
Semua orang yang mendengar shock seketika. William semakin yakin dengan penelusuran dalam buku catatannya.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Jadi ... selama ini, CIA sudah disusupi oleh The Circle dan ... tak ada yang tahu? Atau mereka tahu dan diam saja? Atau ... agh, entahlah, Will. Aku tak bisa berpikir jernih tentang hal ini," ucap Sia memegangi kepalanya terlihat pusing.
"Wait. Kalau gak salah waktu itu om Axton, Sergei dan kak Juna pernah interogasi agent Cecil perihal The Circle yang ada sangkut pautnya dengan CIA. Kaya sejarah awal mulanya gitu. Cuma, Nathan gak tahu persis seperti apa. Lebih baik, kita temui om Axton aja buat tanyain hal ini," ucap Jonathan menyela.
Monica dengan cepat menerjemahkan ucapan Jonathan. Kembali, orang-orang dibuat terkejut akan hal tersebut.
"Will, sebaiknya kita segera kembali ke Amerika dan mencari tahu. Soal perekrutan sebaiknya kita hentikan saja. Aku tak peduli jika hanya ini anggota pasukan kita," ucap Sia menatap William yang masih diam terlihat berpikir keras.
William mengangguk.
"Kalian pergilah ke Amerika. Mengenai pelatihan Athena dan Blue serahkan pada Bykov. Soal markas ini, aku yang akan merampungkan. Bagaimana?" tanya Monica menyarankan.
"Baiklah, kami akan bersiap. Aku ucapkan terima kasih atas bantuan kalian semua dan berhati-hatilah selama kami tak ada. Aku merasa jika kini kita diincar oleh The Circle yang berkedok CIA," ucap William serius dan semua orang mengangguk setuju.
Bykov akhirnya membawa kedua puluh anggota Athena dan Blue kembali ke markas Red Skull di mansion peninggalan Rebecca.
Olya dan jenazah para anggota Red Skull tak bisa mereka amankan karena polisi sudah lebih dulu menemukan kekacauan yang terjadi siang tadi.
Penyesalan dan duka mendalam membuat orang-orang dalam jajaran Amanda tak bisa menutupi kesedihan karena kehilangan anggota mereka dalam pertempuran.
"Mobilmu sebaiknya ditinggal di sini, Kak Sia. Lebih aman. Kau tetap bisa memantau mobilmu dari jarak jauh. Ingat, kita akan fokus dengan penelusuran di Amerika nanti," ucap Jonathan mengingatkan.
Sia mengangguk pelan. Monica menyiapkan penerbangan Jonathan dan timnya dengan pesawat pribadi almarhum Tuan Charles menuju ke Amerika.
Pagi itu, Axton yang dikejutkan oleh kedatangan William dan rombongan, tentu saja membuat sang Casanova geram.
"Ada yang namanya ponsel. Kenapa kalian tak menggunakannya untuk membuat jadwal denganku? Kalian pikir rumahku bisa dikunjungi sesuka hati, huh?!" pekik Axton kesal dengan mata merah karena dibangunkan oleh Sergei.
"Om Axton gak normal. Di mana-mana, pagi hari, orang bangun untuk beraktifitas. Om malah tidur, kerjanya malem. Kebalik," gerutu Jonathan tak mau disalahkan.
__ADS_1
"Aku mengantuk, jika kalian butuh sesuatu minta saja pada Sergei. Aku mau tidur dan jangan bangunkan sampai aku bangun sendiri!" pekiknya sebal dan pergi meninggalkan tamu tak diundangnya begitu saja kembali ke kamar.
William dan lainnya hanya menghela nafas pelan. Sergei menyambut para tamunya di ruang tengah sembari menanyakan maksud dan tujuan mereka.
"Wah, mengenai hal itu sudah lama sekali. Aku agak sedikit lupa detailnya. Aku yakin jika tuan Axton juga tak mengingatnya, tapi tenang saja. Kita bisa menanyakan hal ini pada tuan Kai. Ia menyimpan rekaman dari pengakuan Cecil kala itu," ucap Sergei yang mengejutkan semua orang.
"Papa Kai simpan rekaman penting itu selama ini? Wah, Nathan malah gak tau. Oke, Nathan akan telpon papa sekarang," sahut Jonathan langsung mengambil ponsel dari saku celana dan menghubungi Kai, menjauh dari kerumunan.
"Ayah Jonathan orang Asia? Namanya Kai," tanya William lirih menatap Sia.
"Bukan. Kai ayah angkatnya sama seperti Han dan Ivan. Ayah kandungnya Erik Benedict dan ia sudah lama meninggal," sahut Sergei menimpali.
"Jonathan memiliki tiga ayah? Aku pernah melihat Han saat seleksi terselubung kalian di mansion Arjuna. Namun, Kai dan Ivan belum. Aku penasaran seperti apa sosok Vesper," ucap William terdengar polos.
Semua orang tersenyum tipis.
"Sebaiknya kau jangan sampai bertemu Vesper. Dia sangat pintar melakukan tipu muslihat. Sekali kau termakan ucapannya, kau tak akan bisa lepas dari pengaruhnya. Ya, sepertiku," timpal BinBin santai sembari meluruskan kaki di sofa panjang.
Sia mengangguk setuju karena ia salah satu korbannya, tapi Sia enggan berkomentar.
Tak lama, Jonathan kembali sembari menunjukkan ponselnya. Semua orang menatapnya seksama saat Jonathan meletakkan ponsel itu di atas meja dan men-speaker-nya.
"Aku akan perdengarkan rekaman dari pengakuan Cecil saat itu. Aku harap, kalian bisa menemukan titik terang dari kebenaran sejarah pahit ini. Aku hanya akan memutarnya sekali jadi dengarkan baik-baik," ucap Kai dari sambungan telepon.
William terlihat tegang. Jonathan menatap wajah semua orang yang duduk melingkar di sofa ruang tengah.
"Oke, Papa Kai. Kami siap," ucap Jonathan mantab.
Kai lalu memutarkan rekaman dari pengakuan Cecil. Terlihat semua orang begitu fokus menyimak. Sergei mengangguk membenarkan di mana saat itu ia juga berada di sana.
"Hmm, maaf, Tuan Kai. Apakah ini bersifat rahasia? Karena aku tak pernah tahu sama sekali tentang The Circle selama bekerja di CIA," tanya William usai rekaman.
"Kami pun tak tahu jika The Circle adalah nenek moyang terbentuknya 13 Demon Heads hingga akhirnya kami berhasil menyatukan temuan selama bertahun-tahun dari berbagai sumber dan dipastikan, dalang dari semua adalah Lucifer Flame," jawab Kai tegas.
__ADS_1
Semua orang diam dan terlihat berpikir serius.
"Apakah ... ada yang pernah mencari tahu tentang latar belakang Lucifer?" tanya William mulai menyelidiki.
"Kami saja tak tahu wujudnya. Hanya Cecil saksi hidup satu-satunya yang pernah melihat sosok Lucifer. Namun, Cecil sekarang saja di mana, tak ada yang tahu," sahut BinBin
William terlihat merenung. Kini semua mata terfokus pada mantan Agent CIA itu.
"Ada yang tahu, di mana Lucifer Flame di penjara hingga ia meninggal di tempat itu?" tanya William mulai menelusuri.
Semua orang diam.
"Kami tak menemukan petunjuk apapun tentang masa lalu Lucifer, William. Semua data tentangnya seperti dimusnahkan," jawab Kai tenang.
"Oh! Bagaimana dengan petunjuk yang kita dapat saat melebur emas kala itu, Papa Kai?! Nathan menemukan kata yang sama jika huruf-huruf itu di satukan seperti saat temuan di robot Gundam Black Stone!" sahut Jonathan tiba-tiba yang ucapannya mengejutkan semua orang.
"Memang ... apa yang kau temukan? Kenapa kau tak katakan pada kami dan menyimpan rahasia ini sendiri?!" tanya Kai terdengar kesal dari sambungan telepon.
"Hehe, lupa," jawabnya santai meringis lebar.
BinBin dan lainnya yang sudah paham watak Jonathan hanya bisa menghela nafas.
"Tentang apa?" tanya Sia ikut penasaran.
Jonathan meringis dan menatap BinBin seksama sembari menaik-turunkan kedua alisnya.
"Kenapa menatapku seperti itu? Apa ada hubungannya denganku?" tanya BinBin curiga.
"Hehe, apa Paman ingat dengan tim lama yang saat itu akan dieksekusi mati, tapi diselamatkan kakek Charles? Apa kau ingat di mana kalian ditugaskan saat itu?" tanya Jonathan menatap BinBin seksama.
Mata BinBin melebar seketika.
"Oh, shit!" pekiknya kesal langsung duduk tegak sembari menepuk paha Sergei kuat saat menyadari sesuatu.
__ADS_1
Sergei kaget.
"Hehe, yup! Ke sanalah tujuan kita," imbuh Jonathan dengan senyum terkembang.