Secret Mission

Secret Mission
Didikan William


__ADS_3

Kwkwkw maap lele ketiduran dan baru bangun. Capek banget sumpah. Jadi upnya telat. Yg komennya belom dibales sabar, lele udah berdoa sm Allah biar lele aja yang bales jangan Allah yg bales.


Itu aja info dari lele. Jangan lupa vote vocernya. Jangan pelit apalagi kamu2 yg lagi puasa biar berkah sedekah poin koin sama lele jadi ladang pahala ya to. Bikin lele bahagia dpt pahala nak. Lele padamu^^


------- back to Story :


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


Pekikan William membuat semua orang mati penasaran dibuatnya.


"Ada apa, Will? Apa kau tahu sesuatu tentang Sierra?" tanya Sia ikut penasaran.


"Aku ... aku tak begitu yakin, tapi aku ingin memastikannya. Kita harus kembali ke Amerika. Wilmington," jawab William terlihat gugup.


"Wilmington? Ada apa di sana?" tanya Jonathan mendekati William dan menatapnya tajam.


"Aku ... aku dan ibuku pernah bekerja di salah satu rumah. Aku merasa ... wajah Sierra, sangat mirip dengan anak perempuan Nyonya Besar pemilik rumah itu. Hanya saja, jika melihat foto ini, Sierra seharusnya berumur ... seperti Sia mungkin. Sedangkan ... anak dari Nyonya Besar seharusnya sudah berumur sekitar ... hampir 50 tahunan," ucap William menjelaskan meski terlihat ia masih berpikir keras.


"Mungkinkah Sierra cucu dari Nyonya Besar-mu waktu itu?" tanya BinBin ikut menerka.


"Hmm, mungkin. Karena keluarga dari Nyonya Besar semuanya bermata biru dan berambut pirang. Mereka sangat kaya. Aku dan ibuku bekerja di salah satu kediaman mereka di kawasan perumahan elite di sana," jawab William menambahkan.


Senyum Jonathan merekah. Ia tiba-tiba memegang kedua lengan William erat dan memeluknya. William bingung.


"Thank you, Will. Thank you," ucap Jonathan sembari menepuk punggung lelaki bermata biru itu.


William hanya tersenyum tipis dan balas memeluk Jonathan. Sia dan lainnya ikut tersenyum. Jonathan terlihat begitu bahagia karena mendapatkan titik terang.


"Oke, Paman! Kita segera selesaikan mempersenjatai markas dan selanjutnya terbang ke Wilmington!" teriak Jonathan lantang dengan senyum tak meredup di wajahnya.


BinBin dan Black Armys bagian teknis mengangguk paham. Jonathan kembali mendekati William dan Sia dengan hati riang.


"Kalian juga segera selesaikan perekrutan dan pelatihan para anggota baru. Kita akan terbang akhir bulan nanti dan ingat, Will. Kau juga berhutang Jack padaku," ucap Jonathan langsung menunjuknya tegas.


"Hem, i know," jawabnya santai dan Jonathan kembali tersenyum.


Jonathan terlihat begitu bahagia. Ia berjoget-joget di dalam markas yang mirip gorong-gorong sambil bernyanyi.


Sia dan William terkekeh melihat Jonathan menunjukkan kebahagiaannya.


"Aku tak menyangka kau bisa mengingatnya, Will," ucap Sia ikut kagum akan daya ingat suaminya.


"Itu semua berkat gas halusinasi. Sebenarnya, ada banyak ingatan yang kembali, tapi saat itu Roza dan ayahmu hanya menanyai beberapa hal saja. Sisanya, kenangan lama itu tetap melekat di pikiranku. Kuakui, dampak gas halusinasi sangat kuat, Sia. Ia bisa menguntungkan dan merugikan. Dampak negatifnya, itu adalah gas yang sangat efektif untuk melakukan cuci otak. Namun, aku tak menyangka jika kalian, para mafia menggunakannya untuk dampak positif," ucap William panjang lebar.


Sia tersenyum.


"Kami tak seburuk itu, Will. Kami hanya akan berbuat jahat pada orang-orang yang memang pantas dilenyapkan. Selebihnya ya ... seperti ini. Kami tak melakukan hal keji jika tak terpaksa. Kau pikir aku suka melakukan aksi tembak-tembakan, berlari dan kejar-kejaran untuk menghindari peluru atau agar tak tewas terbunuh? Siapa yang mau mati dengan cara mengenaskan seperti itu? Mati dengan peluru bersangkar di tubuh," jawab Sia ikut bicara panjang lebar.


William tersenyum. Ia minta diantar kembali ke kamar untuk bersiap. Sia pamit kepada semua orang untuk melayani sang suami. Jonathan dan lainnya mengangguk.


"Apakah ... ada yang salah dari data CIA yang aku pelajari selama ini? Namun, aku memang menyadari sesuatu jika mereka tak seburuk itu. Dalam berkas, hanya tertulis kejahatan mereka saja, tapi lainnya, tidak. Apakah ... pihak militer sengaja agar orang-orang sepertiku membenci mereka?" tanya William dalam hati dan tak sadar ia sudah berada di kamar.


Sia mengajak William mandi bersama yang dilanjutkan sarapan di kamar. William dan Sia bersiap untuk melakukan pelatihan anggota baru mereka di markas milik Rebecca dulu.


William pamit kepada Jonathan dan timnya yang masih menyelesaikan proses pengamanan markas dengan persenjataan mutakhir dari Vesper Industries.

__ADS_1


"Baiklah, kami pergi dulu. Aku percayakan markas Rio padamu ya. Bye, Jo!" sapa Sia dari balik jendela mobil BMW yang ia buka sembari melambaikan tangan.


Jonathan hanya mengangguk dengan senyum terkembang. Sia dan kelompok mafianya segera melaju kendaraan masing-masing di hari yang mulai menjelang siang.


Markas Red Skull, Krasnodar, Mansion peninggalan Rebecca, Rusia.


Begitu tiba, William dan Sia langsung menyiapkan diri. Olya yang sudah membagi para anggota rekrutan baru, menggiring mereka di Aula untuk berbaris sesuai kelompok.


GIGA SIA sudah melakukan identifikasi dan perekaman data diri para anggota baru Athena serta Blue.


William terlihat sibuk dengan Bykov karena ketua Beruang Hitam tersebut yang nantinya akan membantunya selama masa pelatihan anggota baru.


Mereka bicara dalam bahasa Rusia.


"Baiklah, aku akan menyiapkannya," jawab Bykov lalu pergi meninggalkan Aula.


William mendekati Sia yang berdiri di hadapan rekrutan barunya yang dibuat menjadi 5 orang per kelompok. Olya berdiri bertolak pinggang di samping Sia menunggu instruksi selanjutnya.


"Aku ambil alih dari sini. Terima kasih, Olya," ucap William yang duduk di kursi roda di hadapan para anggota baru.


Olya mengangguk dan menyingkir. Sia penasaran dengan apa yang William akan lakukan.


"Aku melihat fisik kalian lemah. Olya sudah memberikan seragam khusus kepada kalian selama latihan. Kalian akan terus memakai pakaian itu sampai nanti kuputuskan kapan berganti pakaian."


"Hah? Kau gila! Pakaian ini pasti akan bau!" pekik lelaki berambut punk langsung menyahut.


"DIAM! Selama aku menjadi pelatih. Aku hanya ingin mendengar jawaban 'Yes, Sir!'. Tak ada ucapan lain di hadapanku selain kata-kata itu! Jika kalian sampai berucap yang lain, aku pastikan, aku tak akan membiarkan tubuh kalian beristirahat sampai kalian mati karena kelelahan. Apa kalian mengerti?!" ucap William lantang.


"Ye-yes, Sir!"


"YES, SIR!" jawab semua orang langsung tegang seketika.


"Good. Pelatihan pertama. Kalian lakukan pemanasan kecil selama 15 menit. Aku ingin lihat, seperti apa cara kalian merenggangkan otot-otot. Setelah itu, berlari mengelilingi markas sebanyak tiga putaran. Temui aku lagi di sini dan harus lengkap bersama orang-orang dalam kelompok. Kalian pergi bersama, pulang juga bersama. Jika sampai ada yang tertinggal, satu kelompok akan kuhukum. Kalian mengerti?!" tegas William lagi.


"Yes, Sir!" jawab semua anggota rekrutan lantang dengan posisi berdiri sempurna.


Sia dan kelompok mafianya saling berpandangan. Mereka tak menyangka jika William bisa galak juga.


William meminta Olya men-timer selama 15 menit agar anggota baru mereka melakukan pemanasan.


Akhirnya, 20 anggota baru itu melakukan pemanasan sesuai yang mereka ketahui.


William berkerut kening melihat pemanasan mereka karena tak sesuai dengan pelatihan militer yang ia pelajari selama ini, tapi William membiarkannya.


Olya melirik William yang duduk dengan mata terpejam. Sia ikut melirik suaminya yang terlihat serius memindai satu persatu dari anggota kelompok itu entah apa yang dipikirkannya.


"Oke, 15 menit sudah selesai. Berdiri sempurna," ucap Olya sembari mematikan timer di jam tangan digitalnya.


Orang-orang itu kembali berdiri tegak. Terlihat mereka ngos-ngosan dengan apa yang dilakukan. William menunjukkan wajah militer di mana tak ada senyuman di sana.


"Aku pastikan. Saat kakiku sembuh nanti, kalian akan rasakan pukulanku. Kalian benar-benar payah. Lari lalu kembali sesuai kelompok dan berbaris rapi. Cepat!" teriaknya dengan wajah bengis.


Sontak, orang-orang itu langsung berhambur berlari keluar begitu saja. Mereka tak berlari sesuai dengan perintah William secara berkelompok dan beriritan. William terlihat kesal.


"Kenapa? Kau terlihat kesal, Sayang," tanya Sia berdiri di hadapan suaminya dengan senyum tipis.

__ADS_1


"Mereka benar-benar tak mengerti yang kukatakan. Mereka melakukan secara individu tak berkelompok. Padahal saat kita menemukannya, mereka terlihat seperti satu kelompok yang solid. Namun, lihat. Saat senam, mereka melakukan sendiri-sendiri. Padahal si wanita bertato itu ketuanya. Ia tak berinisiatif memberikan komando dan anak buahnya pun egois tak melihat kanan kiri seperti berusaha untuk melakukan gerakan yang sama dengan anggota lainnya. Pemikiran mereka harus dirubah dan ini akan sedikit sulit. Agh, kaki ini sungguh membuatku kesal," gerutu William.


Sia dan lainnya hanya tersenyum mendengar William menggerutu karena rekrutan calon anggota kelompok barunya tak memiliki kerjasama tim seperti yang ia harapkan.


30 menit kemudian.


"Ayo, cepat! Kau lama sekali!" pekik lelaki berambut punk yang telah tiba terlebih dahulu di dekat pintu masuk aula, menunggu anggota kelompoknya yang belum tiba.


William dan lainnya menatap lelaki itu seksama yang marah-marah karena anggota kelompoknya lelet.


William menatapnya tajam ketika kelima orang itu masuk dengan nafas tersengal.


"Sir! Aku mau anggota kelompokku diganti. Mereka lambat dan payah," ucap lelaki berambut punk protes.


"Kau menghina kami? Kau pikir kami tak berusaha keras agar bisa sampai di sini dengan cepat, huh?" balas lelaki bertato mendekatinya dengan emosi.


William hanya diam menatap kelima lelaki itu mulai saling menyalahkan dan pada akhirnya berkelahi.


Saat Olya dan lainnya akan melerai, William membiarkannya. Olya dan lainnya pun menurut, malah ikut menonton.


"Apa tidak apa-apa, Will?" tanya Sia cemas karena para lelaki itu mulai babak belur dan berdarah.


"Aku ingin lihat cara bertarung mereka dan seperti dugaanku. Mereka anak-anak berandalan yang tak memiliki teknik bertarung sama sekali. Mereka bertarung karena amarah dan pikiran dangkal. Ini akan sangat sulit," ucap William lagi yang terlihat pusing.


Sia dan Olya saling melirik. Mereka hanya meringis melihat calon anggota baru mereka memang sangat jauh dari harapan.


Tak lama, anggota lain datang dan pada akhirnya mereka yang melerai para lelaki tersebut.


"Cukup! Berkumpul sesuai dengan kelompok masing-masing!" tegas William dan orang-orang itu pun melakukannya.


Mereka terlihat tegang saat William menatap mereka tajam.


"Kalian semua di hukum."


"Ha? Kenapa? Kami semua datang sesuai dengan kelompok," tanya wanita berambut merah protes.


"Ya benar, tapi tak sesuai dengan kelompok. Kalian masuk hampir bersamaan ke Aula dan melerai perkelahian. Kalian tak mematuhi instruksiku. Keluar! Rendam diri kalian di kolam renang sampai sore! Cepat!" teriak William lantang dan orang-orang itu tertegun.


Terlihat orang-orang itu enggan melakukannya. Olya dan kelompoknya mengeluarkan pistol dari balik pinggang dengan wajah bengis.


Seketika, para rekrutan itu berlari keluar dari Aula dengan tergesa dan menceburkan diri ke dalam kolam dengan pakaian lengkap.


William dan Sia menatap mereka dengan wajah datar di pinggir kolam. William meminta Olya untuk mengawasi mereka dengan anggota Red Skull yang bertugas. Olya mengangguk paham.


"Renungkan ini dan aku tak mau esok terjadi lagi. Ingat, kalian satu tim! Kekompakan adalah hal yang utama," tegas William dari kursi rodanya di hadapan orang-orang yang kini menatapnya tajam.


"Nika, Anya, Edmon, Okb! Kalian aku tunjuk sebagai ketua kelompok dari masing-masing tim. Lalu, dari keempat ketua kelompok, pilih dari seluruh anggota siapa yang akan memimpin pemanasan tiap hari sebelum pelatihan fisik dimulai. Malam nanti, pikirkan seperti apa senam yang akan kalian lakukan. Aku ingin melihatnya besok pagi. Kalian mengerti?!"


"Yes, Sir!" jawab para rekrutan itu serempak dari dalam kolam renang.


William mengangguk dan meminta Sia membawanya pergi dari tempat itu. Olya tersenyum tipis dan diam-diam mengirimkan pesan kepada bosnya, Amanda yang masih berada di Kastil Borka.


Kastil Borka, Kaliningrad, Rusia.


"Hem, William. Boleh juga. Aku mengandalkanmu, Nak," ucap Amanda tersenyum sembari melihat layar ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2