Secret Mission

Secret Mission
Aset Keluarga Giamoco*


__ADS_3

Tiba saatnya acara lelang dimulai. Eiji memantau selama jalannya lelang dari kamera mini yang terpasang di jam tangan dan terkoneksi dengan layar laptop di kamar Vesper.


Vesper menyaksikan acara lelang bersama Buffalo yang menemaninya di kamar. Mata Vesper bahkan tak berkedip karena perasaan cemas menyelimuti hatinya.


Suasana tegang begitu terasa saat Tuan Wilson mulai menunjukkan pada layar utama, satu persatu aset dari Giamoco yang dijual tersebut.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-formal Indonesia campuran.


"Selanjutnya. Lahan peternakan di Swiss Tengah, daerah Lucerne. Kategori aset legal. Tempat yang sangat bagus untuk menikmati kedamaian dari penatnya kehidupan di kota besar metropolitan. Tersedia sebuah peternakan sapi perah dan potong berikut pabrik untuk mengolah. Termasuk Villa dan sebuah toko di dekat Danau Lucerne," ucap Robert mendiskripsikan.



Terlihat banyak orang terpesona dengan indahnya tempat bak negeri dongeng tersebut.



Villa peninggalan Giamoco yang biasa digunakan oleh Axton sebagai tempat peristirahatan terlihat begitu nyaman meski tak terlalu besar di mata para mafia.



Banyaknya sapi bahkan membuat mulut Arjuna menganga. Arjuna sudah membayangkan akan diapakan sapi-sapi itu nantinya.


Toko hasil pengelolaan dari pabrik tersebut menyediakan keju, susu, daging sapi segar berikut mini restaurant di pinggir danau.



Tempat yang sangat strategis bahkan memiliki pelanggan tetap karena usia dari usaha ini sendiri lebih dari 50 tahun.


Mata para pesaing mulai saling melirik yang tertarik untuk membeli tempat tersebut. Sia ikut bersiap karena inilah salah satu aset dari peninggalan mendiang ibu Axton yang harus ia selamatkan.


"Baiklah kita mulai penawaran harga dari 15 million USD," ucap Wilson sebagai pemandu lelang.


"Gila! Dia memulai dengan angka setinggi itu? Hiss," dengus Vesper kesal begitupula para peserta lelang, tapi ternyata tak menyurutkan keinginan orang-orang dalam ruangan tersebut.


"16 million!" teriak Arjuna lantang dengan papan peserta miliknya diangkat ke atas.


Saat Sia akan mengangkat papan, Yuki menahannya. Sia bingung dan Yuki tersenyum tipis.


"Belum saatnya. Bersabarlah. Kita harus berhemat," ucap Yuki serius dan Sia mengangguk paham.


"17,5 million!" sahut Jonathan semangat.


"19 million!" ucap Lysa lantang dengan senyum terkembang.


Terlihat Arjuna dan Jonathan mendesis. Jordan melirik ke arah Sandara yang terlihat berbisik kepada Ayahnya.

__ADS_1


"Dara ingin memelihara sapi, Papa. Dara suka tempat itu," ucap Sandara lirih menatap wajah Ayahnya sendu. Kai mengangguk.


"20!" ucap Kai lantang mengejutkan semua orang.


"22!" bantah Arjuna tak mau mengalah.


Kai terlihat kesal, tapi Arjuna terkekeh dengan juluran lidah. Jonathan dan Lysa mendesis.


"Oke! 22? Ada yang ingin menawar lebih tinggi lagi?" tanya Wilson sudah siap dengan palunya.


"28!"


"Wow!" ucap semua orang terkejut saat Sia mengangkat papan lelangnya ke atas dengan wajah datar.


"28 juta dollar. Simpan uang kalian untuk yang lain. Swiss milikku," ucap Sia tegas dan masih mempertahankan papannya yang naik ke atas.


Para mafia yang melakukan penawaran menurunkan papan perlahan dengan wajah lesu.


Mereka akhirnya merelakan Sia untuk mengambil aset Giamoco di daerah Swiss tersebut.


"Baiklah. 28 juta pertama, 28 juta kedua dan sold! Aset milik Giamoco yang berada di Swiss jatuh pada Nona Sia. Selamat," ucap Wilson menunjuknya dan petugas lelang segera menandai aset tersebut.


Sia melihat berkas yang berisi tentang aset milik Giamoco di Swiss mulai di sisihkan dan dimasukkan dalam sebuah koper khusus dengan nama Sia di bagian cover berikut nilai lelang.


Sia tak enak hati pada Vesper karena baginya, uang itu sangat banyak.


"Yah, hampir 400 miliar. Lumayan," ucap Vesper dengan anggukan kepala di atas ranjang.


"Tapi, Nyonya. Saldo di rekening Nona Sia jika diakumulasi dengan deposit, tinggal tersisa 20 juta lagi. Itu sangat tidak mungkin untuk membeli sisa aset yang Anda sebutkan tadi," ucap Buffalo cemas.


"Entahlah. Doakan saja tak ada penawar gila yang memasang harga tinggi. Oh, aku sungguh tak menyukai lelang. Benar-benar menguras isi dompetku. Axton sialan! Jika bertemu di neraka nanti akan kutagih semua hutangnya padaku," geram Vesper sembari mengipasi wajahnya yang mendadak terasa panas karena sedari tadi emosi.


Buffalo tersenyum tipis melihat bos besarnya sibuk melihat wajahnya di cermin karena merasa keriput mulai mengakuisisi kecantikannya.


Nandra terlihat cemas begitupula Yuki. Masih ada 2 aset Giamoco yang belum diambil olehnya. Nandra memegang punggung tangan Sia erat, Sia tertegun.


"Aku punya 100 miliar. Kau bisa pakai. Mansion di Boston ... itu adalah rumah bagi Ryan. Swiss terlalu jauh untukku dan aku tak mengerti sama sekali bagaimana menjadi seorang peternak. Bagaimana jika tempat itu malah tak berkembang di tanganku?" tanya Nandra gugup.


Yuki, Sia dan Torin saling melirik. Mereka bertiga ikut cemas dengan hal ini. Yuki terlihat serius dengan ponselnya begitupula Torin.


"Aku bisa bantu 100 miliar juga untuk mempertahankan mansion itu," ucap Torin mencondongkan ke tubuh Sia dari tempatnya duduk.


"Aku tak punya banyak. Ini tabungan yang aku simpan bersama Sergei saat kami menikah nanti. Hanya saja, itu sudah tak mungkin terjadi. Aku merelakan 150 miliar kami untuk mansion itu. Aku tak ingin mansion tersebut jatuh ke tangan orang lain. Banyak kenanganku bersamanya di rumah itu," ucap Yuki terlihat begitu sedih menatap Sia.


Sia memandangi wajah orang-orang yang sangat berharap agar mansion itu tak jatuh ke tangan mafia lain. Sia mengangguk mantap.

__ADS_1


Ia yakin jika bisa mendapatkan mansion Axton di Boston dari dana bantuan orang-orang yang percaya padanya. Wajah tegang dari para peserta lelang tampak jelas di hari menjelang sore tersebut.


DOK! DOK!


Palu tanda acara lelang dilanjutkan kembali terdengar dari ketukan palu di tangan Wilson.


"Baiklah, selanjutnya. Mansion Giamoco di Boston yang selama ini di tempati oleh keturunan dari Giamoco, mulai dari kakek, ayah sampai ke Adrian Axton. Kita mulai dari penawaran pertama. 7 milion USD," ucap Wilson serius.


Namun, entah apa yang terjadi. Semua peserta lelang diam saja tak ada yang mengangkat papan termasuk Jamal dan Rohan yang terobsesi untuk menguasai Amerika.


Sia dan tim yang sepakat untuk menggabungkan uang mereka demi mempertahankan mansion terkejut. Mereka terheran-heran bahkan para panitia lelang.


"Meskipun kami mafia yang tamak akan kekuasaan, tapi untuk rumah itu ... ambil saja. Kami sepakat untuk tak mengambilnya darimu. Itu ... milik Ryan," ucap Jamal sembari merapikan jasnya.


Nandra berlinang air mata. Ia sangat terharu akan keputusan dari para mafia yang rela menyerahkan rumah peninggalan Giamoco padanya.


Sia mengangkat papan lelangnya. "7,5 juta USD," ucapnya malu.


Wilson terkekeh begitupula para mafia lain karena Sia menawar dengan tambahan harga yang sangat minim dari penawaran.


"Kau punya uang itu 'kan, Nona Sia? Selisih dari nominal terakhir rekening bank yang kau tunjukkan tak mencukupi untuk membeli mansion tersebut," tanya Robert mengingatkan.


"Aku yang akan membelinya. Aku akan memberikan uang itu pada Sia nantinya. Itu rumah untuk anakku dan Axton. Panitia lelang tak keberatan, 'kan jika aku ikut andil dalam hal ini?" tanya Nandra gugup.


Wilson dan Robert mengangguk pelan dalam senyuman. Para peserta lelang lainnya merasa tak keberatan dengan hal tersebut.


"Oke. 7,5 satu. 7,5 dua and SOLD! Mansion Giamoco di Boston menjadi milik Nona Sia. Selamat," ucap Wilson dengan senyum terkembang dan diikuti tepuk tangan semua orang.


Nandra menangis dan memeluk Sia erat. Yuki dan Torin bahkan ikut terharu. Mereka berdua tanpa sadar berpelukan dan terlihat bahagia.


Kening Eiji berkerut. Yuki terlihat akrab dengan Torin yang duduk di sebelahnya seperti membicarakan sesuatu. Para bodyguard Vesper melirik Eiji dalam diam.


"Yang itu direstui gak? Tar disumpahin mati lagi. Kamu jahat loh, Eiji. Bibirmu itu kejam, bawa petaka. Jangan sumpahin Eko yang neko-neko ya. Obama Otong belom kawin," ucap Eko menyindir.


Eiji tertawa meski ia tahan agar suaranya tak terdengar.


"Aku tak mau ikut campur dalam pilihan jodoh Yuki, Eko. Dia sudah besar dan tahu siapa lelaki yang pantas untuk mendampingi hidupnya," jawab Eiji dengan senyum terkembang.


Eko terlihat bangga akan kawan seperjuangannya ini. Eko memeluknya gemas, tapi Eiji malah terlihat risih dengan perlakuan kasih sayang sahabatnya itu.


Sia bahkan tak menyangka, pelelangan yang penuh dengan persaingan untuk perebutan kekuasaan bisa berakhir dengan rasa solidaritas di dalamnya. Sia tersenyum lebar dalam diamnya.


ILUSTRASI


SOURCE : PINTEREST & GOOGLE

__ADS_1


__ADS_2