
Sia meninggalkan mansion Rio di Virginia dan langsung ke bandara. Ia tak tahu kemana tujuannya karena bodyguard ibunya sudah menyiapkan semuanya.
Mereka terbang dengan pesawat pribadi entah milik siapa. Sia cukup terkejut saat melihat dalam pesawat ada dua lelaki bertato dan memiliki brewok yang terlihat garang sedang menatapnya tajam.
Sia diam dan duduk dengan wajah tertunduk, mengapit kedua tangan dintara pahanya. Dua lelaki bertato itu menatap Sia tajam dan ikut duduk di seberangnya.
"Hmm ... dia sudah sebesar ini. Siapa sangka, Maksim," celetuk lelaki di depan Sia memulai obrolan.
Sia menaikan pandangannya seketika dan menatap lelaki itu seksama.
"Iya. Padahal dulu, ia ... hmm, sebesar ini kalau tidak salah. Apa kau ingat saat kita menghias untuk ulang tahun pertamanya di mansion Tuan Antony dulu?" jawab Maksim antusias.
Kening Sia berkerut. Ia menatap dua lelaki yang berwajah garang di depannya, tapi terlihat ramah itu.
"Kalian mengenalku? Apakah ... kalian anak buah ibuku?" tanya Sia penasaran.
"Wah, dia benar-benar tidak ingat pada kita, Yuri," ucap Maksim kecewa.
Sia menelan ludah. Ia menatap dua lelaki itu seksama mencoba mengingat mereka, tapi tetap tak ada satu memoripun yang tersimpan dalam ingatannya.
"Kalian bilang, siapa tadi. Antony? Siapa dia? Apa aku pernah tinggal di rumah orang itu saat masih kecil?" tanya Sia makin penasaran.
Maksim dan Yuri saling melirik. Tiba-tiba, Maksim mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan banyak gambar pada Sia.
Sia menerima ponsel itu dan matanya melebar seketika. Yuri dan Maksim saling tersenyum. Mereka sudah menyiapkan segala hal untuk mengembalikan kenangan lama yang Sia lupakan.
"Siapa lelaki bertato itu? Ia ... ia tampan," ucap Sia memuji.
"Eh, kau jangan menyukainya. Ia ayahmu, mm ... maksudku ayah tirimu. Namanya, Antony Boleslav. Ia suami ibumu, Amanda," jawab Yuri menjelaskan.
Sia melongo seketika.
"Suami? Ibuku menikah lagi? Ta-tapi ..." Sia kebingungan.
Maksim kembali mengambil ponselnya dan mencari sebuah foto lalu menunjukkan pada Sia lagi. Kening Sia berkerut menatap gambar pada layar ponsel itu.
__ADS_1
"Kau lihat tanggal itu? Itulah tanggal ibumu menikah dengan Antony Boleslav saat ayahmu, si Adam brengsek ... mm, maaf saat ayahmu itu telah mencampakkan ibumu. Jauh sebelum akhirnya, ibumu dinyatakan tewas dalam kecelakaan mobil ambulance," ucap Maksim menjelaskan.
Jantung Sia berdebar kencang. Ia merasa bingung dan aneh seketika. Sulit rasanya mempercayai yang barusaja diceritakan oleh orang di depannya.
"Sia, apa kau menyadari? Selama kau hidup bersama Rio dan Julius, banyak sekali ancaman dalam hidup kalian?" tanya bodyguard Manda yang membawa Sia bersamanya.
Sia mengangguk cepat. Lelaki itu memberikan segelas Vodka padanya. Sia menerimanya dengan sungkan.
Lelaki itu duduk di sebelah Sia dengan Maksim dan Yuri di seberang mereka. Sia memegangi gelasnya erat dan terlihat gugup.
"Tuan Antony yang mengirim orang-orang itu dalam usaha merebutmu kembali, hanya saja ... pacarmu, William selalu menggagalkannya," ucap lelaki berjas hitam itu lalu meneguk Vodkanya.
"Ka-kau kenal William?" tanya Sia kembali terkejut.
"Kami tahu segala yang kau lakukan dan kehidupanmu selama ini tanpa kau sadari Sia. Kami mengawasi para mafia yang kami incar, termasuk Julius," ucap lelaki itu lagi.
Sia masih diam menyimak.
"Kau pikir, ayahmu mendapatkan segala kekuasaan dan kekayaannya itu dari siapa? Tentu saja dari kebaikan bos kami, Antony Boleslav. Kami tak membunuh ayahmu karena Tuan Antony sangat menyayangimu, Sia. Dia mencintai ibumu melebihi ayahmu," ucap lelaki itu makin menggebu.
"Kau sepertinya kenal keluargaku dengan baik. Kau siapa?" tanya Sia menatap lelaki di sebelahnya seksama.
Sia terkejut seketika. Ia sama sekali tak tahu karena saat ibunya hidup, Manda juga tak pernah menceritakan apapun soal Brian.
"Apakah, kau juga tahu jika William seorang agent CIA?" tanya Sia gugup.
"Tentu saja kami tahu. Dan apa kau tahu? Tuan Antony ingin sekali menggorok leher pacarmu itu saat tahu kau berhubungan dengannya," ucap Brian mendengus keras.
Sia kaget seketika sampai terperanjat dari dudukkannya.
"Nona Manda sampai harus menyekap Tuan Antony seharian di kamar agar tak melihat dan mendengar laporan dari para bodyguard-nya tentang keadaanmu saat bersama William brengsek itu," jawab Brian kesal dan meminum Vodka langsung dari botol sendirian.
Sia mendadak malu karena ibunya mengetahui hal tersebut. Maksim dan Yuri menggaruk pelipis mereka yang mendadak terasa gatal.
"Aku ... aku tak sabar bertemu Ibu dan Tuan Antony. Apakah, aku harus memanggilnya, Ayah?" tanya Sia terlihat gembira.
__ADS_1
"Tentu saja kau harus memanggilnya Ayah! Mereka berdua sangat merindukanmu, Sia. Begitu pula kami dan adikmu," jawab Maksim semangat.
"Adik? Aku punya adik?" tanya Sia terkejut.
"Ya. Tepatnya, dua adik. Kembar. Namanya Jason dan Jordan. Mereka semua menantikan kedatanganmu," ucap Yuri menambahkan.
Senyum Sia merekah. Ia tak menyangka jika ia masih memiliki keluarga yang merindukannya.
Sia menghabiskan Vodkanya dan menyanyakan banyak hal pada ketiga bodyguard ibunya itu karena ingin mendengar tentang masa lalunya yang terlupakan.
Perjalanan selama 13 jam itu tentu saja cukup melelahkan untuk Sia. Ternyata ia akan terbang ke Rusia dimana ibunya kini tinggal di Krasnoyarsk, kediaman Antony Boleslav.
Ia diminta beristirahat karena penerbangan yang panjang oleh Brian dan Sia menurut. Sia sangat penasaran dengan kehidupannya yang akan segera di alaminya nanti.
Sia terdiam sejenak memikirkan perasaan William. Sia sangat yakin jika William akan sangat kecewa padanya karena Sia memilih untuk meninggalkannya.
"Maafkan aku, William. Hanya saja ... aku sangat merindukan ibuku. Aku mencintaimu, hanya saja ... maaf, William ... maaf," ucap Sia lirih dan kembali menangis.
Brian, Maksim dan Yuri yang mendengar Sia berbicara meski memunggungi mereka tahu, jika Sia pasti merasa bersalah karena meninggalkan William.
"Hal ini mengingatkanku ketika Nona Manda dipaksa berpisah dari Tuan Antony dan harus ikut Adam," ucap Brian menatap Sia dikejauhan pelan.
"Ya. Kau benar. Apakah nasib buruk bisa menurun ya?" tanya Maksim heran.
"Haish, kau percaya tahayul? Memalukan," jawab Yuri heran.
Brian tak ikut berkomentar dan memilih tidur. Hingga akhirnya mereka sampai di bandara Irkutsk, Rusia dekat Krasnoyarsk.
Jantung Sia berdebar saat turun dari pesawat. Mereka dijemput oleh lelaki berambut gondrong dengan senyum menawan.
Sia tersipu malu dan menerima jabat tangannya. Sia merasa dirinya dikelilingi banyak lelaki tampan.
"Hai, aku Red. Ketua The Shadow di Rusia dan penasehat Tuan Antony Boleslav yang kini akan menjadi Ayahmu," sapa Red ramah.
"Hai, Red. Aku Sia," jawab Sia balas tersenyum.
__ADS_1
----
jangan lupa like dan vote yang buanyak yaaa😆 yg belom kasih rate bintang 5 jangan lupa yaa. Tengkiyuuu~