
ILUSTRASI
SOURCE : PINTEREST
------ back to Story :
Amanda yang sudah sadar, merasa sangat bahagia karena Jordan tertidur menemaninya. Ia tak menyangka jika anaknya yang dikenal berhati dingin ternyata begitu perhatian.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Emph," gerak Jordan dengan mata terpejam mulai terbangun dari tidur lelapnya.
Amanda langsung memejamkan mata, pura-pura tidur. Jordan mulai membuka mata perlahan dan menengok Ibunya yang masih terlelap.
"Good morning, Mom. I love you," ucap Jordan lirih lalu mencium kening sang Ibu dengan lembut.
Manda begitu terharu, tapi ia tak mau merusak momen indah itu. Ia tetap memejamkan mata dan membiarkan salah satu anak kembarnya mengutarakan semua perasaannya.
CEKLEK!
Jordan menoleh dan mendapati Mix membuka pintu. Jordan berdiri perlahan.
"Aku sudah persiapkan semua. Tinggal menunggu kau siap," ucapnya serius.
Jordan mengangguk pelan. Ia kembali menatap wajah cantik Ibunya dan kembali mengecup keningnya lembut.
"Aku pergi dulu, Mom. Aku akan penuhi permintaan Daddy. Aku akan menjadi penerus Boleslav. Jaga dirimu, aku menyayangimu, Mom. Sampai bertemu lagi," ucap Jordan lirih dan pergi meninggalkan Amanda yang kini bersedih mendengar salah satu anak lelakinya pergi untuk menjalani pelatihan di Camp Militer milik Vesper di China.
Amanda membuka matanya perlahan dan setetes air mata meluncur membasahi pipinya.
"Aku merindukanmu, Tony. Bisakah kau datang ke mimpiku? Aku terlalu lelah untuk bangun dan menerima kenyataan jika kau telah tiada," ucapnya lirih dengan air mata.
Amanda memeluk gulingnya erat dengan mata terpejam. Ia begitu merindukan mendiang suaminya di mana terlintas kembali kenangan akan masa-masa indah ketika bersamanya dulu.
Sedang di sisi lain. Bykov mengurusi kepindahan Jason dari Krasnodar, Rusia ke New York, Amerika, setelah mendapatkan informasi dari Arthur.
Jason yang sedang berkunjung ke Los Angeles karena penasaran dengan keadaan William kini harus menetap di Amerika dan meninggalkan Rusia dalam waktu yang lama.
Arthur mengaku sebagai Ayah dari Jason. Arthur membantu kepengurusan sekolah baru Jason di kota itu.
Terlihat, Jason bisa menerima kehidupan barunya bersama Q dan Renata di Apartmen Theresia.
"Kau aman di sini, Jason. Silhouette akan menjagamu dari balik bayangan bahkan tanpa kau sadari. Lakukanlah semua aktifitasmu layaknya warga sipil," ucap Q yang mengajak Jason makan siang bersama dengan isterinya di ruang makan.
__ADS_1
Jason mengangguk dengan senyum terkembang. Arthur ikut lega karena Jason cepat beradaptasi di tempat tinggal barunya.
Sedang di sisi lain. Sia terlihat begitu serius menghimpun pasukan. Anggota yang telah direkrutnya dan diberi nama Blue serta Athena, ia serahkan pada Rohan sesuai dengan perjanjian.
"Maaf, Rohan. Aku baru bisa memberikanmu 300 orang dari yang kujanjikan," ucap Sia tak enak hati.
"Aku bisa memaklumi jika kau mengalami kendala karena kehamilanmu. Jangan khawatir, aku sudah memiliki 400 orang. Tinggal 300 lagi. Huff, ini cukup berat," ucapnya terlihat stress.
"Kenapa kau tak melengkapi kekurangan dengan membeli Black Armys milik nyonya Vesper atau anggota The Circle milik Jonathan? Jumlah mereka cukup banyak," tanya Yena heran.
Rohan tersenyum. "Aku ingin tahu, sejauh mana kemampuanku dalam menghimpun pasukan. Aku tak mau dianggap sebagai anggota dewan yang lemah. Aku bisa duduk karena dijadikan jaminan agar tak melukai keluarga Axton. Namun, jujur. Aku mulai melupakan dendam itu."
Sia dan Yena terlihat senang.
"Aku akan tetap mengusahakan sisanya sebelum bayiku lahir. Aku mengandalkanmu saat waktunya tiba nanti, Rohan," ucap Sia sembari mengajaknya berjabat tangan.
"Kau bisa pegang janjiku, Nona Sia. Bagaimanapun, aku berhutang budi pada William. Dia menyelamatkan dua bodyguard kepercayaanku, Vijay dan Balraj meskipun mereka belum bisa mendampingiku, tapi ... aku tetap berterima kasih," jawabnya sembari menyambut jabat tangan Sia.
Rohan pamit untuk kembali ke rumahnya di India bersama anak buah barunya berjumlah 300 orang.
Rohan membiarkan pasukannya diberi nama Athena dan Blue sebagai bentuk pengingat kerjasama dengan Sia. Anak perempuan Amanda itupun tak keberatan.
Dan tak terasa, bulan sudah berganti lagi. Perut Sia makin membesar dan ia menjadi sulit untuk bergerak karena kehamilannya.
Amanda selalu mendampingi anak perempuannya yang sebentar lagi akan menjadi Ibu.
Setiap hari, Sia membersihkan tubuh William dengan waslap air hangat. Ia menyisir rambut dan memotong kukunya. Hanya saja, Sia membiarkan jambang serta kumis suaminya tumbuh.
Rambut yang tumbuh di wajah William mengingatkannya akan Antony Boleslav yang berwajah garang, tapi tetap berkharisma.
Sia juga merindukan ayah tirinya, tapi ia menutupinya dari sang ibu karena khawatir jika Amanda akan jatuh pingsan lagi.
Sia selalu menemani Ibunya dalam melakukan segala aktivitas termasuk menyelesaikan pekerjaan baik dalam usaha legal ataupun ilegal.
"Mom. Selama ini, Daniel yang mengurus usaha Daddy?" tanya Sia sembari memeriksa berkas di ruang kerja Amanda.
"Ya begitulah. Sebenarnya, aku kasihan padanya. Seingatku, ia tak pernah pulang ke rumahnya untuk menjenguk isteri dan anaknya. Ia hanya mengirimkan mereka uang, memantau kegiatan mereka dari kamera CCTV yang terhubung dengan ponsel dan melakukan video call di waktu-waktu tertentu," jawab Amanda sembari menyenderkan punggung terlihat letih.
"Ibu tak ingin memberikan dia hadiah? Family time, mungkin?" tanya Sia meliriknya.
Amanda menoleh ke arah Sia dan ketua dewan sekretariat 13 Demon Heads itu tersenyum manis.
Dua hari sstelahnya. Kastil Antony Boleslav, Rusia.
TOK! TOK! TOK!
__ADS_1
"Ya. Masuklah."
"Maaf mengganggu waktumu, Tuan Daniel," sapa Amanda ramah.
"Oh! Nyonya Manda. Ah, apa yang Anda katakan? Jangan berlebihan. Duduklah. Kau ingin minum apa, biar aku buatkan," jawab Daniel sungkan dan langsung beranjak dari dudukkannya.
Manda tersenyum. "Duduklah. Sikapmu malah membuatku risih," jawabnya pura-pura sebal.
Daniel meringis tak enak hati. Ia kembali duduk saat Nyonya Besar dari mendiang bosnya duduk di hadapannya. Daniel terlihat gugup.
"Kau menjaga Kastil ini dengan baik, Daniel," ucap Manda memuji.
"Saya hanya menjalankan amanat dari Tuan Boleslav, Nyonya," jawabnya santun.
Amanda tersenyum. Ia selalu menyukai sikap Daniel yang santun dan berwibawa.
"Daniel, aku tak bermaksud mengusir atau memecatmu. Aku masih butuh bantuanmu mengurus bisnis peninggalan Antony. Hanya saja ...."
"Hanya saja apa, Nyonya?" tanyanya terlihat gugup.
"Keluargamu membutuhkanmu, Daniel. Ambilah cuti. Satu bulan kurasa cukup. Yah, jika kau masih kepikiran dengan pekerjaan-pekerjaan ini, kau bisa mengerjakan saat di Hong Kong nanti. Bagaimana?"
Mata Daniel terbelalak. Ia terlihat seperti orang kebingungan yang salah tingkah.
"Oh! Benarkah? Anda sungguh-sungguh?" tanyanya seakan tak percaya.
"Waktumu hanya satu bulan setelah itu kita bergantian. Aku juga ingin pulang, Daniel. Aku berjanji akan mengajak anakku memancing," sahut Red tiba-tiba yang muncul dari balik pintu.
Daniel tak bisa menutupi kebahagiaannya. Ia terlihat begitu gembira sampai berlinang air mata.
"Terima kasih, Nyonya Manda, terima kasih. Anda memang sangat perhatian. Aku akan memanfaatkan waktu liburku dengan sebaik-baiknya," ucapnya membungkuk berterima kasih dan Manda membalasnya dengan senyum merekah.
Malam itu, Daniel terlihat begitu bahagia. Senyumnya tak memudar sejak Manda memberikan kabar baik untuknya.
Daniel diantar oleh P-807 menggunakan helikopter menuju ke Bandara. Daniel akan terbang meninggalkan Rusia menuju ke Hong Kong.
Sebuah apartemen mewah yang ditempati keluarga kecilnya, akan ia kunjungi untuk menikmati waktu keluarga yang selalu ia impikan.
Manda bahkan mengizinkan saat kembali ke Rusia nanti, ia membawa pesawat Boleslav yang dipakai oleh Jordan.
Red kini yang terlihat pusing menyelesaikan pekerjaan peninggalan Daniel untuknya.
Manda terkekeh melihat Red sampai menggulung lengan kemejanya hanya untuk mengecek pemesanan kendaraan tempur dan persenjataan dari usaha ilegal Boleslav Industries.
***
__ADS_1
Makasih tips koinnya Alra😘 Wah detik-detik menjelang tamat. Semoga endingnya nanti kalian syuka. Lele padamu. Besok masih dobel eps~