Secret Mission

Secret Mission
TC-W-381


__ADS_3

Pagi itu, William dibawa ke sebuah ruangan menuruni tangga mengenakan seragam seperti Cecil dengan nomor dada TC-W-381.


TC-W-381 yang berarti William tergabung dalam kelompok The Circle pada group W sesuai namanya, William meski masih banyak anggota lain berinisial W selain William.


381 adalah nomor keanggotaan William dari grup W tersebut. William yang sudah mendapat penjelasan dan misi dari tempat tersebut oleh Nokomis, mulai paham akan kinerja dari The Circle meski masih banyak pertanyaan di benaknya.


Hingga akhirnya, William tiba di sebuah ruangan dan terlihat Cecil sudah ada di sana.


William bingung dan mendekati Cecil perlahan yang terlihat serius dalam memasukkan amunisi dengan jenis peluru berbeda dari beberapa senapan di atas meja.


"Kami sudah memeriksa kondisi kakimu, William. Kau masih masa penyembuhan. Sampai kakimu pulih sepenuhnya, kau akan menjalani pelatihan bersama TC-C-001 berikut misi dan target karena kalian partner dalam bertugas. TC-C-001 akan menjelaskan detail tentang tugas kalian berdua. Itu saja dariku. Good luck," ucap Nokomis dengan tangan membentuk segitiga seperti atap rumah.


Cecil membalasnya dengan melakukan hal serupa. William yang tak paham diam saja saat Nokomis dan anak buahnya pergi dari ruangan tersebut.


"Apa maksudnya gerakan itu?" tanya William menoleh ke arah Cecil yang kembali sibuk dengan senjata-senjata di atas meja.


"Home."


"Home? Maksudnya? Rumah siapa? Tempat ini di sebut home?" tanya William berkerut kening.


Cecil tak menjawab dan hal itu membuat William kesal. Ia memegang senapan laras panjang yang digenggam Cecil untuk dicek kesiapan dari senjata api tersebut.


William dan Cecil saling bertatapan tajam. Terlihat keduanya saling tak percaya. Kedua tangan mereka saling mencengkeram kuat senapan itu beradu kekuatan.


"Apa pedulimu?" tanya Cecil sembari menarik senapannya ke tubuhnya.


"Aku bagian dari kelompok ini. Katakan," sahut William cepat dan kini menarik senapan itu seperti ingin direbut paksa.


"Oh!" kejut William saat Cecil tiba-tiba melepaskan cengkramannya sampai William mundur ke belakang beberapa langkah karena menarik benda itu kuat hampir jatuh.


"House of Mother, disingkat HOME. Pernah dengar? Tessa bosmu tak pernah menceritakan hal itu padamu? Apa kau tak pernah bertanya padanya tentang dirimu? Masa lalumu?" tanya Cecil berkesan menyindir.


Tiba-tiba, "TC-C-001! Kau tidak diperkenankan untuk bicara selain pembahasan misi. Membangkang, hukumanmu adalah "Galian". Kau ingat jenis hukuman itu, TC-C-001?" tanya Nokomis yang suaranya terdengar santer di ruangan tersebut melalui speaker.


Cecil gugup seketika dan mengangguk ke arah CCTV. William baru menyadari jika ruangan tersebut diawasi. William ikut waspada.

__ADS_1


Cecil dengan sigap merebut senapannya lagi dan segera mengecek amunisinya. William diam saja melihat gerak-gerik Cecil.


Namun tak lama, ia ikut melakukan hal yang sama. William mengambil sebuah pistol dari sebuah peti berikut amunisinya.


Namun, kening William berkerut saat ia melihat sebuah peti senjata lainnya dengan tulisan Vesper Industries di bagian dalam meski tertutup beberapa potongan kecil sterofoam.


Saat William akan mendekatinya dan mengambil sebuah granat dengan warna merah terang, lagi-lagi suara peringatan dari speaker terdengar.


"TC-W-381. Jauhi kotak itu. Segera lakukan tes menembak dari senjata api yang sudah Cecil siapkan. Kami ingin melihat kemampuanmu," ucap Nokomis.


William melirik ke arah CCTV dan segera membalik tubuhnya. Ia berjalan mendekati Cecil yang telah selesai menyiapkan persenjataan untuknya.


Tiba-tiba, dinding cermin di depannya terbuka. Mata William melebar saat melihat ada papan sasaran tembak di balik dinding kaca itu. Cecil tersenyum miring sembari memberikan sebuah pistol untuknya.


"Jangan mempermalukan Rika, William. Kau jago menembak karena ajarannya dan Rika, belajar dariku. Sedang aku? Aku mendapatkan pelatihan itu dari Tuan Lucifer. Ia pernah mengajariku meski hanya sebentar," ucap Cecil lirih.


Mata William terbelalak. Ia kaget mendengar penuturan Cecil barusan.


"Cecil mengenal Rika? Apa maksud perkataannya tadi? Rika seniorku? Instrukturku?" batin William dengan jantung berdebar saat ia teringat jika Rika tewas di tangannya.


Lamunan William buyar. Ia segera mendekati papan sasaran tembak dan mulai membidik. Tiba-tiba, papan target bergerak tak beraturan.


"Wait! Aku seperti pernah mengalami hal ini sebelumnya. Dejavu? Aku seperti pernah mengikuti sebuah tes dan aku lolos. Agh! Semua hal ini benar-benar membuatku penasaran dan tak fokus," batin William dengan mata terpejam rapat sampai keningnya berkerut.


Cecil menatap William tajam.


"Cepat lakukan atau mereka akan datang dan menembakmu, William," ucap Cecil berbisik penuh penekanan.


Mata William terbuka. Ia kembali menyadari perbuatannya. Ia menarik nafas dalam dan DOR! DOR! DOR!


Cecil tersenyum tipis. William mulai fokus dengan latihan menembaknya. Cecil menjadi instruktur William di sesi itu.


Cecil menilai dari hasil papan target yang berhasil William lubangi. Segala jenis senjata api tersebut ternyata harus ia gunakan.


William terlihat serius dengan pelatihannya meski berulang kali, ia melirik Cecil seperti memikirkan sesuatu.

__ADS_1


"Bukan Konstantin, Tessa atau Nokomis. Dia! Ya, si wanita tua bernama Cecil inilah jawaban dari semua pertanyaanku. Dia tahu semuanya dan kini, aku harus mencari peluang untuk bisa bicara berdua saja dengannya tanpa orang-orang mengetahuinya," batin William tersenyum miring terlihat jelas di wajahnya.


Cecil melirik sekilas dan membiarkan William berhalusinasi dengan pikirannya.


Selama satu bulan penuh, William melakukan pelatihan di tempat tersebut.


Mulai dari menembak, bertarung tangan kosong melawan para lelaki dan wanita Indian di sana, berenang sembari menjalankan misi di bawah air pada kolam renang khusus, mengemudi dengan manuver-manuver tajam seperti saat sedang berperang, melepaskan diri dari ikatan jika disandera dan masih banyak lagi.


Semua kegiatan itu direkam dan disaksikan langsung oleh Madam yang diketahui tinggal di Arizona, suku Indian bermukim.


"Hmm, pilihanmu tepat merekrut William, Tessa. Dia tangguh dan mudah dihasut," ucap seorang wanita tua sembari mengelus kepala Tessa lembut yang duduk di bawah kaki kirinya.


"Tentu saja. Dia aset yang sempurna, tapi Madam. Toby ... Agh! Dia tak mau bekerjasama! Dia bahkan tega melemparkanku ke laut," rengeknya kesal.


Wanita tua itu menghela nafas.


"Aku akan mengurusnya. Kau tahu sendiri bagaimana sifat lelaki itu. Bersabarlah," jawab wanita tua tetap mengelus lembut rambutnya.


"Aku minta maaf, Kak. Jika ayah melakukan hal buruk padamu," jawab Sierra tertunduk lesu.


"Jangan dipikirkan. Aku tak apa. Bagaimana kakimu? Apa lebih baik?" tanya Tessa ramah dan tersenyum manis pada Adiknya yang juga duduk di lantai, di bawah kaki kanan wanita tua.


Sierra menggeleng. Wanita tua itu terlihat iba padanya. Ia mengelus rambut gadis cantik itu dengan senyum terkembang, tapi tiba-tiba senyumnya sirna.


Mata Tessa ikut terbelalak. Ia terkejut saat melihat tangan wanita tua memegang beberapa helai rambut dalam genggaman.


Wanita tua dan Tessa saling bertatapan tajam. Nafas Tessa menderu dan ia segera berdiri.


"Sierra. Apa kau sudah makan? Ayo, Kakak temani," ucap Tessa berjongkok di sampingnya mengulurkan tangan.


Sierra tersenyum dan dibantu berdiri oleh dua bodyguard-nya ke kursi roda. Tessa mendorong kursi roda itu menuju ruang makan.


Sepeninggalan Sierra dan Tessa.


"Segera temukan Jonathan. Waktu kita tak banyak," ucap wanita tua dan dua lelaki kembar di depannya mengangguk mantab.

__ADS_1


__ADS_2