
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
---- back to Story :
Hari-hari William jalani dengan penuh senyuman dan semangat dalam menjalankan bisnis bengkel miliknya.
Rohan pamit ke India karena harus ada pekerjaan bisnis yang dilakukan. Padahal sebenarnya, ia sedang menghimpun pasukan sesuai persyaratan yang diberlakukan oleh 13 Demon Heads agar tetap bisa duduk di kursi dewan.
Balraj dan Vijay ikut bos besar mereka kembali ke India. William ditinggal bersama para pasukan Black Armys level M yang menjadi pegawai bengkel sembari mengawasi gerak-gerik lelaki bermata biru itu selama berada di sana.
Sia akhirnya bisa menyelesaikan jumlah anggota pasukan sesuai dengan kesepakatan dengan Rohan di bulan menjelang detik-detik kelahiran buah hatinya.
Sia sangat berterima kasih kepada orang-orang yang membantunya dalam perekrutan termasuk bermain sandiwara di depan William.
Hingga hari itu, Sia merasa mual saat sedang mengecek berkas dari email di laptop-nya. Ia memanggil pelayan untuk membawakannya minuman hangat untuk mengurangi rasa begahnya.
Namun, saat Sia berdiri karena akhir-akhir ini selalu ingin buang air, ia terkejut ketika mendapati cairan mengalir begitu saja dari va*inanya.
"Nona Sia, ini ... oh! Nona Sia! Anda tak apa?" pekik pelayan perempuan yang mengantarkan minuman hangat ke ruang kerja.
Sia berdiri di samping meja kerjanya, menopang tubuhnya dengan satu tangan dan tangan lainnya memegangi perutnya yang besar.
"Oh, Bibi," jawab Sia terlihat pucat.
"Apakah Anda akan melahirkan? Sepertinya, air ketubanmu pecah," tanyanya langsung mendekati Sia sembari melihat air yang menetes dari dalam rok majikannya hingga membasahi lantai.
"Hah, mungkin. Bawa aku ke rumah sakit sekarang dan tolong hubungi William," pinta Sia berusaha untuk tenang dan pelayan itu mengangguk cepat.
Sia melihat air ketubannya menggenangi lantai. Sia bingung dan panik karena tak tahu apa yang harus dilakukan.
Tak lama, P-807 dan beberapa bodyguard datang. Sia didudukkan di sebuah kursi roda agar tak banyak bergerak.
"Oh, rokku basah," ucapnya yang merasakan bagian bawah tubuhnya basah kuyup.
"Kami sudah menyiapkan pakaian ganti untukmu selama di Rumah Sakit, Nona Sia. Jangan khawatir," jawab P-807 bergegas membawa majikannya ke mobil.
Sia segera dilarikan ke Rumah Sakit. William yang mendapat kabar jika isterinya akan melahirkan segera bergegas pulang.
"Semoga bayimu lahir dengan selamat, Will!" teriak salah satu pegawai bengkel saat William meninggalkan pekerjaannya di hari yang masih siang.
"Thank you! Aku akan menjadi seorang Ayah!" teriaknya girang.
Semua orang tertawa saat William berlari dengan senyum merekah menuju mobilnya. William segera melaju mobilnya kencang ke rumah sakit.
"Mom, Mom! Aku sepertinya akan melahirkan!" ucap Sia mengabarkan selama perjalanan ke Rumah Sakit.
"Benarkah? Sungguh? Oke, aku akan segera terbang ke Los Angeles bersama lainnya. Ingat sandiwara kita, Sayang. Ibu menyayangimu," jawab Amanda terdengar riang.
Namun, entah apa yang terjadi, tanpa sadar, Sia juga menghubungi seseorang dengan senyum terkembang.
__ADS_1
"Dad! Aku akan melahirkan. Jika benar cucumu nanti perempuan, akan kuberi nama Irina Tolya. Maaf, aku tak bisa memberikan nama Boleslav di belakangnya karena aku khawatir jika akan menimbulkan kerumitan di masa depan nanti," ucap Sia merasa bersalah.
"Tak apa, Kak Sia. Daddy pasti akan mengerti."
Sia tersentak. Ia melihat layar ponselnya dan betapa terkejutnya, ia menghubungi nomor ponsel ayah tirinya yang kini digunakan oleh Jordan.
"Ma-maaf, Jordan. Aku tak bermaksud ...."
"Tak apa. Semoga kau melahirkan dengan selamat, Kak. Titip salam sayangku untuk keponakanku. Katakan, Jordan menyayanginya dan akan melindunginya."
Sia meneteskan air mata begitu saja. Ia tak menyangka jika Jordan bisa sampai berkata manis seperti itu, seperti sebuah keajaiban. Semua orang di dalam mobil melirik dalam diam melihat Sia seperti bahagia.
"Thank you, Jordan. Kau juga, jadilah lelaki tangguh seperti daddy. Kau penerus Boleslav sejati. Kakak menyayangimu," balas Sia sembari menghapus air mata lalu menutup sambungan teleponnya.
Semua orang tersenyum mendengar Sia dan Jordan seperti kakak adik sesungguhnya yang sudah saling mengerti.
Sia segera dilarikan ke UGD untuk ditindak. Ternyata di waktu yang bersamaan, William tiba meski terlihat berantakan karena tergesa.
"Hei, kau tak apa, Sayang?" tanya William saat mendapati sang isteri ditidurkan di ranjang pasien.
"Ya," jawabnya bahagia karena sang suami ada di sampingnya untuk menemaninya.
"Tuan William Tolya? Suami dari Nona Theresia Lawrence?" tanya salah satu petugas medis.
"Ya," jawabnya langsung menatap perawat itu seksama.
"Isteri Anda akan melahirkan dan silakan mengurus administrasi untuk pendaftaran," ucapnya dan William mengangguk mengerti.
Sia memejamkan mata saat William pamit untuk mengurusi administrasi proses kelahiran buah hatinya.
Namun, kening P-807 berkerut ketika melihat perawat yang meminta William ke ruang administrasi memakai sepatu fantovel khusus.
Insting P-807 bekerja, ia mengikuti petugas itu dan meminta anak buahnya mengamankan William dan Sia.
Para Black Suit segera bersiaga dan tetap mencoba terlihat normal tak mencolok.
P-807 mengendap mengikuti perawat itu yang memasuki ruangan bertuliskan "Warehouse". Kecurigaan P-807 semakin memuncak karena baginya hal itu tak lazim.
Ia melihat sekitar dan bersiap dengan pistol yang ia sembunyikan di balik pinggang di mana senjata api itu lolos dari detektor logam karena dibuat dari bahan khusus.
P-807 menempelkan telinganya di balik pintu, menguping pembicaraan di dalam. Hingga tiba-tiba, matanya terbelalak.
CEKLEK!!
Praktis, semua orang yang berada di gudang itu terkejut dan mengangkat kedua tangan seketika.
P-807 masuk dan menutup pintu gudang sembari mengarahkan moncong pistol ke tiga orang yang berdiri di hadapannya terlihat seperti merencanakan sesuatu.
"The Circle? CIA? Siapapun kalian, aku tak segan menghadiahkan peluruku jika berani mengusik kebahagiaan Nona Sia dan William," ucapnya bengis.
"CIA," jawab perawat mencoba untuk tetap tenang.
"Dengar. William sudah keluar dari agensi. Ia lupa ingatan karena ulah The Circle. Dia tak ingat apapun tentang masa lalunya. Ia kini menjadi warga sipil, jadi ... jangan usik William lagi," tegas P-807 menatap tiga orang itu tajam.
__ADS_1
"Oh, benarkah? Sayangnya laporan dari agent kami tak mengatakan demikian. William harus kembali bersama kami dan menyelesaikan misinya," jawab seorang pria bersetelan rapi.
Kening P-807 berkerut. Ia menatap wajah tiga orang itu bergantian. Tiba-tiba, seringainya keluar.
"Hem, kalian berkomplot ya? CIA dan The Circle yang membelot dari kepemimpinan Jonathan. Mencoba membohongiku? Baiklah, ini hukumannya."
DOR! DOR! DOR!
BRUK!
P-807 mendatangi mayat tiga orang itu yang telah tergeletak di atas lantai gudang. Pemimpin Black Suit jebolan Black Armys Vesper segera memeriksa barang tersembunyi di balik pakaian mereka dan ia menemukannya.
P-807 segera mengambil barang-barang itu dan segera memotret temuannya. Ia lalu bergegas keluar dari gudang sembari mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"William masih diincar," ucapnya sembari berjalan di koridor dengan langkah cepat.
"Kirimkan detailnya, akan segera kami selidiki."
P-807 mematikan sambungan telepon dan mengirimkan foto tersebut.
"Bagaimana?" tanya salah seorang anggota Black Suit mendatangi P-807.
"Bawa ini ke markas untuk diselidiki," jawab P-807 memberikan sebuah tas yang ia ambil dari salah satu mayat.
Anggota Black Suit itu mengangguk paham dan segera pergi melaksanakan perintahnya. P-807 menghubungi semua anak buahnya yang terbagi menjadi dua bagian.
"Nona Sia aman."
"William aman."
"Terus jaga, jangan sampai lengah," balas P-807 menginstruksikan.
"Copy that," jawab anggota tim dari sambungan telepon grup.
Hingga akhirnya, William yang terlihat repot itu segera menyusul Sia ke ruang operasi. P-807 memberikan selamat sebelum William masuk ke ruangan.
"Kami akan menjagamu, Tuan. Fokuslah pada kondisi isterimu saat melahirkan nanti," ucap P-807 tenang.
"Thank you. Oh, wait. Aku tak tahu siapa namamu sampai sekarang," tanya William menatap P-807 seksama.
P-807 terdiam berikut para anggota Black Suit yang lain. P-807 kembali tersenyum.
"Panggil saja, Pamungkas. Saya orang Indonesia," jawabnya tersenyum dan William mengangguk sembari menepuk bahunya.
"Thank you, Pa-mung-kas, benar begitu 'kan? Terima kasih sudah melindungi keluargaku saat aku tak ada. Sampai bertemu lagi," jawab William dengan senyum terkembang dan bergegas masuk ke ruang operasi.
"Pamungkas, huh? Bisa berikan aku nama juga?" tanya anggota Black Suit lain, tapi bagi P-807 terdengar seperti sindiran.
"Ra sudi," jawabnya ketus dan semua orang tertawa.
***
Baiklah. Jangan lupa nanti vote poin koin dan vocer bisa dipindah ke 4YMS2 aja ya. Lele padamu💋💋💋 Trims koinnya~
__ADS_1