Secret Mission

Secret Mission
Let's Move!


__ADS_3

Akhirnya Sia menurut dan duduk di kursi belakang. William segera melaju kendaraannya menuju ke mansion Rio.


Tentu saja mereka berpura-pura layaknya nona muda dan bodyguard. Saat mereka berdua memasuki mansion, William terkejut melihat Selena, Rio dan Konstantin berada di ruang tengah berkumpul bersama dan menatap mereka berdua.


“Kalian sudah pulang rupanya. Mana hasil tesnya?” tanya Rio sembari menyodorkan tangan kanannya.


Sia pun membuka tas jinjingnya dan mengambil amplop hasil laboratorium. Sia menyerahkannya pada Rio.


Dengan segera Rio langsung membuka dan membacanya. Tak lama Igor datang, Sia dan William menatapnya seksama.


Igor melirik William sepintas. Masih membaca hasil lab, Rio bertanya pada Igor.


“Jadi bagaimana?”


Igor melakukan gerakan isyarat dengan kedua tangannya. Sia mengetahui apa yang Igor sampaikan. Rio menyeringai.


“Tangkap dia,” ucap Rio sembari menunjuk William.


“What?” William bingung.


Sia dan Selena panik. Dengan cepat Igor mendatangi William dengan langkah cepat, William pun langsung reflek.


Ia menampik tangan Igor kuat. Semua orang tertegun, Igor menyeringai. Akhirnya, William dan Igor berkelahi hebat di ruang tengah itu.


Rio langsung berdiri dan mendatangi Sia yang sedang panik menyaksikan Igor memukul William bertubi-tubi dengan lengan besarnya.


Rio langsung menjambak rambut Sia hingga Sia merintih kesakitan memegangi tangan Rio. Selena bingung. Konstantin hanya diam saja di sofa sambil menghisap cerutunya.


“Selena, jangan ikut campur. Lelaki itu tak mencintaimu, lupakanlah,” ucap Konstantin sembari menghembuskan napas dengan kepulan asap tebal dari mulutnya.


Selena diam. Sia dibawa Rio ke kamarnya. Sia menangis terisak dan tetap berusaha melepaskan cengkraman Rio.


Sia didorong paksa hingga jatuh tengkurap di atas ranjang. Rio menutup pintu kamar dengan kakinya dan segera melepas ikat pinggangnya.


Ia melilitkannya di tangan kanannya dan tangan kiri menarik ujung sabuk kulit itu. Ia mendatangi Sia dengan wajah bengisnya.


KRETT ...


“Agh! Ugh!” leher Sia dijerat! Sia tercekik.


Rio mendekatkan wajahnya dipipi Sia. Wajah Sia memerah, urat di lehernya menegang, Sia kesulitan bernafas.


“Kau, sudah berani berbohong padaku. Kau kira aku tak tahu apa yang kau lakukan dengan William, huh?” ucap Rio penuh kebencian padanya.


Sia merintih dan mulai berlinang air mata. Dahinya berkerut, Sia mencoba melawan.


DUAKK!


“Agh.. shit!”


Hidung Rio terkantuk kepala Sia hingga berdarah. Tak cukup sampai disitu, Sia menendang kejantanan Rio hingga dia terdorong mundur beberapa langkah dan masih memegang ikat pinggangnya.

__ADS_1


Sia segera bangun dan ...


PRANG!


BRAKK!


“Agh!”


Rio jatuh tersungkur di lantai setelah dilempar lampu tidur oleh Sia dari samping ranjang Rio hingga pecah dan membuat kepala Rio berdarah.


Sia langsung bergegas mengambil kursi kayu di meja kecil dekat jendela kamar Rio dan langsung memukul kuat ke tubuhnya hingga kaki kursi itu patah. Nafas Sia tersengal.


Sia segera bergegas berlari menuju ke pintu kamar Rio hendak keluar. Saat Sia akan membuka pintunya ...


“Agh! Rio, lepaskan!”


PLAK! PLAK! PLAK!


“Aghh! Rio ... please let me go....” ucap Sia memohon dan mulai menangis setelah Rio menarik rambut panjangnya lalu menamparnya tiga kali hingga pipinya lebam dan berdarah.


Kali ini Rio tak memberinya ampun. Ia mencium bibir Sia dengan ganas. Sia langsung merapatkan mulutnya dan mendorong tubuh Rio kuat hingga cengkraman di rambut Sia terlepas.


Nafas Sia dan Rio tersengal. Mereka saling berhadapan dan bertatapan.


“Selama ini aku sudah menahan diri padamu, Sia, tapi tidak kali ini,” ucapnya dengan seringai mulai muncul.


“Your sick!”


Rio langsung bergegas mendatanginya dan menarik pinggulnya. Rio mendekapnya erat. Sia meronta.


“Aaaa ... William! Help!” teriak Sia lantang melepaskan dekapan Rio di pinggulnya.


Rio menariknya dan menindihi Sia diatas ranjang. Sia berlinang air mata, Rio akan memerkosanya.


“Rio please ... no ... please ...” rintih Sia dimana Rio sudah berhasil melepaskan baju Sia dan melemparkan begitu saja dilantai.


Tiba-tiba ...


BRAKK!


Sia dan Rio tertegun. Julius membuka pintu kamar Rio, ia terlihat marah dan langsung mendatangi Rio.


PLAKK!


BRUKK!


Julius menarik bahu Rio kuat hingga ia berdiri sempoyongan dan langsung mendapatkan tamparan kuat di pipinya serta tendangan di perutnya dari ayahnya.


Julius menatap Rio keji. Sia lega, ayahnya datang menolongnya. Sia langsung bergegas berdiri dan hanya memakai bra dan celana jeans panjangnya mendatangi ayahnya dan memeluknya erat.


Julius balas memeluk anak gadisnya yang menangis terisak. Saat Julius membawanya keluar kamar Sia,

__ADS_1


PRANG!


“Agh!”


Kepala belakang Julius dipukul dengan vas bunga di meja kayu samping jendela kamar Rio dengan kuat hingga Julius jatuh tersungkur di lantai.


“DAD!” pekik Sia tertegun melihat Rio begitu tega pada ayahnya. Julius memegang kepalanya yang sakit dan berdarah.


Rio terlihat tak bersalah. Ia kembali mendatangi Sia dan kini memukul wajahnya hingga Sia berdarah di hidungnya.


Sia ikut jatuh di lantai disamping Julius. Sia merintih kesakitan. Julius berusaha bangun dan mendekati Sia yang berdarah di wajahnya.


“Rio, are you crazy? She’s your sister!”pekik Julius geram.


Sia jatuh terlentang di lantai dan memejamkan mata memegangi hidungnya yang berdarah. Rio terkekeh.


“Huh, sayangnya bukan adik kandungku. Aku bosan selalu menjadi bonekamu, Ayah. Aku melakukan semua permintaanmu, tapi, dimanapun aku berada, aku selalu disebut anak haram. Kau juga tak memberikan warisan padaku. Kau pikir aku tak tahu? Tentu saja aku tahu! Kau mengatas namakan semua warisanmu pada Sia, anak sahmu!” ucap Rio penuh kebencian pada Julius, Ayahnya.


Julius memegang wajah Sia dan menatapnya saksama.


“Kau ingin harta dan kekuasaan, huh? Ambil saja. Ambil sesukamu, tapi jangan sakiti Sia,” ucap Julius terlihat sedih.


Sia melirik ayahnya saksama. Ia tak menyangka jika ayahnya begitu menyayanginya selama ini.


Ia mengira Julius hanya menyayangi Rio, karena ia begitu dekat dengannya. Sia memegang lengan ayahnya kuat. Julius menoleh ke arahnya. Sia berusaha bangun dan Julius membantunya.


“Sayangnya aku sudah tak butuh. Konstantin dan aku sudah bekerjasama untuk menjatuhkanmu. Aku sudah menyerahkan semua laporan kejahatanmu lewat Selena. Selena sudah menceritakan semuanya padaku tentang keterlibatannya pada CIA. Kau bisa menghabiskan sisa hidupmu dipenjara, Ayah. Kau tak usah kawatir dengan Sia, dia akan menjadi budak se*s ku. Aku tak sudi menikahinya, William sudah mendapatkannya lebih dulu. Aku tak suka barang bekas,” ucapnya sinis.


Mulut Sia menganga, ia tak percaya dengan apa yang Rio katakan. Julius terlihat marah.


“Takkan kubiarkan! Baj*ngan keparat sepertimu harusnya tak lahir di dunia ini! Jika bukan karena ibumu pela*ur yang membuatku terpaksa merawatmu, Ibu Sia tak perlu mengalami depresi karenanya!” ucap Julius mengutarakan perasaan terpendamnya.


Mata Sia terbelalak. Ia tak pernah tahu akan hal itu. Rio terlihat marah dan ...


DOR!


Sia tertegun. Rio menembak dada Julius. Air mata Sia langsung menetes dengan sendirinya.


Pandangan Julius tak menentu, Sia langsung memegang kedua bahu ayahnya erat dan menatapnya seksama dengan panik. Julius langsung roboh dipelukan Sia.


Sia gemetaran, ia memegang wajah ayahnya yang terlihat pucat itu.


“Maafkan ayah, Sia ... Ayah minta maaf ...” ucapnya lirih.


Dahi Sia berkerut, ia menahan air matanya. Sia memeluk ayahnya erat. Namun, Rio kembali mendatanginya dan menarik lengan Sia kuat hingga dia berdiri.


Julius roboh di lantai dan berdarah hebat di dadanya. Sia diseret paksa keluar kamar oleh Rio.


Sia menangis terisak dan berusaha melepaskan cengkraman Rio. Sia melihat ayahnya tergeletak lemas di lantai memegangi dadanya.


------

__ADS_1


jangan lupa like, komen, bintang 5 dan votenya ya. kekekeke banyak banget dah maunya lele😆


__ADS_2