Secret Mission

Secret Mission
Desakan Vesper


__ADS_3

Vesper mengajak Sia duduk bersama di depan aquarium ikan Piranha paman BinBin sebagai pemandangan. Entah kenapa Sia merasa tegang dengan obrolannya nanti.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Katakan padaku sejujurnya yang kau ketahui soal William, Sia," ucap Vesper tenang dengan pandangan lurus ke aquarium.


Sia diam sejenak. Saat ia akan bicara, ia kaget ketika mendapati mata Vesper menatapnya tajam. Jantung Sia berdebar kencang.


"Aku akan tahu saat kau berbohong. Mungkin kau bisa membohongi banyak orang, tapi tidak denganku. Katakan sejujurnya dan akan kuputuskan nantinya. Aku akan menolongmu atau ikut menyalahkanmu," ucap Vesper menatapnya tanpa berkedip.


Sia seperti orang kesulitan bernafas. Matanya sangat sulit untuk terlepas dari tangkapan mata Vesper. Sia mengangguk cepat terlihat gugup. Vesper menatap Sia seksama.


Akhirnya, Sia menceritakan kisahnya saat pertama kali bertemu William. Ketika ia masih tinggal bersama ayahnya Julius Adam dan Rio.


Sia juga bercerita saat ia akhirnya mengetahui jika William agent CIA. Ia juga sadar jika William memanfaatkannya untuk melenyapkan keluarganya.


Terlihat Sia seperti tertekan dalam bercerita. Vesper menatap Sia seksama bahkan matanya terfokus pada wajah Sia seorang seperti mencari sesuatu dalam tiap katanya.


"Jadi, kau sudah bertemu orang-orang CIA itu?" tanya Vesper pada akhirnya setelah Sia merampungkan ceritanya hingga ia kini diminta menggantikan Boleslav sebagai anggota dewan hampir 1 jam lamanya.


Sia mengangguk pelan dengan wajah tertunduk.


"Kau gadis pemberani, Sia. Kau sudah terbiasa hidup dalam tekanan selama ini. Kau bahkan tahu jika di mobil Mustang William ada senjata di jok mobil belakang. Sebenarnya, instingmu sudah sangat kuat. Kenapa kau tak bisa menyadari jika William itu seorang agent?" tanya Vesper heran.


"Karena semua mobil milik ayahku dan Rio memiliki senjata di jok belakang. Salah satu bisnis ayahku dulu adalah pengedar senjata ilegal termasuk narkoba dan ganja. Ia menyimpannya di dudukan itu. Saat itu, aku tak ingat jika itu mobil William. Aku spontan saja melakukannya dan ternyata ada senjata di dalamnya," jawab Sia cepat bahkan hampir tak berjeda.


Vesper diam sejenak.


"Mustang yang dikendarai William dulu sama seperti Mustang yang dimodifikasi Jonathan?" tanya Vesper memastikan dan Sia mengangguk.


"Seingatku, ya," jawab Sia lugu.


"Apa kau tahu siapa yang melakukan modifikasi pada mobil Mustang William?" tanya Vesper lagi.


Sia mengangguk. Vesper menyipitkan mata.


"Jack. Ia orang CIA. Oleh karena itu, saat mobil Jonathan dibawa, aku berpikir jika Jack sebenarnya bukan ingin mencuri teknologinya. Sebelum Jonathan, Jack sudah melakukan modifikasi lebih dahulu. Mungkin bisa dibilang seperti ...."


"Membandingkan," potong Vesper tiba-tiba. Sia mengangguk setuju.

__ADS_1


Vesper mengangguk paham. Sia menatap Vesper seksama yang terlihat seperti memikirkan sesuatu.


Entah kenapa bagi Sia, bicara dengan Vesper lebih menenangkan ketimbang dengan ibu dan ayah tirinya, Boleslav.


Ia merasa Vesper seperti mengerti kesulitannya bahkan bisa menebak jalan pikirannya. Tanpa disadari, Sia menaruh kagum pada sosok Vesper.


"Sia dengar. Aku akan bicara suatu hal yang mungkin tak akan kau sukai. Tapi, aku tipe orang yang realistis. Aku sudah mendengar sedikit ceritamu dari Lopez, Brian dan ibumu, Amanda. Namun, cerita mereka tak sedetail dirimu. Mungkin, kau sendiri juga menyembunyikan kisahmu dari mereka," ucap Vesper memegang punggung tangan Sia lembut.


Sia merasa rahasianya terbongkar selama ini. Sia tak bisa bicara dan diam. Vesper tersenyum karena merasa tebakannya benar.


"Katakan padaku. Apa mimpi terbesarmu?"


Sia makin gugup. Ia tak yakin mengatakannya. Ia takut mengecewakan keluarganya lagi.


Vesper meraih tangan Sia dan menggenggamnya, menatap wajah gadis cantik itu lekat dengan senyuman. Jantung Sia berdebar.


"Kau ... ingin hidup bersama William. Kau ... ingin terbebas dari belenggu keluarga mafia. Kau ... ingin William juga terbebas dari belenggu CIA. Apa tebakanku benar?"


Sia berlinang air mata. Ia spontan meneteskan air mata dan mengangguk. Vesper tersenyum dan mengelus kepalanya lembut.


"Oh, Sayang. Harapanmu sungguh mulia. Hanya saja ... itu akan sangat sulit, Sayang. Banyak yang harus dikorbankan dan dikecewakan," ucap Vesper memeluk Sia dan gadis cantik itu menangis dalam pelukan Vesper.


"Kau ... hiks, bagaimana kau bisa mengetahui semua itu, Nyonya Vesper?" tanya Sia masih menangis dalam pelukan Vesper.


Sia menatap wajah Vesper seksama yang masih tersenyum manis padanya sembari menghapus air mata yang menetes di kedua pipinya.


"William mencintaimu. Kau harus percaya hal itu, Sia. William, satu-satunya yang bisa membawamu keluar. Namun, kau harus membantunya. Aku tahu kau tertekan karena tak ingin mengecewakan keluargamu. Jadi ... kau ingin mendengar nasehat gilaku?" tanya Vesper menaikkan salah satu alisnya.


Sia mengangguk cepat terlihat tak sabar. Vesper berbisik di telinga Sia dan terlihat gadis cantik itu sudah bisa menghentikan air mata.


Ia terlihat fokus mendengarkan apa yang dikatakan Vesper. Entah apa yang Vesper katakan, Sia terlihat berulang kali menelan ludah dan matanya melebar.


"Haruskah?" tanya Sia terlihat panik ketika Vesper telah selesai mengatakan semua isi pikirannya.


Vesper mengangguk.


"Keputusan ada di tanganmu. Mantabkan hatimu. William atau keluarga. Sekali kau pilih William, jangan mundur lagi, apapun yang terjadi. Meskipun keluargamu akan membencimu atau bahkan mencapmu sebagai penghianat," jawab Vesper tegas.


Sia terlihat tegang.

__ADS_1


"Jika kau memilih keluarga mafiamu, lupakan William. Bunuh dia, selesaikan semua. Biarkan kematian menjadi penyesalan terbesar dalam hidupmu karena kau membunuh lelaki yang sangat kau cintai. Mungkin, kau tak akan pernah bisa mencintai lelaki lain seperti saat kau mencintai William," imbuh Vesper menatapnya tajam.


Sia terlihat shock dan tertekan. Mata Vesper menyorot wajah Sia tajam yang terlihat kebingungan bahkan nafasnya sampai tersengal.


"Namun, aku pastikan satu hal. Kau memilih William, para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads tak akan mengusik hidup kalian. Hanya saja, kalian bagaikan yatim piatu di dunia ini. Tak memiliki saudara, tak memiliki kerabat. Ketika kalian mengalami musibah, kalian harus menghadapinya berdua tanpa melibatkan keluarga mafiamu lagi. Kau akan hidup diantara orang-orang sipil dan hidup layaknya mereka," sambung Vesper menegaskan.


Sia terdiam dan memejamkan matanya rapat.


"Pilihlah Sia. Kau harus memutuskannya sekarang. William atau keluarga mafiamu? Dan aku berjanji akan merahasiakan semua sampai saatnya tiba untuk diceritakan," ucap Vesper mendesak.


Nafas Sia menderu. Vesper menatapnya tajam tanpa berkedip. Ia melihat Sia sungguh-sungguh memeras otak dan hatinya untuk membuat keputusan ini.


Tak lama, Sia membuka matanya. Ia terlihat yakin dengan keputusannya.


"William. AKu memilih William," jawabnya mantab menatap Vesper tajam.


Vesper tersenyum tipis dan mengangguk.


"Baiklah. Kalau begitu, kau harus bersiap. Kau tahu apa yang harus dilakukan. Selesaikan dan hiduplah bahagia nantinya bersama William," ucap Vesper sembari mengelus pipinya lembut.


Sia mengangguk.


"Better?" tanya Vesper memandanginya lekat.


"Yah," jawabnya dengan senyum merekah.


Vesper tersenyum lebar.


"Ingat, Sia. Saat kau ragu dengan yang kau lakukan, ingat janjimu. Ingat janji pernikahanmu dengan William dan pembicaraan kita hari ini. Hal ini akan menjadi momen terbesar dalam perubahan di hidupmu. Kau, hanya kau yang bisa mengubah nasibmu. Kau, sudah memantabkan hatimu. Dalam tiap keputusan, memang harus ada hati yang dikecewakan, meskipun itu keluargamu," ucap Vesper serius dan Sia mengangguk.


"Meninggalkan mereka nantinya, bukan berarti kau tak menyayangi keluargamu. Kau meninggalkan mereka karena mereka harus tahu jika inilah keputusanmu. Mereka harus menghormati keputusanmu meski sangat menyakitkan. Perbedaan dalam pilihan hidup memang menjadikan perselisihan," ucap Vesper sembari berdiri.


Sia mendongak melihat Vesper yang terlihat begitu tenang dalam bersikap. Sia ikut berdiri dan masih menatapnya lekat.


Vesper menoleh dan menggandengan tangannya. Ia mengajak Sia berjalan masuk ke dalam Kastil.


Entah kenapa, Sia merasa senang bisa bicara dengan Vesper. Ia juga merasa lega karena Vesper mendukung keputusannya. Sia tak menyangka.


Padahal Vesper adalah seorang mafia bahkan ia Ratunya. Vesper juga menjabat sebagai Ketua 13 Demon Heads.

__ADS_1


Namun, pemikiran Vesper ternyata terbuka dan bisa memahami kesulitannya. Seakan tak berpihak pada kelompok mafianya.


Senyum Sia terkembang. Ia merasakan angin kebebasan berhembus menerpa tubuhnya. Ia kini siap untuk melakukan apa yang Vesper katakan padanya. Ia ingin bisa hidup bahagia bersama William nantinya.


__ADS_2