
Kwkw ternyata pada sadar kl eps sebelumnya pendek. Sengaja gt pd ngeh apa gak jebule iya ๐
Mknya vote yg byk biar lele ksh eps panjang2 biar puas bacanya tapi reader LAP mah mau smpi novelnya tamat jg gak puas, ya to๐
Lele tu seneng kl telat up dicariin gitu๐ kl autor lain mungkin udh sebel dan ngedumel kali ya tapi kl buat lele pribadi seneng apalagi kl kalian udh jdi kaya zombie ๐
----- back to Story :
Cecil melaju kendaraannya dengan kecepatan sedang membelah jalanan aspal menuju ke Boston.
Cecil berencana untuk mendatangi kediaman Adrian Axton. Cecil merasa bahwa inilah satu-satunya jalan dan hanya Axton yang bisa membantunya.
Mereka berbicara dalam bahasa Inggris.
"Aku pasti benar-benar sudah gila. Bahkan aku sampai harus mendatangi psikopat itu. Namun, aku menaruh besar harapan padamu, Axton," guman Cecil sembari melirik dari kaca spion tengah di mana William masih tergeletak tak sadarkan diri di bangku belakang.
Perjalanan yang memakan waktu hingga 10 jam dari Virginia ke Boston, tentu saja membuat mantan agent senior itu lelah.
Matahari sudah mulai tenggelam. Cecil melihat William masih tak sadarkan diri di bangku dudukan belakang.
Cecil tak bisa menahan rasa kantuknya lagi. Ia memasuki kawasan rest area untuk beristirahat sejenak padahal baru setengah perjalanan untuk sampai ke Boston.
Cecil mengisi penuh bahan bakar dan menepi untuk memarkirkan mobilnya. Rest area tersebut terbilang cukup sepi.
Saat Cecil sedang melepaskan seat belt dan mengambil air minum dari wadah dekat persneling, tiba-tiba ....
"Agh! Ohok!"
William yang ternyata sudah sadar dan pura-pura pingsan, menggunakan rantai dari borgolnya untuk menjerat leher seniornya.
Cecil terkejut dan memegangi tangan William erat mencoba melepaskan jeratan yang akan membunuhnya.
Cecil meronta mencoba melakukan perlawanan. Tangan kanannya yang memegang botol minuman reflek dan langsung ia ayunkan ke belakang.
DUAKK! DAKK! DAKK!
"Agh!" rintih William saat kepala samping kanannya dipukul kuat dengan botol kaca air minum itu hingga ia merasakan sakit dan pusing di kepalanya.
William linglung seketika. Cecil merasakan jika jeratan di lehernya melemah. Dengan sigap, Cecil memundurkan dudukan mobilnya hingga William terdorong ke belakang dan kembali duduk ke dudukkan tengah.
Cecil segera menurunkan tubuhnya dan melepaskan diri dari jeratan rantai dengan kedua tangannya.
Ia menarik rantai itu kuat hingga William tertarik ke depan dan jatuh tersungkur hingga wajahnya membentur dashboard mobil.
DUAKK!
BRUKK!
Lagi-lagi, William pingsan. Cecil memukul kepalanya lagi dengan botol air minumnya tepat di kepala belakangnya.
__ADS_1
Nafas Cecil tersengal. Ia memegangi lehernya yang sakit lalu meneguk air minum dari botol kacanya yang ternyata cukup tangguh bahkan tak retak sedikitpun.
"Hemm, merk botol minum ini bagus. Aku akan membeli lebih banyak," ucapnya memuji si botol kaca.
Nafas Cecil mulai stabil, ia kembali tenang. Cecil menatap William seksama. Ia meletakkan botol minumnya lagi lalu mendorong tubuh William untuk direbahkan.
Cecil keluar dari mobil dan pindah ke dudukan belakang. Ia duduk di samping kepala William. Cecil memeriksa seluruh tubuh William seperti mencari sesuatu.
Ia mendapatkan ponsel William dan mencoba membukanya, tapi tidak bisa. Ada password khusus dan ia yakin hanya William yang tahu.
Cecil sengaja mengembalikan ponsel itu ke sakunya karena ia penasaran siapa yang mengirim junior-nya itu untuk membunuhnya.
Cecil melihat kalung besi yang William pakai. Kening Cecil berkerut. Ia mencoba mengamati kalung itu seksama dan merabanya.
"Kalung ini ... Oh, apakah? Bukankah benda ini sudah dilenyapkan? Kenapa masih ada yang membuatnya? Apakah ada yang mereplikanya? Vesper? Wait ...," ucap Cecil memekik dengan mata membulat penuh.
Ia terlihat seperti memikirkan sesuatu.
"Vesper dikenal pintar dalam menduplikat suatu benda lalu dikembangkan. Ini jenis yang berbeda dari buatan aslinya. Pasti The Circle. Benda ini pertama kali dibuat oleh Lucifer Flame sebagai alat pengendali para tahanannya. Apakah terjadi sesuatu antara The Circle dengan para dewan itu? Agh, shit! Sebenarnya apa yang terjadi? Pasti ada yang kulewatkan," gerutu Cecil memukul sandaran belakang mobil dengan gusar.
Cecil menatap William tajam. Ia mengusap kepalanya lembut dan tersenyum miring.
"Baiklah. Kita lupakan Axton. Kita harus mendatanginya, meski aku tak mau lagi terlibat. Semoga pengorbananku bisa membawamu kembali, Will," ucap Cecil serius dan kembali melaju kendaraannya.
Rasa kantuk dan lelah Cecil lenyap setelah bertarung dengan William. Pikirannya juga memaksanya berpikir keras untuk menguak kejadian yang sebenarnya. Banyak asumsi di benak wanita tua itu.
Cecil mengurungkan niat untuk bertemu Axton. Ia pergi ke tempat lain untuk mencari tahu apakah kalung yang terpasang di leher William sungguh seperti dugaannya atau tidak.
Namun tiba-tiba, Cecil melihat pergerakan dari balik semak dan pohon dalam kegelapan di mana ia merasa diintai.
Cecil mengangkat kedua tangan ke atas perlahan dengan membentuk sebuah pola seperti atap rumah berbentuk segitiga.
"Aku ingin bertemu dengan Madam. Aku TC-C-001," ucap Cecil lantang dengan pandangan terus tertuju pada pergerakan di kanan kirinya.
"Harrghh ...."
Cecil terkejut bahkan sampai mundur selangkah. Ia melihat dua orang lelaki dengan ornamen-ornamen seperti suku Indian, tapi menutupi tubuh dan kepalanya dengan bulu beruang hitam. Cecil menelan ludah dan berusaha tetap tenang.
"Aku ingin menemui Madam. Izinkan aku bertemu dengannya," ucapnya memohon sembari berlutut dengan kedua tangan masih membentuk atap segitiga.
Dua lelaki itu masih mengarahkan senapan laras panjang ke tubuh Cecil dan mendekatinya perlahan dengan bertelanjang kaki.
Salah satu diantaranya mendekati mobil dan mengintip. Lelaki itu terkejut saat melihat seorang lelaki pingsan dengan kalung besi di lehernya.
Pria itu lalu mengajak bicara lelaki satunya dengan bahasa yang tak Cecil mengerti. Lelaki yang menodongkan pistol ke arah Cecil mengangguk paham.
"Kau diterima," ucapnya dengan suara berat.
Cecil mengangguk dan kembali berdiri perlahan. Dua lelaki itu ikut masuk ke dalam mobil dengan Cecil mengemudikan mobil.
__ADS_1
Mobil melaju perlahan melewati hutan kecil dengan jalanan aspal yang hanya bisa dilewati satu mobil saja hingga bertemu sebuah kastil di tengah hutan itu.
Dua lelaki tersebut turun sembari membawa William. Cecil turun dan terus mengangkat tangannya ke atas membentuk segitiga seperti atap rumah.
Cecil mengikuti dua pria yang membopong William bersamaan memasuki rumah tua tersebut.
Saat sudah di dalam, muncul para wanita Indian dan salah satu diantara mereka mendudukkan William di kursi roda. Wanita itu membawa William entah kemana, tapi Cecil tak lagi bisa mengikutinya.
Cecil tetap berdiri di tempatnya dengan posisi yang sama, di kelilingi oleh orang-orang berpenampilan seperti suku Indian.
"ID?" tanya seorang wanita bertubuh atletis dan terlihat tangguh.
"TC-C-001," jawab Cecil tenang.
Mata wanita itu menyipit. Seorang wanita Indian yang berada di belakang wanita perkasa itu mendekatinya sembari menunjukkan layar tablet yang ia pegang.
"Cecil, CIA agent. Mantan lebih tepatnya," ucap wanita perkasa itu memperjelas dan Cecil mengangguk.
"Madam tak ada di sini. Ia berada di rumahnya. Apakah tujuanmu kemari karena kalung itu?" tanya wanita itu menyipitkan mata.
Cecil mengangguk. Wanita itu lalu memerintahkan anak buahnya untuk memeriksa tubuh Cecil.
Wanita tua itu diam saja saat digeledah. Dua pria yang ikut bersamanya di mobil ikut menggeledah kendaraannya.
"Dia bersih. Hanya ditemukan senjata api di mobil dan mantelnya," ucap wanita Indian sembari menunjukkan temuannya.
"Kau tahu peraturannya Cecil. Semoga kau tak lupa meski rambutmu sudah beruban dan kau menua," ucap wanita perkasa berkesan menyindir.
Cecil mengangguk pelan tak tersinggung.
"Amankan dia sampai Madam memberitahukan tindakan selanjutnya," perintah wanita perkasa dan para wanita di sekitarnya segera mendatangi Cecil.
Wanita tua itu pasrah saat dibawa ke sebuah ruangan dengan penjagaan ketat. Cecil di masukkan dalam sebuah kamar yang terlihat kurang terawat. Ia diminta untuk tetap di sana sampai ada pemberitahuan selanjutnya. Cecil mengangguk paham.
Pintu kamar Cecil di tutup rapat. Wanita tua itu mengembuskan nafas panjang. Ia melihat sekitar dan melepaskan mantel yang dipakainya ke gantungan belakang pintu.
Cecil melihat perlengkapan untuk membersihkan ruangan. Ia pun segera menyapu, mengelap beberapa benda dan mengepel. Ia membuka sebuah almari pakaian dan matanya terpejam seketika.
Ada sebuah setelan warna hitam tergantung di sana. Cecil mengambilnya dan menatap tulisan di bagian depan pada dada.
"TC-C-001. Ini ... akan selamanya melekat pada diriku bahkan sampai mati," ucapnya terlihat tertekan sampai matanya terpejam.
Cecil mengganti pakaiannya dengan setelan tersebut. Sebuah kaos hitam panjang berikut celananya.
Cecil menguncir rambut pendeknya dan memakai sepatu boots yang sudah disediakan. Cecil tak mengira jika ukurannya masih sama persis seperti saat ditinggalkan.
Ia berjalan perlahan mendekati cermin panjang di asamping almari yang menangkap seluruh pantulan di tubuhnya.
"Welcome back, TC-C-001," ucap Cecil pada dirinya sendiri yang berdiri gagah di depan cermin panjang itu dengan wajah datar.
__ADS_1
----
jangan lupa votenya karena ini udah senin yak! rank 43 nih๐ฉ kuy kuy semoga bertahan di rank 20 besar sampai akhir bulan. amin! push push!