
Dengan jantung berdebar, akhirnya mobil yang membawa William melaju menuju ke Kastil yang diyakini milik Antony Boleslav.
Terlihat dari kejauhan jalan menanjak dan sebuah menara tinggi tampak di balik pepohonan. Sopir yang mengantarkan William juga terlihat gugup.
Hingga akhirnya, mobil tersebut menepi ketika terlihat sebuah gerbang besar di kanan jalan. Sopir menoleh ke belakang tempat William duduk.
Mereka bicara dalam bahasa Rusia.
"Ini nomorku, Tuan Tolya. Jika kau butuh jemputan segera hubungi saya. Nanti saya jemput di tempat ini lagi. Hati-hati," ucap sopir tersebut.
William menerima kartu nama tersebut dengan senyum merekah.
William turun perlahan dari mobil dibantu sopir yang membantu membuka pintu untuknya setelah membayar.
William melihat jalan yang terlihat cukup jauh untuk sampai ke Kastil tersebut.
Sopir tersebut terlihat gugup ketika William mulai melangkahkan kaki, masuk ke gerbang besar tersebut yang tak memiliki pagar dan tak dikunci.
Sopir masih berdiri di samping mobilnya melihat William berjalan tertatih dengan tongkat penyangga, menyusuri jalanan menuju ke Kastil yang berada di atas bukit.
William sudah menguatkan hati dan mentalnya. Ia datang sejauh ini, menyeberangi lautan, melintasi benua lain hanya untuk kembali kepada kekasih hatinya.
Cukup jauh William berjalan karena kakinya yang masih sakit, membuatnya kesulitan untuk melangkah. Keringatnya bercucuran dan rasa nyeri di kakinya kembali terasa.
Sungguh cobaan yang begitu berat untuk bisa berjumpa dengan Boleslav dan meminta restu darinya.
Meski demikian, William terus melangkah hingga ia bertemu sebuah pintu gerbang besar berwarna hitam terlihat begitu kokoh dan sebuah Kastil megah cukup menyeramkan.
Saat William akan mengetuk gerbang hitam itu, ia terkejut dan spontan mengangkat kedua tangan ketika muncul beberapa lelaki berpakaian layaknya pasukan khusus menodongkan senjata laras panjang ke arahnya.
Mereka bicara bahasa Inggris.
"Agent Will. Apa yang kau lakukan di tempat ini? Pergilah sebelum kau kukirim dalam kantong mayat ke CIA," tegas Maksim berjalan mendekat dengan suara lantang.
"Please. Aku ingin bertemu dengan Tuan Antony Boleslav. Aku sudah keluar dari CIA demi Sia. Please," jawabnya memelas bahkan sampai mengabaikan penyangga kakinya jatuh karena tangannya terangkat ke atas.
Maksim diam sejenak menatap William tajam. Ia mengeluarkan radio dan terlihat seperti berbicara pada seseorang.
"Aku sudah memindainya. Agent itu bersih, ia tak dipasangi pelacak, penyadap dan tak membawa senjata. Aku bahkan bisa melihat dari pemindai jika kakinya dipasangi pen. Ia sungguh mengalami patah tulang," ucap P-807 menginformasikan.
__ADS_1
Maksim memberikan kode dengan tekukkan kepala ke hadapan para penjaga gerbang. Akhirnya, pintu gerbang dibuka oleh anak buah Boleslav. William terlihat lega karena diizinkan masuk.
Namun, saat ia akan mengambil tongkatnya yang jatuh, terlihat William kesulitan. Ia berusaha meraihnya dengan membungkuk, tapi ....
BRUKK!!
"Biarkan dia. Biarkan saja. Dia yang datang untuk bertemu denganku. Aku ingin melihat usahanya," ucap Boleslav dari radio.
Maksim meminta semua orang untuk mundur tak membantu William.
Mantan Agent CIA itu terlihat begitu berusaha hingga keringatnya bercucuran saat mencoba untuk berdiri dengan tongkat penyangganya.
Nafas William tersengal ketika ia mencoba melangkah masuk ke dalam. Terlihat ia gugup saat melewati anak buah Boleslav.
Maksim diam melihat William tertatih dengan salah satu tongkatnya di mana kaki kanannya terlihat terbalut gips.
Maksim dan orang-orang Boleslav mengikuti William dari belakang dengan senjata masih diarahkan ke tubuhnya.
Saat di depan pintu masuk, William merapikan penampilannya. Ia mengeluarkan sisir kecil dari balik saku celana dan menyisir rambutnya.
Ia juga mengeluarkan sapu tangan untuk mengelap keringat di dahi, leher dan kedua telapak tangannya. William juga merapikan pakaiannya yang dirasa kotor saat jatuh tadi.
Dua orang itu pun melaksanakan perintah bosnya. Antony yang masih terbaring di kasurnya karena kondisi fisiknya semakin memburuk, mencoba untuk tetap terlihat prima tak seperti orang sakit.
Daniel memakaikan setelan ekslusif untuknya seperti menghadiri jamuan berikut menyisir rambut dan menyemprotkan parfum.
"Oke, aku siap. Untuk kali ini saja, aku akan memakainya," ucap Antony setelah ia siap dengan setelannya.
Yuri berjongkok di depan kaki Antony sembari memasangkan kaki robot secara perlahan.
Terlihat Daniel tegang, begitupula Antony. Percobaan sebelumnya gagal karena Antony tak bisa menahan rasa sakit di kakinya akibat kaki robot yang berat.
"Sudah, Tuan. Anda yakin? Aku rasa tak masalah jika Anda menggunakan kursi roda," ucap Yuri hati-hati takut bosnya tersinggung.
"Tidak untuk hari ini, Yuri. Aku tak boleh menunjukkan kelemahanku di hadapan William. Dia saja terluka masih nekat menemuiku. Kuakui, nyali anak itu besar. Aku ingin tahu tujuannya. Pastikan aku masih sanggup berdiri hingga dia pergi dari sini," ucap Antony serius terlihat siap untuk berdiri.
Yuri dan Daniel mengangguk pelan. Yuri memegangi lengan Antony di sisi kiri dan Daniel di sisi kanan.
"Kapan pun Anda siap, Tuan," ucap Daniel sudah memeganginya kuat.
__ADS_1
Antony menarik nafas dalam dan terlihat wajahnya begitu serius saat mencoba untuk berdiri dengan sepasang kaki robot membungkus kakinya.
"Oh, Anda berhasil, Tuan! Santai saja. Aku akan meminta Maksim untuk membawa William ke ruang tengah. Lebih dekat ke sana ketimbang menuju ruang tamu," ucap Yuri mengusulkan dan Antony mengangguk setuju.
Saat Antony akan melangkahkan kakinya yang sakit, ia hampir roboh. Beruntung, Daniel dan Yuri dengan sigap memeganginya.
Kening Antony berkerut. Ia kembali merasakan sakit dan nyeri di kakinya yang terluka. Namun, ia melihat William mampu mengesampingkan rasa sakitnya dan Antony merasa tertantang karenanya.
Antony menarik nafas dalam dan ia terkejut ketika merasakan sebuah suntikan menusuk kakinya yang sakit.
Namun perlahan, rasa nyeri itu hilang. Ia merasa kakinya yang terluka baik-baik saja.
"Oh, berubah menjadi biru lagi. Anda seharusnya bisa berjalan, Tuan," ucap Yuri gembira saat melihat lampu indikator pada kaki robot Boleslav yang bisa di bongkar pasang berwarna biru.
Antony mengangguk. Ia menguatkan fisiknya dan mulai melangkah perlahan. Yuri dan Daniel terlihat begitu senang karena bos mereka tak menyerah.
Antony mulai melangkah sedikit demi sedikit meski masih di seret. Yuri dan Daniel tetap mendampingi Antony hingga ia tiba di pintu dan terlihat senyum merekah di wajahnya.
"Aku ... aku bisa berjalan," ucapnya senang.
"Ya, Bos! Anda bisa! Ini hebat! Kau sama seperti saat aku bertemu denganmu dulu. Saat aku dan Maksim masih menjadi kurir ganja serta narkoba Erik Benedict!" sahut Yuri semangat.
Antony diam sejenak. Ia teringat akan sahabatnya itu. Ia melihat kaki robot yang terpasang di kakinya dan senyum tipis muncul di wajahnya.
"Psikopat sialan itu membuat sebuah terobosan yang sangat bermanfaat. Harus kuakui, kau hebat, Erik. Bahkan aku kini ikut memakainya. Itu pun karena dipaksa oleh orang-orang bukan kemauanku. Jadi, jangan senang dulu," ucap Boleslav seakan-akan Erik ada di hadapannya.
Yuri dan Daniel saling melirik. Mereka merasa sikap bos mereka mulai aneh. Antony meminta agar lengannya dilepaskan. Ia ingin mencoba jalan sendiri.
Yuri dan Daniel menjaga Boleslav di kanan kiri. Antony berjalan perlahan dengan berpegangan pada dinding lorong menuju ke ruang tengah.
Yuri segera menghubungi Maksim untuk membawa William ke sana. Maksim pun melaksanakan instruksi Yuri.
William terlihat gugup saat pintu utama kediaman Antony Boleslav terbuka untuknya. Ia tak menyangka jika Boleslav akan mengizinkannya masuk dan bertemu.
Namun, kedatangannya kali ini bukan karena misi dari CIA, melainkan untuk meminta restu kepada Antony Boleslav agar pernikahannya dengan Sia disetujui dan meminta Sia dilepaskan dari kelompok mafia.
William melangkahkan kaki dengan gugup. Ia melihat kediaman Boleslav di bagian dalam ternyata lebih manusiawi dan indah, ketimbang tampak luar yang menyeramkan.
Pertama kalinya ia mendatangi sebuah rumah megah bak istana. William semakin yakin jika Antony Boleslav sangat berkuasa, kaya dan memiliki pengaruh kuat di dunia, terlihat dari rumah serta orang-orang yang masuk dalam jajarannya.
__ADS_1