
Mobil yang ditumpangi oleh Sia, Yena dan Daniel melaju gesit mengejar mobil Konstantin. Daniel fokus dalam pengejarannya.
Yena yang sudah menghubungi orang-orang dalam jajaran Amanda mulai bersiap.
"Kau ingin menembak paman?" tanya Sia melotot karena melihat Yena menyiagakan pistolnya.
"Paman sudah berubah, Sia. Aku belum menceritakan sepenuhnya tentang dia," jawab Yena terlihat serius seketika.
Kening Sia berkerut. Sia mencoba untuk tenang dan memegangi perutnya yang masih rata di mana janin di perutnya baru berusia 1 bulan.
"Jangan ikut terlibat, Nona Sia. Jika nanti kita berhasil mendapatkan Konstantin, kau tetaplah di mobil dan jangan keluar. Kau jagalah dia, Yena. Aku mengandalkanmu," ucap Daniel melirik sekilas dari kaca spion tengah mobil dan Yena mengangguk.
Sia menarik nafas dalam ketika mobil Konstantin mulai menjauh dari kota menuju ke pinggiran.
Tiba-tiba, ponsel Daniel berdering dan ia segera mengaktifkan speaker.
"Yes," jawab Daniel tetap fokus mengemudi di mana ia mulai yakin jika Konstantin menyadari jika dibuntuti.
"Kita cegat dia di kawasan menuju hutan," ucap seorang lelaki yang Daniel kenali suaranya adalah Mix.
"Roger that," jawab Daniel serius dan membiarkan panggilan itu mati dengan sendirinya.
Yena dan Sia terlihat tegang. Benar saja, saat mobil mulai menaiki bukit menuju ke hutan, tiba-tiba muncul sebuah helikopter yang terbang rendah dengan posisi melintang di tengah aspal.
"My God!" pekik Sia lantang karena kaget.
Pintu helikopter terbuka dan muncullah Mix and Match dengan senapan gatling di balik pintu tersebut. Mata Sia dan Yena terbelalak lebar.
CIITTT!!
Mobil yang ditumpangi oleh Sia berhenti di tengah jalan. Mobil Konstantin tetap melaju kencang dan seketika, DODODODOR!!
"Shit! Kalian akan membunuh paman!" pekik Sia dengan mata melotot karena mobil sedan di depannya diberondong oleh serencengan peluru tajam yang bisa menewaskannya.
Mobil sedan itu tampak terkejut dan langsung bermanufer untuk menghindari tembakan, tapi malah terguling. Helikopter kembali terbang agar tak terhantam badan mobil tersebut.
Mulut Sia dan Yena menganga seketika. Mereka panik karena khawatir jika paman mereka celaka. Daniel tetap berada di mobil dengan kedua tangan di kemudi.
Mobil yang ditumpangi Konstantin berasap. Sia panik dan tak diperbolehkan turun oleh Daniel.
Sia melihat Mix and Match turun menggunakan tali dari atas helikopter. Keduanya mendekati mobil dengan pistol dalam genggaman.
"Ya Tuhan. Apakah mereka berdua akan membunuh paman?" tanya Sia pucat memegangi kepalanya.
Daniel tak menjawab dan hal itu membuat Sia frustasi. Mix and Match mendatangi mobil. Mereka membuka pintu mobil yang sudah terbalik itu dan menarik seseorang di dalamnya.
Mata Sia menajam saat melihat Konstantin di tarik paksa oleh Match. Sia iba pada pamannya karena diperlakukan kasar oleh dua algojo ibunya.
Konstantin tampak linglung. Mix and Match menatapnya seksama yang berdiri mengapitnya.
Tiba-tiba, Konstantin mengeluarkan pistol dari balik pinggang, tapi dengan cepat ....
"Arrrghhh!"
"Oh my God! Jangan lukai paman!" pekik Sia panik setengah mati saat Mix terlihat seperti mematahkan tangan Konstantin yang memegang pistol hingga senjata api itu jatuh ke aspal.
__ADS_1
Nafas Sia terasa sesak seketika dan kini matanya kembali melotot ketika melihat pamannya dipakaikan kalung besi yang sama seperti William.
"Kenapa dia dipakaikan kalung pemenggal?" tanya Sia tak habis pikir.
"Kita kembali ke markas. Nanti akan dijelaskan di sana. Oh iya, maaf, Nona Sia. Aku sampai lupa ice cream-mu. Silakan dinikmati," ucap Daniel sembari memberikan kantong berisi ice cream yang dibelinya.
Sia terbengong-bengong karena Daniel menanggapi hal ini dengan santai. Daniel memutar kemudinya dan pergi meninggalkan kawasan tersebut.
Yena yang shock malah mengambil ice cream tersebut dan memakannya dengan wajah datar. Sia yang masih mencoba menenangkan diri tak bisa menikmati ice cream sama sekali dan membiarkan Yena mengakuisisinya.
Setibanya di markas, Boleslav langsung mendatangi Sia dan memeluknya. Sia bingung, tapi balas memeluk. Sia menatap Ayah tirinya yang memandanginya lekat dari atas sampai bawah.
"Kau tak apa?" tanya Boleslav cemas dan Sia menggeleng dengan senyuman.
"Mana Mommy?" tanya Sia gugup.
"Dia sedang menyiapkan persidangan untuk kakaknya. Bagaimanapun pasukan gagak yang dikenal sebagai Mask pernah menyerang jajaran 13 Demon Heads. Yena ditunjuk sebagai saksi," ucap Boleslav melirik anak perempuan mendiang Roberto.
Yena mengangguk mantab dengan mangkok ice cream dalam genggaman. Yena terlihat siap untuk menjadi saksi.
Tak lama, Zaid muncul dan mendatangi Yena. Terlihat Yena gugup saat pria tampan itu kini menatapnya seksama.
"Kau tak apa?" tanyanya cemas dan Yena mengangguk pelan. Zaid tersenyum lebar.
"Kalian berpacaran?" tanya Boleslav to the point menunjuk keduanya bergantian.
Sontak Yena dan Zaid menggeleng cepat. Boleslav menyipitkan mata. Sia menahan senyum. Ia merangkul lengan Ayahnya dan mengajaknya masuk ke dalam.
"Jadi, paman Konstantin akan di sidang? Apakah ia akan dihukum mati?" tanya Sia panik sembari berjalan berdampingan dengan Ayahnya.
Sia segera duduk di bangku khusus anggota dewan bersama lainnya. Rohan melirik Sia dan anak dari Amanda itu diam saja.
Sandara dan Jordan memasuki ruangan bersama timnya. Namun, sebelum keduanya duduk di kursi, Jordan dan Sandara saling berbisik seperti membicarakan sesuatu. Terlihat, gadis Asia tersebut mengangguk pelan.
Amanda memulai mengetuk palu setelah semua undangan duduk di bangku. Ruang persidangan ditutup rapat selama proses penegakan hukum dilaksanakan. Suasana tegang seketika.
"Bawa tersangka masuk," ucap Amanda memerintahkan.
Seketika, pandangan semua orang teralih pada lampu sorot yang menyorot sosok lelaki berambut cokelat beruban dengan brewok dan kumis.
Lelaki tersebut dipegangi kedua lengannya kuat oleh Mix and Match yang mengapitnya meski pria tersebut telah diborgol kedua tangannya.
Lelaki itu terlihat panik dan ketakutan. Ia berjalan dengan nafas tersengal dan tak bisa melawan tenaga dua algojo Theresia bahkan sampai ia didudukkan.
"Hah, apa-apaan ini?!" pekiknya lantang.
JREETT!!
"Arghhh!" rintihnya saat tongkat penyetrum di tempelkan ke lengannya oleh petugas berseragam abu-abu berdiri di sampingnya.
Sia memejamkan mata karena tak sanggup melihat hal tersebut begitupula Yena dan Amanda karena mereka mengenali lelaki tersebut.
Vesper melirik Amanda yang terlihat tak tega dengan kondisi kakak kandungnya. Vesper tersenyum sembari menyentuh punggung tangan Amanda lembut.
"Aku saja," ucap Vesper lirih dan Amanda mengangguk mengizinkan dengan wajah pucat.
__ADS_1
DOK! DOK! DOK!
Mata semua orang kini tertuju pada meja panjang di atas yang diduduki oleh empat dewan tertinggi.
"Pengadilan 13 Demon Heads pada hari ini resmi dibuka untuk kasus keterlibatan Konstantin yang dulunya masuk dalam jajaran Boleslav, tapi keluar sejak tragedi yang menimpa pada keluarga Amanda Theresia dua tahun silam. Baiklah, perkenalkan, Tuan Konstantin, anak dari mendiang Emma Madison Theresia dan Lawrence, kakak dari Amanda Theresia," ucap Vesper lantang menunjuk Konstantin dengan palu kayunya dari tempatnya duduk.
Mata semua orang kini kembali pada sosok Konstantin yang duduk di kursi besi tersebut berwajah panik.
"What? Pengadilan? Aku diadili? Atas kasus apa? Lalu ... apakah ... kalian ini ... orang-orang dari 13 Demon Heads?" tanya Konstantin melihat sekitar.
"Kau berada di Pengadilan Tertinggi 13 Demon Heads, Tuan Konstantin. Jadi, tahan ucapanmu sampai kami selesai mengajukan pertanyaan. Jawablah dengan jujur, atau kau akan mendapatkan penyiksaan yang menyakitkan dari para lelaki berseragam abu-abu. Sebenarnya, ada cara lebih efektif. Hanya saja ... aku sedang ingin melihat wajah penderitaan akan sebuah kesaksian. Kau tak keberatan 'kan?" tanya Vesper dengan senyum merekah terlihat begitu bersemangat.
Kening semua orang berkerut.
"Gas halusinasi akan menjadi opsi paling terakhir," ucap Vesper menambahkan.
Amanda dan semua orang menelan ludah, tapi mereka mengangguk setuju. Vesper lalu menunjuk Sandara dan gadis cantik Asia tersebut segera beranjak dari dudukkannya.
Sandara mendekati Konstantin yang sudah diborgol kedua tangan dan pergelangan kakinya.
Bahkan lehernya dipasangi kalung pemenggal. Sengatan listrik akan sangat terasa untuknya kali ini.
"Perkenalkan. Aku Sandara Liu dari tim penetral. Kesaksianmu bisa menyelamatkan nyawamu di Pengadilan ini, Tuan Konstantin. Jadi, jangan berbohong dan jujurlah. Jangan mencoba menipuku dengan trik tipu muslihatmu karena aku bisa melihat kebohongan," ucap Sandara dengan wajah datar dan Konstantin malah terkekeh.
"Tim penetral. Hah, apa itu? Persidangan ini konyol sekali. Bahkan kau ... berapa umurmu? 10? 12?" tanya Konstantin meledek.
"Pertanyaan pertama," ucap Sandara tak terintimidasi dengan hinaan Konstantin padanya.
Sandara fokus dengan tablet yang ia bawa dalam genggaman, berdiri di depan Konstantin dengan jarak 1 meter. Semua orang terlihat serius menyimak.
"Tuduhan pertama dari bukti yang di dapat oleh tim penetral. Tuan Konstantin, kau dituduh dengan dugaan bahwa bekerjasama dengan pria bernama Yes, orang CIA. Apakah itu benar?" tanya Sandara menaikkan pandangan dan kini menatap wajah Konstantin seksama.
"No," jawabnya tegas.
Sandara diam menatapnya tajam dan tiba-tiba, ia menjentikkan jarinya. Seketika ....
"ARRGHHHH!" rintih Konstantin lantang karena kembali di setrum tepat di dadanya.
Mata Yena dan Amanda terpejam seketika begitupula Sandara, tapi tak lama gadis Asia itu kembali membuka matanya sembari menarik nafas dalam mencoba untuk tetap tenang.
"Berarti jawabanmu Ya. Hadirin, Tuan Konstantin bekerjasama dengan lelaki yang selama ini kita curigai. Yes, CIA," ucap Sandara lantang dan semua orang mengangguk.
Tim penetral yang duduk di bangkunya segera mencatat pengakuan tersebut termasuk tim eksekutor dari Jordan.
Nafas Konstantin tersengal dan menatap Sandara tajam yang kini balas menatapnya.
"Tuduhan kedua. Kau terlibat dalam pasukan yang memakai topeng burung gagak yang dinamakan Mask. Apakah itu benar?"
Nafas Konstantin menderu. Ia menggeleng tak menjawab dan menatap Sandara dengan sorot mata pembunuh.
Sandara kembali menjentikkan jarinya dan seketika, "Arrrghhh!!!"
Sandara melirik tim penetral dan eksekutor bergantian. Mereka segera mencatat tanpa Sandara harus berucap hasilnya.
"Masih ingin mencoba membohongiku, Tuan Konstantin? Baiklah. Kita bisa lakukan ini seharian. Aku mulai terbiasa dengan suara teriakanmu. Oke, selanjutnya," ucapnya santai sembari menatap layar tablet-nya lagi.
__ADS_1