Secret Mission

Secret Mission
Seleksi*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Rusia.


"Mm, memang apa kesalahannya, Jordan? Maksudku ... lelaki bernama Afro ini?" tanya Sia melirik Adik tirinya dengan gugup.


"Berkhianat. Ia bersekutu dengan musuh bebuyutan 13 Demon Heads, The Circle. Kini, dia berada di bawah naungan No Face. Itu foto terbarunya yang berhasil GIGA tangkap setelah ia mengubah penampilan dan namanya. Sangat cerdik," ucap Jordan terlihat begitu membenci sosok Afro.


Sia mengangguk. Ia menatap Mix and Match yang duduk di depannya.


"Lalu ... kemana kita akan pergi?" tanya Sia lagi.


"Kastil Borka, Kaliningrad," jawab Jordan yang kini melipat kedua tangan di depan dada sembari memejamkan mata.


Sia merasa jika Jordan sudah lelah mengobrol dengannya. Sia merindukan sosok Jason yang terasa lebih akrab dan nyaman ketika berbincang ketimbang Jordan meskipun wajah mereka mirip.


Mobil yang ditumpangi Sia memasuki bandara di mana pesawat pribadi milik ibunya terparkir di sana. Jordan bangun dari tidur sejenaknya dan segera bersiap.


Sia mengikuti ritme kerja dari orang-orang kubu Jordan. Pesawat terbang meninggalkan Krasnoyarsk International Airport dini hari.


Entah kenapa jantung Sia berdebar. Ia teringat akan perkataan Jason saat ia menceritakan tentang Jordan dan jabatannya sebagai eksekutor kematian dalam Pengadilan 13 Demon Heads.


"Lawannya adalah Sandara Liu, salah satu anak Vesper. Wah, sepertinya wanita bernama Vesper ini bukan orang sembarangan. Semua anaknya dilibatkan dalam tiap aktivitas 13 Demon Heads. Aku sudah bertemu dengan Lysa saat di camp, lalu Arjuna saat penyeleksian. Tinggal Jonathan dan Sandara yang belum. Aku penasaran seperti apa rupa dan sikap mereka. Apa ... mereka nanti akan muncul saat di Kastil Borka?" tanya Sia menerka-nerka dalam hati yang membuatnya gugup.


Sia memilih tidur saat di pesawat karena penerbangan yang cukup panjang. Jordan duduk di kursi terpisah dengan Mix and Match di seberangnya. Tiba-tiba ....


"Jordan," panggil Mix memberikan ponselnya di mana tertulis inisial B di sana.


Jordan memejamkan mata sejenak dan menerima panggilan itu.


"Yes, Daddy."


"Kau membawa Sia? Kau gila, Jordan!" pekiknya dari sapaan anak lelakinya.


"Dia yang memaksa ikut, bukan aku yang mengajak," jawab Jordan membela diri.


"Dan kau membiarkannya?!" pekik Antony lagi.


"Baiklah. Pesawatku sudah terbang. Aku akan melemparkannya dari atas. Tak ada landasan langit."


"JORDAN!"


"Atau aku akan mengirimkannya dalam paket. Aku akan membiusnya dan memasukkannya dalam kotak khusus. Tubuh Kak Sia lentur, ia pasti muat jika aku ikat dengan kuat," jawabnya dengan wajah datar.


"Kau benar-benar keterlaluan!" teriak Antony kesal bukan main.


"Baiklah. Sampai jumpa dan terima kasih sudah mengkhawatirkanku," jawab Jordan lalu menutup teleponnya.


Mix and Match diam saja saat melihat Jordan kembali menatap keluar jendela entah apa yang dipikirkannya.


Mix mengambil ponselnya yang diletakkan Jordan di atas meja dan menyimpannya. Dua algojo itu hanya saling melirik tak berkomentar.


Hingga akhirnya, penerbangan melelahkan itu berakhir. Sia merasakan udara hangat menerpa tubuhnya saat menunggu jemputan dari orang-orang Vesper.


"Mm, Jordan. Bisakah nanti kita mampir ke toko pakaian? Aku ... lupa tak membawa baju ganti. Maaf," pinta Sia tak enak hati.


"Tak usah. Nyonya Vesper punya banyak koleksi baju yang tak dipakai. Kau bisa meminjam atau memintanya," jawab Jordan tak menatap Kakaknya.


Matanya tertuju pada konvoi mobil hitam yang mendekat ke arahnya.


Sia menghela nafas. Ia tak menyangka jika sikap Jordan sungguh sedingin itu. Ia merasa pilihannya untuk ikut Jordan salah, tapi semua sudah terlanjur. Kini, ia harus menjalaninya.


"Loh, ini 'kan?" tanya lelaki gundul menunjuk Sia.

__ADS_1


Sia yang tak mengerti ucapan dari lelaki yang berdiri di depannya kebingungan dalam menjawab.


"Apa sudah hadir semua, Om Eko?" tanya Jordan dalam bahasa Indonesia di mana kini anak dari Boleslav sudah fasih menggunakannya.


"Tinggal Dara aja yang belom. Biasa, artis. Sibuk gitu. Kenapa, kangen ya?" ledek bodyguard Vesper.


Jordan melirik sadis, tapi lelaki bernama Eko malah terkekeh.


"Serem amat loh lirikannya. Kalo mukamu serem gitu tar Dara takut, emoh sama kamu," ledeknya lagi malah mentoel dagu Jordan.


Mata semua orang terbelalak karena Eko terlihat tak takut sama sekali dengan sosok Jordan yang dikenal keji. Sia bahkan sampai melongo dibuatnya.


"Kau tahu yang kutenteng ini, Om Eko?" tanya Jordan melotot tajam.


"Heleh, sombong. Eko juga punya," jawabnya sembari menunjukkan pedang Silent Gold yang ia sarungkan di pinggangnya.


"Aku tak takut melawanmu."


"Woo, nantang. Ayo! Siapa takut! Tak preteli kamu kaya lego," jawab Eko ikut tersulut emosi.


"Woo ... woo ... woo, hei, hei! Relax," pekik Sia panik setengah mati karena dua orang yang menggunakan bahasa tak dikenalnya seperti akan bertarung di hanggar pesawat.


Orang-orang ikut panik dan mencoba melerai keduanya yang kini saling melotot tajam.


"Sorry, sorry," ucap Sia sembari memegangi Adiknya kuat menatap Eko.


Jordan kesal dan melepaskan dekapan Sia. Ia berjalan gusar menuju ke mobil. Eko menjulurkan bibir bawahnya ke arah anak Boleslav sambil bertolak pinggang.


"Bocah edan! Untung Eko yang jemput, coba kalo yang lain. Udah digeprek kamu," ucap Eko kembali ngedumel saat Jordan sudah masuk ke dalam mobil sendirian.


Jantung Sia sampai berdebar kencang tak karuan karena perilaku tempramental adik tirinya.


Eko dan para Black Armys penjemput segera melajukan mobil menuju ke Kastil Borka di Kaliningrad.


Sia melirik ke arah Jordan berulang kali di mana Adik lelakinya masih terlihat kesal karena kedua tangannya mengepal.


"Mm, Jordan. Kau pintar ya. Kau ... bisa banyak bahasa," puji Sia mencoba mencairkan suasana yang terasa begitu tegang.


Jordan diam saja tak menjawab dan matanya masih memandang keluar jendela. Sia merasa usahanya untuk membujuk Jordan sia-sia. Gadis cantik itu memilih diam tak lagi bicara.


Hingga akhirnya, Sia dan rombongan tiba di Kastil Borka. Sia selalu kagum dengan Kastil megah itu yang tampak cantik tak seperti sarang mafia tersohor.


"Добро пожаловать," ucap Eiji menyambut para tamu yang datang ke Kastil Vesper.


(Selamat datang : Dobro pozhalovat')


Sia tersenyum dan mengangguk. Jordan yang diikuti Mix and Match serta anggota Silhouette memasuki lobi Kastil di mana tempat itu sudah ramai oleh banyak mafia di sana.


Sia terlihat gugup ketika mengikuti rombongannya. Ia tak tahu ada kegiatan apa di sana, tapi sepertinya ada sebuah acara.


"Hai."


Sia tertegun dan menoleh seketika. Ia melihat seorang wanita cantik dengan senyum terkembang, berjalan mendekatinya.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Hay, you ... Lysa, right?" tanya Sia sembari menunjuknya.


Lysa mengangguk dan menyodorkan tangannya mengajak berjabat tangan. Entah kenapa hati Sia begitu senang karena setidaknya ada orang yang dikenalnya meski tak begitu akrab.


"Kau ikut karena ingin melihat hasil akhirnya?" tanya Lysa sembari melepas jabat tangannya.

__ADS_1


"Mm, jujur. Sebenarnya aku juga tak tahu ada apa di sini. Aku ...," jawabnya menggantung terlihat bingung.


Lysa tersenyum. "Yah, aku anggap seperti yang kukatakan tadi. Berikan tasmu pada anak buahku. Jika kau tak lelah, ikut aku ke tempat pertandingan," ucap Lysa sembari menunjuk salah satu Black Armys yang datang mendekat.


Sia mengangguk dan memberikan tas ranselnya ke lelaki berseragam hitam. Lysa mengajak Sia ke sebuah ruangan di mana sebelumnya, gadis cantik itu belum berkeliling ke Kastil megah Vesper.


Jordan melihat kepergian saudarinya, tapi ia memilih membiarkannya. Jordan pergi ke suatu tempat ditemani oleh Mix and Match.


Sia terlihat terkagum-kagum akan fasilitas yang dimiliki Kastil Borka. Ia melihat banyak pekerja yang sibuk mengerjakan tugasnya, berlalu-lalang di koridor panjang dengan berbagai perlengkapan yang mereka bawa. Seperti sebuah kantor pada umumnya, hanya saja mereka bersenjata.


"Masuklah dan jangan berisik," ucap Lysa di depan sebuah pintu saat seorang Black Armys penjaga membukanya.


"Wow!" ucap Sia kagum dengan mata terbelalak saat mendapati sebuah aquarium besar dengan balok-balok es di dalamnya.


Kening Sia berkerut ketika mendapati sosok yang dikenalinya berada dalam aquarium berbentuk tabung bersama seorang lelaki yang memiliki tatto sedang berkelahi hebat.


SPLASHH!


"HAH! HAH!"


Kepala lelaki yang memiliki banyak tato di tubuhnya itu muncul ke permukaan dan terlihat seperti berusaha sekuat tenaga menahan dingin dari es dalam aquarium.


"さあ、ゆうすけ! つかまっている! もう少し!" teriak seorang lelaki berambut panjang menyemangati lelaki berambut silver.


(Ayo, Yusuke! Tahan! Sedikit lagi!)


"Hah! Hah! Dingin!" teriaknya kesal dengan tubuh gemetar dan kepulan asap muncul tiap ia bicara.


PRITTT!!


Yusuke terlihat lega. Petugas yang berjaga di atas aquarium segera menolong Yusuke dan mengangkatnya ke atas.


Yusuke meringkuk di atas lantai. Dengan segera, tim yang bertugas mendatanginya dan menyelimuti tubuh anak dari Tatsuya Tendo dengan handuk tebal.


Mata Sia tertuju pada seorang wanita berwajah bule yang baginya sangat berkarisma, duduk di dampingi lelaki Asia terlihat lebih muda darinya. Mereka berdua seperti berbicara penting.


"Good fight. Silakan beristirahat, Tuan Yusuke Tendo," ucap lelaki Asia dari atas seperti MC dari acara pada hari itu.


Orang-orang bertepuk tangan. Arjuna berdiri dengan nafas tersengal di samping aquarium bersama beberapa orang yang mencoba menghangatkan tubuhnya agar tak mengalami hipotermia.


Ternyata diam-diam, Lysa mengawasi pergerakan mata Sia yang sibuk mengamati aktivitas di tempat itu.


"Mm, Lysa. Siapa wanita di atas itu?" tanya Sia menunjuk dengan sorot mata masih terkunci pada wanita yang duduk di singgasana sembari mendengar laporan dari lelaki berkulit gelap berambut gimbal di sampingnya.


"Vesper. My Mom."


Sontak mata Sia terbelalak. Ia tak menyangka bisa melihat Vesper di mana ia selalu penasaran dengan sosoknya selama ini. Jantung Sia berdebar ketika mata Vesper kini tertuju padanya.


"Oh! Ibumu melihatku, Lysa! Aku harus bagaimana? Jantungku rasanya seperti tertancap tombak," pekik Sia seperti orang sesak nafas, tapi matanya terkunci pada Vesper yang kini menunjuknya dengan wajah dingin dari singgasananya.


Mata semua orang kini beralih ke Sia. Rasanya, gadis cantik itu mau pingsan. Lysa menahan senyum melihat Sia memegangi dada dan kepalanya dengan wajah pucat.



-------


ILUSTRASI


SOURCE : PINTEREST


Nah. Karena kalian pernah menolak sosok bang Miyavi saat menjadi kandidat visual Arjuna. Jadi ya to, Mivayi lele munculkan kembali sebagai Yusuke Tendo. Kali ini tidak menerima protes. Edisi maksa.

__ADS_1


__ADS_2