
Di kamar tempat William dan Cecil tempati dengan ranjang terpisah.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Cecil, apa yang terjadi?" tanya William kebingungan bertolak pinggang mondar-mandir di hadapan Cecil.
"Aku tak tahu. Aku hanya diminta untuk mengambil koper di titik temu. Lelaki itu mengatakan jika Tessa mendapatkan keinginannya. Ia bilang jika koper itu dari Tobias. Aku menerimanya dan langsung membawanya kemari. Aku tak tahu jika itu sebuah bom," jawab Cecil terlihat tegang.
"Apa Tessa tahu hal ini? Madam tahu?" tanya William menatap Cecil tajam.
Cecil mengangguk. "Aku pergi ke titik itu karena Madam yang mengirimku. Katanya itu tugas atas permintaan Tessa, bosmu. Aku tak tahu apapun. Untung tak kubuka koper itu. Jika ya, pasti aku yang meledak. Oh, Tuhan masih menyayangiku," ucap Cecil lega dengan mata terpejam menghembuskan nafas panjang.
"Tobias. Apa dia mengkhianati kita?" tanya William kini berdiri persis di hadapan seniornya.
"Aku tak tahu. Kenapa kau selalu menanyakan banyak hal padaku? Aku tak punya jawaban-jawaban dari semua pertanyaanmu, William!" pekik Cecil terlihat marah menatap William tajam.
William menggertakkan gigi. Ia mendesis kesal dan langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Cecil memijat kepalanya dengan wajah tertunduk duduk di pinggir ranjang.
"Tobias berkhianat? Atau mungkin ... koper itu sengaja ditujukan padaku? Apa Madam berencana untuk membunuhku?" tanya Cecil tertegun seketika dengan analisisnya sendiri.
Jantung Cecil berdebar kencang tak karuan. Cecil menarik nafas dalam mencoba untuk menenangkan diri. Ia melepaskan sepatu boots dan seragamnya dengan gusar.
"Wow!" pekik William kaget saat mendapati Cecil hanya mengenakan pakaian dalam.
"Cuci matamu setelah ini, William. Tubuhku tak seindah bidadari. Singkirkan imajinasi liarmu sebelum kau mengalami mimpi buruk," tegas Cecil lalu berdiri dan mengambil baju di lemarinya.
William terlihat shock dengan apa yang ia lihat. Ia bingung dan kembali masuk ke kamar mandi melakukan yang Cecil katakan, mencuci kedua matanya.
Saat William keluar dari kamar mandi, ia lega karena Cecil sudah berbusana. Namun, terlihat dua buah nampan untuk makan siang mereka berdua di atas meja dekat pintu.
"Makanlah. Besok kita akan berkelana dan baru pulang ke tempat ini mungkin yah, bulan depan. Aku sudah mempersiapkan persediaan senjata, stok obat, pakaian dan keperluan penunjang selama menjalankan misi. Besok kita siap berangkat," jawab Cecil sembari menusuk omelette.
William mengangguk paham sembari menyuapi mulutnya yang kelaparan. Keduanya makan dengan lahap dan langsung pergi tidur begitu selesai makan.
Malam harinya, Cecil dan William terbangun. Salah satu wanita Indian mengetuk pintu dan meminta mereka berdua untuk menemui Raka.
Mereka segera bersiap dan berjalan berdampingan dengan seragam khusus mendatangi ruang kerja Nokomis yang kini dipakai oleh Raka, menggantikan posisinya.
Cecil dan William duduk di kursi yang telah di sediakan. Keduanya terlihat bingung saat diminta untuk menggulung lengan kaos sampai ke pangkal.
Dua orang itu terlihat gugup saat seorang lelaki Indian mendekati mereka dengan sebuah alat mirip pistol hanya saja dengan ukuran lebih kecil di kedua tangannya.
Seketika, CLEB! CLEB!
"Agh!" rintih William dan Cecil bersamaan ketika lelaki itu berdiri di antara mereka berdua, menembakkan alat tersebut bersamaan di lengan keduanya.
__ADS_1
"Kami akan mengawasi pergerakan kalian. Alat pelacak itu tertanam dalam tubuh. Diambil paksa, akan langsung terdeteksi dan meledak."
"Kau bermaksud membunuh kami?!" tanya Cecil dengan mata melotot.
"Hukuman karena kecerobohanmu, TC-C-001. Nokomis tewas karenamu dan hukuman bagi TC-W-381 karena Tessa sampai harus menemui Madam untuk meminta bantuannya meminta kaki robot Tobias hanya karenamu. Kau sungguh tidak sopan dan tak tahu diri," jawab Raka geram.
"Hei! Aku tak pernah meminta kaki robot dari Tessa. Dia yang berinisiatif untuk memberikannya padaku. Kenapa ini menjadi hukumanku?" tanya William protes.
"Kau berani berteriak padaku, William Tolya?" ucapnya geram langsung berdiri dari tempatnya duduk.
Cecil dan William tertegun. Mereka sampai terperanjat dan langsung mundur selangkah karena Raka mendatangi mereka dengan penuh emosi.
"Aku maafkan kebodohan kalian kali ini, tapi tidak lain waktu. Segera pergi dan selesaikan misi malam ini juga tak ada esok hari. Cepat!" perintah Raka melotot tajam.
Cecil dan William mengangguk paham. Mereka segera pergi meninggalkan ruang kerja Raka dan bergegas ke basement tempat mobil di parkir.
Namun, kening William berkerut saat mendapati mobil yang menjadi akomodasinya selama ini seperti ia kenali. William menatap mobil sedan hitam itu seksama.
"William. Apa yang kau tunggu? Kau tak akan membiarkan wanita tua ini untuk mengemudi 'kan?" tanya Cecil menatapnya keheranan dari balik jendela tempat ia duduk.
"Mm, entahlah. Mobil ini terasa familiar," jawab William sembari meraba kap mesin mobil Mustang hitam di hadapannya.
Cecil tak menjawab dan segera meminta William masuk ke dalam. William masih terlihat penasaran akan mobil yang akan dikemudikannya. Cecil diam saja melirik lelaki bermata biru itu.
Raka menatap tajam dua utusannya saat meninggalkan garasi tersembunyi untuk mulai menjalankan misi.
"Pelacak terbaca jelas, Raka," ucap petugas membaca pergerakan William dan Cecil dari layar tablet dalam genggaman.
"Jangan meragukan Madam, Raka. Kau tahu akibatnya," tegur petugas itu dan Raka mengangguk gugup menyadari perbuatannya.
Di mobil. William dan Cecil diam saja terlihat canggung. Namun, sesekali William melirik seniornya sembari mengemudikan mobil.
"Cecil," panggilnya sembari membenarkan dudukkan.
"Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Cecil dengan layar ponsel ditunjukkan pada junior-nya.
William bingung dan menatap Cecil seksama. Cecil memegang lengannya yang dipasangi pelacak. William mengangguk mengerti.
"Aku tak tahu ini hanya sekedar pelacak atau ada penyadap juga. Jaga bicaramu atau kita bisa meledak sewaktu-waktu," tulis Cecil lagi di layar ponselnya.
William terlihat tertekan dan mengangguk dalam diam. William tak jadi bicara. Ia fokus mengemudi dan berpikir untuk menanyakan hal yang mengganggu pikirannya saat mereka beristirahat.
Namun, William melihat Cecil seperti mengetikkan sesuatu dalam sebuah aplikasi di ponselnya cukup banyak. William memilih diam dan fokus dalam berkendara.
Hingga akhirnya, mereka tiba di hanggar pesawat pribadi setelah mengikuti arahan GPS pada mobil.
William dan Cecil turun dari mobil sembari menenteng dua tas besar dalam genggaman tangan mereka.
__ADS_1
William mengenali sosok lelaki yang memiliki tato hingga membuatnya seperti manusia tengkorak. Cecil menatapnya seksama begitupula lelaki tersebut.
Tas William dan Cecil diminta oleh empat lelaki berpakaian rapi dengan setelan ekslusif membawanya ke dalam pesawat.
"Jadi ... Tessa mengutusmu?" tanya William menatap lelaki berwajah tengkorak seksama.
Lelaki itu hanya mengangguk lalu mempersilakan William dan Cecil masuk ke dalam pesawat.
Mereka lalu terbang setelah pilot dan co-pilot memastikan jika mereka sudah bisa lepas landas.
"Kita mau kemana?" tanya Cecil sembari melihat keluar jendela karena ia hanya pendamping misi William.
"Rusia, Krasnoyarsk, Antony Boleslav," jawab William sembari memejamkan mata untuk tidur.
Cecil terlihat kaget dan menoleh seketika menatap William tajam.
"Membunuhnya?" tanyanya memastikan.
"Hem. Kau cukup mengawasi saja, Cecil. Aku yang akan melakukannya. Pastikan semua sesuai dengan rencana yang kususun nanti," jawab William mulai memposisikan diri untuk tidur di bangku pesawat.
Cecil terlihat gugup. Lelaki mirip tengkorak itu menatap Cecil seksama dalam diamnya. Cecil terlihat seperti mencemaskan sesuatu.
Pagi harinya, pesawat mereka mendarat di sebuah tempat bukan bandara sipil melainkan sebuah pulau pribadi.
Cecil melihat dari jendela samping tempatnya duduk termasuk William yang sudah bangun karena mendengar pengumuman dari pilot jika pesawat telah tiba di tujuan untuk transit.
William dan Cecil saling memandang karena tempat itu bukan tujuan akhir mereka.
"Blacky, kita di mana?" tanya William menatap Blacky yang sigap berdiri setelah tanda seat beat sudah boleh dilepaskan begitupula empat lelaki bersetelan rapi.
Blacky tak menjawab. Lelaki itu malah membuka koper hitam yang ia letakkan di samping tempat duduknya di atas meja.
Empat lelaki turun dari pesawat sembari menyelipkan pistol di balik pinggang terlihat seperti ingin mengamankan tempat tersebut. Cecil dan William dibuat mati penasaran.
"Ada benda yang harus diambil di tempat ini. Seharusnya tak ada penjaga karena Tessa sudah menyewanya untuk dua malam, tapi kita hanya diberi waktu satu hari untuk menemukannya dan segera pergi dari sini," jawab Blacky yang aktivitasnya tiba-tiba mengejutkan dua mantan agent itu.
William dan Cecil menatap Blacky tajam saat lelaki tersebut menghapus riasannya dengan sebuah cairan yang diteteskan pada sebuah kapas. William baru menyadari jika itu bukan tato melainkan make up.
"Kau ... tampan, Blacky," puji William yang malah terkagum-kagum melihat sosok lelaki di depannya.
"Jika pujianmu bisa menyelamatkan nyawaku, aku akan sangat berterima kasih, William Tolya. Sayangnya, tidak. Segera bersiap," jawab Blacky sembari mengumpulkan semua kapas bekas yang ia gunakan untuk menghapus riasan tebalnya.
Cecil melihat gerak-gerik Blacky yang mendengarkan laporan dari earphone yang ia kenakan di salah satu telinganya.
"Keadaan aman. Ayo turun," ucapnya melirik Cecil dan William sekilas dengan wajah datar. Cecil dan William mengangguk paham.
***
__ADS_1
makasih tips koinnya๐๐๐ besok dobel eps lagi ya๐ yang gak bs bantu tips koin tetep vote vocer dan poin ya sebelum angus. lele padamu~