Secret Mission

Secret Mission
Bantuan


__ADS_3

Lele nguntuk parah tapi dipaksa melek. Kalo ada tipo2 harap maklum aja tar lele benerin pas udah melek maksimal. Jangan lupa votenya ya~


----- back to Story :


Di tempat Boleslav dan timnya berada.


Boleslav yang bertugas sebagai pengemudi melakukan manuver tajam hingga mobil yang dikemudikannya berputar 90 derajat.


"Daniel, now!" teriak Boleslav lantang saat bodyguard kepercayaannya itu menggelontoran seluruh amunisinya, menembaki sisi bagian kiri mobil militer dan berhasil menewaskan penembak gatling.


"Selesaikan, Jamal!" teriak Boleslav lagi yang kini memutar mobilnya hingga bagian belakang Crossover itu tepat menghadap mobil militer dalam posisi melintang.


"Go to hell," ucap Jamal dengan seringinya.


Seketika, SWOOSHH! SWOOSHH!


BLUARRR!!


"Yeah!" sorak kemenangan begitu santer terdengar dari para mafia tersebut.


Boleslav tersenyum miring. Dua misil dari RPG berhasil meledakkan mobil militer dan menghentikan pergerakannya.


Namun, satu mobil militer berhasil lolos dan kini tak diketahui keberadaannya.


"Masih ada satu pengacau. Reload dan bersiap!" tegas Boleslav dan tiga mafia itu mengangguk paham.


Namun, Daniel kembali masuk ke dalam karena sudah habis amunisi. Daniel langsung melompat ke belakang dan segera menyiapkan kembali persenjataannya.


"Helikopter!" teriak Rajesh yang masih berada di luar dengan teropong.


Seketika, tim dari Boleslav waspada. Daniel membuka roof top dan bersiap dengan senjata pelontar granat.


"Jika saja ada JERA, ini pasti sudah beres," ucap Daniel sembari membidik.


"Hem ... aku lebih suka DOMINO," sahut Jamal sembari mengisi ulang misil dua RPG-nya dengan santai.


"Aku suka UMBRELLA, apalagi jika dinyanyikan," celetuk Boleslav tiba-tiba.


"Oh! I know that song!" pekik Rajesh malah melupakan intaiannya.


"Ella, ella, eh, eh, eh ... Under my umbrella, ella, ella, eh, eh, eh," ucap empat mafia itu malah bernyanyi.


Sia dan semua orang yang berada di Pusat Kendali saling melirik. Para lelaki itu terlihat gembira padahal nyawa mereka terancam.

__ADS_1


Dan benar saja, tiba-tiba ....


"Oh shit!"


DODODODODOR!!


Helikopter militer mulai menembaki mobil para mafia tersebut. Rajesh spontan meringkuk dalam posisi berjongkok karena hanya dia satu-satunya yang berada di luar.


Daniel kesulitan membidik helikopter itu. Benda terbang tersebut seperti mengetahui jika sedang diincar oleh Daniel dan Jamal.


"Mereka lincah sekali!" pekik Daniel kesal karena gagal melontarkan granatnya.


Namun tiba-tiba, terdengar suara motor melaju ke arah mobil yang mereka tumpangi. Rajesh dengan sigap meneropong.


"Bantuan datang!" teriaknya gembira.


Mata Jamal dan Daniel melebar saat mendapati Lysa muncul bersama Arjuna, membonceng motor trail dengan pasangan masing-masing.


"Biar aku yang urus. Pergilah ke titik penjemputan!" teriak Lysa dengan anak panah sudah ia sejajarkan dengan helikopter yang kembali muncul untuk menyerang lagi.


Rajesh dan Daniel kembali masuk ke dalam. Mereka menyerahkan penuntasan ini pada dua anak Vesper.


Boleslav melaju mobilnya sesuai arahan GPS di awal. Terlihat, Arjuna dengan sigap mengemudikan motor trail dengan Naomi membonceng di belakang, bersiap meluncurkan anak panah dari busur otomatisnya.


Mata Naomi melebar. Dengan sigap, SHOOT! JLEB!


"Hei!" pekik Arjuna lantang karena Naomi malah mengganti anak panahnya dan kini menarik dirinya ke mobil militer tersebut dari sebuah tali tambang tembaga.


Naomi yang menggunakan sepatu magnet berjongkok di samping badan mobil dengan berpegangan kuat pada panah otomatisnya.


"Kak Lysa!" teriak Arjuna yang kini mendekati mobil militer karena Naomi mulai di serang oleh dua tentara yang berusaha menjatuhkannya meski dengan tangan kosong.


"Tidak bisa! Fokusku menjatuhkan helikopter!" jawab Lysa lantang lalu menepuk pundak Javier agar mengikuti laju helikopter yang ternyata mengejar mobil Boleslav.


DUAKK! BRAKK!


"Agh!" rintih Naomi saat pahanya ditendang dari samping oleh salah satu tentara yang berada di bak belakang hingga pijakan gadis Jepang itu terlepas, meski ia beruntung karena tali pengait terkait kuat.


"Berani-beraninya melukai Naomi," geram Arjuna sembari menarik pedang Silent Blue miliknya dengan laser menyala.


Mata para tentara itu langsung tertuju pada kilatan menyilaukan mata tersebut. Seketika, NGENGG!!


"HARRGGHHH!"

__ADS_1


KRASS! BLANG!


Mata para tentara terbelalak saat Arjuna melompat dari motornya lalu mendarat dengan menebas moncong senjata gatling hingga benda tersebut terbelah.


Senyum Naomi merekah. Para tentara yang hilang fokus memberikan celah bagi bodyguard Arjuna untuk memberikan perlawanan.


Dengan cepat, CLEB! CLEB!


"Tuan Muda, now!" teriak Naomi lantang setelah ia berhasil menandai mobil tersebut dengan benda berwarna hitam seperti tempurung dengan lampu berkedip biru.


Arjuna yang sibuk menebas para tentara tersebut mengangguk paham. Naomi melepaskan kaitannya dan keduanya melompat bersamaan dari atas mobil.


KLIK!


PIPIPIPIPI!


Mata para tentara yang berada di mobil lapis baja melebar seketika. Tiba-tiba, lampu indikator berubah menjadi merah.


BOOM! BOOM! BOOM!


"ARRGHHH!!"


"Selesaikan, Naomi," ucap Arjuna bangun perlahan sembari menyarungkan pedangnya ke samping pinggul lalu membersihkan pakaiannya yang kotor terkena dedaunan.


Naomi tersenyum miring. Ia bersiap dengan panahnya membidik mobil yang sudah meledak hebat setelah mini DOMINO melaksanakan tugasnya.


SHOT! SHOT!


BUZZZ!


"Ohok! Ohok!"


Para tentara yang sekarat makin menderita setelah dua panah dengan gas beracun berwarna jingga menyeruak di sekitar mereka.


Naomi dan Arjuna berjalan berdampingan mendekati motor trail yang tergeletak di atas tanah meninggalkan kehebohan yang mereka buat tanpa menoleh ke belakang.


"Aku lelah. Kau saja yang mengemudi," ucap Arjuna dengan wajah datar.


Naomi mengangguk dan kini duduk di depan siap berkendara. Namun, Naomi tertegun ketika menyadari jika Tuan Mudanya memeluk perutnya dari belakang bahkan menyenderkan kepala di punggungnya.


Jantung Naomi berdebar, tapi ia memilih diam dan membiarkan Tuan Mudanya bersender padanya.


"Dia pasti sangat letih hingga berpikir untuk tidur di motor. Semoga tidak jatuh," batin Naomi dan melaju motornya dengan kecepatan rendah.

__ADS_1


__ADS_2