
Mata Sia terbelalak saat melihat Jordan berkelahi hebat dengan Afro hingga keduanya bergulung-gulung di ilalang.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Sia!" pekik Zaid ketika melihat Jonathan ditembaki oleh orang-orang yang berjaga di dekat kapal.
"Katamu drone ini memiliki senjata. Bagaimana cara menembakkan peluru-peluru itu?" tanya Sia panik melihat menu di jam tangannya sembari menerbangkan drone agar tak jatuh.
"Kau tak lihat aku sedang mengemudi?!" balas Zaid memekik ikut panik.
Sia mencoba mencari menu untuk mengaktifkan senjata pada drone itu. Tiba-tiba, DODODODOOR!!
"Oh!" pekik Sia kaget karena tak sengaja menekan menu bergambar peluru yang ternyata untuk senjata pada drone.
Namun, tembakan itu membuat kaget Jonathan dan orang-orang dari kubu Afro. Jonathan langsung menutup kepalanya dengan kedua tangan dan berlari menghindar.
"Ups, sorry," ucap Sia meringis karena hampir menembak Jonathan.
Zaid terlihat panik karena takut Jonathan tewas karena peluru nyasar akibat ulah Sia.
"Bidik yang benar jika kau tak mau berurusan dengan Nyonya Vesper dan jajarannya, Sia," tegas Zaid meliriknya tajam dan terus mengemudi.
Sia menarik nafas dalam dan mulai membidik orang-orang yang menembaki Jonathan. Sia terlihat fokus pada sasarannya di tampilan layar tablet.
PIP.
DODODODODOOR!!
"YEAH! BUNUH MEREKA SEMUA, KAK SIA! Gitu dong!" teriak Jonathan bangga dengan kedua tangan ke atas karena akhirnya Sia bisa mengendalikan drone tersebut dengan tepat.
Sia terlihat tegang, tapi senyumnya terpancar. Ia fokus membidik orang-orang yang tadi menembaki Jonathan dan menewaskan mereka satu persatu.
"Oh, ini seru. Seperti bermain video games," ucap Sia meski tubuhnya sedikit terombang-ambing karena Zaid mulai mengarahkan kemudinya memasuki semak.
TIN! TIN!
"JONATHAN!" teriak Zaid lantang membuka kaca jendela sembari memanggil anak ketiga Vesper.
Jonathan yang tadinya bersimpuh segera berdiri. Namun, ia melihat Sandara masih berdiri menyaksikan perkelahian Jordan dan Afro yang tak kunjung usai karena keduanya tak mau mengalah.
"Dara!" panggil Jonathan berlari ke arahnya.
Namun, DODODODOOR!!
Sandara terkejut saat sebuah helikopter menembaki Jonathan hingga anak ketiga Vesper itu spontan tiarap di atas tanah menutupi kepala belakangnya.
DWUARRR!!
"AGHHH!" rintih Jordan saat sebuah granat dilemparkan dari atas helikopter dan membuatnya terpental karena ledakan di depannya.
Beruntung ia tak terkena ledakan itu secara langsung.
Afro berlari ke arah Sandara dan kembali menarik tangannya. Sandara dibuat kebingungan dengan kejadian ini.
Nafas Afro tersengal dan mengangguk pelan pada anak keempat Vesper itu.
"Percaya padaku. Kau harus ikut," ucap Afro serius dan Sandara menatap mata Afro lekat.
Sandara melihat Jonathan yang meringkuk di atas tanah karena dibidik senapan laras panjang dari atas helikopter.
__ADS_1
Sandara berlari ke arah Jonathan dan remaja itu tertegun. Jonathan spontan bangun dan memeluk Sandara erat yang berjongkok di depannya, tapi Sandara melepaskan pelukannya. Jonathan bingung.
"I have to go," ucapnya menatap Jonathan seksama.
"What?"
"Aku akan kembali. Aku berjanji. Aku ingin memastikan satu hal. Aku ingin memastikan perasaanku," ucap Sandara menatap Jonathan lekat terlihat begitu serius dengan ucapannya.
"But, Dara ...," cegah Jonathan memegangi tangan Sandara erat, tapi Sandara melepaskan cengkeraman itu paksa dan terus berkata ia harus pergi.
Jonathan yang masih duduk di atas semak hanya bisa menatap kepergian Sandara. Namun, saat Sandara mendekati Afro, tiba-tiba ....
DOR!
"Kak Afro!" pekik Sandara terkejut karena Jordan menembak dada Afro dan membuat lelaki itu jatuh bersimpuh seketika.
Jordan kembali berdiri dan mengarahkan pistolnya membidik Afro dengan pandangan membunuh.
Mata Sandara terbelalak. Sia dan Zaid keluar dari mobil setelah berhasil membunuh seluruh orang-orang bersenjata dari kubu lawan.
Sandara berlari ke arah Afro dan berdiri di depannya dengan merentangkan kedua tangan. Wajahnya terlihat begitu serius.
Sia terkejut melihat yang Sandara lakukan. Ia bingung dengan keadaan ini, tapi memilih diam untuk melihat apa yang terjadi tak ingin ikut campur.
"MOVE!" teriak Jordan.
Sandara menggeleng dan tetap berdiri teguh melindungi Afro dengan tubuhnya. Helikopter menurunkan tali ke arah Sandara.
Jordan melihat Afro mulai berdiri di mana ia tak tewas karena baju pelindung anti-pelurunya.
"MOVE!" teriak Jordan lagi, tapi Sandara berdiri kokoh di tempatnya.
"DARA!" teriak Jonathan dan Afro bersamaan saat Jordan menembak Sandara di pundaknya.
Sandara langsung roboh, tapi Afro dengan cepat menangkapnya. Sia shock begitupula Zaid dan Jonathan. Jordan masih mengarahkan pistolnya ke tubuh Sandara dan mulai melangkah dengan cepat.
Afro memeluk Sandara yang masih selamat karena jas anti-peluru yang dikenakannya, tapi sepertinya peluru Jordan membuatnya tetap merasakan sakit.
Afro segera mendekap Sandara dengan satu tangannya dan tangan lainnya mencengkeram kuat tangga tali pada helikopter.
Orang-orang di dalam heli sibuk meluncurkan misil ke arah lain yang ternyata konvoi dari The Kamvet datang ke lokasi.
Jordan kembali menajamkan matanya untuk menembak targetnya kali ini. Sandara menatap Jordan tajam dan menggeleng, memohon agar tak melakukannya lagi.
DOR!
"ARGHH!"
BRUKK!
Sia kaget setengah mati saat Jonathan malah menembak kaki Jordan hingga Adik tirinya itu ambruk dan memegangi kakinya yang sakit.
Jonathan mendatangi Jordan dan menendang jauh pistolnya. Ia berdiri di sampingnya dengan moncong pistol di arahkan ke wajah Jordan yang merah padam menahan sakit.
Jonathan melirik Sandara yang di dekap kuat oleh Afro dengan helikopter mulai melayang pergi.
Sandara dan Afro bergelantungan di tali helikopter yang mulai terbang menuju ke Laguna seperti menyeberang hingga ke lautan.
"Arrghhh!! Apa yang kau lakukan?!" teriak Jordan lantang penuh emosi memegangi kaki Jonathan.
__ADS_1
"Feeling pain from love, huh?" lirik Jonathan dengan senyum liciknya.
Sia bingung dengan keadaan ini begitupula Zaid karena Jonathan malah membiarkan Sandara pergi bersama buronan nomor 1 dalam jajaran 13 Demon Heads.
BROOMM!!
"JO! JONATHAN!" teriak Hadi saat turun dari mobil dan berlari kencang ke arahnya.
"Hmpf, kita pulang. Buruan kabur," jawabnya santai sembari menyarungkan kembali pistolnya di balik pinggang.
Mix and Match segera mendatangi Jordan yang mulai pucat karena kehilangan banyak darah.
Bayu segera mendekatkan mobilnya untuk membawa Jordan kembali ke Kastil Borka agar diobati.
"Kabur? Tapi kau sengaja membiarkan Sandara dan Afro pergi! Kau bahkan menembak Adikku!" pekik Sia menunjuk ke arah perginya helikopter dan Jordan yang dimasukkan dengan segera ke dalam mobil.
"Hmm, begitu ya. Lalu?" tanya Jonathan menatap Sia dengan wajah datar.
Mulut Sia menganga karena Jonathan menganggap hal ini santai.
"Tutup mulutmu, Kak Sia. Suamimu William berhutang Mustang padaku. Beruntung, aku tak menggunakan fiture meledakkan mobil di BMW-mu. Jika ya, sidik jari William akan aku letakkan dalam sistem mobil merah mudamu dan kau tak akan bisa menghapusnya tanpa seijinku. Aku membantu suamimu dengan mobilku saat menyerang markas Denzel. Kau, sebagai isterinya, belum membalas budiku. Jadi, balaslah dengan menutup mulutmu dan katakan, kau tak tahu apapun tentang hal ini. Kau datang terlambat dan Sandara sudah pergi. Kau bisa mengingat yang kukatakan barusan 'kan?" tanya Jonathan berdiri persis di depannya, mengintimidasi Sia dengan tatapan keji.
Nafas Sia tersengal. Ia tak menyangka jika Jonathan akan mengancamnya.
"Kau mengancamku?" tanya Sia membalas.
Zaid dan tim Jonathan yang masih berada di lokasi terlihat bingung dalam bersikap.
"Hem. Ingat, aku belum menjadi anggota dewan. Aku ... masih bebas. Aku bisa meledakkan helikopter ayahmu, aku juga bisa melakukan hal yang sama padamu dan suamimu, William," tegasnya.
"Jonathan. Kenapa kau membela penghianat? Apa yang dikatakan Sia benar," ucap Zaid membela Sia.
"Aku menyayangi adikku dan aku percaya padanya. Aku hanya ingin memberikan Sandara kesempatan untuk memilih. Sudah terlalu lama ia berharap," jawab Jonathan terlihat sedih dan menoleh ke arah Laguna.
Sia berkerut kening. Zaid dan tim Jonathan yang tahu tentang kisah Sandara mengangguk paham.
"Baiklah. Aku akan memberikan kesaksian yang sama. Namun, jangan paksa Sia jika dia enggan melakukannya. Jika kita dihukum, ya biarlah. Kali ini aku memihak Sandara dan Afro," ucap Zaid menghembuskan nafas panjang.
Hadi dan BinBin ikut mengangguk. Jonathan tersenyum dan berterima kasih.
"Kau, pasti juga berharap bisa bertemu dengannya 'kan? Untuk memastikan perasaanmu selama ini?" tanya Zaid tiba-tiba menepuk pundak Jonathan.
Wajah sedih langsung muncul di raut Jonathan. Remaja itu mengangguk pelan dan tersenyum getir menertawakan kisah cintanya.
Sia menyipitkan mata, ia terlihat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada anak-anak Vesper.
"Kita pulang. Sudah larut malam," ucap Sia datar dan segera masuk ke mobilnya.
Zaid dan lainnya mengangguk. Mereka berjalan ke mobil masing-masing bersiap meninggalkan tempat itu.
Sia menatap Jonathan yang memandangi Laguna dengan wajah sendu seperti memikirkan sesuatu.
"Zaid. Kau tadi bilang "bertemu dengannya." Siapa yang kau maksud? Apakah ... kekasih Jonathan?" tanya Sia saat Zaid sudah duduk di bangku kemudi.
"Akan aku ceritakan selama perjalanan," jawabnya dengan senyum tipis lalu menutup pintu.
Sia dan rombongan pergi meninggalkan Laguna, kembali ke Kastil Borka. Sia mendengarkan dengan seksama cerita Zaid tentang Jonathan dan Sandara.
Ia tak menyangka jika kisah dua remaja itu akan serumit ini di usia mereka yang masih sangat muda, mengalahkan kisah cintanya.
__ADS_1
"Sierra Flame," ucap Sia lirih dan Zaid mengangguk pelan.