
William keluar kamar menyusuri koridor. Ia mengamati tiap ruangan yang dilewatinya penuh selidik.
Banyak CCTV di tiap sudut ruangan. William tetap melangkah dengan langkah cepat terlihat bingung.
Saat di persimpangan koridor, dengan sigap, William langsung bersembunyi di balik dinding memepetkan tubuhnya ketika seorang pelayan berjalan menuju ke arahnya sembari mendorong rak berisi tumpukan kain.
William melihat sekitar dengan sorot mata tajam. Ia bergegas masuk ke sebuah ruangan yang tak terkunci dan bersembunyi di sana.
Jantung William berdebar. Ia menoleh dan melihat sekitar yang mirip seperti ruang kerja.
William mendekati sebuah meja kerja dan mendapati sosoknya berfoto dengan wanita yang tidur di sebelahnya tadi, terlihat begitu bahagia mengenakan baju pernikahan.
William mengambil bingkai foto itu dan menatapnya seksama. Ia juga melihat jemarinya memakai sebuah cincin berwarna putih yang terlihat indah, melingkar di jari manisnya.
Kening William berkerut. Muncul sebuah perasaan yang mengajaknya untuk menyelidiki lebih lanjut.
William keluar dari ruangan itu penuh kewaspadaan. Entah kenapa ia merasa dirinya was-was akan suatu hal. Ia sangat berhati-hati dalam melangkah.
William kembali menyusuri koridor dan mendapati sebuah tangga menuju ke ruang bawah tanah. Ia pun menuruninya perlahan hingga mendapati sebuah koridor dan beberapa ruangan kaca di sana.
William mengendap dan mengintip salah satu ruangan yang mirip sebuah ruang medis karena banyak obat-obatan di sana serta perlengkapan medis.
William teringat saat ia dipasangi infus ketika bangun tadi. William kembali berjalan dan mendapati sebuah ruangan dengan kaca di bagian pintu saja.
William mengintip, tapi tak melihat satu orang pun di dalam. Ia mendorong pintu tersebut perlahan dan melihat banyak monitor serta alat komunikasi di ruangan tersebut.
William berjalan perlahan karena penasaran dengan tempat itu. Ia melihat banyak tampilan dari CCTV yang terpasang di tiap sudut ruangan di mana ia juga mendapati benda-benda itu ketika menyusuri ruangan.
Tiba-tiba, CEKLEK!
William terkejut dan menoleh seketika. Seorang lelaki sedang membawa cangkir kopi dengan setelan rapi terlihat kaget menatapnya di balik pintu.
William menatap lelaki itu tajam dan terlihat waspada. Keduanya saling diam untuk beberapa saat, hingga akhirnya ....
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Oh! Tuan William. Anda sudah sadar? Syukurlah. Wah, saya tak menyangka jika Anda kembali sehat dalam waktu yang cepat. Bagaimana? Apa yang Anda rasakan?" tanya lelaki itu dengan wajah gembira langsung meletakkan cangkir kopi ke meja di sampingnya.
William terlihat bingung dan tetap menjaga jarak. Lelaki itu berdiri di dekat pintu dan tetap tersenyum.
"Anda pasti bingung dengan keadaan ini. Saya dan semua penghuni mansion mengerti. Saya akan ceritakan sedikit. Anda mengalami kecelakaan cukup serius dan koma. Dokter mengatakan jika kecelakaan itu akan membuat Anda hilang ingatan. Tentu saja hal ini membuat kami semua sedih, terutama isteri Anda. Nona Sia," ucapnya sopan.
"Sia?" tanya William yang akhirnya menyuarakan diri.
__ADS_1
"Ya. Nona Sia. Theresia Lawrence. Dia seorang CEO Perusahaan Asuransi terkemuka di Amerika, Tuan. Anda seorang montir dan juga pembalap di sebuah bengkel ternama di Amerika serta Rusia," jawabnya menjelaskan.
William diam terlihat serius memikirkan penjelasan lelaki tak dikenal yang terdengar jujur menceritakan.
"Aku seorang pembalap dan montir?" tanya William mengulang.
"Ya. Saat itu, Anda sedang menguji kemampuan mobil hasil modifikasi Anda di Grand Canyon. Itu mobil khusus untuk Rally. Namun, terjadi kegagalan mesin dan mobil hilang kendali. Anda jatuh dari tebing dan mengalami luka serius hingga menyebabkan Anda koma, seperti yang saya ceritakan tadi," jawab lelaki itu tetap tenang.
William mengangguk pelan. Ia lalu melihat dari layar monitor saat wanita yang didapatinya tidur di sebelahnya, berlari kecil di koridor terlihat panik.
"Pasti Nona Sia sedang mencari Anda, Tuan William. Sebaiknya, Anda menemuinya. Nona Sia sangat menghawatirkan kondisi Anda setiap harinya. Anda koma sudah hampir 2 bulan lamanya dan sebentar lagi, bayi Anda akan lahir. Selamat, Tuan. Anda akan menjadi seorang Ayah," ucap pria itu dengan senyum terkembang.
William terlihat ragu. Ia memegangi sandaran kursi di sampingnya dan mencengkeramnya kuat.
Matanya kembali ke monitor dan melihat wanita yang diyakininya adalah sang isteri terlihat cemas mencari keberadaannya.
William menarik nafas dalam dan mengangguk. Ia lalu keluar dari ruang kendali terlihat ragu. Lelaki berjas itu tersenyum saat membukakan pintu untuk William.
"Blue eyes mendekati target. Over," ucap lelaki itu saat William sudah keluar dan pintu tertutup dari sambungan radio di earphone-nya.
"Roger that," sahut dari penjaga lain yang sudah siap di posisi sesuai skenario.
William berjalan perlahan menuju ke arah datangnya Sia. William menaiki tangga terlihat gugup karena baginya semua terasa asing.
"Kecelakaan? Amnesia? Aku telah memiliki isteri dan sebentar lagi akan menjadi ayah? Pembalap? Dia CEO? Wow, apakah ini sungguh kehidupanku? Terasa bagai mimpi. Ini sangat mengejutkan," batinnya sembari terus menaiki tangga dan tanpa ia sadari, dirinya telah sampai di atas dan mendapati wanita yang disinyalir adalah sang isteri, menatapnya seksama dengan mata berlinang.
"Hai," jawab William gugup.
"Hiks, kau ingat padaku?" tanya Sia terlihat sedih dan masih berdiri di atas tangga.
"Maaf, tidak. Namun, aku yakin jika kau adalah isteriku dan sedang hamil anakku. Apakah benar demikian?"
Sia menangis dan mengangguk cepat. Ia tak bisa menahan rasa harunya karena William mengatakan hal tak disangka.
William berjalan perlahan mendekati Sia yang masih menangis sedih dengan wajah tertunduk. Menggenggam kedua tangan di depan dadanya.
"Kau pasti sangat mencemaskan keadaanku. Kau menangis sangat banyak. Kau juga pasti sedih karena aku melupakan kenangan kita. Aku minta maaf," jawabnya lirih menatap Sia lekat.
Sia langsung memeluk William erat dan membiarkan air matanya terus menetes. William balas memeluk Sia meski terasa canggung.
William bisa merasakan tubuh Sia bergetar dalam pelukannya. Entah kenapa, muncul perasaan hangat dalam diri mantan agent itu saat ia merasa jika menjadi orang beruntung karena dikelilingi orang-orang yang peduli padanya.
"Jadi. Kapan anakku lahir?" tanya William pelan menatap Sia seksama saat melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Bulan depan memasuki 9. Aku sangat bahagia kau sadar sebelum bayi ini lahir, Will, persis seperti ucapanmu kala itu yang mengatakan, "aku ingin melihat anakku lahir" sebelum akhirnya kau ... koma," jawab Sia mulai bisa menahan kesedihannya dan balas menatap sang suami lekat.
William tersenyum dan menghapus air mata di wajah sang isteri perlahan, tapi hal itu malah membuat Sia kembali menangis.
"Hem, sepertinya isteriku cengeng," ledek William saat Sia kembali memeluknya dengan air mata.
Sia langsung melepaskan pelukannya dan memonyongkan bibir. William menatap wajah isterinya lekat di mana ia seperti mengenali kebiasaan wanita di depannya ini, suka memajukan bibir agar terlihat imut, tapi William memilih diam.
Sia menggandeng tangan William untuk menyusuri rumah tempat tinggalnya. William berjalan berdampingan dengan langkah pelan tak terburu-buru seperti tadi.
"Oh, ini ...," tunjuk William ke sebuah foto di dinding dengan ruangan besar seperti ruang keluarga.
"Ya. Ini foto pernikahan kita. Mereka ini kawan-kawanmu," terang Sia yang kini berdiri di samping suaminya.
"Ini Catherine, Ara dan Jack. Mereka tinggal di Virginia. Dulu mereka teman satu kantormu, tapi setelah kau memutuskan untuk membuka cabang baru di Los Angeles, mereka tak lagi bersamamu," sambung Sia sembari menunjuk satu persatu sosok kawan CIA William dulu.
"Mereka bekerja di bengkel juga?" tanya William menebak.
Sia diam sejenak lalu tersenyum. "Ya. Catherine bagian administrasi dan keuangan. Ara bagian pemesanan onderdil dan permintaan pelanggan lalu Jack, dia bagian elektrikal pada mobil modifikasi. Dan kau ...."
"Montir dan pembalap. Aku pasti yang melakukan tes akhir pada mobil hasil modifikasiku. Wah, ini bagaikan mimpi. Aku memiliki bengkel, seorang montir dan juga pembalap. Hidupku sangat sempurna," potongnya bangga.
Sia menatap William seksama dengan senyum terkembang. "Begitukah menurutmu?"
"Ya. Aku dari dulu selalu menyukai mobil. Aku pernah bermimpi menjadi seorang pembalap dari mobil hasil modifikasiku. Siapa sangka, ternyata itu bukan mimpi, tapi sebuah kenyataan," jawabnya dengan wajah berbinar.
Sia tersenyum bahagia. Ia memeluk William kembali dan pria bermata biru itupun balas memeluk sang isteri.
William mulai terbiasa dengan sentuhan Sia. Ia tak merasa risih dan canggung lagi karena ia ikut merasakan jika tubuhnya seperti sudah terbiasa dengan kulit sang isteri.
William semakin yakin, jika yang dikatakan Sia dan lelaki yang ditemuinya tadi adalah benar, tentang kehidupannya.
Sia lalu mengajak William duduk dan menceritakan kisah hidupnya yang tentu saja telah dimodifikasi layaknya kehidupan warga sipil, tanpa campur tangan pemerintah dan mafia.
William terlihat begitu antusias bahkan tak terasa, Sia bercerita sampai menjelang makan siang.
Kabar William sudah bangun dan bisa menerima kehidupan barunya yang disampaikan oleh P-807, pria berjas di pusat kendali, memberikan perasaan lega di hati semua orang yang mengenalnya.
***
Bang willnya gak jdi kabur embak2😆 pada napsu pengen nyekek bang will loh. tar stok cogan lele abis gimana😩
kalo ada tipo seperti biasa. maklum dulu aja deh. ini ngetik pke hape sepanjang tol. mual2 eke tapi demi kalian yg gak sabaran nunggu up, lele sempetin.
__ADS_1
trims ya tipsnya. lele padamu💋💋