
Beberapa hari sebelumnya. Kediaman Adrian Axton, Amerika.
“Kenapa harus aku, Mandy? Kau ‘kan sahabat karib Vesper, kau minta tolong saja padanya,” tanya Axton yang terlihat malas karena lagi-lagi dirinya harus disangkutpautkan dalam rencana isteri dari sahabat karibnya itu, Antony Boleslav.
“Aku sudah minta tolong pada Vesper. Bahkan dia meminta Arjuna untuk menyeleksi agent itu. Jonathan juga dilibatkan dalam hal ini. Dia akan berpura-pura menjadi Jordan,” ucap Manda terlihat senang.
“Hah? Jontahan menjadi Jordan? Kau gila ya? Sifat mereka saja sangat bertolak belakang, jika Jason mungkin iya. Sebenarnya kau ini kenapa, Mandy? Kenapa tak kau bunuh saja William itu. Kenapa harus repot-repot membuat drama seperti ini?” tanya Axton kesal di kursi panjang santai teras dekat kolam renangnya.
“Hmm … entah kau akan paham atau tidak karena kau tak tahu apa itu cinta. Sia mencintai William, tapi kau tahu ‘kan jika kita ini mafia sedang William itu seorang agent. Aku tak menyangka jika impian William untuk menjadi polisi kala itu akan sungguh terwujud. Aku … jadi teringat pertemuan pertamaku dengan keluarga Mishka,” ucap Manda tertunduk seketika.
Axton yang sedang meminum jus jeruk dinginnya itu sampai menyembur karena kaget. Manda jadi ikut terkejut karena sikap Axton yang tiba-tiba.
“Kau sudah mengenal William sejak lama? Kenapa tak kau ringkus saja dia sejak ia masih kecil? Kini lihat, dia menjadi boomerang bagi keluargamu!” pekik Axton melotot pada Amanda.
“Karena setelah aku tahu jika kedua orangtuanya meninggal, ia lalu diasuh oleh Agent Rika. Kau kenal agent senior itu ‘kan? Dia dan Cecil pernah berurusan dengan Vesper sebelumnya. Hanya saja, aku juga mana tahu jika pada akhirnya Sia malah bertemu dengan William. Mungkin ini takdir,” ucap Manda lesu.
“Takdir apanya? Dengar Mandy, Cecil dan Rika masih memburu kita sampai sekarang. Malah, Sia yang kini diincar oleh mereka. Kau mau anakmu dipenjara dan membusuk di sana, hah?” tanya Axton kesal.
“Rika sudah pensiun, Axton. Kepergian William hari itu dari CIA adalah hari terakhir Rika menjabat. William tak tahu hal ini, kalaupun ia tahu pasti ia akan sangat sedih. William sudah menganggap Rika sebagai ibunya,” ucap Manda lirih.
Axton menatap wajah Manda seksama yang terlihat murung itu.
“Hah, untuk itulah aku tak mau menikah. Terikat hubungan suami, isteri, anak … hah, merepotkan. Semua orang yang sudah berkeluarga pasti memiliki konflik beruntun. Pilihanku tepat untuk tetap membujang,” jawab Axton mantab.
“Kau salah, Axton. Dengan adanya keluarga, kita tak sendirian karena ada mereka yang selalu memberikan kehangatan disaat hal buruk menimpa diri kita. Masih belum terlambat jika kau ingin berkeluarga, Axton. Bukankah … katamu, kau tampan, kaya dan berkuasa. Kau bisa menikahi wanita manapun. Oya, aku punya satu wanita yang cocok untukmu jika kau mau mencoba, tak ada salahnya,” ucap Manda sembari menaikkan salah satu alisnya.
Axton berdiri seketika dan terlihat panik. Manda keheranan dan menatap Axton seksama.
“Ka-kau ingin menjodohkanku dengan seorang wanita untuk kunikahi? Tidak … aku tidak mau. Jika kau berani melakukannya, aku tak mau membantumu,” jawab Axton gugup seketika.
Manda terkekeh melihat Axton seperti orang ketakutan. Mandapun akhirnya sepakat untuk tak menjodohkan Axton dengan wanita manapun dan membiarkannya membujang sesuai dengan keinginannya.
Hari itu, Manda dan Axton membuat strategi agar CIA memasukkan William dalam drama palsunya.
Axton yang penasaran akan sosok William anak didik Rikapun nekat untuk menunjukkan dirinya di depan agent muda itu.
Hingga akhirnya, drama penyeleksian itupun terjadi sesuai dengan skenario.
***
Di hari setelah Sergei meminta Yuki untuk mencari tahu tentang sosok William dimana mereka berdua tak dilibatkan dalam skenario Axton dan Manda.
Yuki bersiap untuk mencari tahu soal William atas permintaan Sergei yang mendadak itu.
__ADS_1
Saat Yuki bersiap pergi dari mansion, ia berpapasan dengan Axton yang baru selesai bermain golf bersama keempat wanitanya.
Yuki membungkuk memberikan hormat dan Axton menatapnya seksama.
“Kau mau kemana? Bukannya kau akan pergi ke camp militer Vesper nanti siang?” tanya Axton heran.
“Sergei mencurigai William. Lelaki bermata biru itu mengenal Sia. Aku ….”
“Tak usah cari tahu. Dia itu agent CIA asuhan Rika. Aku yakin jika ia nanti akan gagal tes. Arjuna tak akan membiarkan agent muda itu menang. Kau lebih baik ke camp militer saja. Sia anak Amanda akan mengadakan pesta ulang tahun ke 21 di sana. Aku menyiapkan sebuah kado untuknya, berikan pada Sia ya,” ucap Axton santai sembari merangkul salah satu pinggul wanitanya yang berambut pirang.
Yuki tertegun. Ia tak menyangka jika Axton sudah tahu siapa William sebenarnya.
Yuki pun mengangguk paham dan tak jadi mencari tahu tentang William. Saat Yuki akan
pamit pergi ….
“Yuki, alat pelacak itu masih aktif ‘kan? Minta pada Sergei untuk tetap mengawasi pergerakan William setelah keluar dari mansion Arjuna. Aku penasaran apa yang
akan ia lakukan selanjutnya jika kalah bertanding,” ucap Axton dengan senyum
mengambang.
“Oke, Sir,” jawab Yuki sembari menyingkir karena Axton dan para wanitanya kembali berjalan menyusuri koridor untuk melanjutkan acara bersenang-senang.
***
Sergei, Shamus dan Ace mendatangi William di kamarnya yang sedang merapikan pakaiannya untuk bersiap pergi.
“Hei, Will. Kau mau kemana?” tanya Shamus yang merasa jika William layak untuk tanding ulang.
“Aku sudah kalah, meski aku dicurangi. Untuk apa aku tetap di sini. Aku bisa pergi ke mafia lain untuk menjadi bodyguard mereka,” ucap William sembari memakai kaos dan melirik Sergei tajam.
Sergei diam tak berkomentar, ia menghela nafas.
“Kau mau pergi ke mafia siapa?” tanya Sergei penasaran.
“Siapa saja. Kalau perlu akan ku kunjungi satu-satu para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads,” jawab William sembari melepas celananya yang basah dan malah membiarkan ketiga lelaki di depannya itu melihat keperkasaannya.
Sergei dan lainnya melirik meski sikap mereka menjadi canggung seketika.
“Kenapa kau sangat bernafsu ingin menjadi bodyguard para mafia dalam13 Demon Heads, William?” tanya Sergei makin mendetail.
William terlihat kikuk seketika. Ia kembali bermain drama.
__ADS_1
“Untuk ketenaran tentu saja. Siapapun yang bisa masuk dalam jajaran 13 Demon Heads, meski ia hanya akan menjadi bodyguard, nama mereka akan melejit. Gaji yang diberikan pun sangat besar. Ku dengar, kau digaji (dalam rupiah senilai 75 juta). Itu sangat banyak, Sergei. Aku juga suka uang dan aku sedang butuh uang,” ucap William meyakinkan.
Shamus dan Ace terkejut seketika. Sergei menelan ludah, ia tak menyangka jika William tahu hal itu. Sergei diam saja tak menjawab.
“Oleh karena itu, kau protes karena tak bisa lolos seleksi ya? Pantas saja kau kemarin begitu serius bertarung agar bisa masuk menjadi bodyguard Tuan Axton. Uanganya banyak sekali,” ucap Ace menebak.
William mengangguk cepat. Ia tak menyangka jika ucapannya barusan membuat dua kandidat itu tergiur juga. Sergei terlihat berpikir keras.
“Begini, kau sudah kalah, William. Kau tak mungkin menjadi bodyguard Tuan Axton. Jadi, yah … semoga kau diterima menjadi bodyguard anggota dewan lain. Good luck,” ucap Sergei sembari menepuk bahu William dan pergi meninggalkannya.
William diam saja dimana Ace dan Shamus masih menatapnya seksama.
“Will, jika kami gagal, kami akan ikut denganmu untuk mencoba menjadi bodyguard mafia lain. Jaman sekarang mencari pekerjaan susuai dengan keahlian kita sangat sulit. Kau … tak keberatan ‘kan?” tanya Shamus sembari meringis.
William merasa sepertinya ia malah mendapat team baru meski dalam golongan penjahat.
Willliam meneruskan drama mafianya. Ia mengangguk setuju. Ace dan Shamus terlihat senang karena William telah menganggap mereka berdua kawannya.
Sergei yang mendengar dari balik pintu segera pergi setelah tahu rencana William dan dua kandidat yang akan bertanding melawan Arjuna besok.
William pergi meninggalkan mansion Arjuna dimana anak kedua Vesper itu menatap kepergiannya dari atas balkon lantai dua dengan bertelanjang dada memperlihatkan tato sembari memakan buah apel.
William mendongak ke atas melihat Arjuna tajam yang menatapnya dengan pandangan merendahkan.
William yang kesal itu segera pergi meninggalkan mansion Arjuna di hari yang mulai gelap.
William pergi meninggalkan mansion berjalan kaki dengan gusar menuju ke pantai untuk menenangkan diri dan memikirkan rencana selanjutnya.
Ia berdiri menyender pada mesin otomatis minuman, memandangi lautan sembari meneguk beer dingin dalam gengamannya dengan pandangan kosong dan berpikir, apa yang harus ia lakukan selanjutnya agar bisa bertemu dengan Sia.
Saat William sedang dilanda kebimbangan, tiba-tiba muncul dua lelaki berpakaian rapi, berjas, memakai sarung tangan hitam, sepatu fantovel mengkilat dan rambut disisir rapi.
William tertegun dan menatap dua lelaki itu seksama yang memandangi lautan dalam diamnya dengan kedua tangan saling menggenggam menutupi kejantanan mereka.
Jantung William berdebar kencang, gelagat dua orang itu sangat mencurigakan ditambah saat William melongok ke belakang, ternyata banyak lelaki yang berpenampilan sejenis dengan dua lelaki yang sedang mengapitnya.
“Kalian siapa?” tanya William gugup.
“Ikut kami. Kami butuh orang sepertimu. Jangan menolak, atau kau akan kembali ke CIA dalam potongan tubuh mengenaskan di bagasi mobilmu. Kau, tak mau hal itu terjadi ‘kan, William,” ucap lelaki itu menoleh ke arah William tajam.
Willam menelan ludah. Entah kenapa lelaki yang mengajaknya bicara barusan terlihat begitu mengerikan dan berkuasa.
William berdiri diam menggenggam botol beer-nya erat terlihat berpikir keras.
__ADS_1
------
jangan lupa like, komen dan rate bintang 5 bagi yg belum ya. dan yg baca vesper eps 500 boleh dong bantu ksh like dan komen lagi krn eps itu sempat menghilang krn harus revisi naskah. tengkiyuw~