
Hari itu Sia terbang bersama Antony dan anak buahnya kembali ke Rusia. Amanda sudah menunggu dengan perasaan cemas karena Antony tak mau menyampaikan apapun padanya seperti menutupi sesuatu.
Kastil Antony, Krasnoyarsk, Rusia.
"Oh sayang. Kau tak apa? Bagaimana lukamu? Kita ke rumah sakit ya?" tanya Manda cemas melihat perban masih melekat di bahu anaknya.
"Aku sudah tak apa, Bu. Aku sudah diperiksa di klinik diantar Will ...."
Sia menghentikan ucapannya segera. Antony melirik Sia tajam dalam diamnya. Manda menelan ludah karena ia tahu siapa yang Sia sebut sebelumnya.
Hanya saja, Manda tak menyangka jika Sia sudah bertemu dengan William secepat itu. Manda melirik Antony yang merapatkan bibirnya dan mencengkeram kuat kepala tongkatnya itu menahan emosi.
"Kau bicara apa? Maaf, Ibu tak dengar," ucap Manda pura-pura.
"Oh tak ada. Maksudku tadi ... Daniel dan Red sudah membantu merawat lukaku. Aku baik-baik saja nanti juga sembuh," jawab Sia gugup.
"Lalu ... mana Daniel dan Red? Kenapa tak ikut pulang bersama kalian?" tanya Manda heran.
"Aku lelah. Kakiku sakit, sudah waktunya minum obat," ucap Antony tiba-tiba dan Manda langsung merangkul lengan suaminya itu membantu memapahnya.
Sia paham jika ayah tirinya itu membutuhkan perhatian ibunya saat ini. Sia melihat ibunya yang begitu setia mendampingi suaminya yang sedang sakit. Sia tertunduk kembali teringat akan William yang kini sakit hati karenanya.
Saat Sia sedang termenung tiba-tiba ada suara di dekatnya.
"Suatu hari nanti, aku akan menjadi penerus Boleslav yang bisa diandalkan. Aku sudah cukup bagus, kata ibu sih begitu," ucap seorang anak lelaki yang sedang memegang apel sudah tergigit di sebelah kanan Sia.
Sia menatap anak lelaki berambut cokelat itu seksama dari atas sampai bawah.
Hingga ia kembali menyadari ada sosok di sebelahnya yang juga sedang mengunyah apel dalam diamnya berdiri mengapit di sebelah kiri Sia dengan pandangan lurus ke depan menatap ayah ibunya yang kini sudah masuk ke sebuah ruangan.
Mata Sia melotot lebar. Ia baru menyadari dua anak leleki itu berwajah sama berikut postur tubuh, baju, bahkan tingginya.
"Ka-kalian?"
__ADS_1
"Hai, Kak. Aku Jason dan dia Jordan. Kami 2J. Selamat datang dan salam kenal," ucap Jason sembari menyodorkan tangan mengajak Sia berjabat tangan.
"Oh hai. Hallo, wah aku tak menyangka kalian sudah sebesar ini," ucap Sia kagum dan membalas jabat tangan Jason.
Jason tersenyum dan kembali menggigit apel merahnya. Saat Sia akan mengajak jabat tangan Jordan, Jason memegang pergelangan tangan Sia sembari menggelengkan kepala.
"Anggap saja, aku ini juru bicara saudaraku itu. Nanti kau juga akan terbiasa," imbuh Jason tersenyum tipis.
"Oh begitu. Oke. Hai Jordan," sapa Sia yang kini hanya melambaikan tangan sebagai salam perkenalan.
Jordan tak melirik Sia sedikitpun dan berpaling darinya begitu saja sambil memakan apel dan memasukkan salah satu tangan dalam sakunya.
Sia yang kebingungan itu menoleh ke arah Jason, tapi adik tirinya itu hanya tersenyum manis padanya.
Saat Sia merasa aneh dengan sikap dua adiknya ini, Sia kembali dikejutkan dengan dua sosok yang entah datang dari mana sudah ada di belakangnya, berdiri dan memasang wajah garang menatapnya tajam.
"Ya Tuhan! Oh, siapa kalian?" pekik Sia terkejut dan langsung mendekap Jason mencoba melindunginya dari dua sosok lelaki menyeramkan itu.
"Hehehe. Mereka ini Mix and Match. Bodyguard ibu yang kini menjadi bodyguard kami berdua. Bodyguard-mu kini paman Maksim dan Yuri. Oia, mereka ada dimana ya? Paman Red dan Daniel kemana?" tanya Jason menoleh ke kanan ke kiri mencari keberadaan empat orang itu.
"Tugas dari Daddy?" tanya Jason memastikan.
Sia mengangguk pelan. Jason lalu menggandeng Sia untuk ikut dengannya menuju ke suatu tempat.
Sia menurut dimana ia merasa kurang nyaman dengan kehadiran Mix and Match yang mengikuti mereka di belakang.
Ternyata Jason mengajak Sia ke kamarnya yang berada di lantai 2. Satu koridor dengan kamar miliknya hanya saja Sia di sayap timur, kamar Jason dan Jordan di sayap barat.
Sia memasuki kamar adik lelakinya yang bernuansa abu-abu itu. Kamar yang luas seukuran dengan miliknya.
Memiliki kamar mandi dalam, dressing room, ruang belajar dan ruang santai yang tersekat dengan sebuah tembok.
Sia duduk di sofa ruang santainya tempat ia bermain video games dengan Mix and Match ikut duduk di depannya menatap Sia tajam. Sia makin gugup karena sikap dua algojo itu.
__ADS_1
"Umurmu berapa, Jason?" tanya Sia.
"13 tahun. Masih muda, pintar, tampan dan penerus kekuasaan Daddy," jawab Jason santai dan diangguki oleh Sia.
"Ku dengar, kau tak lolos seleksi dewan ya? Jangan sedih, ada Jordan yang akan menggantikan posisimu nanti. Hanya saja Jordan belum cukup umur. Kata Daddy ia bisa ikut pemilihan saat berumur 20 tahun itupun jika ia memenuhi kriteria," ucap Jason yang memberikan segelas jus jeruk dingin dari kotak kemasan dari dalam mini bar-nya.
"Oh thank you, Jason," ucap Sia sembari menerima gelas jus itu.
"Your welcome," jawabnya sembari memasukkan kembali kotak jus itu dalam lemari es.
Mix and Match masih duduk diam menatap Sia seksama yang sedang tertunduk gugup meminum jusnya. Ternyata Jason menyadari hal tersebut.
"Paman Mix and Match. Kalian bisa keluar. Aku ingin mengobrol banyak dengan kakakku yang cantik ini," ucap Jason mengusir halus.
Mix and Match mengangguk lalu keluar dari kamar Tuan Mudanya sembari menutup pintu.
Jason duduk di tempat dua algojo tadi duduk sembari mengemut permen lolipop yang kini bersemayam di mulutnya.
"Jason. Bisa kau ceritakan tentang saudaramu, si Jordan? Ia terlihat sedikit berbeda denganmu. Aku ingin mengenalnya seperti mengenalmu," ucap Sia sembari mendekap gelas jusnya yang masih tersisa setengah.
"Jangan buang waktumu, Kak. Jordan hanya mau bicara jika memang diperlukan. Dia memang berbeda sejak kecil. Kata Paman Red, Jordan mirip Daddy saat pertama kali masuk dunia mafia. Tak banyak bicara, tegas dan garang. Setelah menikah dengan ibu saja Daddy jadi berubah, sebelumnya ia lelaki yang menyeramkan. Bahkan kata Paman Sergei, dulu Daddy disebut Trio Psikopat," ucap Jason berbisik.
"Psi-psikopat? Daddy Antony seorang psikopat?" tanya Sia dengan mata melotot.
"Kau ada masalah dengan hal itu? Bagaimana jika aku seorang psikopat seperti Daddy?"
Asal suara yang mengejutkan Sia dan Jason karena tiba-tiba Jason muncul di balik pintu.
Ia menyenderkan lengannya di bingkai pintu dengan kedua tangan ia masukkan dalam saku celana.
Sia dan Jason menelan ludah dengan jantung berdebar karena Jordan menatap mereka tajam.
-----
__ADS_1
maap lele blm bs crazy up apalagi dobel eps. lagi nyeri mens uy. jadi bersabarlah. trims sudah setia menunggu. lele padamu~