Secret Mission

Secret Mission
Ketegasan*


__ADS_3


William tampak mengagumi kecantikan sang isteri yang terlihat masih seperti gadis belia baginya.


Bahkan, Sia merubah warna rambutnya menjadi pirang kecokelatan karena ia merasa gerah jika harus memakai wig berulang kali.


William sampai sekarang tak jujur dengan umurnya jika ia hampir seumuran Lysa, anak pertama Vesper.


William yang mampu menjaga penampilan dengan pola hidup yang seimbang antara olah raga dan makan meski kini ia kurang istirahat, tapi tak membuatnya terlihat seperti lelaki yang hampir berumur 30 tahun.


Usai mandi bersama, William merebahkan diri dengan Sia tidur dalam pelukannya. Masih banyak misteri dalam hidupnya yang belum ia ceritakan pada sang isteri.


Namun William berpikir, jika masa lalunya tetap ia simpan rapat. Hanya Rika saja yang tahu kisah hidupnya yang menyedihkan.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Besok kita berangkat pagi-pagi sekali, Sayang. Oia, aku lihat pakaian yang kau simpan dalam koper. Seperti setelan khusus hanya saja ... terlihat tangguh. Kau dapat dari mana?" tanya William curiga.


Sia tertegun. Ia hampir lupa akan pakaian tempur dan sepatu magnet pemberian Jordan kala itu. Sia mencoba bersikap wajar.


"Oh, pemberian Daddy. Seragam para mafia didominasi warna hitam. Aku memakainya saat datang ke Kastil Borka kediaman Vesper untuk melihat penyeleksian calon dewan," jawab Sia yang sengaja memancing pembicaraan, ingin tahu respon dari suaminya.


"Oh! Lalu ... bagaimana hasilnya? Siapa calon anggota dewan selanjutnya?" tanya William antusias.


"Tak ada. Semua dikalahkan oleh lelaki bernama Kim Arjuna," jawab Sia asal.


William diam sejenak. Ia tahu siapa Kim Arjuna.


"Orang itu pasti berbuat curang agar kursi dewan tak diduduki oleh calon generasi baru. Eh, apa kau bertemu dengan penerus keluarga Khrisna? Jamal atau Rahul?" tanya William lagi.


Sia menggeleng. "Aku hanya bertemu Tuan Raja. Yakinlah, Sayang. Orang-orang itu sungguh berkuasa dan kejam. Aku bahkan bertemu Vesper. Aku takut setengah mati. Ku dengar, ia suka memotong tangan orang," ucap Sia memeluk tubuh suaminya terlihat takut.


Jantung William berdebar. Sia bisa mendengarkan detak jantung suaminya yang sepertinya termakan sandiwaranya. Sia tersenyum licik.


"Sudahlah, jangan pikirkan orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads lagi. Kita fokus pada target kita, Denzel Flame. Aku mengajakmu bertemu Cecil dan Rika karena kita butuh nasehat mereka untuk menyelesaikan kasus ini. Cecil pernah berurusan dengan The Circle sebelumnya. Setidaknya, jika kita berguru pada masternya, kita tak kembali dalam kantong mayat," ucap William diakhiri dengan hembusan nafas panjang.


Kini, giliran Sia yang panik. William mengecup kening isterinya dan mulai memejamkan mata. Mengistirahatkan pikiran dan tubuhnya yang lelah.


Namun, Sia masih terjaga. Ia penasaran dengan sosok Denzel Flame. Otaknya bahkan dipaksa untuk terus berpikir, mencari cara melenyapkan kelompok parasit tersebut.


"Jika aku berhasil membunuh Denzel, itu akan menjadi suatu kebanggan. Baik CIA ataupun 13 Demon Heads pasti akan memujiku. Hehe," ucapnya dalam hati sudah berandai-andai.


Hingga akhirnya, setelah 30 menit terjaga, Sia tertidur juga. Diam-diam, tim Silhouette milik Amanda memasang kamera pengawas dan penyadap di Apartment William saat mereka melangsungkan pernikahan.


"Pestanya sederhana sekali. CIA miskin. Sungguh memalukan. Mereka kira Sia anak pungut pinggir jalan?" ucap Maksim protes saat melihat rekaman yang berhasil diambil oleh salah satu anggota Silhouette yang menyamar sebagai tukang kebun di Gereja tempat Sia melangsungkan pernikahan.


"Mom, mau sampai kapan hal ini dirahasiakan dari Daddy?" tanya Jason yang juga mengetahui jika kakaknya telah menikah dengan seorang Agent.


"Biar Mommy yang bicara pada Daddy-mu nanti. Kesehatannya makin memburuk, Jason. Jangan membuatnya semakin tertekan dengan hal ini. Kau mengerti?" ucap Manda lembut dan Jason mengangguk paham.


Namun ternyata, Antony telah mengetahui hal tersebut. Red dan Daniel berdiri mematung dengan wajah pucat saat Antony menatap keduanya dengan garang meski lengannya tertancap selang infus di atas ranjang kamar.


Mereka bicara dalam bahasa Rusia.


"Kalian sudah bosan hidup? Ingin mati dengan cara yang seperti apa? Jordan dengan senang hati melakukannya," ucap Antony tajam tanpa berkedip.

__ADS_1


"Aku akan menunjukkan jalan cepat menuju nirwana, Paman Red, Daniel. Jangan sungkan," imbuh Jordan yang berdiri di samping Ayahnya dengan wajah datar.


Dada dua lelaki itu terasa sesak. Mereka tak menyangka jika Antony akan semarah ini meski tak ada suara teriakan dan makian terdengar dari mulutnya.


"Ini sudah jalan Tuhan, Tuan Boleslav. Sia mencintainya. Ia tak menyukai Arjuna, begitupun sebaliknya. Cinta itu tak bisa dipaksakan. Maaf jika saya lancang," ucap Daniel berusaha untuk tetap tenang.


"Banyak anak mafia yang lebih tampan dan hebat dari William keparat itu. Kenapa harus dia? Lelaki itu Agent CIA! Musuh kita! Bukankah aku sudah menugaskan kalian untuk melenyapkannya?!" bentak Antony pada akhirnya.


"Daddy, relax. Ingat jantungmu," ucap Jordan mengingatkan dan Antony kembali menenangkan diri.


"Maaf, Tuan. Hanya saja seperti informasi yang sudah kami beritahukan sebelumnya. Ada perseteruan antara anak dari Raja Khrisna dan Axton, kami sudah menyelidikinya. Ternyata hal itu benar, hanya saja ... Khrisna tak tahu. Sepertinya, ini rencana dari Jamal dan Rahul yang tak melibatkan ayah mereka," ucap Red menjelaskan.


"Konspirasi?" tanya Jordan menebak.


"Sepertinya begitu. Yuki juga memberikan kabar terbaru jika perselisihan itu hanya karena seorang wanita. Namanya Nandra Khan. Setelah kami selidiki lebih dalam, Khan dan Khrisna memiliki kerjasama dengan ikatan perjodohan yang nantinya ketiga anak perempuan Khan akan dinikahkan kepada tiga anak lelaki Khrisna untuk memperkuat hubungan bisnis," sahut Daniel menambahkan.


Kening Antony dan Jordan berkerut.


"Benar, Tuan. Rahul mengirimkan Nandra untuk menjebak Axton, tapi malah kini Nandra menjadi wanita Axton. Hanya saja, William pernah terlibat dengan Rahul. Ia bahkan menjadi salah satu bodyguard-nya. Namun, setelah kabar mengejutkan yang Sia katakan di Kastil Borka karena perseteruannya dengan Arjuna kala itu, tak sengaja jati diri William terbongkar. Kini William menjadi buruan orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads," imbuh Red.


"Kak Sia dalam bahaya, Daddy. Ia pasti dianggap berkhianat. Aku ... tak mau mengeksekusi Kak Sia," ucap Jordan gugup.


Antony terlihat panik begitupula Red dan Daniel.


"Minta tolong saja pada Sandara Liu. Minta ia dan timnya mencari kebenaran dari pengkhianatan Sia," sahut Match memberikan usulan.


"Ide bagus. Baiklah. Red, Daniel, jika masih ingin kepala kalian berada di tempatnya, segera temui Sandara dan katakan tentang insiden ini. Hanya saja, ubah skenarionya. Katakan, jika Sia dipaksa menikah dengan William karena CIA mengancam akan menghancurkan keluargaku. Kalian mengerti?" tegas Antony menunjuk dua orang kepercayaannya.


"Yes, Sir!" jawab Daniel dan Red bersamaan disertai anggukan.


Antony terlihat pusing memikirkan hal ini. Jordan menatap Ayahnya dalam diam yang memijat kepalanya dengan mata terpejam.


"Istirahatlah, Daddy," ucap Jordan lembut sembari mengecup kening Ayahnya.


Antony terkejut karena Jordan tak pernah melakukan hal tersebut. Mix and Match sampai terheran-heran. Orang-orang itu pamit keluar agar Antony bisa segera beristirahat.


"Daddy juga menyayangimu, Jordan," ucap Antony lirih dengan senyum tipis terukir di wajahnya.


Mansion Axton, Boston.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Aku tidak mau tahu. Aku akan kembali ke Jerman. Aku tak peduli jika kau akan menjadi seorang Ayah atau apalah, Tuan Axton. Perjanjian kita sudah berakhir," ucap Yuki terlihat siap untuk pergi.


"Kau sungguh akan meninggalkanku?" tanya Sergei terlihat sedih.


Yuki tersenyum tipis mendekati kekasihnya.


"Aku akan datang lagi. Jika merindukanku, pergilah ke Jerman. Jika tidak, tetaplah di sini. Jika aku mendengar atau melihat kau bermain di belakangku, aku tak sungkan untuk mencincangmu, Sergei," ucap Yuki kesal, tapi memberikan sebuah ciuman untuk kekasihnya sebagai salam perpisahan.


"Well. Hati-hati. Aku tak mengantarmu!" teriak Axton yang merasa sedikit kehilangan karena Yuki pergi darinya.


Sergei terlihat sedih saat Yuki masuk ke mobil dan melambaikan tangan padanya. Yuki diantar oleh Black Armys ke Bandara.


Selanjutnya gadis berambut merah muda itu akan terbang ke Jerman, meneruskan tugas penting yang diamanatkan Lysa padanya. Seorang CEO dari perusahaan elektronik LY Solution.

__ADS_1


Tak lama, setelah kepergian Yuki, dua buah mobil SUV hitam masuk ke halaman Mansion Axton dan sebuah sedan Mustang hitam.


Kening Sergei berkerut ketika mendapati orang dalam mobil Mustang adalah Rahul. Sergei menyambut kedatangan para tamu tak diundangnya itu dengan ramah, meski ia yakin jika Rahul akan membuat masalah.


Mereka bicara dalam bahasa India.


"Nandra! Keluar!" teriaknya lantang begitu keluar dari mobilnya.


Sergei terkejut, tapi dugaannya benar. Sergei meminta kepada anak buahnya untuk menahan tembakan dan tetap tenang.


"Mr. Rahul, nice to meet you," ucap Sergei ramah mengajaknya bersalaman, tapi Rahul mengacuhkannya.


Rahul bertolak pinggang melihat sekitar Mansion bahkan meminta anak buahnya untuk berpencar, menyisir sekitar kediaman salah satu anggota 13 Demon Heads.


Sergei mengenali Ace, Shamus dan Rajesh. Sergei langsung memberikan kode dengan tangan kanan ia naikkan ke atas menunjukkan 3 jarinya. Semua orang menghentikan langkah dan menatap Sergei seksama.


Para anak buah Sergei menyingkir dan malah masuk ke pos penjaga, menjauh dari kumpulan anak buah Rahul. Kening Rahul dan orang-orangnya berkerut.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Kau datang ke rumah Tuan Axton tanpa membuat janji. Kau bahkan mengabaikan sambutanku. Aku bukan tipe orang yang suka menebar senyum, Tuan Rahul. Jika kau datang ke sini hanya ingin membuat onar, maka ... aku siap bertemu ayahmu dan mengatakan turut berduka cita atas kematianmu. Akan kubuat seperti kecelakaan bahkan melibatkan polisi," ucap Sergei yang kini menekuk dua jarinya dan tersisa telunjuk saja.


Mata orang-orang Rahul melebar saat mereka menyadari jika tubuh mereka dibidik oleh sinar laser warna merah di beberapa titik dari senjata otomatis yang muncul dari CCTV di halaman mansion Axton.


"Kau ...," geram Rahul.


"CamGun akan melaksanakan tugasnya dengan baik. Sejauh ini tak pernah meleset. Bahkan, milik Tuan Axton generasi terbaru. Sinar laser CamGun sudah menguncimu, Tuan Rahul. Kau berlari kemanapun, CamGun akan mengejarmu. Sebaiknya ... kau pikirkan arah tujuan pelarianmu. Hanya saja, oh! Tak ada tempat berlindung. CamGun terpasang hingga 500 meter di luar gerbang. Jadi ... pulang? Pintu gerbang masih terbuka lebar," ucap Sergei santai menunjuk gerbang hitam Mansion Axton.


Nafas Rahul menderu. Ia menunjuk Sergei penuh kebencian.


"Kita pergi!" perintah Rahul berjalan kembali ke mobilnya dengan penuh emosi.


Sergei tersenyum tipis dan melambaikan tangan saat mobil-mobil tersebut pergi meninggalkan Mansion Axton.


"Kerja bagus, Sergei. Kau kuberikan cuti 1 minggu jika ingin menemui Yuki ke Jerman," ucap Axton tiba-tiba yang suaranya terdengar di semua sambungan radio penjaga Mansion miliknya.


"Sungguh?" jawab Sergei cepat dengan mata berbinar menggenggam erat handy talkie-nya.


"Ya. 3 hari saja."


"Eh, Anda bilang tadi 1 minggu," sahut Sergei memperjelas.


"1 minggu itu 3 hari, Bodoh! Jika tidak mau ya sudah! Aku batalkan!" pekik Axton kesal.


"Baik, baik, saya terima! Terima kasih, Tuan Axton," sahut Sergei cepat sebelum Axton berubah pikiran.


"Dia benar-benar sudah mulai tua. Oh, apakah ... perjanjiannya saat itu dengan Dewa Kematian sungguh terjadi? Tuan Axton pernah mengatakan jika nyawanya akan direnggut, ia akan menjadi tua dan pikun. Apakah hal itu benar ada?" tanya Sergei penasaran.


Namun, Sergei berpikir jika itu hanya omong kosong yang dibuat oleh Axton seolah-olah dia tak bisa mati. Sergei pun mengabaikannya.


 


ILUSTRASI


SOURCE : PINTEREST

__ADS_1


Wayoo jangan lupa vote hadiah poin koinnya ya. Lele mengawasimu🧐


__ADS_2