Secret Mission

Secret Mission
Tuntas!


__ADS_3

Di sisi lain. Mobil yang ditumpangi oleh Boleslav, Jamal, Rajesh dan Daniel dikejar oleh helikopter militer.


Tembakan beruntun digelontorkan untuk menghentikan mobil tersebut.


Namun, Boleslav dengan sigap melakukan manuver apik di dalam hutan, memanfaatkan rimbunnya pepohonan untuk menyembunyikan keberadaan mereka.


"Tuan, kami sudah siap," ucap Daniel dengan persenjataan lengkap berikut Jamal dan Rajesh yang sudah kembali ke posisi semula.


Boleslav mengangguk mantab.


"Sia," panggil Boleslav.


"Yes, Dad. I am ready," jawabnya cepat.


"Oke. Aku mulai menghitung. Satu ... dua ... tiga!"


BRUKK!


Daniel melompat dari mobil dan bergulung. Ia segera berlari dan bersembunyi di balik semak.


Tak lama, Jamal melakukan hal yang sama dengan jarak kurang lebih 10 meter. Berikutnya dilakukan oleh Boleslav lalu Rajesh mengakhiri aksi mereka.


Keempat mafia itu bersembunyi saat helikopter musuh berhasil dikelabuhi. Mereka terus mengikuti mobil yang dikendalikan Sia ke titik penyerangan.


"Dad, now!" pekik Sia dari sambungan radio.


Segera, Boleslav dan keempat mafia berlari ke selatan menuju ke titik penjemputan. Lysa melihat keempat mafia tersebut berhasil berlari untuk menyelamatkan diri.


Lysa dan Javier tetap melaju mengikuti helikopter tersebut. Sia membawa mobil tersebut ke barat, menjauh dari titik penjemputan.


"Lysa! Now!" pekik Sia lantang.


Javier yang ikut tersambung dengan radio komunikasi segera menambah kecepatan.


Lysa membidik sasarannya saat helikopter masih fokus menembaki mobil di bawahnya.


Sia sengaja melakukan aksi balas dengan persenjataan di mobil tersebut untuk membuat helikopter berpikir jika keempat mafia incaran mereka masih berada di kendaraan.


Lysa mempertajam pandangannya. Seketika ....


SHOOT! SHOOT! SHOOT!


BOOM! BOOM! BOOM!


BLUARRR!


"Hmm, nice, Babe," puji Javier karena panah Lysa selalu tepat sasaran.


Panah peledak melakukan tugasnya dengan baik. Helikopter tersebut berasap dan mulai hilang kendali setelah Lysa menembakkan 3 anak panahnya di bagian ekor, pintu sisi kiri di mana terlihat beberapa tentara bersiaga di sana dengan senapan laras pajang dan pangkal baling-baling utama.


Helikopter terbang menjauh meski tak menjatuhkannya. Lysa dan Javier ikut pergi meninggalkan lokasi. Namun, Sia belum puas.


Kini giliran mobil modifikasi untuk bertempur mengejar helikopter tersebut. Lysa dan Javier kaget, tapi keduanya memilih tak ikut campur dan membiarkannya karena tak ada manusia di dalamnya.


Di pusat kendali.


Vesper melirik Sia yang terlihat fokus mengemudikan mobil tipe Crossover dengan 2 joystick dalam genggaman.

__ADS_1


Jonathan yang telah selesai mandi dan sedang menikmati Lasagna di ruangan tersebut ikut memperhatikan.


Helikopter militer menyadari jika mereka diikuti. Tembakan beruntun kembali ditujukan ke mobil tersebut.


Jonathan tersenyum tipis sembari memasukkan makanan lezat itu ke mulutnya.


"Mereka ini bodoh atau bagaimana ya? Apa mereka nggak bisa lihat kalau itu mobil anti peluru?" guman Jonathan dengan mulut penuh dengan makanan.


"Bisa jadi mobilmu sedang yang di tes, Jonathan," celetuk Sia tiba-tiba dengan earphone translator di telinga sebelah kiri.


"Maksudnya?" tanya Jonathan menghentikan makan seketika.


"Apa kau tak menyadari jika jenis peluru yang menembaki mobil selalu berbeda? Termasuk jenis senjatanya?" jawab Sia yang kini mengeluarkan senjata pelontar misil yang muncul di balik sunroof tempat Jamal tadi berada.


Kening Jonathan berkerut. Terlihat, ia seperti memikirkan ucapan Sia dengan serius.


Vesper tersenyum tipis dan pandangannya kini terfokus pada tim Amanda yang telah berhasil memindahkan seluruh berkas dan aset ke dalam kapal selam evakuasi.


Sia mulai menembakkan misilnya ke bagian helikopter yang rusak, memanfaatkan sensor panas dari asap yang dikeluarkan benda terbang tersebut.


Jamal yang sudah mengisi ulang dua misil sebelum melompat dari mobil, tak membuat Sia kesulitan meskipun mobil yang dikemudikannya dari jarak jauh sudah tidak ada manusia di dalamnya.


Ledakan kembali terdengar. Kini helikopter tersebut terpaksa mendarat dengan kobaran api dan asap pekat.


Mobil Sia terus mengejar helikopter tersebut dan tak membiarkannya lolos. Orang-orang di pusat kendali menyaksikan helikopter itu mendarat dengan keras, menghantam beberapa pepohonan sebagai alas landasannya.


Mobil berhenti di kejauhan melihat beberapa tentara yang berhasil selamat mencoba untuk menyelamatkan diri, tapi lagi-lagi Sia tak memberikan ampun.


"Kalian hampir membuat keluargaku mati. Musnahlah."


KLIK!


Mobil itu berputar dan kini bagian belakangnya menghadap ke arah para tentara.


Kamera yang berada di bagian belakang mobil menyorot pergerakan para tentara yang terkena peluru tajam dari senjata gatling.


Orang-orang yang berada di pusat kendali tersenyum tipis melihat aksi Sia. Diam-diam, mereka menaruh kagum pada anak perempuan Amanda.


"Kak Sia kalau mau mobil kayak gitu boleh aja. Cukup kasih Nathan 1 buah pulau punya Nyonya Amanda yang ada di Amerika, hehehe ...," kekeh Jonathan.


"Sayangnya, pulau itu sudah meledak, Jonathan. Mungkin kau masih bisa menemukan reruntuhannya di dasar laut," jawab Sia sembari beranjak dari dudukannya dan kini mendatangi anak ketiga Vesper tersebut.


"Hah? Meledak? Kok bisa? Kapan?" tanya Jonathan terheran-heran.


Semua orang yang berada di ruangan ikut bingung karena dalam aset berkas milik Amanda disebutkan jika pulau tersebut masih ada. Vesper memilih diam.


Zaid dengan sigap menggantikan posisi Sia. Zaid membawa mobil itu kembali ke markas melewati jalan rahasia dari sebuah terowongan yang terkamuflase sebuah dinding batu ditumbuhi lumut tanaman menjalar.


Vesper meniru dari markas tempat ia dulu disekap oleh Tobias. Sang Ratu melihat semua pergerakan dari layar CCTV yang memantau penyerangan pihak militer pemerintah.


Tiba-tiba, pintu pusat kendali dibuka. Semua orang menoleh seketika.


"Tuan Boleslav dan lainnya sudah berhasil tiba di titik penjemputan. Kau bisa pergi sekarang, Nona Sia," ucap Lopez menginformasikan.


Sia mengangguk dengan senyum merekah. Yena ikut bersamanya. Sandara dan Jordan sudah menunggu di kapal selam.


Sia mendatangi Vesper dengan gugup. Ia berterima kasih karena memercayakan mobil prototipe modifikasi Jonathan untuk digunakan menyelamatkan ayah dan beberapa mafia lainnya.

__ADS_1


Vesper balas tersenyum dan memeluknya erat. Jonathan bahkan sudah berdiri dan merentangkan kedua tangan siap menerima pelukan Sia. Anak perempuan Amanda terkekeh lalu memeluknya.


Yena terlihat enggan untuk berpisah dengan Zaid. Namun, lelaki tampan itu menjanjikan jika mereka akan bertemu lagi. Yena pergi dengan melambaikan tangan dan meninggalkan senyuman.


Kapal selam milik Ahmed dikemudikan oleh anggota BARACUDA. Semua mafia yang berhasil dievakuasi menggunakan kapal selam wisata tersebut menuju ke Tunisia di mana Javier memiliki rumah peristirahatan di sana.


"Sejak kapan kau memiliki kediaman di negara itu?" tanya Lysa yang ikut dalam kapal selam bersama dengan Arjuna, Naomi, Rohan dan beberapa mafia lainnya.


"Aku sengaja menyimpannya sebagai kejutan. Hanya saja ini terlalu cepat karena adanya serangan dari pihak militer dan kini rumahku itu menjadi barak pengungsian," jawab Javier dengan wajah malas.


Para mafia yang mendengar terlihat kesal karena dianggap seperti korban bencana alam. Lysa tak enak hati dan hanya meringis.


"Bagaimana King D?" tanya Javier yang duduk di sebelah istrinya.


"Dia baik-baik saja dan seperti biasa, Tobias mengambilnya tanpa sepengetahuanku. Entah bagaimana dia bisa melakukannya," jawab Lysa terlihat memikirkan cara menyusup Tobias.


Javier menggangguk lalu memeluk istrinya erat sembari mencium kepalanya lembut penuh cinta kasih.


"Nyonya. Semua orang-orang kita sudah diamankan. Jadi apakah plan C jadi dilakukan?" tanya seorang petugas menatap Vesper seksama.


"Gedung sudah kosong?" tanya Vesper memastikan sembari melihat seluruh pantauan CCTV dari layar monitor di mana ia juga tak menemukan satupun anggota mafia yang masih berada dalam gedung.


Semua petugas yang terkoneksi dengan para mafia dari sambungan earphone mengangguk.


"Oke," jawab Vesper yang kini mendekati mikrofon dan menghadap sebuah layar.


Petugas bagian penyiaran mengangguk. Tiba-tiba, terdengar suara di beberapa sudut gedung dari pengeras suara.


Para pasukan militer yang berada di sekitar lokasi terkejut seketika. Segera, mereka menyiagakan senjata.


"Kalian sengaja mengumpankan Konstantin. Kalian menjanjikan banyak hal padanya. Hem, kalian sungguh licik. Memanfaatkan pria malang itu untuk menghancurkan kami," ucap Vesper yang suaranya terdengar jelas.


Para tentara itu segera bergerak untuk mencari keberadaan Sang Ratu.


"Ingat hal ini, Saudara-saudara. Bukan kami yang memulai perang, tapi kalian. Jadi, selamat menikmati sajian penutup dari kami. Goodbye."


Seketika, KLIK!


DOOM! DOOM! DOOM!


"Apa yang terjadi? Segera pergi dari sini!" teriak para pemimpin pasukan saat mereka menyadari jika suara Vesper hanya sebuah jebakan.


Meriam DOMINO versi terbaru yang sudah menempel pada dinding-dinding bangunan berlapis baja meledak hebat.


Bahkan getarannya begitu terasa seperti gempa bumi. Tanah yang dipijak oleh kendaraan militer begitupula pasukannya, retak dan ambles seketika.


Para tentara pemerintah tertimbun reruntuhan bangunan. Pusat kendali yang lokasinya berada 1 km dari markas besar 13 Demon Heads tak terkena dampak.


Hanya saja, kesedihan tetap dirasakan oleh para mafia tersebut. Bangunan bersejarah itu runtuh karena tidak ingin diklaim oleh pemerintah setempat seperti yang terjadi pada markas Tuan Sutejo dan beberapa mafia lainnya.


Jonathan mendekati Ibunya dan memeluknya dari belakang. Vesper terkejut saat ia menoleh ke arah cermin di sebelahnya karena wajah Jonathan sekilas sangat mirip dengan mendiang suaminya, Erik Benedict. Vesper berdiri mematung dengan jantung berdebar.


"Nathan ngantuk, Mama. Pulang yuk," ucapnya manja sembari meletakkan dagunya di salah satu pundak Ibunya.


Vesper tersenyum dan mengangguk pelan. Ia mohon pamit kepada para petugas yang tetap bekerja di pusat kendali.


Vesper dan Jonathan meninggalkan ruangan dengan sebuah mobil hasil modifikasi anak ketiganya berdua saja.

__ADS_1


"Anggap aja kita lagi kencan, Mama. Mumpung Jonathan belum punya pacar. Hehe," kakeknya dengan senyum lebar.


Vesper tertawa pelan dan mengangguk. Mobil sedan tersebut pergi, melaju dengan kecepatan sedang ke titik penjemputan di mana sebuah yacht telah menunggu mereka untuk menyebrang.


__ADS_2