Secret Mission

Secret Mission
Dia Datang Padaku


__ADS_3

Di helikopter.


Arthur, Maksim dan Yuri menatap William tajam yang tak sadarkan diri, masih terperangkap dalam jaring besi.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Jika Sia tahu William telah berubah ... agh, aku tak sanggup membayangkan betapa sedihnya ia nanti," ucap Maksim sembari memijat kepalanya.


"Kita bawa saja dulu dia ke markas. Hal ini masih kita rahasiakan darinya. Biarkan Sia fokus dalam perekrutan pasukan. Dia harus segera menyelesaikan target sebelum bayinya lahir," sahut Arthur.


"Sia yang hamil, tapi kenapa aku yang mual ya? Aduh, jika aku jadi Sia lalu isteriku tak mengenaliku, aku ... bisa menangis sampai akhir usia," sahut Yuri mendramatisir.


Arthur dan Maksim pura-pura tak mendengar. Helikopter itu terbang menuju ke Boston, kediaman Axton di mana William akan ditahan sementara di sana.


Sore itu, helikopter telah mendarat dengan sempurna. Bayi Ryan dan Nandra diungsikan ke Villa Axton di Swiss agar tak terlibat dalam dunia mafia sampai dinyatakan kondisi kembali aman.


"Lepaskan aku! Kalian siapa?!" teriak William memberontak saat ia sudah sadar dan terlepas dari jaring kawat yang membelenggunya.


"Diam! Otakmu benar-benar sudah rusak. Namun, aku iba padamu, William. Kau diincar banyak orang. CIA, The Circle dan 13 Demon Heads. Bagaimana bisa kau bisa selamat dari semua tekanan ini? Kau sungguh lelaki beruntung," ucap Maksim saat mendorong punggung lelaki bermata biru itu ke dalam ruangan seperti ruang interogasi.


BRANG!!


Samua orang di tempat itu terkejut ketika William menunjukkan sikap lain dari dirinya yang kini gampang tersulut emosi.


William mencengkeram kuat jeruji besi yang mengurungnya dengan nafas menderu dan sorot mata pembunuh.


"Kalian pasti orang-orang 13 Demon Heads. Siapa? Boleslav yang mengutus kalian? Mana dia? Katakan, William siap meremukkan tulang-tulangnya," ucapnya bengis.


JRETTT!!


"ARRGHHH!!"


William berteriak lantang saat jeruji besi tersebut teraliri listrik dan menyetrumnya. William langsung melepaskan cengkeramannya dan jatuh di lantai mengerang kesakitan.


"Hah! Hahahaha! Kalian pikir bisa membunuhku dengan cara murahan seperti itu, hah? Asal kalian tahu, The Circle akan datang kemari dan menghancurkan tempat ini. Mereka tahu, aku ada, di mana," ucap William dengan seringainya.


Mata semua orang terbelalak seketika. William terkekeh saat melihat orang-orang di sana panik.


Dan benar saja, sebuah helikopter tak dikenal mendekati mansion Axton dengan seorang wanita muncul sembari memasang earphone di salah satu telinganya.


"Lepaskan William atau aku ledakkan Villa Axton di Swiss! Aku tahu, kalian menyembunyikan keturunan terakhir Giamoco di sana," ucap Tessa dengan senyum terkembang yang suaranya santer terdengar dari pengeras suara di helikopter tersebut.


Para Black Armys penjaga panik seketika. Mereka bingung dalam bertindak.


Saat Tessa menunjukkan pengendali dalam genggaman tangannya, matanya terbelalak dan tubuhnya mematung seketika saat mendapati seseorang yang dikenalinya muncul.


"Hai. Merindukanku? Lepaskan Nandra dan bayinya. Sebagai gantinya, bawa aku. Tak ada alasan apapun. Aku hanya ingin tahu kenapa kau menginginkanku?" ucap Arjuna lantang yang tiba-tiba muncul dari landasan helipad seorang diri, bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana jeans serta sepatu boots.

__ADS_1


Tessa terlihat bingung. Arjuna berdiri gagah menunggu jemputan dari si gadis pirang dengan bertolak pinggang.


"Sudah bosan denganku? Baiklah, aku masuk ke dalam," sambungnya terlihat malas.


"No! Wait!" teriak Tessa tiba-tiba.


Arjuna yang sudah membalik tubuhnya kini kembali berpaling. Ia menatap Tessa lekat yang menurunkan tangga tali untuknya. Arjuna tersenyum dan menggapai tangga itu.


Tessa menatap sosok Arjuna seksama yang mulai memanjat dan malah membuat jantung wanita berambut pirang itu berdebar-debar. Untuk pertama kalinya, Arjuna datang sendiri padanya.


Tessa terlihat gugup saat Arjuna sudah berdiri di hadapannya dan tersenyum tipis. Arjuna melirik empat orang berpakaian putih yang menodongkan senjata ke arahnya.


"Aku dingin. Kau punya pakaian hangat untukku? Atau kau ingin memelukku sampai tiba di tempat yang tak kuketahui, Tessa?" tanya Arjuna sembari mengangkat kedua tangannya seperti menyerah.


Tessa tersipu malu dan mengambil sebuah jas yang tergantung di badan helikopter. Ia memberikannya pada Arjuna dengan gugup.


Mata Arjuna tak lepas dari wajah Tessa yang malah terlihat bingung dalam bersikap sembari mengenakan jas itu.


"Hancurkan pengendali itu. Aku tak suka gadis yang ingkar janji," ucap Arjuna menatap Tessa tajam.


Tessa menatap pengendali yang masih ia genggam di salah satu tangannya. Empat bodyguard Tessa berseragam putih terlihat bingung saat bos mereka terlihat ragu dalam bertindak.


Arjuna masih berdiri di samping pintu menatap Tessa seksama. Tiba-tiba, Tessa menyerahkan pengendali itu begitu saja pada Arjuna.


Anak kedua Vesper tersenyum dan melemparkan alat itu dengan santai keluar dari helikopter.


CUP!


Tessa tertegun saat Arjuna tiba-tiba mengecup bibirnya dan malah membuat gadis berambut pirang itu salah tingkah.


"Aku tak bisa ikut denganmu hari ini, tapi kita akan bertemu lagi," ucap Arjuna dengan senyum tipis.


CUP!


Mata Tessa kembali terbelalak menatap Arjuna tajam dalam diam.


"Aku kembalikan ciumanmu saat itu. Aku tak mau hutang balas budi. Jadi ... jangan cari William lagi jika masih ingin bertemu denganku," ucap Arjuna tersenyum manis pada gadis cantik di depannya.


Tessa terpaku, tapi tiba-tiba ia tersentak saat sebuah tombak tertancap di badan helikopter dekat pintu dan ada tali terjuntai ke bawah. Tessa dan anak buahnya panik seketika.


"Cepat pergi dan sampai ketemu lagi," ucap Arjuna sembari melepaskan jasnya dan menjadikannya pengait untuk membawanya meluncur ke bawah.


Tessa terkejut saat Arjuna pergi meninggalkannya dengan sebuah kedipan salah satu mata dan senyum merekah.


"Tessa! Sekarang bagaimana?" tanya salah seorang bodyguard-nya panik.


Tessa terlihat bingung dan melongok ke bawah. Ia mendapati Arjuna melambaikan tangan padanya dan tersenyum manis.

__ADS_1


"Po-potong talinya. Kita pergi," perintahnya terlihat ragu.


"What?"


"Cepat lakukan!" pekiknya lantang terlihat marah.


Bodyguard itu segera melakukan perintah Tessa. Arjuna melambaikan tangan saat helikopter itu pergi menjauh dari mansion Axton. Terlihat, Tessa tersenyum tipis sebelum menutup pintu.


"Hmm, kau kini tukang rayu. Acting-mu bagus juga, Tuan Muda," sindir Naomi sembari meremukkan pengendali itu di kedua tangannya.


Senyum manis Arjuna sirna seketika saat melihat Naomi meliriknya sadis sembari menghancurkan alat pengendali di tangannya.


"A-aku hanya mengikuti saran Jonathan. Katanya itu akan manjur dan ternyata benar. Tessa sampai tak berkutik di hadapanku. Bahkan tak perlu bertarung," ucap Arjuna membela diri dengan gugup.


"Hem. Sangat manjur. Aku yakin jika kau nanti akan melakukannya lagi," sahut Naomi berjalan meninggalkan Tuan Mudanya dengan wajah dingin sembari menjatuhkan serpihan alat yang sudah hancur ke lantai.


"Kenapa aku harus melakukannya lagi? Apa karena aku mengatakan jika akan bertemu lagi dengannya? Naomi, apa maksudmu?!" tanya Arjuna panik sembari mengejar bodyguard-nya yang berjalan dengan cepat meninggalkannya bahkan tak menjawab pertanyaannya.


Di sisi lain, orang-orang yang memantau pergerakan di luar dari CCTV bernafas lega karena mansion tak jadi di serang.


Petugas di Villa Swiss melaporkan jika alat peledak yang dipasang secara tersembunyi di tempat itu telah di temukan dan dinonaktifkan.


Arthur, Maksim dan Yuri kembali mendatangi William yang kini terlihat bingung dengan kondisi ini.


"Tessa membuangmu, William. Kau lihat dan dengar sendiri 'kan? Jadi ... masih ingin memihak The Circle?" ledek Yuri di balik jeruji.


William menyipitkan mata dengan nafas menderu di mana ia masih meringkuk di lantai.


"Tessa bukan siapa-siapa. Aku mengabdi pada Big Mother," jawabnya bengis.


"Who?" tanya Maksim penasaran.


"Sierra Becca. Jadi ... sudah setua apa dia sekarang, William? Ceritakan padaku tentang wanita itu. Aku menunggu," sahut seseorang yang tiba-tiba muncul di ruang interogasi sembari menenteng sebuah kursi kayu dan diikuti seorang lelaki berwajah tegas di belakangnya.


"Aku mengenalmu," ucap William langsung berdiri.


"Ya. Tentu saja kau mengenalku. Kau ... ingin membunuhku 'kan? Boleh saja, asal kau ceritakan padaku semuanya yang tak kutahu. Sebagai gantinya, kulepaskan kalung di lehermu," jawab Boleslav tenang dengan tongkat beruang dalam genggaman.


Arthur, Maksim, Yuri dan Daniel kaget seketika akan ucapan Boleslav yang tak mereka sangka. William tersenyum menyeringai.


"Deal," jawabnya puas.


***


Wah ... dikasih tips lagi. Dobel episode deh๐Ÿ˜† makasih ya. Lele padamu. Bentar lagi tamat nih. Semangat ya votenya๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹


__ADS_1


__ADS_2