dan mundur selangkah.


"Kau beruntung, aku sedang tak membawa pistol," ucap Axton dengan wajah keji.


Sergei menunduk seketika. Axton berpaling dari Sergei dan kembali menatap Nandra seksama.


Axton membopong Nandra kembali dimana clutch miliknya sudah diambil oleh bodyguard Axton saat jasa pembersih mayat Vesper datang mensterilkan lokasi.


Axton diamankan dengan ketat sampai ke basement parkiran mobil. Nandra dibawa pergi dari kasino dan hal itu membuat jantung Nandra berdebar kencang.


Nandra dipangku oleh Axton dimana Sergei duduk di seberangnya.


"Black Armys kita menemukan banyak mini cam tersembunyi di tiap sudut koridor di lantai tempatmu menginap. Aku sudah mengubungi Monica dan memintanya untuk mengecek dari jaringan GIGA, siapa pembuat onar kali ini. Kita tunggu saja hasilnya, Tuan," ucap Sergei serius.


Axton hanya mengangguk dengan santai. Nandra diam terlihat gugup. Sergei menatapnya seksama.


"Kita mau kemana?" tanya Nandra cemas.


"Ke rumahku, Sayang. Boston," jawab Axton tersenyum manis padanya dan kembali mencium bibir Nandra lembut.


Nandra tersenyum tipis dan mengangguk. Sergei menatap gerak-gerik Nandra seksama dimana ia mencurigainya karena kedatangan Nandra yang tiba-tiba di kasino tersebut.

__ADS_1


-------


dobel eps nih. puanjang pula naskahnya😆 adw up bsk ya krn lele msh masa pemulihan energi. gitu aja jgn lupa tips koin yg banyak ya. kwkwkw


__ADS_2