Secret Mission

Secret Mission
Adaptasi


__ADS_3

Hari itu Sia yang tadinya terbang dari Rusia, akhirnya tiba di bandara Pudong, Shanghai, China hampir menjelang tengah malam.


Lopez mengajak Sia untuk menginap di The Grey House sebelum pergi ke camp militer keesokan harinya.


Sia hanya bisa menurut kemanapun ia akan dibawa pergi karena Sia benar-benar tak tahu akan hal ini.


Dunia mafia kali ini sungguh berbeda dengan sebelumnya. Bahkan ibunya tak meneleponnya seharian dan hal itu membuat Sia makin cemas karenanya.


Hingga akhirnya, saat sudah tiba di The Grey House. Sia terlihat kagum akan sebuah benteng, tapi tak memiliki kastil di dalamnya dan malah tak terdapat apapun di atas permukaan tanah.


Hanya terdapat area conblock dan padang rumput yang indah seperti taman. Sebuah pohon apel dan sebuah rumah kaca yang terlihat begitu terawat serta dijaga ketat oleh penjaga berbaju hitam bersenjata lengkap.


Sia disambut baik oleh pengurus di kastil yang disebut The Grey House. Ia bertemu pemimpin di sana yang dijuluki One.


Sia bersalaman dengannya dan ia kembali gugup karena lelaki di depannya ini terlihat cukup seram baginya karena sorot matanya yang tajam.


Sia juga diperkenalkan oleh seorang wanita berambut hitam yang terlihat seumuran Lopez bernama Verda.


Verda memperkenalkan diri sebagai isteri dari One dan Sia pun kembali membungkuk hormat padanya.


Verda yang akan membawa Sia dan rombongan ke camp militer esok hari dengan helikopter. Hari itu, Sia diberikan banyak kejutan tentang dunia mafia.


Sia kembali melongo saat ia baru mengetahui ternyata ada sebuah markas super besar di bawah tanah yang disebut "Sarang Semut" dan ternyata itu adalah salah satu fasilitas milik Vesper.


Sia tak henti-hentinya dibuat takjub dan terkagum-kagum. Ia diberikan sebuah kamar khusus, ruangan yang biasanya dipakai oleh para anggota dewan yang menginap di sana untuk sementara waktu.


Malam itu, Sia yang sudah selesai membersihkan diri dan bersiap untuk mengistirahatkan tubuhnya tertegun, saat Lopez datang sembari membawa sebuah telepon genggam.


Sia segera bangun dan duduk di ranjang sembari menerima ponsel pemberian Lopez.


"Dia mencemaskan mu," ucap Lopez dengan senyum menawan.


"Hallo? Ibu ... kenapa kau tak meneleponku? Aku ...."


"Maaf, Sia sayang. Ini Daddy," jawab Ayah Tiri Sia, Antony Boleslav tiba-tiba.


Sia terkejut dan langsung gugup seketika.


"Da-daddy. Hai ... maaf, ku kira ibu," jawab Sia tak enak hati.


"Tak apa. Maaf, ibumu sedang sibuk sekali dan Daddy menghawatirkan mu. Apa kau baik-baik saja? Semoga kejadian hari ini tak membuatmu trauma," ucap Antony terdengar seperti begitu mengkhawatirkannya dan Sia malah menjadi kikuk seketika.


"Ah ... aku sudah pernah mengalami seperti kejadian hari ini, jangan khawatir, aku baik-baik saja," ucap Sia berbohong padahal ia masih kepikiran dengan hal tersebut.


"Baiklah. Istirahatlah, besok kau akan bertemu teman-teman mafiamu. Jaga dirimu dan jika kau butuh apapun, mintalah pada Maksim dan Yuri. Jangan sungkan, mereka bisa diandalkan dan terbiasa direpotkan," ucap Antony santai.

__ADS_1


"Ya ya. Oke. Kau juga, selamat tidur, Da-Daddy," ucap Sia masih terasa kikuk menyebut Antony Daddy.


"Good night, Sia. Daddy menyayangimu," ucap Antony lalu menutup teleponnya.


Sia merapatkan bibirnya dan memberikan ponsel itu pada Lopez dimana ia masih berdiri menatapnya dengan tersenyum.


"Kenapa kau kaku begitu? Kau seharusnya bersyukur karena Tuan Boleslav begitu menyayangimu, Sia. Dia bukan tipe orang yang mudah memberikan pujian, senyuman bahkan perhatian pada seseorang. Kau beruntung," ucap Lopez serius.


"Benarkah? Aku masih mencoba mengingat sosok Tuan Boleslav di pikiranku. Hanya saja, entahlah semua terasa samar. Namun, terasa begitu akrab saat aku melihat boneka beruang di kamarku saat itu. Aku juga teringat pernah bermain dengan kelinci-kelinci kecil bersama seorang lelaki dan Rio. Aku cukup yakin jika saat itu yang bersamaku adalah Tuan Antony. Jadi, dia sudah mengenalku sejak kecil? Selama ini bahkan ia masih menyayangiku?" tanya Sia memperjelas perasaan dihatinya.


"Ya. Brian bercerita banyak tentangmu dan Tuan Antony dulu. Kisah kalian berdua cukup apik, kau mau mendengarnya? Seperti sebuah dongeng sebelum tidur, Nona Sia?" tanya Lopez menawarkan.


"Yes. Tentu saja. Aku tak mau menjadi gadis yang tak tahu balas budi, Lopez. Ceritakan padaku tentang Tuan Antony padaku, please ...." ucap Sia memelas.


Lopez tersenyum dan mendekati Sia. Ia duduk di atas kasur dimana mereka berdua kini saling berhadapan. Sia mengambil sebuah bantal dan memeluknya.


Jantungnya berdebar tiap Lopez menyebutkan nama ayah tirinya itu. Sia mendengarkan dengan seksama setiap cerita yang Lopez berikan padanya.


Entah sudah berapa jam mereka saling bercengkrama, Sia meneteskan air mata haru. Lopez menyadarinya dan menghapus air mata Sia.


"Dia sangat menyayangiku, Lopez, hiks ... Tuan Boleslav ... dia begitu baik padaku dan ibuku ... sedang ayah kandungku, hiks ... kenapa kami harus terpisah? Ini tidak adil, ia sendirian selama ini? Merelakan aku dan ibuku tinggal bersama ayahku, Julius Adam? Ya Tuhan, pantas saja saat ia bertemu denganku ia terlihat seperti begitu senang. Seandainya aku tahu hal ini lebih awal," ucap Sia tertunduk sedih meremat-remat bantalnya karena kesal pada dirinya sendiri.


"Yang terpenting kau kini sudah tahu hal itu, Nona Sia. Jadi ... anggaplah Tuan Antony ayahmu yang sesungguhnya. Aku tahu, bagaimanapun Julius Adam adalah ayah kandungmu, hanya saja ... kasih sayang Tuan Boleslav padamu lebih besar ketimbang ayah kandungmu sendiri, Nona Sia, semua orang tahu hal itu," ucap Lopez sembari mengelus kepala Sia lembut.


Sia mengangguk dengan air mata yang mulai tak bisa terbendung lagi. Sia memeluk Lopez erat karena tak sanggup menahan rasa bersalah di hatinya.


Malam itu, Sia menyelimuti tubuhnya dengan hati yang hangat. Ia begitu bahagia karena ia menemukan sosok figure seorang ayah seperti yang ia mimpikan. Sia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada Ibunya.


"Mom, katakan pada Daddy jika aku sangat menyayanginya dan aku ingin makan semangkok es krim buatannya. Sampai bertemu, Mom. Love you two," tulis Sia dalam pesan elektroniknya dengan senyum merekah.


Sia mulai tenang dan memejamkan matanya perlahan. Namun, matanya kembali terbuka saat teringat akan William.


Sia berpikir, bisa saja William nekat mencarinya karena saat itu ia dibius dan Sia tak meninggalkan pesan apapun padanya.


"Bagaimana jika Will mencari ku? Oh, itu akan sangat buruk. William bisa terkena masalah," ucap Sia dengan jantung berdebar-debar takut jika William terluka.


Sia tiba-tiba merindukan kekasih polisinya itu. Namun, Sia kembali menangis saat ia menyadari jika hal itu tak mungkin terjadi. Sia memeluk gulingnya erat dan memiringkan tubuhnya.


"Jangan mencari ku, Will ... jangan mencari ku," lirih Sia dengan air mata menetes dari mata indahnya.


***


Akhirnya pagi itu, setelah sarapan, semua rombongan bersiap untuk pergi ke camp militer di Ham Tin Wan yang berada di pinggiran pantai Hong Kong.


Mereka terbang menggunakan helikopter yang sudah disediakan sebagai bentuk fasilitas dari pengelola camp militer. 

__ADS_1


Sia berdandan cantik hari itu karena ia akan merayakan pesta ulang tahun di sana.


Ia mengenakan dress cantik, memakai lipstik dan sepatu berhak agar terlihat santun serta feminim.


Sia sudah siap untuk menemui teman-teman barunya, bahkan Sia sudah membayangkan sebuah pesta meriah akan dilangsungkan khusus untuknya mengingat ayah tirinya sangat kaya dan begitu menyayanginya.


Sia segera masuk ke dalam helikopter dan benda terbang itupun meninggalkan kawasan dari hiruk pikuk kota metropolitan hingga bertemu rimbunnya pepohonan.


Sia terbengong-bengong selama diperjalanan dimana ia melewati hutan belantara karena ia tak pernah mengunjungi sebuah pedalaman sebelumnya.


Perjalanan cukup panjang itupun tak membuat Sia bosan karena ia mengagumi keindahan negeri "Tirai Bambu".


Sia penasaran seperti apa camp militer yang menurut cerita Maksim dan Yuri selama penerbangan, mereka sempat di latih di sana yang menjadikan mereka lelaki perkasa seperti sekarang, begitupula Lopez dan Verda.


Jantung Sia kembali berdebar kencang tak karuan. Ia ingin segera mengunjungi salah satu fasilitas latihan militer milik Vesper yang sangat dielu-elukan oleh para mafia di seluruh dunia.


Penerbangan hampir 3 jam itu akhirnya berakhir. Helikopter mendarat di sebuah padang rumput dimana terlihat banyak tenda-tenda di sekitar seperti sebuah perkemahan.


Sia turun dari helikopter di dampingi Lopez, Verda, Maksim dan Yuri. Mereka disambut seorang lelaki berkulit hitam dan bertubuh kekar yang mengenalkan dirinya bernama Drake.


Sia disambut hangat di sana. Sia berjalan dengan gugup dan dibawa ke sebuah rumah pondok dimana ia diminta mengganti pakaiannya dengan sebuah seragam militer. Sia bingung.


"Wait ... bukannya aku di sini untuk merayakan pesta ulang tahun? Kenapa aku memakai seragam seperti militer?" tanya Sia dengan jantung berdebar.


"Siapa yang bilang kau akan merayakan pesta ulang tahun? Ibumu mengatakan jika kau butuh latihan militer mengingat kau akan menjadi penerus dari Tuan Boleslav. Ibumu menilai jika kau masih lemah dan di bawah standar dari kategori seorang mafia. Jadi, persiapkan dirimu, jangan manja," ucap Verda tegas dan sontak membuat mulut Sia menganga lebar.


"Ta-ta-tapi ...."


"Lima menit dan kau harus sudah siap! Kami menunggumu di luar! Cepat!" teriak Verda lantang dengan mata melotot dan sontak membuat Sia tertegun seketika.


"Satu ...."


"Oh my God!" pekik Sia panik dan segera memakai kaos kaki dimana ia harus memakai sepatu boots sebagai salah satu seragamnya.


Lopez, Maksim dan Yuri tersenyum miring melihat Sia kebingungan dengan hal yang mendadak ini. Ia terlihat panik saat memakai sepatu dan mengikat talinya.


Verda ikut beranjak dari tempatnya dan terus menghitung sehingga membuat Sia panik setengah mati karena takut dihukum.


Saat Sia sudah bersiap, ia lupa belum mengganti bajunya. Sia nekat melapisi dress selutut yang dipakainya dengan sebuah kaos ketat warna hijau army dan celana loreng panjang khas militer.


Ketika Sia berlari tergopoh keluar dari pintu dan menyusuri koridor yang entah membawanya kemana, ia terkejut saat melihat banyak lelaki dan perempuan yang berlatih militer di sana.


Sia baru menyadari jika ia keluar dari sebuah lorong yang ternyata menembus sebuah kawasan yang berbeda dimana tadi di sekelilingnya terdapat banyak tenda seperti kawasan camping dengan banyak orang berpakaian warna-warni terlihat ramah.


Kini, Sia malah kebingungan. Ia tak tahu berada dimana karena pemandangan yang dilihatnya sekarang, berubah dari apa yang dilihatnya tadi.

__ADS_1


-------


jangan lupa kasih like, komen dan vote yang buanyak ya biar lele semangat upnya gitu. hehehe. tengkiuuuu^^


__ADS_2