Secret Mission

Secret Mission
Arizona*


__ADS_3

ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE



------- back to Story :


Di pesawat kargo Boleslav.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia.


"Perhatian kepada semua penumpang. Satu jam lagi pesawat akan mendarat. Persiapkan diri kalian," ucap pilot dari kokpit yang terdengar cukup jelas di tempat orang-orang duduk.


"Saatnya bermain drama," ucap Red dan William berkerut kening.


Ia melihat Mix and Match membagikan tumpukan kain berwarna-warni bahkan ada topi kepada orang-orang yang duduk sebagai pasukan Jordan.


"Pakailah," pinta Buffalo sembari menyerahkan setumpuk kain di pangkuannya


William terlihat bingung, tapi menerimanya. Ia membongkar tumpukan itu dan menemukan topi jerami, kacamata hitam dan kemeja dengan motif kaktus seperti pakaian liburan musim panas.


"Jonathan, seriously?" tanya Buffalo terkekeh.


"Meskipun ini misi, gaya tetap nomor satu," ucapnya sembari mengenakan kacamata yang bisa dibuka bagian lensanya seperti jendela.


Orang-orang geleng-geleng kepala. Jonathan terlihat seperti turis sungguhan dengan penyamarannya.


Para penumpang melepaskan jas anti peluru dan melapisi baju tempur dengan pakaian sipil tersebut.


Akhirnya, penerbangan panjang itu berakhir. Tim Jordan tiba di Bandar Udara Internasional Phoenix Sky Harbor, Arizona, Amerika.


Arthur yang sudah berada di salah satu negara bagian Amerika Serikat wilayah Barat Daya selama 2 minggu pengintaian, telah menunggu kedatangan timnya.


"Status?" tanya Red berdiri di hadapan petugas pengintainya.


"Aku sudah menemukan kediaman Madam, persis seperti catatan dari Cecil. Hanya saja, akses menuju ke sana cukup jauh. Aku saja sampai harus berpura-pura menjadi pemandu tour, menaiki kuda, menyusuri gurun ditengah terik matahari ...."


"Hei, hei, Arthur. Fokus," ucap Red menatapnya seksama dan Arthur baru menyadari jika ucapannya sudah melenceng cukup jauh.


"Hehe. Mungkin karena dia jadi lelaki kesepian makanya ngelantur, Om Red," sahut Jonathan ikut bergabung.


Red terkekeh dan Arthur langsung memalingkan wajah.


"Oke. Rinciannya," tanya Red lagi dan Arthur kini terlihat lebih sigap.


"Grand Canyon, dia ada di sana. Meski sampai sekarang sosoknya belum kulihat. Namun, banyak penjaga dengan senjata disembunyikan di balik setelan. Yep, ciri khas gaya berbusana The Circle dan jumlah mereka, cukup banyak."


Red mengangguk paham. Ia segera meminta timnya untuk membongkar muatan dari pesawat kargo.

__ADS_1


Saat orang-orang itu terlihat sibuk di Bandara, muncul seorang lelaki berjalan mendekati mereka bersama dua orang di belakangnya. Kening orang-orang itu berkerut.


"Hai," sapanya dengan senyuman.


"Rohan?" sahut Oz Silhouette cukup terkejut akan kedatangannya.


"Sepertinya, Nyonya Manda sangat khawatir. Jumlah kalian banyak sekali," ucapnya berkesan menyindir.


Wajah tim Jordan langsung masam seketika. Rohan menggosok ujung hidung dengan telunjuknya merasa sudah salah bicara.


"Sebenarnya, aku ada hubungan kerjasama dengan Sia dan ini salah satu kesepakatanku dengannya. Aku ikut bergabung," sambungnya, tapi mengejutkan semua orang.


"Dia dan timnya yang akan membawa kita sampai ke titik terdekat kediaman Madam. Jika kita melintas di wilayahnya, seperti percobaan kami sebelumnya dengan drone, ia akan menembak jatuh semua benda terbang di atas rumahnya," imbuh Arthur sembari menepuk salah satu pundak Rohan.


Red dan lainnya mengangguk paham. Mereka merasa terbantu dengan bergabungnya Rohan.


"Dan Jonathan, aku bukan lelaki kesepian," tunjuk Arthur tepat ke wajah anak ketiga Vesper dan Jonathan hanya terkekeh.


Rohan mengajak tim Jordan ke empat buah helikopter yang telah disediakan olehnya bahkan sudah dibuat kamuflase seperti helikopter khusus tour.


"Wow! Kayaknya Nathan kenal sama helikopter ini," ucapnya menunjuk empat helikopter yang diparkir rapi.



"Jangan berlagak. Ini yang dikerjakan oleh orang-orangmu, Jonathan. Mereka memodifikasi helikopter ini atas permintaan ibumu. Kita tak boleh terlihat mencolok," ucap Rohan dan Jonathan menunjukkan jempolnya.


William tak menyangka jika tim dari kelompok mafia ini sangat terkoordinir dalam menjalankan misi. Tak seperti saat ia ditugaskan oleh Tessa.


"William, kami percaya padamu. Jika kau berani berkhianat, aku tak segan melemparkanmu dari atas tebing Grand Canyon. Aku tak masalah jika Sia membenciku. Selain itu, aku masih menyalahkanmu atas kematian kakakku, Rahul," ucap Rohan menatap William tajam.


"Percuma, Rohan. William gak inget kejadian itu. Lupain aja deh," ucap Jonathan sembari berjalan mendekati helikopter pilihannya.


Rohan menatap William tajam yang memandanginya gugup.


"Maaf, tapi sungguh. Aku tak ingat. Sepertinya, dulu aku begitu buruk dan hanya hal-hal keji yang kalian ingat," ucap William terlihat lesu.


"Baguslah. Simpan rasa bersalah dan penyesalanmu sampai mati karena aku takkan pernah memaafkanmu," jawab Rohan menunjuknya dan berpaling meninggalkan suami Sia.


William menghembuskan nafas panjang. Entah kenapa, ia merasa para mafia ini memiliki dendam padanya, tapi karena sosok Sia, Vesper dan Amanda, mereka seperti menahan diri agar tak membunuhnya.


"Aku berhutang banyak pada tiga wanita itu karena sampai sekarang masih dibiarkan hidup," batin William menghembuskan nafas panjang dan ikut masuk ke salah satu helikopter.


Benda berwarna kuning itu terbang meninggalkan bandara menuju ke rumah sewa yang telah dipersiapkan oleh Arthur untuk mengumpulkan timnya.


Mereka akan memulai penyerangan saat malam hari. Empat helikopter sengaja terbang bergantian agar tak menimbulkan kecurigaan.


Arthur, Rohan dan dua bodyguard-nya bernama Balraj serta Vijay, sudah menyamar dengan seragam pemandu tour.


Mereka juga mengantongi surat ilegal yang dikemas rapi seperti surat legal suatu usaha tour and travel.

__ADS_1


"Semoga tour-nya menyenangkan, Tuan-tuan," ucap salah satu petugas Bandara setelah berjabat tangan dengan Rohan dan tim Jordan yang berlagak seperti turis.


"Thank you dan ini ada sedikit hadiah dari India. Cocok untuk pajangan," balas Rohan sembari memberikan miniatur patung Dewa Ganesha pada petugas itu.


"Wow ini ... emas asli?" tanyanya kagum saat menerima patung emas sebesar telapak tangan dalam kotak kaca.


"Yep. Pastikan tak ada yang mencurinya darimu," jawab Rohan menepuk pundak si petugas dan dengan sigap, petugas tersebut langsung menyembunyikannya dalam saku jas terdalamnya.


Rohan menerbangkan helikopter terakhir dengan Buffalo sebagai co-pilot. Jonathan yang ikut dalam helikopter tersebut melambaikan tangan dengan senyum merekah. William memperhatikannya.


"Dia terlihat biasa saja. Berbeda dengan Arjuna. Meski hanya sekilas, saat aku dikurung di penjara ruang bawah tanah Axton, tapi aku bisa melihat jika Arjuna cukup kuat. Tatapannya tajam. Pergerakannya juga gesit. Akan tetapi, anak ini ... entahlah. Apa istimewanya?" batin William melihat gerak-gerik Jonathan yang malah sibuk bermain video games dari ponselnya.


Tak lama, helikopter mendarat di sebuah gurun dengan Villa di tengah-tengahnya. Empat helikopter kembali parkir dengan rapi di landasan.



"Lumayan," puji Jonathan saat memasuki Villa tersebut.


Semua orang memasuki rumah dengan menenteng koper berisi perlengkapan dan senjata.


"Wow! Mereka ini ...," kejut Red karena mengenal kumpulan orang-orang yang berjaga di Villa tersebut.


"Ya. Aku membelinya. Mereka kini anak buahku. Axton tak ikut membawa mereka ke liang lahat," sahut Rohan sembari berjalan melewati para mantan bodyguard Axton dulu.


"Rohan membeli hampir semua aset milik Axton, tapi pecahan kecil. Beberapa kendaraan, anak buah, kamar di beberapa gedung, perkebunan jeruk dan wine yang bekerjasama dengan Arjuna serta beberapa usaha legal di mana Jonathan ikut mengelolanya," jawab Balraj menimpali.


"Kau ikut serta?" tanya Jordan meliriknya.


"Yup. Ada beberapa toko di Amerika yang akan Rohan jadikan pos darurat. Dulu om Axton udah pernah memikirkannya, tapi belom terealisasi. Katanya dia sibuk dan lucunya, usaha-usahanya itu gak berkembang. Omset yang didapat dari usaha itu sangat sedikit, tapi dia membiarkannya. Dulu Nathan emang gak mau ikut campur, tapi kini di bawah management baru harus ada perubahan. Kami akan memperbaikinya," sahut Jonathan tersenyum lebar di hadapan orang-orang yang mendengar ocehannya.


William melirik Jonathan yang diikuti Buffalo dan lainnya menaiki tangga. Arthur menunjukkan pembagian kamar sebelum berkumpul membahas misi.


"William! Kau sekamar denganku. Cepat kemari!" panggil Jordan yang ternyata sudah berada di balkon lantai dua menunggunya.


William menarik nafas dalam dan segera bergegas mendatangi Jordan. William melihat orang-orang sibuk dengan persiapan misi.


"Jordan ini. Sungguh tak ada sopan-sopannya kepada orang yang lebih tua. Tukang perintah dan tak ramah. Bagaimana bisa Sia tahan dengan sikapnya?" batin William ketika memasuki kamar sembari melirik Jordan yang sudah membongkar koper yang dibawanya.


"Lepaskan pakaian konyolmu itu dan segera bersiap. Kita makan malam lalu berkumpul di ruang tengah. Aku tak suka orang lelet," ucapnya tegas tanpa ekspresi dan pergi meninggalkan kamar begitu saja.


William mendesah, tapi ia bergegas menyiapkan diri dan berkumpul bersama yang lain di ruang makan.


William hanya bisa diam saat orang-orang itu seperti sudah berkawan akrab. Mereka saling mengenal bahkan tak sungkan meledek.


Tawa kegembiraan dan kekeluargaan begitu terasa. Tanpa disadari, William tersenyum. Buffalo dan beberapa orang yang melihat perubahan pada diri William menahan senyum.


***


Horee tips lagi😍 Makasih banyak yaπŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹

__ADS_1


Dobel eps lagi untuk besok. Lele padamu~



__ADS_2