Secret Mission

Secret Mission
Musuh Dalam Agensi


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


Saat Sia menoleh ke arah mobil yang menabraknya, ia terkejut melihat Mix tersenyum miring padanya.


"You?!" pekik Sia menunjuk Mix dari balik kemudi penuh emosi dan tanda tanya.


Tiba-tiba, ponsel Sia berdering. Ia melepaskan seat belt yang menolong tubuhnya sehingga tak terhempas ketika tabrakan terjadi. Sia segera menerima panggilannya.


"Ha-halo?" jawabnya dengan nafas tersengal mencoba untuk sadar sepenuhnya.


"Maaf, Sayang. Jika kau tak sengaja dilukai, akan menimbulkan kecurigaan. Kau nikmati saja pertunjukkannya dan matikan ponsel. Ibu melihat jika William dan dua wanita pensiunan itu mencoba mengejarmu. Pergilah dengan mobil Mix. Hati-hati," ucap Manda dan panggilan itu pun terputus.


Sia segera mematikan ponselnya dan keluar dari mobil. Ia melihat Mix membuka pintu kemudi dan tersenyum tipis, tapi Sia kesal.


Saat Sia akan masuk ke mobil, ia melihat Liev berhasil keluar dari mobil meski mengalami luka cukup serius.


Sia berdiri mematung di samping mobilnya dan menatap Liev di kejauhan dengan penuh kebencian.


"Agh, orang itu," geram Sia yang berjalan dengan gusar mendatangi Liev yang merangkak di aspal.


Namun, Sia menghentikan langkah ketika Jordan keluar dari mobil yang menabrak Liev. Jordan tersenyum sembari mengeluarkan pedang dan terlihat silau merah pada bilahnya. Mata Sia melebar.


"Kau ingin dia kupotong menjadi berapa bagian, Kak? Anggap saja penebusan dosaku saat di Mansion Ramos," tanya Jordan di hadapannya.


Sia diam sejenak. "Dia ... mm, menamparku 3 kali. Lalu mencekikku. Jadi ya ... potong semua," ucapnya keji.


"Dengan senang hati," jawab Jordan dengan seringainya.


"Nona Sia, pergilah. Sebelum mereka datang kemari," ucap Mix sopan dan Sia mengangguk paham.


Sia segera duduk di kemudi dan menyalakan mesin mobil. Sia memundurkan mobilnya dan melihat dari jendela samping ketika Jordan mulai mengayunkan pedangnya, mendekati Liev yang mengarahkan pistolnya ke tubuh adik tirinya itu.


Sia terlihat cemas, takut Jordan terluka, tapi ... DOR!


"Agh!"


"Shit! Ahh, sebaiknya aku segera pergi dari sini. Oh, semoga kejadian hari ini tak terbawa mimpi," ucapnya bergidik ngeri saat melihat Match keluar dari pintu kemudi dan menembak tangan Liev yang memegang pistol.


Mobil Sia melaju pelan. Ia yang masih penasaran, melirik dari kaca spion tengah dan terlihat, Jodan menebas kepala Liev dengan satu ayunan tangan, tapi laser merah itu tak lagi tampak.


Mata Sia melebar. Ia tak fokus melihat jalanan di depannya. Pandangannya tertuju pada aksi Jordan yang memutilasi Liev hidup-hidup.


BRAKKK!


CITTT!


"SIA!" pekik William saat ia tak sengaja menabrak mobil Sia yang melaju pelan dan melintas di persimpangan tak melihat rambu-rambu.


Mobil Sia kembali terhenti. William segera keluar dari mobil dan berlari mendatangi isterinya yang terlihat hampir tak sadarkan diri.


"Sia! Sia! Ya Tuhan," pekik William kaget saat melihat dahi Sia berdarah.


William merasa jika luka Sia karena perbuatannya padahal bukan. Sia dikeluarkan dari mobil dan segera dibopong keluar olehnya.


Cecil keluar dari mobil dengan kening berkerut ketika melihat dua buah mobil di persimpangan lain. Ia menyiagakan pistolnya sembari berjalan penuh waspada mendatangi dua mobil tersebut.


Rika melindungi Cecil dengan ikut berjalan di belakangnya mengarahkan pistol di sekelilingnya. William melihat dua wanita tua itu malah pergi meninggalkannya.


William mendudukkan Sia di kap mobilnya. Ia memegangi kedua lengan Sia di mana sang isteri seperti orang linglung.


"Sayang, kau tak apa?" tanya William cemas.


Sia mengangguk pelan. William menghembuskan nafas lega. Ia memeluk isterinya erat dan Sia tersenyum senang karena kembali pada suaminya.


"WILLIAM!" teriak Cecil lantang mengejutkan suami isteri yang sedang berpelukan.


Sontak, William melepaskan pelukannya dan menoleh ke arah Cecil. William meminta Sia untuk menunggunya di dalam mobil dan Sia mengangguk paham.


William mendudukkan Sia di samping bangku kemudi. Agent tampan itu lalu berlari kencang mendatangi Cecil untuk melihat apa yang terjadi.

__ADS_1


"Oh, shit! Apa ini?! Siapa dia?" pekik William kaget setengah mati sampai membalik tubuhnya karena shock melihat potongan tubuh berceceran di aspal.


"Kepalanya tak ada. Dan ... oh, ada satu orang lagi. Dia ...," ucap Cecil menggantung.


"Bukankah dia orang CIA?" tanya Rika yang mengenali sopir Liev yang tewas di bangku kemudi.


Kening Rika dan Cecil berkerut. William ditatap tajam oleh dua seniornya dan lelaki itu pun terlihat gugup.


Rika, William dan Cecil kini menatap Sia di kejauhan, sedang mengobati keningnya yang berdarah.


"Ini mobil yang Sia pakai tadi. Aku hafal plat nomornya," tunjuk Rika ke mobil yang Sia tinggalkan.


William memejamkan mata dan menarik nafas dalam.


"Sebaiknya kita segera pergi. Biar polisi setempat yang mengurusnya," usul Cecil dan merekapun segera meninggalkan tempat tersebut.


William melaju kencang kendaraannya meninggalkan Chicago menuju ke Virginia.


Namun, tragedi yang dilihat oleh Rika, Cecil dan William membuat mereka menaruh curiga pada Sia yang kini tertidur lelap.


Hingga akhirnya, William yang tak bisa menahan diri, menepi ke sebuah hostel di Ohio untuk mereka menginap, sebelum memutuskan apa yang akan dilakukan selanjutnya.


Cecil yang berpikiran sama dengan junior-nya mengangguk paham. Cecil melakukan reservasi untuk 2 kamar yang akan mereka tempati malam itu.


William membangunkan isterinya perlahan agar tak kaget. Sia membuka matanya dan melihat William tersenyum padanya.


"Hei, maaf membangunkanmu, Sayang. Hanya saja ... kita menginap di sini dulu sebelum kembali ke Apartment. Sepertinya Rika tak bisa bepergian jauh. Kau tak masalah 'kan?" tanya William lembut dan Sia mengangguk.


Sia dibawa ke kamarnya. Cecil dan Rika sudah masuk ke kamar untuk membersihkan diri sebelum nantinya mereka makan malam bersama.


William segera mandi dan meninggalkan Sia yang sedang membuka kopernya untuk mengganti pakaian.


Hingga akhirnya, William selesai mandi dan kini giliran Sia yang membersihkan dirinya.


Sepeninggalan Sia, William mencoba mencari tahu hal-hal yang mungkin di sembunyikan sang isteri selama tak terpantau olehnya.


Kening William berkerut, ia tak menemukan hal janggal dalam koper sang isteri.


"Ayo, kita jemput Cecil dan Rika. Hah, honeymoon kita jadi kacau balau," keluh William saat merangkul pinggul isterinya dengan wajah memelas.


Sia terkekeh tak menjawab. William mengunci pintu dan berjalan berdampingan dengan sang isteri ke kamar Cecil bergandengan tangan.


TOK! TOK! TOK!


CEKREK!


"Masuklah," ajak Cecil dengan senyum ramah dan sepasang suami isteri itu pun masuk ke dalam dengan sungkan.


William mengajak Sia duduk di sofa saat Rika dan Cecil ikut duduk di hadapannya. Kening Sia berkerut. Ia merasa jika ada kejanggalan dengan sikap tiga orang yang kini menatapnya tajam.


"Ada apa ini?" tanyanya curiga.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Sia? Kita satu tim dan kita harus saling berbagi informasi. Itu pun jika kau percaya pada anggota tim-mu," tanya Cecil tegas.


Sia terkejut, tapi tetap berusaha tenang. William mengelus punggung Sia lembut dan wanita cantik itu tersenyum paksa.


"Well, jadi ... saat Cecil menyusulku ke kamar mandi, ternyata ... ada Liev di sana. Dia ingin membunuhku bersama dengan kawannya si kulit hitam."


"What?!" pekik William, Cecil dan Rika terkejut.


Sia meringis dan kembali menarik nafas dalam.


"Kau ingat lelaki yang memberikan kunci saat kita di ruang interogasi?" tanya Sia menoleh ke arah suaminya dan William mengangguk mantap.


"Yep, dia membungkus kepalaku dan ikut andil dalam aksi membunuhku. Jadi ... aku terancam, aku memberontak dan aku terpaksa membunuhnya," jawab Sia gugup.


Mata William, Cecil dan Rika melebar seketika. Mereka mengangguk pelan tak berkomentar.


"Lalu Liev? Apa jangan-jangan potongan tubuh itu adalah dia? Kau yang memutilasinya?" tanya Rika menatap Sia tajam.

__ADS_1


"What? No ... aku ...," sangkalnya cepat.


William, Cecil dan Rika makin curiga dengan wanita cantik di hadapan mereka yang terlihat panik.


"Saat aku menemukan mobil Liev, dia sudah seperti itu. Aku shock dan kabur dengan mobil yang kutemukan," jawabnya beralibi.


"Aku rasa yang dikatakan oleh Sia benar. Ia tak memiliki senjata untuk memotong tubuh itu. Sia hanya menggunakan pistol," sahut William membela isterinya.


Sia mengangguk cepat membenarkan ucapan William. Rika dan Cecil saling berpandangan.


"Mungkin ... ada orang yang memang memiliki dendam padanya," imbuh Sia.


"Hm, kau benar. Orang yang bisa melakukan hal keji seperti itu hanya para mafia dari kelompokmu, Nona Sia," ucap Cecil terlihat malas.


Sia mengedipkan mata berulang kali karena tak menyangka jika Cecil bisa berpikir demikian.


"Memang siapa?" tanya Sia berlagak bodoh.


"Entahlah. Bisa siapa saja. Para mafia itu memiliki banyak algojo. Kau mungkin dilindungi oleh mereka," jawab Cecil.


"Sebaiknya kau jaga dirimu, Sia. Bisa jadi mereka telah tau kau menikah dengan William," tambah Cecil yang membuat jantung Sia makin berdebar kencang tak karuan.


"Ya, itu benar. Mereka melindungimu, tapi ancaman bagi William. Kau harus hati-hati, Will. Jika kau ketahuan menyakiti atau melukai Sia, nasibmu bisa seperti Liev," tegas Rika menatap anak angkatnya tajam.


William menelan ludah dan mengangguk pelan terlihat tertekan. Sia bingung menyikapi hal ini. Otaknya terasa buntu tak bisa berpikir jernih apalagi membuat alibi.


"Untuk kali ini saja, aku akan pura-pura tak terlibat. Selain itu, aku sudah pensiun. Aku warga sipil dan sudah tua," ucap Cecil santai dan Rika mengangguk setuju.


Entah kenapa Sia merasa lega akan ucapan Cecil barusan yang seperti berpihak padanya.


"Aku lapar. Kita makan dulu baru pikirkan rencana selanjutnya," ucap Rika dan diangguki semua orang.


Mereka mendatangi sebuah bar dan makan di sana. Terlihat empat orang itu menikmati malam mereka dengan senyum terkembang.


Cecil dan Rika menceritakan kisah mereka saat masih muda dulu. William dan Sia terlihat begitu bersemangat.


"Oh ya, lalu bagaimana dengan kekasihmu si Roy? Ray? Rio?" tanya William lupa nama pria yang hidup bersama Rika.


"Entahlah, aku tak peduli. Mungkin tewas terkena ledakan saat aku pergi meninggalkannya untuk mendatangi pernikahanmu," jawab Rika santai sembari meneguk gelas beer-nya.


"Oo-kay," jawab William terlihat bingung dalam bersikap.


Sia yang tak paham hanya diam, tapi sebenarnya penasaran akan cerita tersebut. Sia bermaksud untuk menanyakannya nanti pada suaminya saat mereka hanya berdua saja.


Usai makan malam, mereka kembali ke hostel dan beristirahat. Sia kembali merebahkan dirinya di pelukan sang suami di atas ranjang.


"Sakit?" tanya William sembari mengusap lembut plester penutup luka di dahi isterinya.


Sia hanya mengangguk dan mulai memejamkan mata. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin William bicarakan, tapi melihat Sia seperti kelelahan, pria tampan itu memutuskan untuk ikut mengistirahatkan pikiran dan tubuhnya.


***


Tak terasa, pagi sudah menjelang. Mereka berkumpul di sebuah cafe untuk menikmati sarapan sembari membahas lanjutan dari misi yang dijalankan oleh William dan Sia.


"Oke. Dari kejadian kemarin dapat disimpulkan jika Liev dan beberapa agent terlibat dalam aksi pembunuhan Sia. Pertanyaan besarnya adalah, apakah Yes yang memerintahkan hal itu?" tanya Cecil curiga.


"Entahlah. Selama aku bertugas, aku hampir tak pernah mendengar sepak terjang Yes. Sosoknya pun terasa samar buatku," ucap William mengutarakan pemikirannya.


"Bagaimana denganmu, Rika?" tanya Sia menatap Ibu angkat William yang dulu berperan di Divisi penugasan agent-agent untuk menjalankan suatu misi.


"Aku pernah bertemu dengan Yes sebelumnya. Setahuku, dia di tempatkan di kedutaan besar di negara sahabat. Hanya saja selalu berpindah tempat. Laporannya pun tak diinformasikan padaku karena beda Divisi. Ia langsung ke Direktur. Tugas yang ia kerjakan pun bukan berupa misi lapangan seperti William, lebih ke spionase," ucap Rika serius.


"Dan mau memberitahukan hal ini padaku cuma-cuma? Wow, harusnya tadi kurekam dan kusebar. Aku akan dapat banyak uang untuk informasi rahasia ini," kekeh Sia yang menganggap hal ini lucu.


Namun, tidak demikian dengan Rika, Cecil dan William yang merasa jika hal itu bukan sebagai bahan candaan.


Hanya saja, mengingat Sia dari keluarga mafia, tiga orang itu makin berhati-hati dalam setiap informasi yang harus disampaikan. Muncul kekhawatiran jika Sia membelot sewaktu-waktu.


"Hmm ... aku punya satu ide. Mau dengar? Ku harap jangan hanya di dengar saja, tapi kita laksanakan. Bagaimana?" tanya Sia dengan senyum lebar penuh maksud.

__ADS_1


"Apa itu?" tanya William penasaran.


__ADS_2