
Setelah tiga hari di Rumah Sakit, Sia pulang bersama buah hatinya ke mansion Boleslav di Los Angeles didampingi oleh William dan para Black Suit.
William mencukur kumis dan jambangnya karena tak ingin anaknya merasa risih saat ia menciuminya nanti.
Sia terbengong melihat wajah suaminya yang semakin tampan dari hari ke hari. Tak terlihat ada tekanan lagi dalam dirinya. William seperti orang bebas yang tak memiliki beban.
Terlihat, senyum orang tua Irina merekah sejak meninggalkan Rumah Sakit. Sia duduk di bangku samping kemudi sembari menggendong bayi perempuannya.
William mengendarai mobilnya perlahan karena tak ingin dua orang kesayangannya terluka.
Sesampainya di mansion, ketika Sia masuk ke ruang utama dengan William berjalan di belakangnya, dua orang itu terlihat bingung karena rumah sepi bahkan tak ada penjaga. Selain itu, listrik padam. Mansion gelap meski hari masih siang.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"P, di mana yang lain? Kenapa rumah sepi sekali?" tanya Sia was-was.
"Biar saya cek, Nona Sia. Tunggulah di sini, jangan masuk sebelum kami nyatakan aman," jawab P-807 serius.
Sia mengangguk terlihat tegang. Ia khawatir jika keluarganya akan mendapat serangan lagi entah dari The Circle atau militer Pamerintah. William mendekati isterinya terlihat bingung.
"Ada apa? Kita masuk saja, hanya listrik padam, bukan masalah besar," tanya William heran dan tetap mendekati pintu yang terhubung dengan ruangan lain.
Sia panik saat William membuka pintu menuju ke ruang keluarga, tiba-tiba ....
KLIK!
"SURPRISE!" teriak orang-orang yang sudah berkumpul dan mengejutkan sepasang suami isteri itu dengan banyak pernak-pernik pesta di tiap sudut ruangan.
"Oh! Ish, kalian mengagetkanku!" jawab Sia kesal.
"Sebenarnya ingin lebih dramatis lagi, tapi mengingat kau menggendong Irina jadi ... kejutan biasa saja. Maaf ya jika mengecewakan," ucap Ara yang sudah memakai topi pesta dan juga terompet di tangannya.
"Wow, ramai sekali," ucap William terkejut, tapi senyumnya merekah.
William disalami banyak orang yang tak dikenalinya. Namun, William tetap menerima jabat tangan dan berterima kasih.
"Hallo, perkenalkan, aku Zaid. Calon suami Yena. Doakan agar kami bisa segera menyusul kalian dalam waktu dekat ini," ucap lelaki tampan menyalami William.
Terlihat, William seperti kagum akan ketampanan dari sosok Zaid yang baginya sangat berkharisma padahal ia lebih muda darinya.
__ADS_1
Zaid lalu mengajak William untuk bergabung bersama para tamu pria dan ia pun menerima ajakan itu.
"Oh! Jason, kau juga datang?" ucap Sia terkejut melihat sosok salah satu adik kembarnya yang mendekati dengan senyum terkembang.
"Yup, aku tak ingin melewatkan momen ini, Kak Sia. Selamat ya. Wah, keponakanku cantik sekali. Sepertinya mirip denganmu saat masih kecil dulu," ucap Jason menatap bayi Irina yang menggeliat dengan imutnya dalam gendongan sang Ibu.
"Mungkin. Kau bisa menanyakan hal itu pada Mommy," jawab Sia melirik Ibunya yang menyalami William bersama Yena.
"Kak, aku lupa. Jika ditanya, aku ini siapamu ya?" tanya Jason lugu. Sia terkekeh.
"Kau anak dari Arthur. Sekretaris Perusahaan Asuransi Julius Adam," jawab Sia menekankan dan Jason ber-Oh dengan anggukan.
"Oh, hai. Kau siapa?" tanya William mendekati Jason yang terlihat akrab dengan Sia diikuti Amanda di belakangnya.
Namun, Jason malah gugup dan hal itu, membuat Sia ikut was-was.
"Aku ... mm, aduh," jawabnya malah mengedipkan mata. Semua orang yang ikut dalam sandiwara tegang seketika.
"Dia anakku. Hai, aku Arthur, Sekretaris Perusahaan Asuransi Julius Adam yang kini dikelola oleh Nona Sia. Biasa, anak-anak. Jason tak suka memamerkan pekerjaanku di hadapan orang-orang. Oleh karena itu, dia bingung membuat alibi di hadapanmu. Acting-mu payah, Jason," sindir Arthur dan Jason mendesis kesal.
William tertawa, tapi jantung semua orang yang terlibat berdebar kencang tak karuan.
"Hem, sepertinya Nyonya Amanda begitu menginginkan kehadiran seorang cucu, Sayang. Selain itu, kenapa aku berpikir jika dia adalah Ibumu ya? Kalian memiliki banyak kemiripan ketimbang Yena sebagai anaknya," ucap William bergantian memandangi Amanda dan Sia meski mereka berjauhan.
Sia terkejut karena William bisa berpikir demikian.
"Mungkin, karena rambut kami hampir sama, kecokelatan. Semua tamu yang datang kemari adalah rekan bisnis ayah dan ibuku dulu. Termasuk rekan dari kakek dan nenek. Mereka sudah menganggapku seperti keluarga. Oleh karena itu, aku tak merasa begitu kesepian, ditambah adanya kau di hidupku, bagiku semuanya sempurna," ucap Sia berdiri di samping suaminya setelah menyalami semua tamu yang datang ke mansion.
"Ya dan semakin lengkap dengan hadirnya Irina. Entah kenapa, aku tak mempermasalahkan diriku yang lupa ingatan. Semua orang baik padaku. Seperti Vijay dan Balraj ketika aku tanya seberapa dekat dengan mereka dulu. Mereka hanya mengatakan, aku pernah menyelamatkan nyawa mereka berdua. Hanya saja, mereka tak menyebutkan detailnya. Aku sangat penasaran, Sayang," jawab William menatap sang isteri lekat sembari merangkul pinggangnya.
Sia diam sejenak. "Kau memiliki banyak kenangan, Sayang. Hanya saja, dulu kau pernah bilang, "aku ingin hilang ingatan agar melupakan semua kenangan pahit di hidupku". Doamu terkabul. Sayangnya ... Tuhan menghapus semuanya. Oleh karena itu, lain kali hati-hati jika berucap. Kau membuatku sedih," ucap Sia tertunduk terlihat lesu.
William tak tahu jika ia pernah berucap demikian. Ia memeluk Sia erat dan meminta maaf.
"Walaupun kau bilang jika ayah dan kakakmu terlibat dalam dunia mafia, tapi jika melihat orang-orang yang datang di sini sebanyak ini, ditambah mereka memiliki pengaruh kuat dalam dunia bisnis dan perekonomian, aku rasa ... mereka tak mempermasalahkan masa lalumu. Mereka bisa menerima kepemimpinan perusahaan yang kini dikelola olehmu. Hanya saja, aku merasa, aku seperti memilki keahlian lain selain dunia perbengkelan, Sayang," ucap William serius melihat kedua tangannya.
Sia gugup seketika. "Apa itu?"
"Aku ... seperti bisa bertarung dan menggunakan senjata. Apa itu benar?"
__ADS_1
Jantung Sia berdebar kencang tak karuan. Ia bingung dalam menjawab.
"Hampir semua orang di Amerika memiliki pistol, Tuan William. Anda sepertinya menyadari potensi tersembunyimu itu. Ya, itu benar. Anda bisa menembak dan bertarung tangan kosong," sahut P-807 sembari mendekati lelaki bermata biru itu.
"Oh, benarkah? Sepertinya kau tahu banyak tentangku, Pamungkas," ucap William terlihat antusias.
Kening Sia berkerut. "Pamungkas?" tanyanya heran, tapi P-807 hanya meliriknya dengan senyuman dan Sia baru sadar jika itu nama samaran yang digunakan P-807 entah sejak kapan dia menamai dirinya seperti manusia.
"Dulu Anda bercerita jika senang berburu di hutan, menembak burung dan sejenisnya. Hanya saja detailnya seperti apa, Anda tak menceritakannya. Maaf," ucap P-807 memulai dramanya.
William mengangguk pelan. Entah kenapa, tiap cerita yang diungkapkan oleh P-807 selalu membuatnya tertarik dan antusias.
"Tiap seminggu sekali, saya menemani Anda berlatih Judo karena dulunya saya adalah pelatih Judo. Hanya saja, usaha saya bangkrupt dan Tuan Julius Adam mempekerjakanku sebagai bodyguard Nona Sia. Seperti bodyguard yang lain, dulu mereka satu tempat pelatihan denganmu. Tuan Julius Adam sangat baik pada kami. Oleh karena itu, meskipun ternyata diam-diam beliau seorang mafia, tapi Tuan Julius sangat menyayangi Nona Sia," jawab P-807 membayangkan sosok Antony Boleslav meski ia mengganti namanya menjadi Julius Adam.
William mengangguk paham. Sia merasa lega karena lagi-lagi sandiwaranya ditolong oleh P-807. Semua orang yang mendengar hanya bisa terdiam tak ingin terlibat.
"Kau pasti lapar, Sia. Ayo makan. Kami semua menyiapkan ini untukmu," ucap Yena menggandeng tangan Sia ke meja jamuan yang telah disiapkan dengan banyak sajian.
Mulut Sia menganga lebar. Air liurnya serasa menggenang di dalam mulutnya dan siap untuk menetes.
William yang terlihat kelaparan, ikut menyantap makanan lezat yang sudah dihidangkan.
Para Black Suit diajak makan bersama oleh William. Para bodyguard itu tak menyangka, jika William sangat pengertian dan baik. Ia tak sombong dan sederhana.
Selain itu, mantan agent CIA itu murah senyum dan mudah akrab dengan orang lain. Perasaan lega menyelimuti hati semua orang ketika melihat Sia dan William tersenyum bersama terlihat begitu bahagia.
"Impian kalian terwujud, Sia, William. Oh, terima kasih, Antony, kau memberikan mereka kesempatan untuk mewujudkan cita-cita terbesar mereka. Dan ... Irina Tolya, kau adalah keluarga besar Boleslav. Nenek akan selalu menjagamu dari segala hal buruk yang bisa mencelakaimu. Kami akan melindungimu dari balik bayangan, Sayang. Jangan takut," ucap Amanda menatap cucu mungilnya yang memegangi telunjuknya erat.
Yena dan lainnya yang mendengar ucapan dari Amanda tersenyum penuh haru.
Mereka juga tak menyangka, jika Sia dan William bisa hidup layaknya warga sipil meski masih dikelilingi oleh para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads yang sengaja menjaga jarak agar tak mencolok serta membuat mereka dalam kesulitan nantinya.
William diperkenalkan oleh Sia kepada Red, Daniel, Maksim, Yuri, Bykov dan para wanita petinggi dalam kelompok Red Skull.
Sia juga mengenalkan Q dan Renata. Hanya Jordan, Mix and Match serta anggota Silhouette saja yang tak dipertemukan karena mereka juga tak hadir.
Para mafia sepakat tak melibatkan orang-orang itu termasuk para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads.
...THE END...
__ADS_1