Secret Mission

Secret Mission
Terlibat*


__ADS_3


Pagi itu, William sudah bersiap dengan setelan jasnya. Ia akan kembali ke kantor pagi ini dan berencana menjemput Catherine dan Ara menuju ke kantornya.


Terlihat Catherine sudah siap di depan lobi apartemennya. Iapun menyapa hangat William dengan senyum manis dengan membawa dua cup kopi di tangannya.


"Hai William, good morning," sapa Catherine ramah.


"Good morning, Cat. Masuklah," jawab William dari jendela mobilnya yang ia buka sepenuhnya.


"Oke," balas Catherine dengan senyum merekah.


William membuka pintunya dari dalam, Catherine masuk ke mobil dan masih membawa dua cup kopi di tangannya.


Ia memberikan salah satunya kepada William dan iapun berterima kasih padanya. William meletakkan gelas kopi itu di dekat persneling mobil dan mulai melaju mobilnya perlahan.


"Apa ada kabar terbaru dari para agent di Rusia?" tanya William dengan tatapan lurus ke depan.


"Belum. Hanya saja, Liev mengatakan jika Sia tak muncul lagi setelah masuk ke kastil Borka," ucapnya serius.


CITTT!!


Tiba-tiba, William mengerem mobilnya mendadak menyebabkan kopi panas yang Catherine bawa tumpah dan mengenai pahanya.


"Aw ... aw ... aw ... William apa yang kau lakukan?!" teriak Catherine kesakitan dan panik menepuk-nepuk pahanya yang terkena kopi panas.


"So-sorry," panik William yang kini mengambil tisu di dashboard mobil dan meletakkannya dipaha Catherine.


Catherine langsung meletakkan kopinya di samping kopi William dan mengipas-ngipas pahanya.


Catherine yang mengenakan rok di atas lutut tak seperti biasanya itu membuat paha mulusnya menjadi merah karena tersiram kopi panas, ia terlihat kesakitan.


Tiba-tiba, dari belakang mobil William, TIN! TIN! William kembali terkejut karena mobilnya berhenti di tengah-tengah jalan dan menimbulkan kemacetan.


William segera melaju kendaraannya lagi perlahan. Ia terlihat kacau seketika, Catherine menatapnya seksama dan masih sibuk mengelap bekas cairan kopi dipahanya.


"Kau ini kenapa tiba-tiba kaget seperti itu, kakiku jadi tersiram kopi 'kan," ucap Catherine kesal.


"Ehem, sorry Catherine, aku tak sengaja. Hmpf, aku terkejut saat kau menyebutkan kastil Borka. Itukan markas besar mafia. Bagaimana mungkin Sia bisa masuk ke sana? Hanya para mafia elit yang bisa masuk ke kastil itu terlebih setelah dirampas oleh wanita bernama Vesper," ucap William terlihat panik seketika.


"Oh, kau tahu hal itu?" tanya Catherine penasaran.

__ADS_1


"Aku hanya pernah dengar ceritanya. Rika masih tak mau memberikan detail mengenai Vesper padaku, ia seperti sengaja menyembunyikannya. Tiap aku menyebutkan namanya kepada para koneksiku, mereka seperti langsung membungkam mulutku rapat-rapat agar aku tak terlibat lebih jauh, aku penasaran," ucapnya bingung.


"Sebaiknya jangan. Jika Rika mengatakan itu berbahaya sebaiknya kau jangan nekat, William atau kau akan kehilangan nyawamu," ucap Catherine mengingatkan.


William diam sejenak dan akhirnya mengangguk pelan dengan senyum tipisnya.


Mobil William berbelok ke kiri di perempatan yang seharusnya mereka sudah tiba di kantor jika ia tetap melaju mobilnya lurus ke depan. Catherine bingung.


"Loh kita mau kemana?"


"Menjemput Ara," ucapnya santai.


Bibir Catherine langsung mengerucut. Ia mengira William khusus menjemputnya tanpa Ara ikut bersama mereka.


"Padahal aku sengaja memakai rok pendek eh si Ara kutu buku itu ikut juga, menyebalkan," ucapnya kesal dalam hati.


"Kau kenapa?" tanya William yang ternyata melihat gerak-gerik Catherine dari tempatnya duduk.


"Oh, nothing," ucapnya cepat dengan senyum terpaksa.


Catherine langsung membuang wajah dan melihat ke arah jendela. Tak lama mereka sampai di depan apartment milik Ara.


Terlihat Ara sudah bersiap dengan membawa roti dalam bungkusan kertas. Ia melambai pada William dan Catherine. Ara segera masuk dan duduk di belakang dengan riang.


"Hai," jawab Catherine dengan senyum terpaksa.


"Oh, pahamu kenapa merah seperti itu? Hmm ... ada bau kopi," ucap Ara mengendus mencari bau kopi di mobil William.


Catherine dan William hanya saling melirik dalam diamnya.


"Oia, sudah sarapan? Aku membawa donat," ucapnya sembari memberikan donat pada Catherine.


Ara sudah menggigit donat cokelat di mulutnya dan terlihat blepotan. Catherine mengambil bungkusan itu dan membuka isinya.


"Donat, huh? Klasik, apa karena kita polisi? Aku bahkan tak memiliki perut buncit," canda William.


Ara dan Catherine tertawa receh di dalam mobil. Catherine menawarkan donat pada William, tapi ia menolaknya karena masih sibuk menyetir.


Catherine menawarkan menyuapi donat padanya, tapi William juga menolaknya. Bagaimanapun hati William sudah terpatri untuk Sia seorang.


Tak lama, mereka sampai di markas CIA. Ara dan Catherine bersama William masuk ke dalam dan langsung menuju ke kantor kepala agent Rika.

__ADS_1


Ternyata di sana sudah ada senior Cecil dan Jack. Merekapun menyambut kedatangan William. Mereka duduk bersamaan di sofa ruang kerja yang sudah dipersiapkan.


"Jadi, apa ada perkembangan terbaru dari Sia, Rika?" tanya William tak sabaran.


"Yup. Congratulations, gadismu Sia, masuk dalam jajaran pewaris kursi di 13 Demon Heads. Gadismu kini benar-benar masuk dalam dunia mafia, William. Kau tak mungkin bisa membawanya kembali," ucap Rika tegas.


William kaget setengah mati. Ia tak percaya dengan ucapan Rika.


"Kau tahu dari mana?" tanya William panik yang langsung berdiri dan mendekati Rika.


"Agent kita, Liev. Ia memata-matai Sia ketika di kastil Borka. Ya walapun akhirnya ketahuan juga oleh anak buah Antony, tapi setidaknya Liev berhasil lolos. Ia kini sedang dipulangkan ke Amerika. Dia terluka cukup parah," ucap Rika menjelaskan.


William terlihat shock. Ia diam saja memejamkan matanya.


William menghembuskan nafas kasar dan berjalan lesu ke arah jendela kaca besar dan berdiri di depannya melihat bangunan megah tinggi menjulang khas kota metropolitan negara Amerika.


Ia terlihat sedih dan semua orang di ruangan itu tahu perasaannya.


"Kau ingin menyusulnya?" tanya Cecil tiba-tiba.


Semua orang tertegun berikut dengan William. William mengangguk cepat dan menatap Cecil seksama.


"Bisa saja, dengan satu cara," ucap Cecil terlihat serius dengan wajah datar.


"Oke, katakan. Aku siap melakukannya," ucap William yakin.


"Kau menyamar menjadi bodyguard lagi. Aku dengar, salah satu anggota dewan 13 Demon Heads sedang menghimpun pasukan. Salah satunya dengan menjadi bodyguard terkuatnya. Bertugas untuk selalu melindungi pemimpinnya. Lebih tepatnya seperti asisten kepercayaan. Seperti pekerjaanmu dulu," ucap Cecil menjelaskan.


"Oke, libatkan aku," ucap William antusias.


"Tapi, William. Dengan kau bergabung bersama mereka, kami tak bisa memberikan bantuan padamu secara tiba-tiba, itu akan membuat mereka curiga. Kami tak bisa memasang pelacak pula di tubuhmu, kau akan ketahuan. Kau benar-benar sendiri jika kau ingin menyeberang ke sana," ucap Cecil mengingatkan.


William menatap semua orang tajam. Ia sudah yakin dengan keputusannya.


"I'm ready," ucapnya mantab.


Cecil tersenyum miring sedang yang lain saling memandang tak bisa berkomentar.


---------


ILUSTRASI CATHERINE, CIA

__ADS_1


SOURCE : PINTEREST


__ADS_2