Secret Mission

Secret Mission
Lost Her


__ADS_3

William mempercayakan Shamus untuk melumpuhkan lelaki berbadan besar yang tadi hampir saja membunuhnya.


Agent muda bermata biru itu berlari kencang saat mendengar suara ramai orang-orang di sisi barat bangunan.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"William! Pergerakan besar-besar di sisi barat bangunan! Denzel akan kabur, aku tak bisa membidiknya! Terlalu banyak penghalang," lapor Ace dari tempatnya berada.


"Serahkan padaku!" jawab William sambil terus berlari lalu menyiagakan senjata.


Ia melihat dari balik tembok banyak lelaki bergerombol melindungi seorang lelaki. Mata William melebar di balik kacamatanya.


KLANG!!


BUZZ!!


"Uhuk! Uhuk!"


Anak buah Denzel batuk-batuk karena asap pekat menyembur dari kaleng gas, menyeruak di sekeliling mereka.


William segera mengenakan masker penutup mulut dan mengaktifkan fiture di jam tangannya.


Seketika, kacamata bening yang William pakai berubah fungsi menjadi kacamata detektor sensor panas. Senyum William merekah.


Ia menembaki orang-orang yang tertutupi asap dengan tetap bersembunyi di tempatnya berada di balik dinding.


Saat ia sedang fokus menembak, ia melihat sebuah mobil datang ke kumpulan orang-orang itu.


Beberapa orang masuk ke dalam mobil. William panik, ia segera mengeluarkan pengendali jarak jauh mobil Mustang.


Mobil modifikasi karya Jonathan segera melaju keluar melewati jalan yang sama seperti saat masuk tadi. William mencoba mencegat mobil Denzel.


Sebuah layar kecil pada pengendali membantu William melihat kemana arah tujuan mobil Mustang tersebut.


"William, alat apa itu?" tanya Yes yang mengejutkan Agent muda itu karena baru menyadari jika kacamata khususnya masih terpasang.


William tak lagi bisa berbohong.


"Salah satu teknologi milik 13 Demon Heads yang berhasil aku curi, Yes," jawab William berbohong.


"Wow, Will! Bawa mobil itu pulang! Aku ingin melihat cara kerjanya secara langsung," sahut Jack tiba-tiba ikut bicara.


William tertegun dan terpaksa menyanggupi. William kembali fokus pada pergerakan Mustang miliknya.


Hingga akhirnya, ia melihat sebuah mobil hitam yang ditumpangi oleh Denzel mencoba kabur.


"Jangan harap kau bisa kabur, Denzel. Boom," ucap William dengan sorot mata tajam menekan tombol merah dan sebuah misil yang meluncur dari balik grilles.


SWOOSH!!


BLUARRR!


Orang-orang di markas CIA terkejut melihat kemampuan mobil buatan 13 Demon Heads tersebut.


Mereka makin waspada dan mulai saling berbisik untuk membahas gerakan antisipasi serangan kelompok mafia tersebut.


Yes melirik ke para petinggi CIA yang ingin melihat serangan langsung dari kacamata khusus William. Mereka juga penasaran dengan sosok Denzel.


Siaran itu juga diteruskan ke para pejabat tinggi Pemerintah termasuk Menteri Pertahanan Amerika Serikat di kantornya.


Mata semua orang terfokus pada layar monitor besar di hadapan mereka. Ketegangan begitu terasa di semua tempat yang terhubung dengan siaran penyerangan langsung malam itu.


William segera berlari ke arah mobil Denzel yang terbakar hebat. Ia menyiagakan pistolnya lagi di mana asap pekat mulai memudar terkena tiupan angin.


"Hah, uhuk! Uhuk!"


William terkejut melihat seorang lelaki keluar dari mobil dengan batuk-batuk dan darah di kepalanya. William segera mengarahkan pistolnya.

__ADS_1


"Denzel! Angkat tangan! Kau sudah terkepung! Menyerahlah!" teriak William tegas dan berjalan perlahan mendekatinya.


Denzel berdiri dengan nafas tersengal menatap William tajam. Namun, Denzel malah duduk di sebuah batu pinggir kolam ikan di dekatnya.


William terus berjalan mendekatinya saat Denzel malah tersenyum sembari mengelap luka di wajah dengan sapu tangan di kantong jas bagian depan.


"Ternyata kau biang keroknya, William. Aku kira orang-orang dari 13 Demon Heads. Kau ... membohongiku. Kau bukan lelaki yang bisa dipercaya dan dipegang dari ucapannya," kekehnya dengan gelengan kepala.


Jantung William berdebar. Ia tahu jika ucapan Denzel di dengar oleh orang-orang di CIA. Muncul kekhawatiran di hatinya.


"KITA MEMILIKI KESEPAKATAN, WILLIAM! BUKAN AKU YANG KAU BUNUH, TAPI 5 ORANG ITU! ORANG-ORANG 13 DEMON HEADS!" teriak Denzel penuh emosi.


Para petinggi CIA terkejut mendengar ucapan Denzel, William menelan ludah.


"Aku tak menerima kesepakatan dengan penjahat, Denzel. Menyerahlah, kau tak bisa melarikan diri. Berani kau kabur, aku tak segan menembakmu," ucap William mengancam dan mendekatinya perlahan.


"Adakah yang sudah kau bunuh?" tanya Denzel terlihat santai meski ia ditodongkan pistol.


William diam tak menjawab. Kening Denzel berkerut, ia menunjuk William.


"Kau memakai cincin. Kau menikah? Dengan siapa? Oh, gadis itu? Anak Boleslav? Kau menikah dengan Sia?" tanya Denzel menebak dengan mata membulat penuh.


William masih diam meski ia terlihat gugup. Denzel tertawa senang sampai batuk-batuk.


"Ace, Shamus?" panggil William lirih dari sambungan radionya.


"Aku sudah membidiknya, Will," jawab Ace entah ia berada di mana.


"Aku sudah berada di belakang mobil Mustang-mu, Will. Peluruku cukup untuk menembaknya jika ia berani kabur," jawab Shamus.


William merasa lega karena kawan-kawannya sudah siap membantunya.


"Aku hitung sampai tiga! Angkat kedua tanganmu, Denzel. Kau bisa menceritakan semua kejahatanmu di penjara nanti," ucap William tegas.


Namun, Danzel terlihat enggan.


"Sia! Aku meminta William untuk membunuh Boleslav bahkan orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads! Dia menyanggupinya! Sebagai gantinya, kuberikan kemewahan untuknya!" teriak Danzel lantang.


BRUK!


Mata semua orang melebar. Mereka terkejut melihat Denzel tewas dengan peluru bersangkar di dahi, leher dan dadanya yang ternyata tak memakai baju anti peluru seperti anak buahnya.


"Will?" panggil Yes dari radio.


"Bukan aku yang menembaknya. Ace? Shamus?" sahut William cepat dan segera menanyakan dua orang rekannya.


"Bukan aku, Will," sahut Ace.


Shamus keluar dari persembunyiannya dan mengangkat tangan sambil menggelengkan kepala. Semua orang terlihat bingung.


Hingga tiba-tiba, sebuah helikopter terlihat dari balik sebuah bangunan. Mata William melebar ketika melihat Sia berdiri di pintu helikopter. Ia berpegangan kuat dan menatap suaminya tajam dengan wajah dingin.


"Kau ingin membunuh Daddy-ku dan orang-orangnya? Apa membunuh Rahul tak cukup buatmu, William?!" pekik Sia lantang dengan air mata berlinang.


William tertegun dan berdiri mematung dengan kepala mendongak melihat Sia menatapnya terlihat kecewa.


"Will? Aku sudah membidiknya," ucap Ace.


"Tembak dia," perintah Yes.


"NO!" teriak William lantang.


DOR!


"Sia!" teriak William saat melihat Sia memegangi dadanya dan langsung roboh di lantai helikopter.


"ACE!! APA YANG KAU LAKUKAN?!" pekik William lantang dengan kepanikan menerjang jiwanya.

__ADS_1


Semua orang terkejut. Tiba-tiba, muncul para anggota SWAT dari dalam kediaman Denzel. Mereka mulai menembaki helikopter yang ditumpangi Sia.


William panik dan kebingungan. Namun, para anggota SWAT itu terkejut saat melihat Sia bangun dan menenteng sebuah senjata besar siap ditembakkan. Mata William dan semua orang terbelalak lebar.


DUK! DUK! DUK!


PIPIPIPIPI!


"ACE!" teriak Shamus lantang.


BLUARRR! DOOM! DOOM! DOOM!


William dan seluruh orang-orang di sekitarnya berlari menghindar. Ledakan besar meruntuhkan bangunan empat lantai itu hingga puing-puingnya terlontar, mengenai semua orang dan benda-benda di sekelilingnya.


Getaran hebat bak gempa bumi, praktis membuat beberapa area mengalami pemadaman listrik.


Orang-orang yang melihat tayangan tersebut dibuat tercengang dengan apa yang mereka saksikan barusan.


Sia menurunkan senjata DOMINO dengan wajah datar. Sia melepaskan cincin di jari manis dengan giginya.


William yang berada paling jauh dari bangunan, tak terluka parah. Ia tengkurap di tanah meski tubuhnya tertindih puing, tapi tak membunuhnya. William perlahan mendongakkan kepala.


Pandangannya kabur, telinganya berdengung dan kepalanya pusing. Namun, ia bisa melihat Sia melemparkan sesuatu dari mulutnya.


Helikopter yang ditumpangi Sia terbang menjauh. William panik dan berusaha memanggil isterinya, tapi suaranya serak tak bisa berteriak.


Shamus yang selamat dari ledakan dan runtuhan puing karena terlindungi mobil William segera mendatanginya.


Ia mengangkat puing yang menghimpit tubuhnya. William merintih kesakitan karena merasa jika kakinya patah. Shamus lega karena William baik-baik saja.


Namun, para anggota SWAT banyak yang tewas terkena ledakan dan reruntuhan puing. William melepaskan kacamatanya dan tertunduk.


Shamus melihat William menangis meski tak bersuara. Shamus iba dan memeluknya. William akhirnya mengeluarkan suara isak tangis karena isterinya pergi meninggalkannya.


"Will," panggil seseorang di belakangnya.


William membalik tubuhnya dan mendapati Ace berjalan ke arahnya dengan luka di beberapa bagian tubuhnya dan kaki pincang.


"You, hah, you!" teriak William lantang menunjuknya.


William merayap di tanah mendekati Ace yang terlihat seperti merasa bersalah karena menembak isterinya.


William mendatanginya dengan nafas menderu. Ace meletakkan senjatanya di atas tanah dengan wajah sedih dan bersimpuh.


GRAB!


"Kau, hah! Apa kau ditugaskan untuk membunuh isteriku? Hah? Katakan padaku, Ace!" teriak William lantang dengan nafas tersengal dan mata melotot lebar, mencengkeram rompi anti peluru Agent MI-6 tersebut.


Ace diam saja, tapi menganggukkan kepala.


"Keparat!"


BUKK! BUKK! BUKK!


"WILLIAM!" panggil Shamus yang langsung berlari ke arahnya.


Ace berusaha menahan pukulan William di seluruh tubuhnya meski pukulannya tak beraturan karena dipenuhi kebencian dan amarah.


Shamus segera mendekap William dari belakang yang dilanda kesedihan dan kekecewaan mendalam. Ace kembali berdiri dan berpaling pergi darinya.


William menatap Ace tajam seakan belum puas melampiaskan kemarahannya. Shamus tetap memeluknya erat mencoba menenangkan kawannya itu.


"Will," panggil Shamus lagi sembari memberikan sebuah cincin pada William dengan wajah sendu.


Mata William melebar ketika melihat cincin pernikahan yang Sia kenakan telah terlepas dari jarinya.


William baru menyadari jika benda yang Sia lemparkan dari atas helikopter adalah cincin pernikahan mereka.

__ADS_1


William menangis dan menggenggam cincin itu erat. Shamus merasa kasihan pada William yang berada di posisi sulit.


Shamus hanya bisa memeluk kawannya itu dan tetap berada di sampingnya sampai William kembali kuat untuk menyelesaikan misinya.


__ADS_2