Secret Mission

Secret Mission
Dijemput


__ADS_3

William mencoba untuk tetap tenang dan memindai sekitar. Lelaki yang duduk di depannya memberikan instruksi dengan jentikan jari.


Mata William melebar saat sebuah alat pemindai di arahkan ke tubuhnya. Yuki berdiri di depannya sembari melipat kedua tangan.


Tiba-tiba, PIP! PIP!


Orang-orang itu terkejut. Lengan baju William digulung paksa. William memberontak seperti mencoba untuk bicara.


Yuki memberikan instruksi untuk mencongkel alat itu dari lengan William, tapi lelaki bermata biru itu malah meraung-raung yang membuat para petugas kesulitan melakukannya.


"Buka penutup mulutnya. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu," ucap pria muda di depannya menunjuk mantan agent CIA tersebut.


SRETTT!


"Hah! Jangan diambil atau aku akan meledak!" teriaknya lantang.


Mata Yuki melebar seketika. Lelaki muda itu segera mengangkat gagang teleponnya lagi seperti menghubungi sesorang. Namun ....


DWUARRR!!


Suara ledakan hebat terdengar di luar pulau meski di kejauhan. Lelaki muda itu dan Yuki segera keluar untuk melihat keadaan.


Jantung William berdebar kencang. Ia tak tahu apa yang terjadi, tapi firasatnya mengatakan jika hal buruk menimpa Cecil.


Tiba-tiba, Yuki kembali masuk dan kini berdiri di hadapan William menatapnya tajam.


CEKREK!!


William kaget saat Yuki menempelkan moncong pistol tepat di dahinya dengan wajah bengis.


"Aku bersabar, William. Aku sudah sangat bersabar. Berani kau berbohong padaku, aku tak segan membunuhmu meski nantinya Sia dan jajarannya akan membenciku," ucap Yuki dengan nafas menderu.


"Sia?" tanya William dengan kening berkerut.


DUAKK!


"AGH!" rintih William saat kepalanya dipukul kuat dengan gagang pistol hingga ia memejamkan mata menahan sakit.


"What's wrong with you!" teriak Yuki emosi.


"Yuki!" panggil lelaki muda yang kini masuk kembali ke ruangan. Yuki menatap pria itu tajam.


"Red mengatakan jika William dicuci otak. Afro mengatakan semuanya di dalam yacht saat tim Red membawanya," ucap lelaki itu yang praktis membuat mata semua orang di ruangan terbelalak lebar.


"He what?!" pekik Yuki kaget setengah mati.


Lelaki itu mendekati William yang kembali menatap dua orang di depannya dengan wajah bengis.


CUHH!!


"Keparat kurang ajar. Kau berani meludahiku. Hmm, Tuan Boleslav mengatakan jika aku boleh menyakitimu tanpa harus membunuhmu. Oke, kita lihat apa aku bisa mengembalikan ingatanmu dengan caraku. Bawa dia!" teriak lelaki itu marah.


Mata William terbelalak saat ia diseret keluar dari ruangan tersebut keluar Villa. Orang-orang yang melihat dibuat bingung. Mereka kini malah terfokus pada sosok William yang diseret menuju ke pinggir dermaga.


"Torin! Apa yang akan kau lakukan?!" teriak Yuki panik karena William ditembak dengan jaring seperti Afro.

__ADS_1


DUAKK!! BYURR!!


"TORIN! Kau gila!" teriak Yuki lagi karena Torin menedang William hingga lelaki itu masuk ke dalam air di pinggir dermaga.


Orang-orang kini mendatangi pinggir dermaga untuk melihat apa yang terjadi. Yuki panik dan kini ikut berdiri di samping Torin yang memasang wajah bengis.


Torin memberikan kode pada petugas dan segera, William kembali di tarik ke atas. Yuki lega karena William baik-baik saja meski ia batuk-batuk karena menalan banyak air.


"Apa kau ingat siapa Jack?" tanya Torin berdiri di atas papan kayu dermaga dengan wajah kesal.


William menggeleng dan lagi-lagi ....


DUAKK!! BYURR!!


"Torin! Kita bisa menggunakan gas halusinasi untuk membongkar semua!" pekik Yuki menyarankan meski tak bisa menutupi rasa paniknya.


"Ini hanya siksaan kecil. Aku merindukan gaya lama. Kau sebaiknya mencari tahu apa yang terjadi dengan speed boad yang membawa Cecil," ucap Torin menatap Yuki tajam.


Yuki mendengus keras, tapi pada akhirnya mengangguk. Ia tak sanggup melihat William seperti ikan yang terjerat, tapi tak kunjung dilepaskan.


Yuki pergi dengan jet ski bersama tim ke titik ledakan yang berada di laut, tempat speed boat yang membawa Cecil meledak.


Torin kembali memberikan kode dan William dinaikkan lagi ke atas dengan sebuah katrol seperti alat pancing.


"Apa kau kenal dengan Yena? Anak dari Roberto?" tanya Torin sembari memasukkan kedua tangan di saku celana.


William kembali menggeleng. Torin mulai terlihat malas. Namun, saat ia akan menendang William, Torin tertegun karena William langsung merobohkan dirinya dan membuat tendangan Torin meleset.


DUAKK!!


"Tu-Tuan Torin," panggil salah seorang Black Armys bingung karena tubuh William diinjak berulang kali mulai dari kepala sampai ke kaki meski masih dalam jaring.


"Kau berpihak pada The Circle 'kan?! Kalian membunuh keluargaku!"


BUAKK!!


Orang-orang tak berani menahannya. Mereka membiarkan Torin meluapkan amarah. Torin membuka jaring penjerat di tubuh William dan malah melepaskannya meski tangannya masih terborgol.


Semua orang panik dan segera menyiagakan senjata. Tubuh William ditodongkan senapan laras panjang dan pistol saat ia berdiri meski sudah basah kuyup dengan lebam di wajah.


"Come on, William! Aku penasaran. Seperti apa The Circle mendidikmu! Aku tak akan membiarkanmu diperbudak oleh mereka! Kemari dan lawan aku!" teriak Torin marah.


Nafas William menderu. Ia segera berlari dan menjadikan tubuh bagian depannya untuk mendorong Torin. Namun, Torin menahannya dengan kedua tangan mencengkeram bahu William erat.


Dua lelaki itu mengerang. Petugas penjaga segera menghubungi pusat untuk menginformasikan kejadian di Pulau.


"Bagaimana?" tanya Black Armys yang lain.


"Mereka akan datang. Sebaiknya kita amankan lokasi. Aku khawatir jika The Circle akan kemari untuk menyerang dan mengambil William kembali," jawab petugas itu dan para tentara Black Armys yang berada di lokasi segera berpencar mengamankan sekitar.


DUAKK!!


"AGH!"


Torin mengerang hingga matanya terpejam saat William menendang paha kirinya kuat dengan satu kaki hingga membuat tubuh anak Bardi tersebut roboh.

__ADS_1


BRUKK!!


William segera menendang dada Torin ketika pria itu berlutut di hadapannya. Torin jatuh terlentang. William mendatangi Torin dan memegangi rambutnya kuat siap untuk dibenturkan ke dahinya.


Dan benar saja, DUAKK!


"TORIN!" teriak petugas Black Armys karena Torin mulai linglung.


"Jangan ikut campur! Dia yang memintanya. Aku menang darinya, kalian harus melepaskanku. Jika tidak, aku patahkan lehernya," ancam William masih memegang kepala Torin dengan menjambak rambutnya.


Para tentara panik.


"Ayo, Torin! Balaskan dendam keluargamu! Ingat, apa yang The Circle lakukan pada mereka!" teriak salah satu tentara mencoba menyemangati dengan memprovokatorinya.


Kening William berkerut mendengar ucapan para tentara yang menyoraki Torin.


"Hargghh!"


BUAKK!


"UGH!"


BRUKK!!


Kepala William langsung mendongak dan ia jatuh meringkuk di tanah saat Torin meluncurkan kepalan tangan kanan ke dagunya dengan kuat.


Rambut Torin berantakan bahkan ia merasa beberapa helai tercabut. Torin segera bangun sembari menyeka hidungnya yang berdarah.


Ia berjalan dengan nafas menderu mendatangi William. Lelaki bermata biru itu berusaha bangun saat Torin sudah siap untuk menghajarnya lagi. Namun ....


BRUKK!!


William segera bangun dan menjatuhkan tubuhnya ke badan Torin. Anak Bardi tersebut langsung jatuh dan kini William mencekik lehernya kuat. Torin berusaha melawan dengan melepaskan cengkeraman di lehernya.


Para Black Armys mulai panik karena tak menyangka jika William sungguh kuat. Torin mulai kehilangan kekuatan karena kehabisan tenaga.


"Kau bukan targetku, tapi membunuhmu akan membuat reputasiku terangkat dan Madam pasti bangga padaku," ucap William dengan senyum iblisnya.


Tiba-tiba, DUAKK!! BRUKK!!


"Hah ... Hah!"


Nafas Torin tersengal sembari memegangi lehernya yang sakit. Arthur tersenyum saat ia berhasil membuat William roboh karena kepala belakangnya dipukul kuat dengan gagang senapan laras panjang.


"Maaf mengganggu pertarungan kalian. Hanya saja ... ia tak boleh kabur lagi. Kulihat kau kerepotan mengurusnya. Jadi ... akan kubawa saja. Terima kasih, Torin," ucap Arthur yang ternyata telah mendarat bersama timnya dengan helikopter entah sejak kapan.


Nafas Torin tersengal, tapi ia lega. William yang pingsan dimasukkan lagi ke jaring kawat lalu dipindahkan ke helikopter untuk diterbangkan.


Torin diam saja di mana ia masih berada di atas tanah memegangi lehernya yang sakit saat helikopter sudah lepas landas meninggalkan pulau entah menuju kemana.


***


Horee ada yg tips lagi. Makasih ya💋💋💋


Besok dobel eps lagi. Kwkwkw

__ADS_1



__ADS_2