
William dan Buffalo diajak oleh Red ke ruang senjata di Kastil Borka untuk bersiap melakukan misi dari catatan terakhir Antony Boleslav padanya.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Saatnya penebusan dosa, Will," ucap Buffalo sembari mengokang senjata dari senapan laras panjang dalam genggaman. William mengangguk mantab.
"Aku akan ikut bersama kalian, tapi aku bertugas di bagian pengamatan. Daniel akan tetap berada di Kastil. Kini, ia bertanggungjawab penuh atas rumah peninggalan Boleslav ini," ucap Red menginformasikan dan dua orang itu mengangguk paham.
William segera menyiapkan diri. Ia terlihat begitu sigap dalam memilih pistol, mengisi peluru di dalamnya berikut amunisi isi ulang yang dimasukkan dalam koper khusus termasuk senjata tajam lainnya. Buffalo dan Red saling melirik.
"William. Kau gunakan saja senjata yang biasa kau gunakan. Aku heran, kau lupa segalanya, tapi kau masih ingat bagaimana menggunakan senjata bahkan cara untuk bertempur. Aku cukup kagum. Mungkin, itu adalah sebuah skill yang melekat dan tak bisa dihapus karena sudah ada dalam dirimu," sahut Red menilai dan William mengangguk setuju karena ia juga merasa demikian.
"Kau! Pakai setelan khusus Black Armys itu. Aku berjanji pada kakakku bahwa akan membawamu pulang dengan selamat dan masih bernyawa. Namun, jika kau kembali dengan beberapa potongan tubuh hilang dari tempatnya, sepertinya tak masalah."
"JORDAN!" sahut Sia tiba-tiba dari belakang dan Jordan segera berpaling pergi.
Sia mendesah kesal, tapi William tersenyum tipis melihat isterinya marah.
"Jangan dengarkan ucapannya, dia memang menjengkelkan," ucap Sia sembari mendekati William dan memastikan jika perlengkapan yang digunakan oleh suaminya telah lengkap.
William menatap Sia seksama yang terlihat lebih tegar dari sebelumnya. William tersenyum tipis.
"Anakku nanti pasti tangguh dan kuat seperti Ibunya. Jaga anak kita dengan baik, Sia. Doakan aku pulang dengan selamat. Aku rasa, misi kali ini lebih sulit daripada misi-misi yang pernah kujalankan sebelumnya, meski aku tak mengingatnya. Hanya saja aku merasa, akan sedikit kesulitan kali ini," ucap William yang membuat mata semua orang kini menyorotnya tajam.
Sia langsung memeluk suaminya erat yang terlihat begitu takut kehilangan. William balas memeluk isterinya. Entah kenapa, perasaan damai ketika bersama sang isteri membuat hatinya tenang.
"Berjanjilah kau akan pulang dengan selamat," ucap Sia cemas.
"Aku berjanji," jawabnya yakin.
William melepaskan pelukannya dan mencium bibir Sia lembut. Sia memejamkan mata. Ia merasa jika yang menciumnya kali ini adalah suaminya yang sangat ia kenal, William Tolya.
"Ayo, William. Kita harus segera pergi. Arthur sudah lebih dulu meninjau lokasi sesuai dengan catatan terakhir dari Cecil. Semoga Madam tak menyadari kehadiran kita," ucap Red sudah bersiap dengan dua koper besar dalam genggaman di tangan kanan dan kiri.
William mengangguk mantab. Ia menggendong tas ransel dan sebuah koper hitam berisi persenjataan yang akan digunakan selama menjalankan misi.
"Tolong bawa dia kembali dalam keadaan utuh, Fal," ucap Sia memohon dan Buffalo terkekeh.
"Yes, Mam," jawabnya sembari menenteng dua koper besar seperti Red dalam genggaman.
Sia mengantarkan kepergian sang suami tercinta sampai ke helikopter yang akan membawa mereka pergi dengan pesawat kargo milik Boleslav.
__ADS_1
"Hati-hati dan selamat jalan, Anak-anakku. Kami menunggu kepulangan kalian di rumah. Mommy akan melindungi kalian dari jauh," ucap Amanda sembari menyentuh wajah Jordan dan William bergantian sebelum naik ke helikopter.
Dua lelaki itu mengangguk pelan. Red yang akan bertanggungjawab untuk membawa mereka kembali dengan selamat.
Red terlihat cukup tertekan dan kerepotan, tapi memang inilah tugasnya sejak dulu. Memastikan keluarga dari Boleslav aman di tangannya.
Sia dan Amanda melambaikan tangan saat dua helikopter terbang meninggalkan Kastil Krasnoyarsk menunju ke hanggar pesawat. Mereka akan meninggalkan Rusia menuju ke Amerika, Arizona.
Di pesawat kargo milik Boleslav.
"Hehe, sungguh lucu. Jika kita di Amerika, mungkin sekarang sudah larut malam, tapi di Rusia, pukul 00.30 dini hari, matahari masih bersinar terang. Aku merasa dipermainkan dengan sistem bumi berputar," ucap Red tiba-tiba bicara saat semua orang duduk diam terlihat serius akan misi yang akan dilangsungkan.
Red ditatap tajam oleh semua orang dan lelaki itupun langsung diam tak bicara lagi. William kembali melihat catatan dari Cecil yang sudah disalin dalam bentuk softcopy ke sebuah tablet.
"Suku Indian. Pantas saja Nokomis, Raka dan lainnya berpenampilan seperti itu. Apakah ... kedatangan kita akan disambut baik? Aku takut ini akan memicu perang antar suku nantinya," ucap William gugup.
"Semoga tidak. Kita harus cepat dan jangan terlalu mencolok, meski aku tak bisa menjanjikan hal itu. Namun, jika catatan Cecil benar, tempat tinggal Madam ada di gurun dan itu jauh dari pemukiman warga. Butuh waktu bagi militer untuk mendatangi kita. Oleh karena itu, selama sebulan ini, kami sudah mempersiapkan semua dengan matang," ucap Red menjelaskan dan William mengangguk paham.
Red lalu menjelaskan dengan cepat strategi bertempur untuk menggempur Madam dan pasukannya. Mereka berpatok pada catatan Cecil yang kemudian dikembangkan.
Disebutkan dengan detail, jumlah pasukan terakhir yang ia ketahui, lokasi markas termasuk gudang senjata dan tentara, lokasi kediaman tempat tinggal Madam, tempat perlindungan ketika pasukan Madam digempur dan tempat evakuasi.
Namun, entah mengapa, ia merasa tim yang bersamanya ini seperti bukan dari golongan penjahat, tapi militer seperti saat ia di CIA dulu.
"Aku tak ingat satupun misi dari CIA padaku, tapi jika melihat dari video-video yang kulihat dalam rekaman itu, ini sangat mirip dengan pasukan khusus. Sayang sekali, jika momen ini akan terlupakan dari ingatanku selamanya," batin William merasa menyesal atas permintaannya nanti usai bertugas untuk menghapus seluruh ingatan.
William takut, jika ia masih menyimpan ingatan dari cuci otak Tessa, ia akan menyakiti Sia dan anaknya nanti.
William memilih merelakan sisa kenangan bersama ayah ibunya yang masih tersimpan di pikirannya untuk di hapus.
"Kita akan singgah di Inggris untuk mengisi bahan bakar dan tambahan kru. Vesper menilai jika misi kali ini akan menyulitkan kita nantinya," ucap Red serius dan semua orang mengangguk.
"Who?" tanya Jordan penasaran.
"Kau juga akan tahu," jawab Red tersenyum tipis.
Akhirnya, pesawat mendarat di sebuah hanggar khusus untuk menjemput kru tambahan. Jordan yang penasaran tetap berada di dalam pesawat.
William dan Buffalo berdiri di samping Jordan karena ikut penasaran siapa kru tambahan tersebut. Hingga mata Jordan terbelalak lebar, saat ia mengenali sosok itu.
"Hai, Jordan. Aku dengar, ini adalah tim penebusan dosa. Aku bergabung," ucap Afro saat berjalan mendekati Jordan dengan dua buah koper yang ia tenteng mulai menaiki pesawat dari palka belakang.
__ADS_1
GRAB!
Langkah Afro terhenti, saat Jordan menahan dadanya dengan telapak tangan kanan dan nafas menderu. Buffalo dan William terlihat panik saat Jordan seperti akan mengamuk.
"Kau, berani muncul di hadapanku? Kau tahu apa hukumanmu, Afro?" tanya Jordan menatapnya tajam.
"Aku tahu, tapi ... kita pikirkan itu nanti. Cepatlah, sebelum buruannya lepas. Kau ... tak mau itu terjadi 'kan?" jawab Afro balas menatap Jordan tajam tak terlihat terintimidasi.
"Wow, wow! Siang makin terasa panas dengan penuh ketegangan di sini. Hai, Jordan. Hai, biru dan Tante Fal. Kau, masih tetap cantik meski wajahmu garang. I like it," ucap Jonathan memuji sambil mengedipkan sebelah mata.
Kening William berkerut.
"You ... Jonathan?" tunjuknya mengenali sosoknya. Jonathan kaget.
"Kau mengenaliku? Katanya lupa ingatan setelah dicuci otak sama Tessa? Udah sembuh?" tanya Jonathan heran.
William diam sejenak mendengarkan alat translator yang sedang mengartikan ucapan Jonathan di salah satu telinganya.
Jonathan dan semua orang sabar menunggu, meski Afro dan Jordan masih bertatapan tajam.
"Oh! Ya. Karena kau salah satu target yang diampuni oleh Tessa. Katanya, kau aset berharga. Kau tak boleh dibunuh," jawab William saat ia sudah paham arti ucapan Jonathan yang membingungkan.
"Oh ya? Wah. Kalau begitu, apapun yang kulakukan, mereka tak akan membunuhku 'kan? Oke! Ini akan semakin mudah. Nathan gak segan untuk jadi tameng dan habis-habisan. Woohoo!" ucapnya semangat dan langsung duduk mengambil bangku samping William.
"Kenapa kau ada di sini? Tak ikut mengurus aset lelang?" tanya Buffalo heran mendekati Jonathan.
"Udah diurus sama Paman BinBin. Kak Juna dan Kak Lysa gak ikut. Kak Juna takut ketemu Tessa lagi. Hehe, Nathan gak nyangka, dia serius lakuin yang Nathan saranin waktu itu. Untung berhasil, coba gak, bisa dicincang sama Kak Juna, hahahaha!" tawanya gembira dan semua orang diam karena tak paham.
"Oh! Dia ikut juga?" sahut Oz salah satu anggota Silhouette yang ikut dalam misi.
"Yep. Papi Ivan ikut. Dia mau balas dendam karena tiga kawan psikopatnya mati. Dia sih bilang, kalo dia gak akan mati dan Nathan harap ucapannya benar," jawab Jonathan melirik Ivan yang menyalami semua orang dengan mantab.
William menatap wajah orang-orang yang tak dikenalnya dengan seksama. Ia mencoba mengingat satu persatu kecuali Afro, William memang sudah mengenalnya dengan nama samaran Black.
"Oke semua! Kita berangkat!" teriak Red mantab dan semua orang bersorak lantang.
***
Aw aw aw! Ada tips lagi! Jadi semangat 'kan lele. Eps nya juga jadi panjang nih. Kwkwkw. Baiklah, besok masih dobel eps. Ditunggu tips meluncur di 4YMS2 ya kalau mau dobel eps juga. Lele padamu💋💋💋
__ADS_1