
William dan Arjuna bersalaman sebelum memulai pertandingan. Arjuna terlihat serius kali ini.
Semua orang yang menyaksikan pertandingan hari itu ikut tegang seketika. Han diam tak berkomentar.
Arjuna dan William masuk ke kolam renang bersamaan. Mereka saling menatap tajam dalam diam. Wasit sudah bersiap dengan peluitnya dan PRITT!!
Dengan sigap, dua lelaki yang saling berkompetisi itu menyelam bersamaan. Mereka berdua langsung meluncur ke dasar kolam renang untuk mengambil gelang tersebut.
Arjuna terlihat fokus dengan tujuannya, begitupula William. Namun, tiba-tiba Arjuna mengubah arah dan kini mendatangi William dengan cepat dari samping.
DUAKK!!
"OH!" pekik orang-orang terkejut saat melihat yang Arjuna lakukan dimana ia menendang rusuk William dari samping saat jari William sudah menyentuh gelang itu, tapi kini terlepas.
William terdorong karena tendangan kuat dari Arjuna. Arjuna menyeringai dari dalam air dan segera berenang ke dasar mengambil gelang miliknya.
William yang merasa dicurangi itu tak terima. Ia kembali berenang dengan menahan sakit di rusuk samping untuk mengambil gelangnya itu.
Namun, Arjuna yang sudah memakai gelang miliknya kembali menghadang William.
Ia memegang pergelangan tangan William dengan satu tangan kirinya dimana mereka masih mengambang di dalam air.
William terkejut dan melotot ke arah Arjuna yang tiba-tiba, DUAKK!!
"OHOK!"
"Yeah! Bagus, Kak Juna!" teriak Jordan riang dan spontan semua orang meliriknya.
Jordan diam seketika dan memalingkan wajah. Semua orang kembali menatap layar karena penasaran dengan yang terjadi.
Arjuna kembali menendang dan kini tepat mengenai dagu bawah William dimana tangan kanannya masih dipegang kuat oleh Arjuna.
Wajah William sampai mendongak ke atas dan menelan air karena serangan tiba-tiba itu. Arjuna terlihat seperti melakukan akrobat dalam air dan terlihat lentur.
Arjuna segera mengambil gelang William dan memakainya di tangan lainnya. William menelan banyak air, ia tak sanggup mengejar Arjuna yang sudah berenang lebih dulu dengannya.
"Uhuk! Uhuk!" William memegang erat lantai pinggiran kolam renang dimana nafasnya terasa tercekik dan hampir tenggelam karena kehabisan oksigen.
Sedang Arjuna terlihat santai saat naik ke atas dan memberikan dua gelang pada Alex.
William mendengus keras dan ikut naik ke atas. Ia berjalan dengan gusar mendatangi Alex dan Arjuna yang tak meliriknya sama sekali.
"Kau curang! Peraturannya mengambil gelang dulu baru berkelahi," ucap William lantang menunjuk Arjuna.
Semua bodyguard yang berjaga di sana langsung menyiagakan senjata dan membidik William dari kejauhan.
Arjuna dengan santai mengambil handuk dan mengelap wajahnya yang basah. Nafas William menderu menatap Arjuna tajam.
__ADS_1
"Curang ya? Lalu ... kenapa kau tak melakukan hal yang sama? Sikapmu yang seperti ini membuatku semakin yakin jika kau tak pantas bertemu dengan Sia. Kau lembek," ucap Arjuna meledek sembari memberikan handuknya pada Alex.
Entah kenapa ucapan Arjuna barusan membuat William marah. Ia spontan meluncurkan kepalan tangan kanan dan memukul pipi kiri Arjuna dengan kuat.
Seketika semua orang tertegun, bahkan Arjuna ikut terkejut dan ia hampir jatuh.
"Kau ingin bermain curang ya? Itulah aksi curangku," ucap William tajam menatap Arjuna dengan nafas menderu dimana kedua tangannya mengepal kuat.
Semua orang terlihat tegang dan panik. Arjuna memegangi pipinya yang sakit dan tersenyum. Tiba-tiba, ia membalik tubuhnya dan DUAKK!!
"Hah ... sudahlah. Aku rasa cukup. Informasikan saja padaku hasilnya," ucap Han menghela nafas dan terlihat malas karena anaknya malah bertengkar hanya karena seorang wanita.
Sergei dan Alex mengangguk. Han mematikan sambungan video call. Terlihat Shamus, Ace dan Jordan serius menyaksikan perkelahian Arjuna dan William dipinggir kolam renang.
Alex memilih menyingkir dan Sergei menatapnya seksama.
"Kau tak melerainya?" tanya Sergei heran.
"Percuma saja, yang ada aku malah kena pukul nantinya. Jika sudah lelah, Tuan Muda akan berhenti. Biarkan saja," jawab Alex santai sembari duduk pada kursi santai dan memakai kacamata hitam.
Semua orang yang berdiri dan mendengar ucapan Alex barusan hanya saling melirik. Mereka yang penasaran itu menatap William dan Arjuna yang sama-sama tak mau mengalah.
William memukul pipi Arjuna, Arjuna membalas dengan memukul perutnya kuat. Mereka saling mencekik, melilit, menendang, menginjak dan memukul dengan brutal hingga luka lecet, lebam serta kucuran darah terlihat dari wajah mereka berdua.
"Jika babak belur begitu, Kak Sia akan memilih siapa ya? Apa mereka tidak sayang dengan wajah rupawan yang menjadi cacat seperti itu," ucap Jordan sembari mengelus-elus kedua pipinya yang mulus dimana ia merasa lebih tampan ketimbang dua lelaki yang sedang berkelahi itu.
Sergei mendatangi dua lelaki yang masih bernapsu untuk saling menjatuhkan itu dengan mendorong keduanya yang saling mendekap seperti pesumo ke dalam kolam renang.
BYURR!!
Semua orang tertegun begitupula Alex. Ia sampai melepaskan kacamata hitamnya dan berdiri mendatangi Sergei dengan tergesa.
"Hei! Kau gila!" pekik Alex yang meminta kepada petugas untuk melihat kondisi dua lelaki itu dalam air.
Ternyata di layar monitor yang masih terkoneksi itu, Arjuna dan William kembali berkelahi. Sergei dan Alex sampai menghela nafas sembari memijat kepala mereka.
Para penyelam sampai harus memegangi dua orang itu untuk dilerai. Hingga akhirnya dengan sangat terpaksa, Alex mengeluarkan ponselnya untuk menelepon seseorang.
Telepon itu diangkat dan Alex sampai membungkuk-bungkuk meminta maaf dengan bahasa Indonesia.
Alex lalu berlari ke arah petugas teknis dan mencolokkan kabel yang terkoneksi dengan speaker di dekat kolam renang ke ponselnya. Seketika ....
"ARJUNA! HENTIKAN! JANGAN SAMPAI AKU KE SANA UNTUK MENYERETMU!"
Sontak Arjuna yang mendengar suara lantang langsung diam seketika. Ia melepaskan dekapan penyelam dan berenang ke permukaan.
Arjuna melihat sekitar seperti mencari asal suara. Arjuna terlihat gugup, ia tak menemukan sosok itu dan menatap Alex yang menunjukkan layar ponselnya dimana ada tulisan "Majikan" di sana.
__ADS_1
Arjuna lalu berenang dengan sendirinya ke pinggir kolam lalu bergegas naik ke atas. Ia berlari pelan mendatangi Alex dan melepaskan kabel yang terkoneksi di ponsel bodyguard-nya itu.
Terlihat Arjuna seperti takut ketika berbicara dengan orang yang ada dalam sambungan telepon.
Ia menggaruk kepalanya dan terlihat pucat seketika. Jordan hanya terkekeh dan semua orang kembali meliriknya.
Arjuna lalu memberikan ponsel itu dan menyerahkannya pada Alex dengan gusar. Alex menelan ludah terlihat takut. Arjuna melotot tajam padanya.
"Jangan bawa-bawa Ibu dalam hal ini. Menyebalkan," gerutu Arjuna terlihat marah dan langsung pergi begitu saja.
Semua orang bingung melihat Arjuna mengambil handuk dan mengelap bibirnya yang berdarah dimana terlihat lebam di sana.
Arjuna lalu mengarahkan pandangannya dan kini menatap Shamus seta Ace tajam.
"Kalian berdua, besok saja dilanjutkan dan dia, si William tengik itu. Dia tetap kalah," ucap Arjuna tegas menunjuk William yang kini sudah berdiri di pinggir kolam renang.
Semua orang mengangguk paham. Arjuna berjalan dengan gusar masuk kembali ke mansion.
William tak terima, iapun protes pada Alex. Alex menghela nafas dan menatap William tajam.
CEKREK!
William terkejut dan mengangkat kedua tangannya spontan. Semua orang ikut terkejut termasuk Sergei.
Alex menempelkan moncong pistolnya di dahi William dengan tatapan bengis.
"Ketika sudah diputuskan kau kalah, sebaiknya kau terima saja, William. You, OUT!" ucap Alex tegas dan William merapatkan bibirnya dengan wajah gusar.
William lalu pergi begitu saja meninggalkan semua orang kembali ke kamarnya untuk bergegas pergi dari mansion Arjuna.
Segei pamit dan diikuti oleh Shamus serta Ace bersamanya menyusul William.
Jordan diam saja berdiri di tempat teduh dimana Alex kini mendekatinya dengan perlahan. Jordan memegangi bibirnya yang sakit.
"Hampir saja kau membocorkan identitasmu, Tuan Jonathan. Kau harus lebih berhati-hati lain kali," ucap Alex menasehati anak ketiga Vesper yang mengaku sebagai Jordan itu.
"Aku kesal. Kak Juna jahat sekali padaku. Kau lihat, Paman Alex. Ia bahkan menendangku! Ini sakit tau! Aku akan lapor pada mama!" gerutu Jonathan sebal.
Alex hanya bisa menghela nafas dan terlihat tertekan karena hal ini. Ia lalu membawa masuk Jonathan masuk ke mansion dimana Arjuna sedang duduk dan sudah berganti celana di teras belakang.
"Sakit ya? Uh, uh ... kasihan," ledek Arjuna sembari memasukkan buah anggur dimulutnya.
"Awas, aku bakal ngadu sama mama!" pekik Jonthan memonyongkan bibir.
"Tukang ngadu ... tukang ngadu ... anak mama, anak mama ...." teriak Arjuna yang makin santer meledek adiknya yang dikenal anak mami itu.
"Kak Junaaa!!" lengking Jonathan yang spontan membuat Arjuna berlari meninggalkannya dengan tawa terbahak.
__ADS_1