Secret Mission

Secret Mission
Finally, America


__ADS_3

Selama penerbangan, Sia sungguh tidur. William dan orang-orang dari CIA tak mengerti dengan sikap Sia yang terlihat masa bodoh bahkan seperti tak merasa terintimidasi dengan ancaman dan tekanan yang diberikan Liev padanya.


Berbeda seperti saat Liev berbicara padanya kemarin, Sia terlihat tertekan. Namun, perubahan dari diri Sia saat ini menimbulkan kekhawatiran Liev jika Sia akan melakukan pemberontakan sewaktu-waktu dalam misinya.


Mereka bicara dalam bahasa Rusia.


"William. Tugasmu untuk memastikan jika Sia tetap pada tujuan kita," ucap Liev menunjuk kawan satu agensi di depannya.


"Tak usah mengatur kekasihku, Agent Liev. Urus saja dirimu sendiri. Aku tahu, tangan kirimu itu palsu. Kau kehilangannya saat mencoba menyusup ke Kastil Borka saat itu. Aku ingat semuanya," ucap Sia tiba-tiba dengan bahasa Rusia dengan mata terpejam seperti orang tidur.


Praktis, semua orang terkejut akan ucapan Sia yang tiba-tiba dan mulai membuka matanya perlahan. Jantung William berdebar kencang, ia semakin yakin jika Sia berubah.


Tiba-tiba, Sia mengeluarkan ponselnya seperti menghubungi seseorang, masih dalam posisi merebahkan diri seperti orang tidur.


"Apa yang kau lakukan?!" pekik Liev panik.


"Hanya menyalakan kembali ponselku," jawab Sia santai.


Mata semua orang melotot seketika saat Sia menyeringai. Namun, Sia terlihat santai ketika ia kembali mematikan ponselnya.


"Yah, kurasa cukup menyalakannya dalam waktu 1 menit. Jika kau berani macam-macam denganku ataupun William, aku tak sungkan untuk terus menyalakan ponselku. Aku yakin, jika kini sinyalku sudah ditangkap oleh satelit 13 Demon Heads. Mungkin, kau ingin merubah lajur pendaratan karena aku cukup yakin saat kita tiba di hanggar, orang-orang ayahku sudah menunggu kita di sana," ucap Sia tersenyum licik.


"Hubungi pilot segera!" teriak Liev lantang dan salah seorang lelaki berpakaian hitam segera bergegas menuju ke kokpit pesawat.


Jantung William berdetak kencang melihat sikap Sia yang tak pernah ia lihat sebelumnya.


"Dia berubah, apa yang terjadi pada Sia?" tanya William dalam hati melihat kekasihnya kembali memejamkan mata seperti orang tertidur.


Akhirnya, mereka mendarat di tempat lain, tak ke Virginia, melainkan ke New York. Saat Liev akan memborgol Sia, wanita cantik itu langsung berdiri dan merapatkan tubuhnya ke hadapan Agent tersebut dengan sorot mata tajam.


Semua orang langsung mengarahkan moncong pistol ke tubuh Sia, William panik.


"Aku terluka sedikit saja, aku pastikan, kalian akan kembali ke CIA dalam potongan tubuh. Daddy-ku bukan tipe lelaki yang setengah-setengah dalam menghukum seseorang. Kalian bisa hidup sampai sekarang bukan karena 13 Demon Heads takut, tapi ... mereka sedang memikirkan ... bagaimana memberikan penyiksaan mengerikan pada kalian semua, hehehe," kekeh Sia tepat di wajah Liev.


Nafas Liev menderu. Ia tak menyangka jika kini Sia malah berbalik mengancamnya.


"Apa kau sengaja menyerahkan diri?" tanya Liev tajam.


"No. Aku penasaran saja, apa yang bisa kulakukan dengan jati diriku sekarang. Aku memilih keluar dari kehidupan mafia agar bisa menjadi orang normal, tapi ... kalian mempersulitnya. Kalian mengajak kerjasama denganku dengan alasan negara dan orang-orang tak bersalah terluka. Kau pikir ... jika kau bekerja untuk CIA, lantas ... kau bukan seorang pendosa, Agent Liev? Berapa banyak orang yang kau bunuh?" tanya Sia tajam.


"Aku membunuh para penjahat," jawabnya tegas.

__ADS_1


"Bahkan seorang penjahat pun memiliki keluarga, Agent Liev. Isteri, anak, orang tua, bahkan kakak atau mungkin adik. Kau ... meninggalkan kesedihan di hati keluarga yang ditinggalkan. Kau dan agensimu meninggalkan duka dan luka mendalam. Kalian membuat dendam tak berkesudahan seperti rantai. Kau membuat orang baik menjadi jahat. Orang jahat menjadi seorang psikopat. Dan kini, yang kau lakukan padaku, makin membuat juntai rantai itu memanjang. Kita akan lihat, di mana ujung dari rantai besi itu," ucap Sia keji bahkan hampir tak berkedip.


"Borgol dia dan penjarakan! Kita tak akan bekerjasama dengan Sia!" teriak Liev lantang terlihat begitu marah.


"Hahahaha!" tawa Sia terlihat begitu puas melihat Liev tersulut emosi.


Jantung William terasa berhenti berdetak seketika. Ia tak bisa melakukan apapun ketika kedua tangan Sia diborgol dan di seret keluar dari pesawat.


Namun, Sia tak berhenti tertawa sampai keluar dari pesawat. Bahkan, saat ia akan dimasukkan dalam mobil, ia sengaja melepaskan wig-nya yang sudah ia buat longgar ketika terbangun dari tidurnya saat mendengar Liev berbicara pada William.


Mata semua orang terbelalak ketika Sia mendongakkan wajahnya ke atas langit dengan senyum licik. Liev kesal bukan main. Ia mendorong Sia paksa masuk ke dalam mobil.


"Kau! Yes tidak akan senang dengan hal ini, William," geram Liev menunjuk kawan Agent-nya itu dengan geram.


William dimasukkan paksa ke dalam mobil dan ikut dijaga ketat oleh beberapa lelaki berpakaian hitam bersenjata.


Nafas William menderu, ia merasa jika ikut dihukum karena hal ini. William memejamkan mata, berpikir keras untuk menyelamatkan Sia yang akan di penjara dan menjadi salah satu tahanan militer.


Selama perjalanan menuju salah satu tempat di kota New York, terlihat William tak tenang. Para lelaki menatap William tajam yang ikut diborgol seperti seorang tahanan.


Hingga pandangan William tertuju pada sebuah Apartement mewah di mana ia dulu pernah mengantarkan Rahul ke sana.


Mobil yang bergerak dengan terburu-buru segera meninggalkan New York menuju ke Philadelphia.


William berasumsi jika Liev memilih menggunakan mobil untuk membawa Sia ke Virginia dengan jalur darat.


Lima mobil SUV hitam melaju kencang, beriritan membelah aspal di malam hari. Terlihat, mobil yang dikendarai Sia baik-baik saja.


Sepertinya usaha Sia agar dirinya terlacak oleh sistem dari satelit 13 Demon Heads tidak berhasil.


Liev kembali menunjukkan seringainya di mana ia duduk berseberangan dengan anak dari Amanda.


"Kau hanya menggertak, Gadis nakal. Usahamu gagal membawa kelompok mafia-mu untuk menyelamatkanmu," ucap Liev menatapnya tajam.


"Namun, kau terlihat cukup kerepotan, Agent Liev. Aku sungguh terhibur dengan kepanikanmu saat di pesawat. Seharusnya kau lihat wajahmu yang jelek, hehehe."


PLAK!!


"Bit*ch," ucapnya geram dengan tamparan kuat di salah satu pipinya.


Nafas Sia menderu. Sudah sejak lama ia tak diperlakukan kasar oleh seorang lelaki. Sia berusaha untuk tetap tenang dan kembali duduk tegak.

__ADS_1


"Aku menghitungnya, Agent Liev. Kumpulkan sebanyak-banyaknya. Semakin sering kau menyiksaku, semakin banyak potongan di tubuhmu nantinya," ucap Sia kembali menyeringai.


Liev kesal bukan main. Ia menampar Sia berulang kali hingga bibir wanita cantik itu berdarah.


Bahkan dua penjaga yang duduk mengapit Sia hanya saling melirik tak berani melakukan apapun.


Sia terlihat mulai kehilangan kesadaran. Liev memberikan kode dengan tekukkan kepalanya. Penjaga di sebelah kanan Sia mengangguk pelan dan seketika, CLEB!!


"Agh ...," rintih Sia saat pandangannya mulai kabur dan pada akhirnya pingsan.


"Menyusahkan," geram Liev sembari mengibaskan tangan kanannya yang terasa panas karena tamparan kuat yang ia lakukan pada Sia.


Di sisi lain, Kastil Krasnoyarsk, Rusia.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Mereka bergerak ke Virginia, Mandy," ucap Q sembari membenarkan kacamatanya.


"Terus awasi, Q. Jangan sampai lolos," jawab Manda dari tempatnya berdiri melihat dari pantauan CCTV yang berhasil diretas oleh GIGA selama perjalanan Sia dari Rusia ke Amerika.


"Kita tak menyelamatkannya?" tanya Monica heran dan Manda menggeleng.


"Bagaimana jika CIA menyiksanya?" tanya Q ikut panik.


"Dia sudah memilih. Kita hargai keputusannya. Biarkan saja. Ia ... sedang mencari jati dirinya. Mungkin ini akan terasa sangat menyakitkan untuknya seakan kita tak membantunya, tapi dengan begini, aku yakin jika Sia akan menjadi penerus yang pantas menggantikan Boleslav," jawab Manda terlihat sedih, tapi tetap tegar.


"Hmm, kau ingin membuat Kak Sia mendapatkan sebuah catatan kriminal untuk menguatkan daftar hitamnya agar bisa menjadi anggota dewan ya? Bagus juga pemikiranmu, Mom," sahut Jordan tiba-tiba memasuki pusat komando Kastil Krasnoyarsk.


"Benar, Jordan sayang. Sia ditolak karena dianggap lemah meskipun ia sudah mengikuti pelatihan di Camp Militer. Hanya saja, itu tak cukup untuk membuatnya mendapatkan kursi anggota dewan. Dengan begini, mentalnya akan terasah. Kita bisa mendukungnya dengan cara lain," ucap Manda melirik salah satu anak kembarnya yang kini duduk di sofa panjang dengan elegan.


"Skenario baru? Siapa? Axton? Khrisna? Atau mungkin Daddy mau terlibat?" tanya Jordan santai menyilangkan kedua kaki.


"Heh, Daddy-mu. Kabar Sia kabur saja sudah membuatnya hampir terkena serangan jantung. Jangan melibatkannya," jawab Manda terkekeh.


"Jajaran Vesper? Sepertinya Arjuna merasa bersalah dengan perginya Sia," tanya Jordan mengusulkan.


"Why? Kau sepertinya senang sekali bersiteru dengan lelaki itu," tanya Manda keheranan melihat anak lelakinya yang sikapnya sudah seperti lelaki dewasa.


"Dia rival-ku, Mom. Dia memihak Afro yang sudah terbukti bersalah. Dia kuat dan kini semakin tangguh. Ia bisa menjalankan bisnis dan juga terus melatih fisiknya seakan tak memiliki kelemahan. Aku membencinya," jawab Jordan ketus mengungkapkan perasaannya.


Orang-orang di pusat komando diam saat mendengarkan ungkapan hati Jordan. Namun, orang-orang itu memilih diam tak berkomentar. Padahal mereka semua tahu kelemahan Arjuna adalah seorang gadis cantik, Naomi.

__ADS_1


__ADS_2