Secret Mission

Secret Mission
Kejujuran Hati


__ADS_3

William panik. Ia tertegun karena Sia bisa bicara demikian.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Tidak, Sayang. Aku tak bermaksud demikian. Aku sungguh sudah keluar dari CIA. Aku tak terlibat lagi dengan mereka. Aku bersumpah padamu," ucap William meyakinkan.


Namun, Sia terlihat tidak percaya.


"Oh ya? Buktikan," sahutnya menantang.


William bingung. "Bagaimana membuktikannya?" tanyanya heran.


"Temukan Jonathan dengan Jack. Aku ingin mendengar kesaksian darinya," jawab Sia cepat.


William menarik nafas dalam. Ia mengangguk. Ia tak percaya jika isterinya malah mencurigainya.


"Sia, percaya padaku. Aku sungguh sudah keluar dari CIA. Aku akan menjaga rahasia ini sampai mati. Aku tak akan membocorkan di mana saja lokasi-lokasi markas kalian. Sungguh," tegasnya lagi meyakinkan.


Sia berkerut kening. Ia masih enggan berdekatan dengan suaminya. William mendekati Sia, tapi sang isteri menjulurkan tangan, menahan agar William tak mendekat.


William terlihat sedih dan kecewa, tapi ia paham jika Sia butuh waktu untuk menenangkan hati.


William mendesah pelan saat Sia pergi meninggalkannya dengan bertolak pinggang. Sia terlihat kecewa dengan pengakuannya barusan. William diam tertunduk.


Malam itu, Sia dan William kembali ke Markas Rio. Selama perjalanan, mereka diam saja. Bahkan berulang kali William mengajaknya bicara, tapi Sia enggan untuk menjawab dan memintanya untuk diam.


"Jadi kau tak mau bicara denganku? Kau mengabaikanku?" tanya William terlihat marah.


Sia diam saja dan masih fokus mengemudi. Nafas William menderu. Saat mobil BMW hitam tersebut berhenti di pinggir trotoar karena telah sampai di lokasi Markas, William membuka pintu dan nekat turun sendirian.


Sia terkejut ketika William jalan tertatih bahkan tak menggunakan kursi roda atau penyangga tubuh lainnya. William pergi meninggalkannya.


"William!" teriak Sia panik melihat William menyeret kakinya yang sakit dengan berpegangan pada dinding bangunan sebagai penopang.


"Will!" panggil Sia saat ia berhasil mengejar sang suami dan memegang tangannya, tapi William menampiknya. Sia terkejut.


"Kenapa memanggil dan mengejarku? Kau pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya padaku, Sia dan kini kau melakukannya lagi. Sebenarnya ada apa denganmu? Sikapmu tak menentu. Kau seperti mempermainkan perasaanku," tegas William dengan nafas menderu menatap isterinya tajam.


Sia tertunduk dan terlihat sedih seperti akan menangis.


"A-aku tak tahu, Will. Aku tak tahu harus bagaimana," jawabnya berlinang air mata.


William masih terlihat kesal.


"Aku jujur padamu, tapi kau tak menyukai kejujuranku. Saat aku dulu berbohong demi keselamatanmu, kau membenciku. Seakan semua yang kulakukan selalu salah di matamu. Jadi, apa maumu?!" bentak William yang mengejutkan Sia dan praktis, air matanya lolos begitu saja.


William memejamkan mata sejenak dan menarik nafas dalam.


"Aku ingin sendiri dulu. Kau ... lakukanlah yang semestinya kau lakukan sebagai seorang anak mafia," ucap William yang praktis membuat tubuh Sia mematung seketika.


William berjalan tertatih masuk ke dalam markas dengan susah payah menyender pada dinding dengan satu kaki.

__ADS_1


Sia membalik tubuhnya dan mendekati William. Pria bermata biru itu tertegun saat Sia melingkarkan tangan di pundaknya.


Sia membantunya berjalan dengan wajah tanpa ekspresi sampai ke lift dan membawa William ke kamarnya.


Keduanya saling diam. William menatap Sia seksama yang membantu melepaskan salah satu sepatu dan kaos kakinya karena kaki lainnya di gips.


Sia membantu mengganti pakaian yang William kenakan dengan piyama tidur berwajah datar.


William diam saja saat Sia melakukan hal yang memang seharusnya dilakukan oleh seorang isteri meski ia tahu jika Sia masih enggan bicara dengannya begitupula sebaiknya.


"Tidurlah. Minum obatmu. Masih ada yang harus kukerjakan," ucap Sia pada akhirnya saat ia menarik selimut dan menyelimuti William lalu pergi keluar kamar.


William menghembuskan nafas keras terlihat kesal. Ia membaringkan tubuhnya dan memaksa tidur setelah meminum obat.


"Bersabarlah, William. Kau tahu jika ini resikonya. Sia isterimu dan kau sudah tahu konsekuensi ketika menikahinya. Tenanglah ...," ucapnya dalam hati dengan posisi berbaring siap untuk tidur.


Lama bagi William untuk menenangkan hatinya yang bergemuruh karena kesal dengan sikap Sia yang baginya tak menentu.


Hingga akhirnya, ia tertidur lelap setelah lelah mendamaikan hatinya.


CEKREK!


Sebuah langkah masuk ke dalam kamar William yang bercahaya redup. Ia menatap William tajam yang tertidur pulas, berdiri di samping ranjang. Cahaya siluet membuat sosok lelaki itu tak terlihat jelas.


"Hemm, William Tolya," gumannya tersenyum miring dengan kedua tangan di dalam saku celana.


Keesokan harinya. William langsung terbangun saat ia merasakan lengannya kesemutan. Ia menoleh dan mendapati Sia tidur memeluknya. William tersenyum.


Rasa kesalnya kemarin kepada sang isteri luluh seketika saat ia menyadari jika Sia sungguh mencintainya.


"Hai," sapa William dengan senyum menawan dan Sia membalas dengan senyum yang sama.


"Will ... ada yang ingin kusampaikan," ucap Sia tiba-tiba masih memeluknya dan menyembunyikan wajahnya di dada sang suami.


"Hem, ada apa?" tanya William mengelus lengan Sia lembut.


"Aku ... ingin jujur padamu dan aku ingin kau percaya padaku seperti aku percaya padamu, Will," ucap Sia sembari memainkan kaus di dada sang suami.


"Oke," jawabnya pelan.


"Aku mencintaimu, Will dan mimpi kita agar bisa terbebas dari belenggu keluarga mafiaku serta CIA sungguh ingin kuwujudkan. Namun, aku harus menyelesaikan tugasku sebagai seorang mafia sebelum mengakhiri semuanya," ucapnya terlihat gugup.


William langsung memiringkan tubuhnya dan kini menatap wajah sang isteri lekat. Sia terlihat takut-takut membalas tatapan sang suami.


"Apa kau sungguh-sungguh dengan yang kau katakan, Sia?" tanya William menatapnya lekat dengan jantung berdebar.


Sia mengangguk dengan senyum tipisnya. William langsung memeluknya. Ia sungguh tak menyangka jika mimpinya akan sama dengan sang isteri.


Sebelumnya, William masih meragukan janji Sia mengingat sang isteri kembali kepada keluarga mafianya.


"Aku akan membantumu mewujudkan mimpi kita berdua, Sayang," ucap William memeluk Sia erat dan mencium keningnya penuh perasaan.

__ADS_1


Sia lega karena akhirnya bisa jujur dengan William. Sia memikirkan ucapan suaminya semalaman di mana ia merasa jika sang suami meragukan kesetiaannya.


"Thank you, Will. Aku tak salah sudah memilihmu," ucap Sia mulai bangun perlahan dan kembali mendekat ke pelukan suaminya lalu mencium bibirnya lembut.


William menyambut ciuman itu dengan penuh cinta dan rasa bahagia yang sama. Kini ia tak meragukan kesetiaan sang isteri untuk merajut dan mewujudkan mimpi bersama.


William mulai menyelipkan tangan kanan ke balik celana karet sang isteri dan meremat pantatnya gemas.


Sia terlena dengan pijatan tangan kiri William di punggungnya dan terus mengajaknya berciuman.


Saat gejolak untuk kembali bercinta mulai membara, tiba-tiba ....


"Kak Sia! Ups," pekik Jonathan yang tiba-tiba memutar tubuhnya saat membuka pintu yang tak terkunci lalu ditutupnya lagi.


Ciuman William dan Sia langsung terlepas. Keduanya malu bukan main hingga wajah merah merona. Sia langsung bangun dan merapikan pakaiannya.


"Ehem. Aku ... aku keluar dulu. Sepertinya Jonathan ingin menyampaikan sesuatu," ucap Sia malu sembari merapikan rambutnya.


William tersenyum dan ikut bangun. William mengulurkan tangannya dan Sia dengan segera menyambutnya untuk membantu William bangun.


William kembali di dudukkan di kursi roda. Ia ingin ikut menemui Jonathan. Sia mendorong kursi roda keluar kamar dan mendapati Jonathan menunggunya di sofa panjang sambil meringis.


"Aku tak melihat apapun," ucapnya sembari memalingkan wajah.


Sia dan William terkekeh. Saat Sia dan William mendekat, BinBin mendatangi mereka sembari memberikan sebuah foto.


Sia menerima foto tersebut dan William ikut melihat foto itu seksama. Mereka bingung.


"Ini siapa?" tanya Sia keheranan.


"Sierra," jawab Jonathan dengan wajah datar.


"Oh, cantik sekali," sahut Sia cepat.


"Temukan dia. Aku sudah mulai mempersenjatai markasmu. Seminggu lagi selesai," ucap Jonathan serius.


William mengambil foto tersebut dari tangan Sia dan menatapnya seksama. Semua orang di ruangan, kini fokus melihat ekspresi William seperti mengetahui sesuatu.


"Ada apa, Will?" tanya Sia kini berdiri di samping suaminya dan menatapnya seksama.


"Mm ... entahlah, aku tak begitu yakin. Wajahnya familiar. Aku yakin pernah melihatnya di mana ya?" ucapnya yang tentu saja mengejutkan semua orang.


"Benarkah? Di mana? Apakah salah satu targetmu saat menjalankan misi dari CIA?" tebak Jonathan langsung berdiri dengan mata melotot.


William menggeleng pelan dan terus memandangi wajah Sierra. Jantung Jonathan berdebar kencang, ia tak sabar mendengar penuturan William. Jonathan mendekatinya.


"Di mana? Apakah di Rusia? Paris? Atau di suatu tempat? Atau mungkin dia anak dari seorang pengusaha ternama?" desak Jonathan terus memberondongnya dengan serencengan pertanyaan tanpa jeda.


William terlihat berpikir keras. Semua orang ikut tegang. Tiba-tiba, William melebarkan mata.


"Oh!" pekiknya mengejutkan semua orang seperti teringat akan sesuatu yang berhubungan dengan Sierra.

__ADS_1


------


maap telat up. ngantuk sumpah😆 lele lagi silaturahmi ke rumah sodara karena covid karena gak bisa mudik keluar kota. kalo ada tipo2 maklum aja deh ya tar lele benerin pas udh melek beneran. good nite😴😴😴


__ADS_2