
Akhirnya, mereka tiba di tempat yang telah diinformasikan oleh Agent Liev, Port of Ventspils, Ventspils, Latvia. Sebuah tempat di mana mereka berdua akan menunggu jemputan.
William turun dari mobil dan terlihat banyak kapal berlabuh di sana. Sia memilih menyembunyikan diri agar tak tertangkap kamera.
William mengatakan jika kedua orang tua Sia memiliki sebuah teknologi yang bisa melacak keberadaan seseorang.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Sepertinya yang dikatakan William benar. Mommy saja tahu apa yang terjadi padaku selama hidup bersama Rio dan ayah. Pasti mereka kini sedang mencariku, tapi sungguh. Aku tak bisa lagi kembali ke kehidupan gelap itu, Mom. Meski aku sangat menyayangimu, tapi aku tahu ... bahwa selama ini jalan yang kupilih salah. Aku tak mau lagi terlibat dalam dunia mafia. Aku ingin seperti orang normal. Berkeluarga dan hidup bahagia bersama lelaki yang kucintai. Sorry, Mom," ucap Sia dalam hati tertunduk sedih.
DOK! DOK! DOK!
Sia tertegun dan menaikkan pandangannya seketika. Sia menurunkan kaca jendela dan melihat wajah sang kekasih yang tersenyum manis padanya.
"Kau kenapa? Lapar? Jemputan baru akan tiba tengah malam. Sebaiknya kita cari penginapan sederhana. Bagaimana, Sayang?" tanya William dan Sia mengangguk setuju.
William kembali masuk ke dalam mobil. Mereka berdua mencari penginapan dekat dengan pelabuhan dan menemukannya.
Hostel sederhana tanpa kamera CCTV bahkan terbilang murah. William yang biasa hidup mewah begitupun Sia, harus menahan diri demi keselamatan mereka bersama.
"Well. Ada bagusnya juga kita hidup sederhana. Aku mulai terbiasa," ucap William saat merebahkan diri di kasur setelah perjalanan panjang yang melelahkan.
Sia melakukan hal yang sama dan kini berbaring di samping kekasihnya.
"Karena uangmu tak terkuras, aku ingin cincin berlian untuk cincin pernikahanku," ucap Sia tersenyum licik. Mata William melebar.
"Eh. Bukankan aku pernah memberikanmu cincin milik Ibuku? Di mana benda itu sekarang?" tanya William langsung bangkit dan menatap kekasihnya seksama.
"Di Krasnoyarsk. Kau mau mengambilnya? Mungkin kau mau meminta restu kepada ayah tiriku, Antony Boleslav?" tanya Sia menaikkan kedua alisnya.
William menelan ludah. "Jangan menyindir. Kenapa ayahmu harus seorang anggota dewan? Apa kau tahu? Antony Boleslav salah satu mafia kejam dalam jajaran 13 Demon Heads. Aku tak bisa membayangkan perlakuan buruk Boleslav padamu, Sayang," ucap William iba membelai lembut rambut kekasihnya.
Sia mengedipkan mata. "Sepertinya tidak begitu," jawab Sia menyangkal.
Kening William berkerut. "Oh ya?"
Sia mengangguk. "Daddy sangat baik. Bahkan dia begitu perhatian padaku. Tak seperti ayahku, Julius Adam. Boleslav sangat menyayangiku. Aku cukup yakin jika dia pasti sangat sedih saat tahu aku memilih pergi dari kehidupannya," ucap Sia kembali murung.
William diam menatap wajah kekasihnya seksama. William menggenggam erat tangan kekasihnya dan mengecup punggung tangannya lembut. Jantung Sia berdebar.
"Sia. Apa kau pernah dengar kelompok The Circle?" tanya William gugup.
Sia diam sejenak. "Entahlah. Aku tak begitu yakin. Kenapa?" tanya Sia menatap William lekat yang kini memiringkan tubuhnya dan keduanya saling berhadapan.
"Mungkin kau harus membantuku. The Circle musuh bebuyutan 13 Demon Heads. Saat mencarimu, aku bertemu banyak mafia, salah satunya Axton. Kau kenal dia?"
Sia mengangguk cepat.
"Nah, Axton memintaku untuk menghancurkan kelompok itu. Ternyata, agensiku juga menginginkan hal yang sama. Rasanya aneh jika mafia dan polisi bekerjasama untuk melenyapkan musuh yang sama," ucap William menahan tawa dan Sia ikut terheran-heran.
"Oh ya? CIA juga menginginkan hal itu?" tanya Sia memastikan. William mengangguk.
__ADS_1
"Hem. Agensiku menawarkan pengampunan padamu, Sia. Bantu aku menghancurkan The Circle. Aku tahu salah satu anggotanya. Denzel Flame. Jika kita berdua berhasil melenyapkan Denzel, CIA menjanjikan perlindungan untukmu dari segala jenis serangan para penjahat yang berniat membunuhmu. Bagaimana? Ini tugas mulia, Sia. Kau bisa kembali ke dunia lagi seperti dulu," ucap William dengan senyum merekah.
"Tidak mungkin. Pasti ibuku akan akan menemukanku," jawab Sia tersenyum sinis.
William diam sejenak. Tak mungkin ia mengatakan jika misi selanjutnya adalah membunuh Boleslav dan orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads.
Muncul perasaan bersalah dalam diri William. Namun, ia harus melakukannya agar Sia terbebas dari kelompok penjahat itu, meski ada keluarganya di sana.
"Kau terlihat cantik dengan penyamaranmu," ucap William tak mengungkit misinya lagi.
Sia kesal karena diledek kekasihnya. Ia mencubit tubuh William dan lelaki bermata biru itu pun tertawa terbahak.
William begitu senang karena Sia selalu berada di sampingnya seperti harapannya. Bahkan Sia tak mengeluh dengan kesulitan yang harus ia jalani agar bisa keluar dari dunia mafia.
William semakin mencintai kekasihnya. Sia mematung saat William merapatkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya. Jantung Sia berdebar ketika William menciumnya lembut.
Sia memejamkan mata. Ia menikmati ciuman lembut dari William dan menginginkan lebih. Sia balas memeluk William erat dan melakukan pijatan di tubuhnya.
William terbuai. Tubuhnya mendadak terasa panas, aliran darahnya bergerak cepat hingga jantungnya berdegup kencang.
Nafas William menderu saat Sia merespon sentuhannya. William tak bisa lagi menahan gairahnya untuk segera bercinta.
Sia menggigit bibir bawahnya ketika William dengan sigap melepaskan kaos dan ciumannya.
Sia memandangi tubuh atletis kekasihnya yang selalu membuatnya terpesona. William kembali padanya dan Sia segera memeluknya kembali.
William mulai melepaskan pakaian Sia dan tak mau melepaskan ciumannya. Sia dengan sigap ikut melucuti pakaiannya dan membiarkan tubuh rampingnya tak berbusana.
Sentuhan dari kulit halus Sia membuat William makin terbuai dan tak sabar untuk menjelajahi.
Dua pasang kekasih yang sedang dimabuk asmara itu pun terlihat tak sabar untuk segera memuaskan pasangannya.
Sia bahkan terlihat sudah sangat siap menyambut keperkasaan milik William untuk segera bersemayam di lubang kenikmatan itu.
Desahan dari keduanya saling bersahutan, berirama, seperti ombak dan angin di laut dekat penginapan yang mereka tempati malam itu.
Mereka berdua tak henti-hentinya berciuman, saling menggoyangkan pinggul agar merasakan kenikmatan yang sama setelah lama tertahan.
William menggenggam erat telapak tangan Sia yang ia tarik ke atas sembari memainkan bulatan menggemaskan di buah dadanya yang sintal.
Tubuh Sia menggelinjang hebat. Ia diserang atas dan bawah tanpa ampun oleh sang kekasih. William makin tak bisa menghentikan aksinya.
Desahan dan rintihan Sia bagai candu baginya. Wajah sensual wanita pujaannya itu begitu cantik saat bergairah.
"Oh, Will," rintih Sia yang tak bisa menahan kenikmatan di tubuhnya saat William meremat dua gunung kembarnya dan terus menyodokkan miliknya dari belakang tanpa ampun hingga peluh mulai membasahi tubuhnya.
William mendekap tubuh Sia erat dari belakang saat kekasihnya menggoyangkan pinggulnya dengan desahan lirih terdengar begitu merdu di telinganya.
Sia memiringkan kepalanya dan tak bosan-bosannya William mencium bibirnya. Hingga tiba-tiba, TOK! TOK! TOK!
Dua orang itu terkejut dan mematung seketika. Gairah bercinta mereka lenyap saat mendengar pintu kamar di ketuk. Mata keduanya tertuju pada pintu di hadapan mereka.
"Who?!" tanya William lantang dari tempatnya duduk di atas kasur.
__ADS_1
"Liev!" jawab dari balik pintu.
William berdecak kesal. Wajah Sia memerah menahan malu. William membenamkan wajahnya di punggung kekasihnya karena aktivitas panas mereka harus tertunda.
"Ingatkan aku untuk menghajarnya, Sayang," ucap William kesal. Sia terkekeh.
Sia segera beranjak dan menahan tawa saat melihat milik William masih berdiri tegak menantang karena belum terpuaskan. Sia masuk ke kamar mandi untuk kembali berpakaian.
"Will?" panggil Liev yang masih menunggu di luar.
William kesal dan segera berpakaian dengan terburu-buru. Ia tak memperdulikan penampilannya yang berantakan karena tergesa.
CEKREK!
"Lama sekali," ucap Liev saat wajah William muncul di hadapannya.
William tak menjawab dan hanya menatapnya tajam. Liev terlihat bingung, tapi ia yakin jika William seperti marah padanya.
"Ini bahkan belum tengah malam," ucap William gusar.
"Perubahan jadwal," jawab Liev tenang.
Hingga pandangan Liev teralih pada Sia yang keluar dari kamar mandi dan berpenampilan lain dengan wig berwarna pirang, lipstick merah menyala, make up tebal, softlens hijau dan pakaian berwarna hitam tertutup.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Sia terlihat siap untuk pergi.
Liev mengangguk dan Sia tersenyum lebar. Ia mendekati William dan berdiri di sampingnya.
"Apa yang kau tunggu. Ayo," ajak Sia dan William mengangguk malas.
William ikut menyamar dengan rambut gondrong sebahu berwarna pirang, topi lebar, softlens cokelat dan kacamata.
Liev tersenyum melihat keduanya yang baginya cukup hebat untuk menyamar.
"Kita akan menyeberang dan berlabuh di Nynäshamn. Selanjutnya, terbang kembali ke Amerika dari Stockholm, Sweden," ucap Liev sembari berjalan berdampingan dengan William dan Sia yang mengapitnya.
Dua orang itu mengangguk paham. Terlihat beberapa lelaki berpakaian hitam siap untuk mengawal mereka sampai ke Pelabuhan.
Hanya saja, yacht yang dijanjikan oleh Liev tak ditepatinya. Sia dan William mendesis ketika mereka menyeberang dengan sebuah kapal kargo.
"Ayolah. Ini tak seburuk yang terlihat," ucap Liev ketika mereka naik ke kapal barang dan masuk ke sebuah kontainer.
"Are you kidding me?" pekik Sia saat pintu sebuah kontainer berwarna cream akan dibuka oleh Liev.
Agent itu hanya tersenyum. William ikut bingung, tapi ia mengikuti ritmenya. Saat Sia menggerutu karena merasa dibohongi, tiba-tiba mulutnya menganga lebar ketika interior kontainer sangat memukau.
Isi dalam kontainer seperti sebuah rumah minimalis yang indah. Sia dibuat takjub akan kamuflase dari luar di mana ia berpikir seperti sebuah barang yang disimpan dalam kotak besi.
"Buatlah dirimu nyaman. Perjalanan kita cukup jauh, Sia. Selamat beristirahat," ucap Liev sembari menutup pintu.
William ikut mendampingi sang kekasih agar tak merasa diabaikan. Sia terlihat menyukai tempat tinggal sementaranya selama pelayaran menuju ke Nynäshamn, Sweden.
__ADS_1
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE & PINTEREST