Secret Mission

Secret Mission
Menemukanmu*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Oke, kita akan melintas. Kita tak boleh terlalu mencolok," ucap Arthur dan semua orang mengangguk.


Mobil Arthur melaju perlahan mendekati rumah tersebut. Sia melirik saat melihat Torin menyiapkan sebuah mobil kecil dengan kamera di bagian depannya dan pengendali di pangkuan lelaki berambut gondrong itu.


"Aku siap," ucap Torin sembari memegang handle pembuka pintu.


William dan Sia yang tak tahu rencana dari dua lelaki tersebut diam saja menyimak ketika Arthur menghentikan mobil dengan jarak sekitar 100 meter setelah melewati rumah tersebut.


Torin menurunkan mobil camera tersebut di pinggir jalan dan Arthur dengan segera menginjak pedal gas mobilnya lagi.


William menoleh ke belakang ketika Torin menyalakan tablet yang dipasang pada sandaran belakang dudukan mobil Arthur.


"Oke, mari kita lihat," ucap Torin sembari mengendalikan mobil remote control itu.


Sia terlihat kagum ketika mobil kecil yang tadi dilihatnya melaju perlahan mendekati rumah yang disinyalir tempat ibu William bekerja dulu.


"Berapa radius tangkapan sinyal pengendali ke mobil tersebut?" tanya William penasaran.


"Kau lihat antena kecil di mobil tadi? Itu terkoneksi dengan satelit Theresia dengan bantuan GIGA. Tampilan di tablet ini, tersambung dengan pusat komando di mansion Los Angeles dan pusat kendali di rumah sewa tempat kita tinggali sementara waktu di Wilmington," jawab Torin santai dan William mengangguk paham.


Sia tersenyum tipis saat menyadari jika teknologi dari jajarannya cukup mengejutkan.


Sedang William menghela nafas terlihat kecewa karena ia tak pernah tahu teknologi semacam itu sepanjang karirnya.


"Hmm, jadi selama mendapatkan sinyal dari satelit, benda tadi bisa bergerak tanpa batasan jarak? Wow," ucap William kembali duduk menghadap jalanan.


Arthur dan lainnya tersenyum tipis. Mobil Arthur kembali ke mansion di mana Paman BinBin dan lainnya ikut memantau pergerakan dari mobil tersebut yang masih dikendalikan oleh Torin selama perjalanan pulang.


"Hmm, rumah itu sepi, Torin," sahut BinBin dan Torin mengangguk.


"William. Adakah pintu masuk lain? Mobil mini itu sudah mengitari rumah dan tak menemukan celah untuk bisa masuk ke dalam selain pintu," tanya Arthur sembari menggantungkan kunci di dekat pintu masuk.


William diam sejenak dengan kepala tertunduk mencoba mengingat masa kecilnya dulu.


"Maaf, aku tak bisa ingat semuanya. Sedikit terasa samar. Jika memang rumah itu sepi, kenapa kita tak menyelinap saja ke dalam?" tanya William mengusulkan.


"Nathan gak ikut. Nathan buruk dalam hal susup menyusup. Jordan aja," sahut Jonathan langsung menunjuk Jordan yang sedang asyik mengotak-atik ponselnya.


Jordan langsung beranjak dari sofa dan pergi menjauh. Ia menaiki tangga dan masuk ke kamar yang terlihat berada di lantai dua.


"Nathan harus desak papa Kai dan paman Eiji buat bikin alat pembaca pikiran. Si patung es bener-bener bikin Nathan harus belajar ilmu cenayang," sahut Jonathan terlihat kesal.


Semua orang tersenyum tipis.


"Aku akan sembunyikan mobil ini. Kita akan pantau pergerakan di rumah tersebut sampai disepakati, kapan kita akan menyusup ke dalam," ucap Torin sembari meletakkan pengendali mobil tersebut di atas meja samping televisi.


Semua orang mengangguk. Arthur yang akan berjaga terlebih dahulu sampai besok pagi. Orang-orang pamit untuk beristirahat dan akan melanjutkan misi esok hari.

__ADS_1


Keesokan harinya.


TOK! TOK! TOK!


"William! Sia!" panggil Arthur dari balik pintu.


CEKREK!


"Yes," jawab Sia dengan mata sayup masih terlihat lelah.


"Ada yang mendatangi rumah itu. Segera ke bawah," ucap Arthur serius dan mata Sia melebar seketika.


Sia membangunkan William dan dua orang itu segera mendatangi Arthur serta lainnya di ruang tengah yang mereka jadikan pusat misi sementara.


"Kau kenal orang itu, Will?" tanya Torin berdiri dengan serius melipat kedua tangan di depan dada.


"Tidak. Mungkinkah ... pengurus rumah?" tanya William menebak.


"Kita lihat saja pergerakannya. Torin, bisa kau ikuti orang itu?" tanya Arthur dan Torin dengan sigap mengambil lagi pengendali mobilnya.


Namun, saat mobil mini tersebut akan masuk ke dalam, pintu rumah di tutup. Para penonton mendesis.


Torin berinisiatif untuk mengelilingi rumah tersebut karena terlihat sosok wanita tak dikenal di balik jendela.


Mobil itu terus mengitari rumah sampai ke halaman belakang dengan pemandangan sebuah sungai yang menuju ke lautan.



"Apa, Jo?" tanya BinBin menatapnya tajam ketika mata Jonathan melebar dengan telunjuk terarah ke sebuah jendela yang berada di ujung seperti sebuah kamar.


"Dia di sana," ucapnya dengan senyum terkembang.


"Ha? Siapa? Mana?" tanya BinBin sampai ikut berdiri bahkan semua orang mendekati layar monitor 40 inch tersebut.


"Itukah? Sierra?" tanya Sia ikut melebarkan mata.


Jonathan tersenyum lebar sambil mengangguk. Ia seperti akan menangis. Sia dan William melirik Jonathan yang terlihat begitu bahagia bisa menemukan Sierra di sana.


Tiba-tiba, Jonathan langsung berlari menuju ke pintu dan memakai sepatu boots. Ia mengambil jas yang ia gantung di dekat pintu dan langsung mengenakannya.


"Jonathan, wait!" pekik Sia karena Jonathan bersemangat untuk segera pergi.


William dengan tergesa mendatangi Jonathan dengan tongkat penyangga. Namun, Arthur dan Torin dengan cepat memegangi tubuh Jonathan saat hampir keluar dari rumah.


"Hei, hei, jangan gegabah. Aku tahu kau sangat senang dan ingin bertemu dengannya, tapi kita harus pastikan dulu. Aku takut ini jebakan," ucap Torin menasehati.


"Ya, ya, itu benar, Jo. Tahan dirimu. Kita pantau dulu pergerakan mereka selama satu hari penuh. Jangan sampai usahamu bertahun-tahun untuk bertemu dengan Sierra sia-sia karena kau tak sabaran," tegas Arthur memblokir pintu keluar.


Jonathan terlihat kesal. Ia mengacak-acak rambutnya sampai berantakan.

__ADS_1


"Jonathan. Apa yang dikatakan Torin dan Arthur benar. Kau tahu kisahku 'kan? Kau bahkan ada di sana saat aku berusaha agar bisa bertemu dengan Sia. Kau bahkan membohongiku dengan mengaku sebagai Jordan," imbuh William dan Jonathan meringis saat mengingat masa itu.


Sia yang mendengar pengakuan William hanya bisa tertunduk, tapi ia merasa bahagia karena perjuangan William berbuah manis dan tak sia-sia.


"Ya, itu benar, Jo. Lihatlah, akhirnya kami bisa bersama. Ya, meskipun itu sulit. Bersabarlah, seperti katamu waktu itu, 'Sierra bisa menunggu'. Kau ingat?" sambung Sia yang praktis, membuat Jonathan langsung tersadar. Remaja tampan itu mengangguk.


"Hei, hei, kemarilah!" panggil BinBin yang masih mengawasi pergerakan di rumah itu dan kini ia yang mengendalikan remote mobil mini.


"Sepertinya ada banyak orang di rumah itu. Entah mereka datang dari mana, tapi mendadak mereka muncul begitu saja," ucap BinBin menginformasikan dan menunjuk beberapa jendela di mana terlihat beberapa orang mengenakan jas hitam.


"Gaya mereka, The Circle," ucap Arthur menyipitkan mata dan semua orang mengangguk.


"Tessa," ucap Jordan yang mengejutkan semua orang.


"What? Di mana?" tanya BinBin bingung.


Tiba-tiba, semua orang panik seketika. Wajah Tessa muncul di depan kamera mobil tersebut.


Wanita berambut pirang itu berjongkok di depan mobil mini dan mengambil benda tersebut. Ia hadapkan ke wajahnya.


"Hmm, ada yang mengintip. Kau nakal," ucapnya gemas.


Namun, tiba-tiba. Layar pada mobil mini itu padam. Semua orang dibuat kaget karena tak tahu apa yang Tessa lakukan pada mobil tersebut.


"Kita ketahuan! Kita harus segera pergi dari sini!" pekik Torin panik.


Semua orang ikut dibuat cemas seketika. BinBin dan lainnya segera bergegas untuk berkemas.


Mereka harus segera pergi dari tempat itu sebelum ditemukan oleh Tessa dan anak buahnya.


"Siapkan mobil, Jo!" pekik BinBin dan Jonathan mengangguk cepat.


Ia mengambil kunci yang digantung dekat pintu. Jonathan berlari kencang menuju ke garasi mobil dan membuka pintu tersebut.


Jonathan mengeluarkan dua buah mobil yang mereka gunakan selama menjalankan misi di Wilmington.


Jonathan membuka bagasi belakang mobil agar orang-orangnya bisa dengan segera memasukkan barang-barang ke dalamnya.


Saat Jonathan berlari ke mobil di belakangnya, matanya melebar seketika.


"Jonathan!" pekik William lantang berdiri di kejauhan menenteng sebuah koper.


SWOOSHH!! BLUARRR!!


***


ILUSTRASI


SOURCE : PINTEREST

__ADS_1


__ADS_2