Secret Mission

Secret Mission
Confuse


__ADS_3

William tertidur lelap malam itu dengan Sia disampingnya. Sia tidur memunggungi William. Tiba-tiba ponselnya bergetar. William terbangun dengan mata masih terasa berat. William pun langsung duduk dan mengambil ponsel di meja samping ranjangnya.


Mereka berbicara bahasa Inggris.


"Hallo."


"William kau dimana? Kau mengabaikan tugasmu. Kami sudah selesai dengan Selena. Jemput dia sekarang." Ucap Kepala Agen Rika penuh emosi akan sikap William yang seenaknya.


William menggaruk kepala belakangnya dengan malas.


"Emm.. bisakah aku serahkan dia pada kalian malam ini saja. Aku.. aku lelah." jawab William malas.


"William! Beginikah caramu membalas balas budiku? Kau lupa apa tujuan kita. Datang ke kantor sekarang juga!" teriak Rika geram.


William tertegun. Ia tak pernah mendengar Rika marah sebelumnya. William terdiam. Ia teringat akan jasa-jasa dan kebaikan Rika selama ini. William menoleh ke arah Sia dimana dia masih tertidur dan memunggunginya. William menghembuskan nafas pelan.


"Baik, R. Aku akan segera kesana." jawab William pelan.


KLEK. TUT.. TUT..


William meletakkan ponselnya. Ia segera berdiri dan bersiap. William mendekati Sia dan mencium kepalanya dengan penuh kasih sayang. Ia membelai kepala Sia lembut dan berpaling darinya. Dengan berat hati ia meninggalkan Sia. William pergi menuju markas CIA di Langley, Virginia dengan mobil mustang hitamnya.


Sia membuka matanya, ternyata ia hanya berpura-pura tidur. Sia bangun dari ranjang William dan mengambil pakaian William yang bisa ia kenakan untuk menutupi tubuhnya. Sia sudah bersiap. Ia menelepon Igor untuk menjemputnya disebuah bar 24 jam dekat apartment mewah William. Sia duduk sendirian di bar itu entah apa yang dipikirkannya.


Tak lama Igor pun datang. Sia segera masuk ke mobilnya. Sia diam saja tak bicara. Igor menyenggol lengannya dan mengajaknya bicara dengan bahasa isyarat.


"Itu baju siapa?" tanya Igor.


"Tadi aku ikut sebuah acara yang diselenggarakan disebuah club. Aku kalah jadi sebagai gantinya aku harus memakai pakaian lelaki." jawab Sia tenang.


Igor menangguk sambil mengerucutkan bibirnya.


"Gayamu boleh juga." balasnya.


Sia tersenyum tipis.


"Thank you, Igor." jawab Sia sambil menepuk bahunya.


Igor pun balas tersenyum dan langsung melaju mobilnya kembali ke mansion Rio. Sia kembali terdiam menatap matahari yang hampir terbit dari balik lautan. Akhirnya mereka sampai di mansion Rio hampir menjelang siang. Rio menatap Sia seksama. Dia diam saja, tak ada senyuman seperti biasa. Sia berjalan ke arahnya dengan gugup.


"Kau dari mana?" Tanya Rio curiga dengan bahasa Inggris.


"Aku pergi bersama Bella dan yang lainnya semalam." jawab Sia jujur.

__ADS_1


"Lalu kau kemana? Bella meneleponku dan mengatakan kau tak bersama mereka." ucap Rio menatap Sia tajam.


Sia diam saja, ia panik. Rio mendatangi Sia dengan langkah cepat.


"Agh.. Rio.. Rio.. you hurt me.." rintih Sia karena Rio menjambak rambutnya. Rio menatap Sia tajam.


"Kau sudah berani berbohong padaku. Baju siapa yang kau pakai? William kan? Aku hafal aroma parfum pada pakaianmu itu." ucapnya menatap Sia keji.


Sia mengerutkan keningnya. Ia menahan sakit dikepala dan tangisannya. Igor diam saja. Rio langsung menarik Sia dan membawa masuk ke dalam mansion dengan kasar. Igor mengikuti mereka dari belakang. Sia menangis karena Rio bertindak kasar padanya. Sia dibawa dan masih dijambak rambutnya masuk ke kamar Rio. Ia menutup pintu kamarnya. Igor terdiam dan berdiri di depan pintu kamar Rio.


Sia didorong paksa oleh Rio dan ia jatuh tersungkur di atas ranjang. Sia menangis, ia ketakutan menatap Rio seksama. Rio kembali mendatanginya dan membuka paksa celana kain di kakinya. Sia mencoba melawannya tapi tak bisa. Rio begitu marah. Ia menelanjangi tubuh bagian bawahnya. Sia merapatkan kedua kakinya dan gemetaran.


Rio mendatanginya dan melebarkan paksa kedua kaki Sia, ia menyentuh area sensitifnya. Sia menahan tangisannya. Mata Rio terbelalak. PLAKK! PLAKK! PLAKK! "Agh.. hiks.. hiks.." Sia menangis sedih memegang pipinya yang sakit terkena tamparan kuat Rio. Rio marah besar.


"Dasar jalang! Kau pasti sudah melakukannya dengan William kan? Jujur!" teriak Rio penuh emosi.


Sia menangis terisak. Ia meringkuk di atas ranjang Rio tak menjawab. Saat Rio akan menamparnya kembali, Igor membuka pintunya. Rio tertegun akan kehadirannya. Igor berbicara padanya dengan bahasa isyarat.


"Aku mendapat info dari polisi di Virginia Tengah. Katanya semalam ada mayat lelaki ditemukan dipinggir sungai. Ditemukan pakaian yang sudah rusak dan diidentifikasi milik Sia. Polisi kita sudah mengamankan barang bukti milik Sia agar tak dibawa polisi. Hanya mayat yang akan mereka serahkan ke polisi pusat." ucap Igor serius.


Rio terdiam dan menatap Sia seksama. Sia menangis terisak. Ia menutupi tubuh bagian bawahnya dengan selimut di ranjang Rio.


"Atas kasus apa?" Tanya Rio pada Igor.


"Pemerkosaan." jawab Igor.


"Kau diperkosa? Apa kau baik-baik saja?" Tanya Rio iba dengan bahasa Inggris.


Sia hanya diam saja tertunduk. Tangisannya mulai mereda. Sia berbohong agar dirinya selamat. Sia mengangguk pelan. Rio menahan amarahnya, ia merasa salah paham.


"Sia aku minta maaf telah menamparmu, aku.."


"Leave me alone, Rio, please.." ucap Sia sedih.


Rio menghela nafas pelan.


"Oke. Jika kau butuh apa-apa panggil saja. Aku ada dibawah." Ucap Rio lirih.


Sia mengangguk dalam diamnya. Rio dan Igor pun keluar dari kamar Rio dan membiarkan Sia beristirahat. Sia menghapus air matanya. Ia menenangkan dirinya dan mengatur nafasnya. Ia merebahkan badannya di ranjang Rio menatap ke jendela.


"What should i do?" Ucap Sia lirih.


***

__ADS_1


Di ruang tengah, terlihat dua orang polisi berdiri di depan Rio yang duduk di sofanya dengan Igor berdiri disampingnya. Rio memberikan isyarat pada Igor untuk mendekati 2 polisi itu. Igor pun mendatangi mereka dan meminta barang bukti yang diidentifikasi milik Sia. Igor memberikan pada Rio. Ada ponsel milik Sia juga. Rio mengecek panggilan terkhirnya dan ada nama William disana. Rio curiga.


Rio memberi kode lagi pada Igor untuk memberikan sejumlah uang kepada 2 polisi korup itu atas jasanya. Mereka pun pergi dengan senyum lebar. Rio kembali berbahasa isyarat pada Igor.


"Aku cukup yakin pakaian yang dikenakan Sia adalah milik William, tapi dimana William sekarang? Cari tahu siapa dia dan apa keterlibatan dia dengan dua penjahat itu. Aku sudah lama mencurigai bahwa William adalah seorang mata-mata pemerintah tapi aku tak pernah menemukan bukti keterlibatannya." ucap Rio pada Igor.


Igor mengangguk paham, ia pun segera pergi melaksanakan perintah Rio.


***


Di markas CIA, Langely, Virginia, William berada di kantor Rika ditemani Catherine dan Jack. Rika marah besar pada William atas aksinya.


"Kau bahkan mengurusi penjahat jalanan ya? Sepertinya kau punya pekerjaan sambilan sekarang. Mereka berdua tak ada hubungannya dalam penyelidikanmu, William. Kau benar-benar sudah mengabaikan tugas utamamu karena gadis bernama Sia itu. Tinggalkan dia, atau.. kupecat kau sekarang juga." Ucap Rika geram.


William tersentak. Ia tertegun dengan ucapan Rika, bahkan Rika tak berkedip sedikitpun padanya. William bingung, ia sudah berjanji pada Sia untuk melindunginya dan selalu bersamanya. Ia menoleh pada Catherine dan Jack. Mereka berdua hanya diam tertunduk tak bisa berbuat banyak. Mereka tak mau ikut disalahkan.


"Kita masih membutuhkan Sia untuk menyelidiki kasus Julius." ucap William mencoba membantah.


"Tak perlu. Kita sudah punya Selena. Dia mau bekerjasama dengan kita. Selena lebih berguna ketimbang gadis merepotkan itu. Harusnya kau senang, katamu gadis itu sangat merepotkan." ucap Rika menyindir.


William diam, ia berfikir keras. Ia kini menatap Rika tajam.


"Aku akan mengajak Sia bekerjasama membongkar kejahatan Julius. Jika dia setuju, apakah kau akan melepaskan dia, Rika?" tanya William serius.


Rika, Catherine dan Jack saling memandang heran.


"Maksudmu.. kau akan jujur pada Sia bahwa kau seorang agent CIA? Wow.. apa yang membuatmu yakin bahwa dia mau melakukannya? Apa Sia tega memenjarakan ayah dan kakaknya? Ku kira Sia tak senaif itu William." ucap Rika terkekeh mendengar ide William.


"Ahh aku tahu, aku bisa melihatnya. William mencintai gadis itu." ucap Catherine tajam.


William tertegun.


"What? Tidak mungkin. Dia itu gadis mafia, musuh kita, kau tak mungkin menghianati kami karena gadis itu kan, William?" tanya Jack dengan polosnya.


Kini semua orang menatap William tajam.


"Aku mencintai Sia? Benarkah begitu?" ucap William dalam hatinya.


------


~Hai hai.. Lele kini menyapa disini. Oia visual Selena ada di episode "Funeral" yaa.. jadi udh bisa diintip.


Dan mohon maaf sebelumnya. Ini adalah episode terakhir yang lele publish disini karena akan dicetak bukunya. 4 episode terakhir hanya bisa dibaca di novel yang tercetak nanti. Karena memang begitulah syarat dari publishernya. Jadi kalau kalian ingin tau gimana kisah selanjutnya dan bagaimana endingnya bisa nanti beli novelnya ya. Hehe..

__ADS_1


Tapi jangan kawatir, sebagai bacaan pengganti Lele udh siapin 1 novel baru berjudul SIMULATION sembari nunggu Vesper up tgl 1 Desember nanti. Untuk cerita detailnya lele udh share di Vesper cuma belum up tuh pengumuman dari lele jadi tunggu aja ya.


Terima kasih atas dukungan para reader semuanya selama ini. Selamat hari libur dan met beraktifitas yaa~


__ADS_2