Secret Mission

Secret Mission
Kami Mencurigaimu


__ADS_3

Di mobil Mustang William. Empat orang itu memutuskan menjalankan seperti rencana awal untuk kembali ke Virginia keesokan harinya.


William ingin mengamankan dua seniornya di Apartment-nya terlebih dahulu sebelum melanjutkan misi.


Sia mengenakan kacamata khusus pemberian Yes mencoba terlihat profesional layaknya Agent seperti William.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Yes, do you hear me? Copy," panggilnya berlagak dengan pandangan lurus ke depan menatap jalanan.


"Kenapa kembali? Kalian mau kemana?" jawab Yes yang suaranya cukup santer terdengar dari speaker kecil di lekukan gagang penyangga kacamata pada daun telinga.


Sia sengaja tak menggunakan earphone agar orang-orang ikut mendengarnya. William dan lainnya berpura-pura tak mendengar ucapan Yes.


"Cecil dan Rika di serang," jawab Sia menoleh dan terlihat dua Agent pensiunan itu berantakan, sengaja berakting ingin mendengar respon dari Yes.


"Oleh siapa?" tanya Yes cepat.


"The Circle. Denzel tahu kami mengincarnya. Oleh karena itu, kami akan berkunjung ke rumahnya. Siapkan pasukan penyerang," ucap Sia tegas kembali melihat jalanan di depannya di hari yang mulai gelap.


"Oke. Berikan lokasi Denzel pada kami. Akan segera ku kirimkan pasukan ke sana. Pastikan sasaranmu berada di posisinya. Jika sampai lolos, kalian kuanggap gagal. Mengerti?!" tegas Yes.


"Copy that."


Sia melepaskan kacamata dan kembali melipatnya. Ia kesal karena diperintah bahkan oleh orang yang dibencinya, terlebih CIA.


Akhirnya, perjalanan selama 12 jam itu pun berakhir. William memberikan kunci rumahnya kepada Cecil.


Dua pensiunan CIA itu pun bergegas masuk ke dalam dan tinggal di sana selama Sia serta William menyelesaikan misi.


"Kau siap, Sayang? Lelah?" tanya William mencemaskan keadaan isterinya.


"I'm fine. Entahlah, aku sedikit bersemangat. Sudah lama sekali kita tak tegang seperti ini, Will," jawab Sia dengan wajah berbinar.


William terkekeh, ia mengangguk setuju. Saat jantung Sia berdebar karena tangan William menyentuh wajahnya lembut, tiba-tiba ....


SRETT!


"Agh! Apa yang kau lakukan?!" pekik Sia memegangi dahinya karena William mencabut plesternya kasar.


"Aku tak suka melihat wajahmu ditambal-tambal seperti preman. Biarkan saja agar cepat kering," jawab William sembari meniup luka Sia dengan kening berkerut.


Sia yang kesal itu memalingkan wajah dan memposisikan diri seperti orang tidur. William menghela nafas.


Ia pun membiarkan isterinya beristirahat selama perjalanannya menuju ke Porthsmout, New Hampshire.


Perjalanan selama 10 jam lebih menuju ke New Hampshire, tentu saja membuat keduanya lelah. Sia meminta singgah di New York dan William pun setuju.


Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. William mengajak Sia ke hostel yang dulu pernah ia singgahi saat mengantarkan Rahul ke Apartment Theresia.


Sia melihat Apartment mewah ibunya dengan wajah sedih. William menyadarinya saat melewati gedung tinggi tersebut.


"Eh? Kenapa berhenti?" tanya Sia heran karena William meminggirkan mobilnya di dekat Apartment ibunya.


"Jika kau mau ke sana tak apa. Besok pagi akan kujemput," ucap William dengan senyum tipis.

__ADS_1


Sia diam sejenak dan pada akhirnya menggeleng pelan.


"Aku bersamamu saja. Aku sekarang isterimu. Keluargaku pasti mengerti dengan keputusanku. Kita ke Hostel yang kau bilang tadi," jawab Sia dengan senyum terkembang.


William tahu jika Sia pasti merindukan keluarganya, tapi ia juga sangat mengharapkan Sia selalu berada di sampingnya. William terharu dan menghormati keputusan isterinya.


Namun, saat mobil William akan kembali melaju, mata keduanya melebar seketika saat mendapati seorang lelaki berdiri di depan mobilnya.


CEKREK!!


"Get out!" perintah Rahul terlihat begitu marah padanya.


Sia panik saat mobil Mustang William dikelilingi oleh lelaki berpakaian hitam dan berwajah seram.


William keluar perlahan dengan kedua tangan terangkat. Ia berdiri di depan Rahul terlihat gugup.


BUAKK!!


"WILLIAM!" teriak Sia panik, tapi ia tak bisa melakukan apapun karena moncong pistol di arahkan padanya.


William yang tak siap dengan pukulan Rahul terhuyung sembari memegangi bibirnya yang berdarah, bertumpu di samping pintu kemudi.


"Kau membohongiku, Agent CIA. Jadi ... Sia ya? Wow. Aku penasaran bagaimana pengadilan 13 Demon Heads akan mengeksekusi mati kalian berdua," kekeh Rahul dengan senyum iblisnya.


William kembali berdiri tegak, mencoba untuk menjelaskan pada Rahul. Namun, BUAKK!! BRUKK!


"WILLIAM!" teriak Sia lagi yang kini nekat keluar meski banyak orang yang menodongkan pistol padanya.


"Hei! Hei! Berani-beraninya kau memukul suamiku!" teriak Sia lantang.


Sontak semua orang terkejut.


Mata Sia menyipit menatap Rahul tajam. Terlihat orang-orang Rahul tersenyum miring bahkan ada Rajesh, Ace dan Shamus.


"Semakin menarik. Apakah ... Boleslav tahu hal ini?" tanya Rahul yang kini mendekati Sia dan menatapnya penuh selidik dengan senyum tengil.


Sia diam sejenak. Ia teringat akan pesan ibunya melalui GIGA SIA. Ia melirik William yang ikut di todongkan pistol. Ia tahu jika nyawa mereka berdua terancam.


"Pernikahan kami hanya sandiwara untuk mengelabuhi CIA. William sepakat dengan hal itu. Tujuan kami Denzel Flame. Kau ikut atau tidak?" tanya Sia menatap Rahul tajam seperti menantangnya.


William tertegun mendengar ucapan Sia yang mendadak membuatnya sakit hati. Namun, Sia memberikan kode dengan lirikan mata dan anggukan pelan. William memilih diam karena ia tak tahu apa yang isterinya rencanakan.


"Kalian bersengkongkol?" tanya Rahul menunjuk Sia dan William bergantian.


"Ya. Saat di Kastil Borka, Arjuna sengaja mengatakannya untuk membuat kehebohan. Agar kalian memburuku dan ... kau cukup hebat, Tuan ...," ucap Sia menggantung karena ia tak yakin dengan lelaki di depannya ini.


"Rahul. Anak kedua Raja Khrisna," jawabnya cepat dan Sia mengangguk pelan.


"Pantas saja wajahnya mirip dengan Raja, ternyata anaknya. Namun, ia kelihatan bodoh. Akan kumanfaatkan," ucap Sia dalam hati.


"Baiklah, Tuan Rahul. Kau cukup hebat bisa menemukanku. Dari semua mafia dalam jajaran 13 Demon Heads hanya kau yang muncul sejauh ini. Apakah ... imbalan jika menangkap kami berdua tinggi?" tanya Sia memancing.


"Hem. Lumayan. Jika membawa kalian berdua hidup-hidup ke Persidangan 13 Demon Heads, kakakku Jamal akan langsung dinobatkan menjadi salah satu anggota dewan tanpa harus menunggu ayahku lengser. Cukup menggiurkan," jawab Jamal bertolak pinggang terlihat bangga.


"Hmm, lalu ... jika kau berhasil menumpas The Circle, Denzel Flame, apa imbalannya?" tanya Sia lagi.

__ADS_1


Rahul diam sejenak. Ia melirik Rajesh dan lelaki itu mendatanginya.


"Kau akan mendapatkan jatah kursi saat ada anggota dewan yang lengser tanpa harus seleksi."


"Wow! Sungguh? Hah, keluarga Khrisna akan duduk di 3 kursi sekaligus. Hmm, sangat menjanjikan dan aku sangat tertarik. Namun, ada dua pilihan sulit untukku. Apa yang harus kuambil ya?" ucapnya sembari memegangi dagunya terlihat berpikir keras.


William dan Sia terlihat panik.


"Dua-duanya saja!" sahut William cepat.


Sia terkejut dan menatap suaminya seksama. Kini, William yang memberikan kode untuk percaya padanya.


"Apa maksudmu? Bagaimana bisa diambil keduanya?" tanya Rahul bingung.


"Kita lenyapkan Denzel Flame. Jika berhasil, kau akan dapat hadiahmu. Lalu setelah itu ... kau bawa kami ke Pengadilan 13 Demon Heads. Setuju?" tanya William mengajak negosiasi.


"William, kau gila! Jordan bisa membunuh kita berdua! Dia eksekutor di Pengadilan itu!" pekik Sia langsung protes.


Rahul melihat jika Sia marah dengan keputusan William, tapi Agent CIA itu seperti berusaha meyakinkannya jika itu bukan hal besar.


Rahul melihat jika Sia dan William menikah karena memang sebuah misi bukan karena cinta.


"Oke! Aku terima," jawab Rahul cepat dan mengajak William berjabat tangan.


Mulut Sia menganga lebar saat William menyambut jabat tangan Rahul meski terlihat ragu. Orang-orang Rahul menurunkan pistol dan terlihat mulai tenang.


Nafas Sia menderu. Ia tak percaya jika William malah membawanya ke tempat yang sangat tak ia harapkan.


Rahul lalu membawa Sia dan William ke Apartment Theresia. Dua orang itu terlihat tegang saat melakukan proses pemindaian.


William dan Sia dijaga ketat sepanjang jalan sampai ke kamar yang ditunjuk oleh Rahul. Sia dan William masuk ke dalam dengan gugup.


"Kalian tak bisa keluar dari kamar ini sampai aku sendiri yang menjemput. Jangan coba kabur atau sistem persenjataan di tempat ini akan menewaskan kalian dengan sangat mengerikan meskipun gedung ini milik ibumu, tapi 13 Demon Heads sudah mengumumkan bahwa kau pengkhianat, Sia," ucap Rahul tegas dan menutup pintu tersebut.


Sia terlihat tertekan dan William diam saja melihat isterinya berpaling darinya sembari memegangi kepalanya.


"Apa yang kau pikirkan, Will? Kita sehidup semati, begitu?" tanya Sia tak habis pikir dengan suaminya tersebut.


"Sia dengar. Kita akan menjebak Rahul di tempat Denzel. Itu satu-satunya cara agar Rahul tak membawa kita ke Pengadilan 13 Demon Heads," jawab William memegangi lengan isterinya dan menatapnya serius.


"What? Kau mengumpankan Rahul? Kau ingin membunuhnya?" pekik Sia sampai matanya terbelalak lebar.


"Yes! Kau lihat sendiri Rahul seperti apa. Jika dia menjadi anggota dewan, kau akan ditindas olehnya. Lelaki itu sangat egois. Bahkan calon isterinya saja diumpankan untuk menjebak Axton dan Nandra kini malah menjadi wanitanya. Rahul tak pantas untuk dibela. Ia sama saja dengan Denzel, tapi dari kelompok mafia yang berbeda," ucap William tegas.


Sia terlihat bingung dengan hal ini. Ia melepaskan cengkeraman William di lengannya dan mencoba untuk menenangkan diri.


"Biarkan saja Rahul dan Denzel saling berperang. CIA akan datang untuk melenyapkan keduanya. Kita bisa pergi dan mendapatkan perlindungan dari CIA. Kita berdua bisa mendapatkan impian kita untuk hidup seperti warga sipil. Bukankah itu yang kau inginkan?" tanya William mendesak isterinya lagi.


Kening Sia berkerut. Ia merasa banyak tekanan dalam hatinya akan hal ini.


"Apakah yang kau katakan tadi sebuah kebenaran, jika pernikahan kita hanya sandiwara?" tanya William menatap Sia tajam.


Sia tertegun. Ia menggeleng cepat dan segera memeluk William erat.


"No. Aku sungguh mencintaimu, Will. Aku mengatakan hal menyakitkan itu untuk menyelamatkan nyawa kita berdua. Maaf, jika ucapanku menyinggungmu, aku terpaksa melakukannya," ucap Sia terlihat takut jika kehilangan kekasih hidupnya.

__ADS_1


William balas memeluk Sia dan mengecup keningnya.


"Ya, aku percaya padamu, Sayang. Aku juga sangat mencintaimu," ucap William tulus memeluk Sia erat.


__ADS_2