Secret Mission

Secret Mission
You?!


__ADS_3

Usai bersiap, empat orang tersebut keluar dari kamar. Sia membawa Cecil dan Rika ke mobil William sedang lelaki tampan itu menyelesaikan administrasi check out lebih awal.


Sia mengendarai mobil William keluar dari area parkir dan menjemputnya di lobi utama. Terlihat William berjalan keluar mendatangi mobilnya dan Sia segera pindah tempat.


BROOM!!


Keempat orang itu terlihat waspada dengan apapun yang dilintasi mereka. Mobil William keluar dari Minneapolis.


William akan membawa Rika dan Cecil untuk beristirahat di Apartment-nya, Virginia. William melaju kencang kendaraannya dan mampir ke sebuah Rest Area untuk mengisi bahan bakar serta makan siang di Chicago dekat Danau Michigan.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Bagaimana lukamu? Jika semakin parah, sebaiknya kita ke rumah sakit," ajak William mencemaskan kondisi Ibu angkatnya yang terlihat pucat.


"Aku baik-baik saja. Kita bisa ke Rumah Sakit saat tiba di Virginia," jawab Rika tersenyum manis.


William mengangguk mengerti. Sia melihat kesempatan. Ia mengatakan ingin ke toilet dan William memintanya berhati-hati.


William segera memesan makan siang untuk para penumpangnya. William dan Cecil terlihat waspada dengan sekeliling mereka.


Kekhawatiran The Circle membuntuti mereka, membuat perasaan was-was ketika berada di tempat terbuka.


Sia bergegas masuk ke toilet di Rest Area itu. Ia menutup bilik kamar mandi dan duduk di closet. Sia menggunakan earphone wireless di kedua telinga dan menyalakan ponselnya.


Teknis kerja yang sama seperti saat Sia mengaktifkan GIGA SIA. Hingga akhirnya, kali ini GIGA SIA menyatakan jika lingkungan tempat Sia berada aman. Sia bisa mendengar suara imut dirinya saat kecil dulu.


"Aku jadi merindukan diriku yang dulu," ucapnya gemas memandangi layar ponsel yang kini muncul wajah dirinya saat kecil dulu.


TRING!


Sia terkejut saat sebuah pesan masuk ke ponselnya. Ia menekan gambar amplop di layar dan muncul sebuah pesan di sana


Sia terkejut karena itu pesan elektronik dari ibunya, Amanda. Ada perasaan senang dalam hatinya karena masih bisa berkomunikasi dengan orang yang disayanginya.


Sia membaca pesan itu dengan cepat dan segera membalasnya.


"Maaf, Mommy. Aku yakin jika kau mengetahui semua yang ku lakukan bahkan hingga saat ini," tulisnya dan segera ia kirimkan.


Tak lama, muncul pesan suara dan Sia menaikkan volume suara di ponselnya. Ia siap mendengarkan perintah dari ibunya itu dengan jantung berdebar.


"Anak buah Denzel mengejar Rika dan Cecil. Namun, sudah berhasil digagalkan oleh Silhouette. Pastikan William, Rika dan Cecil tak mengetahui jika kita saling berhubungan. Lalu, Mommy minta padamu untuk melakukannya hal berisiko ini diam-diam. Kau sanggup?" tanya Manda dari pesan suaranya.


Sia segera membalas dengan pesan eletronik. "Yes. Apa yang harus kulakukan, Mom?"


Beberapa detik kemudian, muncul pesan suara lagi. Sia makin fokus dengan apa yang ibunya perintahkan.


"Mommy tahu jika kau ditekan oleh seseorang di CIA, pengganti Rika. Hanya saja, sampai sekarang Mommy tidak tahu siapa. Ambil gambar orang itu dan orang-orang yang terlibat dengannya. Gunakan GIGA SIA untuk melakukan pemindaian. Kau akan tahu, orang itu benar-benar berpihak padamu atau hanya memanfaatkan. Kau harus menjaga dirimu dengan baik, Sia. Mommy tak bisa melindungimu seperti saat kau hidup bersama kami. Ini pilihanmu dan Mommy menghargai keputusanmu. Mommy tak ingin Boleslav dan jajarannya seakan-akan terlibat. Kau tak mau 'kan jika kami dianggap sebagai pengkhianat karena membantu CIA meskipun menumpas The Circle?" tanya Manda dan Sia segera membalas dengan pesan elektronik lagi.


"Ya, aku mengerti, Mom. Aku minta maaf. Aku tahu konsekuensinya. Aku akan baik-baik saja. Aku menyayangimu dan semua orang. Titip salamku untuk Daddy. Katakan ... aku menyayanginya," tulis Sia berlinang air mata merasa bersalah.


Saat Sia sedang larut dalam rasa rindunya yang mendalam akan keluarganya, tiba-tiba pintu toilet di ketuk.


Sia terkejut. Jantungnya berdebar kencang. Ia memasukkan ponselnya begitu saja dengan tergesa ke saku jas dan mencoba tetap terlihat tenang.


"Yes?"


"Sia? Apa kau baik-baik saja? Sudah 30 menit kau pergi," tanya Cecil dari balik pintu toilet.


"Ah, yes. Maaf, am ... aku susah buang air besar. Sepertinya ... aku kurang buah dan sayur. Aku akan keluar sebentar lagi," jawab Sia berbohong meski ia terpaksa mempermalukan dirinya sendiri.


"Baiklah. Kami tunggu di Restaurant. Bergegaslah," ucap Cecil terdengar tak sabaran dan Sia pun segera membersihkan diri.


Sia keluar dari bilik toilet dan mendatangi wastafel. Ia mencuci tangan dengan tergesa.


Namun, pandangannya tertuju saat cermin di depannya memantulkan bayangan dari balik salah satu toilet.


Sia melebarkan matanya ketika melihat sepatu fantovel hitam yang diduga dipakai seorang laki-laki padahal mereka berada di toilet wanita.

__ADS_1


Sia bergegas keluar, tapi ....


BRAKK!!


"Agh!"


Pintu masuk ke toilet tiba-tiba di dorong kuat dari luar hingga menghantam tubuhnya. Sia jatuh tersungkur menahan sakit di wajah dan kedua tangannya.


Namun, serangan itu belum berakhir ketika pemakai sepatu fantovel hitam itu keluar dari balik toilet dan mendatangi Sia cepat.


"Hah? Agent Liev?" panggil Sia heran saat melihat sosoknya muncul di hadapannya.


Namun, Liev seakan tak mengenalnya. Mata Sia melebar ketika Liev mencengkeram kuat jasnya hingga Sia terangkat dan kembali berdiri.


"LIEV!" teriak Sia yang kini dicekik dengan satu tangannya.


Sia terkejut karena Liev menatapnya seperti seorang pembunuh. Nafas Sia tercekat. Ia melihat seorang lelaki yang saat itu memberikan kunci mobil pada William ketika mereka berdua berada di ruang interogasi.


SRAKK!


Sia memberontak! Kepalanya dibungkus dengan plastik oleh lelaki berkulit hitam tersebut.


BRUKK!


"Aggg!"


Liev melepaskan cengkeramannya. Sia roboh di atas lantai dengan plastik membungkus kepalanya.


Bagian bawah plastik itu menjerat leher Sia hingga membuatnya tercekik dan tak bisa bernafas.


Lelaki itu menarik kuat plastik tersebut hingga seluruh udara di dalamnya lenyap. Sia kehabisan nafas. Ia bisa melihat Liev berdiri di hadapannya menyeringai seperti menunggu kematiannya.


Sia tahu jika ia sendirian dan nyawanya terancam. Wanita cantik itu berusaha merobek plastik tersebut, tapi tidak bisa.


Sia mulai lemas dan tetap memegangi bagian bawah plastik agar tak semakin mencekiknya.


BRUKK!


Lelaki berkulit hitam masih memegangi penjerat pastik di kedua genggamannya. Ia melihat Sia tergolek lemas seperti tak bernyawa, hampir telengkup di lantai.


Saat Liev berjalan mendekatinya, DOR!


"Agh!"


DOR! DOR!


BRUKK!


"Hah! Uhuk!" engah Sia saat usahanya pura-pura mati berhasil.


Ia sengaja membuat tubuh bagian depannya tertutupi dengan menekuknya seperti orang meringkuk.


Sia bisa mendengar langkah Liev mendekatinya dan lelaki yang menjeratnya mulai mengendorkan jeratannya.


Dengan sigap, Sia menarik pistol yang tersembunyi di balik saku jas terdalamnya. Ia menembak paha Liev dan berhasil melukainya.


Tubuh Sia yang lentur di mana ia dulu seorang pemandu sorak, segera membalik setengah tubuhnya dan menembakkan pelurunya tepat di wajah lelaki berkulit hitam itu yang menewaskannya.


Liev yang melihat kawannya tewas segera berlari melarikan diri dengan kaki pincang. Sia melepaskan jeratan di lehernya dan juga kantong plastik yang hampir membunuhnya.


"Oh, untung aku ingat ajaran Verda saat itu. Ku kira hanya omong kosong ternyata ini sungguh terjadi, hah ... hah," ucap Sia dengan nafas tersengal dan berusaha berdiri dengan wastafel sebagai penopang tubuhnya.


BROOM!!


Sia menyadari jika Liev kabur. Sia segera berlari keluar dari kamar mandi. William dan para pengunjung Rest Area menyadari jika terjadi keributan di tempat Sia berada.


Namun, saat mereka akan menyusul Sia, William terkejut ketika mendapati isterinya berlari kencang mengejar sebuah mobil sedan.

__ADS_1


"Ada mayat! Ada mayat!" teriak salah seorang pengunjung wanita histeris ketika masuk ke dalam toilet tempat Sia tadi berada.


William, Rika dan Cecil melebarkan mata. Mereka mengangguk bersamaan dan segera menuju ke mobil Mustang untuk mengejar Sia.


Namun, ketika William akan masuk ke mobil, ia terkejut melihat Sia menodongkan pistol ke salah satu pengunjung dan memaksanya keluar dari mobil.


"SIA!" teriak William lantang ketika Sia mengendarai mobil dari seorang lelaki yang ia rampas dan pergi begitu saja.


Suasana kacau dan kepanikan terjadi di Rest Area tersebut. Para pengunjung yang ketakutan ikut pergi dengan kendaraan pribadi mereka, meninggalkan lokasi sebelum polisi tiba dan menutup kawasan itu.


"Cecil! Kenapa ini bisa terjadi? Apa kau tak melihat ada penyerang?" pekik William panik saat mencoba menyalip mobil yang menghalangi jalannya.


TIN! TIN!


Cecil tak menjawab. Ia merasa kecolongan dengan hal ini. William melaju kencang mobilnya mengejar sang isteri yang hampir tak terlihat.


"Jangan sampai kehilangannya, Will!" tegas Rika yang ikut fokus melihat pergerakan mobil Sia.


William bagaikan pembalap liar demi mengejar Sia dan mencari tahu, apa yang sebenarnya terjadi.


Cecil menyiagakan pistolnya dan memastikan jika amunisinya terisi penuh. Ia terlihat serius dalam aksinya kali ini.


Hingga tiba-tiba, TOT! TOOTT!


CIITTT!!


"Shit!" pekik Cecil saat William tiba-tiba mengerem mobilnya ketika sebuah truk melintas di depannya.


"IDIOT!" teriak sopir truk karena kendaraannya hampir saja menabrak mobil William ketika akan menyeberang di perempatan, menerobos lampu merah.


"Sial! Kita kehilangan jejak Sia!" geram William memukul stir mobilnya, tapi kembali melaju saat truk tersebut tak lagi menghalangi jalannya.


William kini menekan penuh gas mobilnya. Mata Rika, Cecil dan William kini terfokus untuk mencari keberadaan Sia.


Di sisi lain.


Mobil rampasan yang dikendarai Sia melaju kencang mengejar mobil Liev. Sia diliputi kebencian dan dendam mendalam karena tak menyangka jika Agent CIA tersebut bermaksud membunuhnya.


"Hah! Kali ini, tak ada ampun bagimu!" pekik Sia kesal.


Terlihat mobil Liev bersusah payah menghindar dari kejaran Sia. Namun, Sia berhasil menyusulnya.


Ia memepet mobil Liev dari samping hingga mobil Agent muda itu keluar dari bahu jalan, melindas rerumputan.


"Arghh! Gadis sialan!" pekik Liev dengan tubuh terpental-pental di dalam mobil dan membuatnya sulit untuk menembak.


Saat sopir Liev mencoba melepaskan diri dari pepetan mobil Sia, tiba-tiba ....


BRAKK!!


Mobil Sia dihantam dari samping dan membuatnya berhenti seketika. Namun, tabrakan itu malah membuat mobil Liev yang dipepet olehnya berhasil lolos meski terpaksa masuk dan menerobos ilalang.


Sopir Liev segera membawa mobil yang dikendarainya naik ke jalanan aspal lagi. Liev menyeringai, tapi ....


BRANGGG!!


"AGH!"


Mobil yang ditumpanginya ikut ditabrak dari samping karena mencoba menerobos persimpangan meski jalanan itu terbilang sepi.


Mobil Liev terdorong cukup jauh dengan posisi melintang dan sempat bergulung meski mobil tersebut kembali memijak aspal.


Kepala Sia terkantuk setir mobil. Beruntung wanita cantik itu tak terluka parah dan hanya mengalami lecet di dahinya.


Sia memegangi kepalanya yang terasa pusing dan sedikit mual karena tabrakan yang tiba-tiba.


Ia melihat jika mobil Liev juga mengalami hal serupa, hanya saja terlihat lebih parah dari mobilnya. Penyok hampir di seluruh bagian.

__ADS_1


Saat Sia menoleh ke arah mobil yang menabraknya, ia terkejut melihat Mix tersenyum miring padanya.


"You?!" pekik Sia menunjuk Mix dari balik kemudi penuh emosi dan tanda tanya.


__ADS_2