
Di Kastil tempat William dan Cecil berada.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Kau kembali lagi kemari karena kalung pemenggal atau ada maksud lain, TC-C-001?" tanya wanita bergaya seperti suku Indian memperkenalkan diri bernama Nokomis yang berarti Puteri Bulan.
"Ya. Kalung pemenggal. Kenapa masih ada? Bukankah sudah dilenyapkan? Apakah The Circle membuatnya lagi dan bisakah dilepaskan?" tanya Cecil dengan serencengan pertanyaan.
Mata Nokomis menyipit.
"Banyak hal telah terjadi dan kau lewatkan, TC-C-001. Kalung yang dikenakan kawanmu, itu bukan buatan The Circle, No Face atau 8 Mens. Kalung itu hanya bisa dibuka dengan sidik jari menggunakan kesepuluh jari, posisi dan tekanan tertentu. Kami tak bisa melepaskannya," jawabnya terlihat serius.
Cecil diam terlihat memikirkan ucapan Nokomis.
"Ceritakan tentang lelaki yang bersamamu," tanyanya yang kini menopang dagu dengan kepalan tangan kiri di atas sandaran kursi.
"Lelaki bermata biru yang datang bersamaku bernama William. Dulu ia agent CIA, tapi memilih keluar karena menikahi gadis mafia, keturunan Theresia yang sekarang masuk dalam jajaran 13 Demon Heads. Namanya Sia," jawab Cecil dengan sebuah alat terpasang terbuat dari besi melingkar di kepala dan lampu indikator berkedip di sekelilingnya.
Wanita Indian bernama Nomokis melirik ke petugas yang memonitoring hasil dari alat di kepala Cecil.
"Dia berkata jujur," ucap petugas tersebut melaporkan.
Cecil tetap berusaha untuk tenang meski ia di dudukkan pada sebuah kursi dan kedua pergelangan tangannya dibelenggu dengan gelang besi, terkait dengan kursi tersebut.
"Lalu tujuanmu bertemu Madam?" tanya Nokomis.
"Yes. Siapa dia? Jangan lupa, aku masih bertahan dan menjadi mata dalam CIA karena janji setiaku pada The Circle untuk melindungi kelompok bentukan Tuan Lucifer dari semua orang yang ingin menghancurkannya. Namun, Yes? Aku tak mengenalnya sama sekali," jawab Cecil menatap mata Nokomis tajam.
__ADS_1
Orang-orang yang berada dalam ruangan tersebut langsung diam seketika. Nokomis membenarkan dudukkannya dan balas menatap Cecil tajam.
"Kawanmu, William. Ia sudah berubah bukan dirinya lagi. Namun, apa penyebabnya kami tidak tahu. Bahkan Madam tak bisa menolongnya. Dugaan kami, dia dicuci otak."
Sontak, mata Cecil melebar seketika. Ia tak percaya jika prediksinya tepat.
"Siapa yang melakukannya?" tanya Cecil dengan kening berkerut.
"Tessa. William mengaku jika ia mengabdi pada The Circle. Setidaknya, rekanmu itu masih dalam satu golongan dengan kita, TC-C-001. Kau tak perlu cemas akan hal tersebut," jawab Nokomis tersenyum miring.
Jantung Cecil berdebar. Ia terlihat pucat seketika.
"Aku sudah menyampaikan hal ini pada Madam dan kini, kau bertugas untuk mendampinginya. Bantu William menyelesaikan misi sebagai bentuk kesetiaanmu yang telah menjadi rekrutan wanita pertama, TC-C-001," imbuh Nokomis menyilangkan kaki menunjukkan kekuasaannya.
Cecil memejamkan mata sejenak sembari menghela nafas pelan.
"Baiklah. Apa misi William?" tanya Cecil dengan wajah tertunduk tanpa ekspresi.
Cecil mengangguk pelan, ia tak mungkin membantah. Saat belenggu di pergelangan tangan Cecil di lepas dan Nokomis akan pergi, mantan agent CIA tersebut menahannya. Nokomis menghentikan langkah seketika.
"Wait. Lalu siapa yang bisa melepaskan kalung pemenggal tersebut?" tanya Cecil menatap tubuh bagian belakang wanita Indian itu seksama.
"Boleslav. Namun, pastikan ia masih hidup saat membukanya sebelum membunuhnya. Tak ada gunanya jika Boleslav mati. Oia satu lagi, Sia termasuk target William," jawab Nokomis hanya menoleh sejenak lalu kembali melangkah pergi.
Cecil tak bisa berkata-kata apalagi membantah. Cecil dibawa kembali ke kamar di mana William sudah menunggunya di pinggir ranjang.
Cecil tertegun dan masuk perlahan. Salah satu wanita Indian menutup pintu kamarnya. William menatap Cecil tajam begitu pula wanita tua itu.
__ADS_1
"Jika kau menghalangi misiku, aku tak segan membunuhmu, Cecil. Oleh karena itu, jadilah partner yang berguna," ucap William dengan senyum mengejek.
Cecil mengepalkan kedua tangan menahan emosi. Namun, Cecil terlihat santai saat ia melepaskan dua sepatu boots dan naik ke ranjang seperti siap untuk tidur. William menatap Cecil keheranan.
"Kau yang jangan mengganggu. Jangan lupa, kau pingsan berulang kali karena seranganku. Jangan remehkan wanita tua ini, William Tolya," balasnya mengejek.
Nafas William menderu. Ia beranjak dari dudukkannya dan menatap Cecil tajam yang sudah merebahkan diri dengan selimut menutup tubuhnya.
William keluar dari kamar Cecil menatapnya lekat. Ia melihat di koridor banyak kamera CCTV dan petugas seperti suku Indian.
William berjalan perlahan kembali ke kamar lalu menutup pintu. Ia terlihat seperti memikirkan tiap kejadian dan perkataan yang teringat jelas di pikirannya sembari bertolak pinggang.
"Kenapa Cecil bisa tahu tempat ini? Tadi kulihat dia memakai seragam latihan The Circle dengan nomor TC-C-001. Nokomis dan Tessa saling mengenal karena mereka dalam kesatuan The Circle," guman William lirih.
"Namun, saat Nokomis menginterogasiku dan terhubung dengan Tessa dalam video call, kenapa Tessa tetap memasukkan nama Cecil? Bagaimana jika Cecil tahu jika dia salah satu targetku? Lalu kenapa dia dijadikan partnerku?" tanya William dalam hati kebingungan.
"Kenapa aku harus membunuh Cecil jika dia dalam satu kelompok yang sama denganku? Dia ini pengkhianat atau bagaimana?" tanya William dengan pikiran berkecamuk.
William mendekati cermin setinggi tubuhnya dan menatap dirinya seksama.
"Kenapa Tessa bisa dengan mudah mengganti target hanya karena permintaan Nokomis? Siapa wanita Indian itu? Tessa seperti menurut padanya," guman William yang merasa ada hal mengganjal dalam misinya.
"Bahkan misi membunuh Yes ditunda. Tak boleh diketahui oleh Cecil dan harus disembunyikan darinya. Aneh, ini sungguh aneh," decak William dan merasa rahangnya mengeras memikirkan hal tersebut.
"Aku penasaran dengan pria bernama Konstantin. Ia sepertinya tahu banyak tentangku. Mungkinkah dia memiliki petunjuk? Kemana aku bisa mencarinya?" tanya William pada dirinya sendiri sembari menggoyangkan dagu.
"Seperti ada yang hilang dalam hati dan ingatanku, tapi ... apa?" batin William sembari memegangi dadanya yang terasa seperti merindukan seseorang hanya saja ia tak tahu siapa.
__ADS_1
***
gaes kalo nemu tipo maklumin aja sumpah. beberapa hari ini lele nguantuk pooLLL. ngetik aja pake hp nyempil2 pas kegiatan. koreksi aja tar lele revisi. makasih ya💋💋💋