Secret Mission

Secret Mission
Kisah Axton


__ADS_3

Berita meninggalnya Axton dan Sergei, tentu saja mengundang duka mendalam di hati semua orang yang mengenal mereka.


Suasana duka menyelimuti kediaman Axton di Boston. Pembersihan besar-besaran terjadi di mansion Axton peninggalan leluhurnya, Giamoco di Boston, Amerika.


Black Armys yang bertugas di mansion Han dikerahkan untuk merapikan mansion tersebut.


Para mafia elite hadir untuk menghormati pemakaman Adrian Axton, salah satu anggota dewan 13 Demon Heads yang cukup lama bertahan sejak generasi keempat, membuat banyak mafia menaruh hormat padanya.


Nandra tak henti-hentinya menangis karena masih tidak bisa merelakan kepergian Sang Casanova untuk selama-lamanya.


Yuki ikut tenggelam dalam kesedihan. Ia teringat akan kenangannya bersama Sergei, kekasihnya.


Eiji, kakak dari Yuki, yang sejak awal tidak pernah merestui hubungannya kini hanya bisa diam ketika melihat adik yang sangat disayanginya menangis sedih di depan peti kekasihnya.


Eiji tahu jika Sergei sangat mencintai Yuki. Namun, karena latar belakang Sergei yang tidak jelas dan umurnya yang hampir seumuran Vesper, membuat Eiji merasa jika Sergei tidak pantas untuk menjadi pendamping hidup adiknya.


Sia melihat Eiji mendekati Yuki yang masih berusaha merelakan kepergian sang kekasih.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Yuki, sudahlah. Sergei ...."


"Kau pasti sangat senang 'kan karena dia mati? Doamu terkabul, Kak. Kini aku sungguh berpisah dengannya," ucap Yuki tiba-tiba sembari menampik tangan Eiji saat sang kakak menyentuh bahunya.


Eiji tertegun karena Yuki tak pernah bersikap kasar padanya selama ini. Yuki yang ia kenal begitu penurut bahkan tak pernah membantah. Eiji terdiam.


"Apa kau tahu kenapa aku begitu mencintainya? Apa kau tahu?!" tanya Yuki dengan air mata sudah membanjiri wajah.


Eiji menggeleng pelan. Yuki tersenyum sinis.


"Tentu saja kau tidak tahu. Kau terlalu sibuk dengan urusanmu. Kau kini juga sibuk dengan keluargamu. Kau bahkan tidak memberikan Sergei kesempatan untuk menceritakan tentang dirinya. Kau pikir yang kau lakukan untukku selama ini adalah hal yang benar? Tidak, Kak. Tidak untukku. Kau tidak pernah menanyakan pendapatku. Semua hal-hal yang kau katakan padaku itu bersifat perintah. Kau bahkan tidak mengizinkanku untuk membantah. Mulai kini, jangan campuri lagi urusanku. Kau tak kuizinkan untuk menentukan siapa calon suamiku nanti. Jika kau masih menganggapku sebagai Adik, biarkan Adikmu ini memilih jalan kehidupan bersama lelaki yang dicintainya meski kau tidak merestui, aku tidak peduli," ucap Yuki tegas berdiri di hadapan Kakaknya dengan wajah tergenang air mata.


Eiji shock mendengar penuturan Yuki yang tak pernah disangkanya. Yuki pergi begitu saja meninggalkan Eiji yang masih terkejut akan sikapnya.


Eiji memanggil-manggil namanya dan berusaha mengejar adiknya, tapi Yuki malah berlari semakin kencang dan menjauh.


"Eiji, jangan. Biarkan dia. Yuki butuh waktu untuk menenangkan diri. Jangan memaksanya. Setidaknya, kau kini tahu apa yang dirasakan oleh adikmu selama ini. Hargailah keputusannya," ucap Sia yang berdiri di hadapannya menghadang langkah Eiji.

__ADS_1


Eiji terdiam dan mengangguk pelan. Monica mendatanginya dan memeluk suaminya erat. Eiji menangis. Ia tak menyangka jika keputusannya selama ini ternyata membuat hati adiknya bersedih.


Sia kini berjalan mengunjungi Nandra yang masih berada di kamar mansion Axton bersama bayinya.


Namun, Sia merasa jika Nandra melupakan anaknya. Wanita India itu masih menangisi Axton bahkan belum bersiap untuk pemakaman.


"Nandra, sepertinya bayimu haus," ucap Sia sembari mengambil bayi Ryan dari box dan memberanikan diri menimangnya.


Nandra yang duduk di pinggir ranjang menoleh. Ia menghapus air matanya, tapi tak beranjak dari tempatnya duduk.


Sia mendekati Nandra dan ikut duduk di sampingnya sembari menggendong bayi Ryan yang mulai berhenti menangis.


"Axton mempercayakan anaknya padamu, Nandra, bukan wanita lain. Dia memilihmu dari sekian banyak wanita yang pernah hidup bersamanya. Aku yakin jika hal itu bukan sebuah kebetulan dan tanpa alasan. Awalnya aku sempat tak percaya ketika ayahku mengatakan jika Axton pernah membuat perjanjian gila dengan Dewa Kematian," ucap Sia sembari menatap bayi Ryan dengan senyuman.


"Dewa Kematian?" tanya Nandra berkerut kening.


"Lelaki gila itu membuat kesepakatan dengan Dewa Kematian ketika ia pernah hampir mati saat kami berempat diberikan misi oleh Theresia, nenek dari Sia," ucap Boleslav tiba-tiba muncul.


Nandra dan Sia terkejut akan kehadiran Boleslav yang tiba-tiba. Sia tersenyum melihat ayahnya datang dan kini berdiri di sampingnya.


"Memang apa yang terjadi?" tanya Nandra bingung.


"Axton mengatakan jika ia tersangkut di sebuah pohon. Ia tergantung di sana dan tidak bisa turun. Ia kelaparan, kehausan, kedinginan, kepanasan dan sendirian selama 3 hari. Saat Axton sudah merasa ia akan mati, ia melihat sosok bayangan hitam di hadapannya. Kami saat itu merasa jika Axton berhalusinasi mengingat keadaannya yang memprihatinkan, tapi ia begitu serius bercerita. Tak ingin menyinggungnya, kami pun mendengarkan ocehannya," jawab Boleslav yang kini duduk di sebuah sofa menghadap dua wanita cantik di depannya.


"Apa yang Axton katakan?" tanya Nandra sudah mulai tenang dan kini malah penasaran dengan cerita masa lalu Axton.


"Axton bilang, "Kau hanya boleh mengambil nyawaku ketika suatu saat nanti aku mencintai seorang wanita dan anakku lahir dari rahimnya. Jika hal itu belum terjadi, kau tidak boleh mengambil nyawaku. Berani kau mencabut nyawaku, akan kuobrak-abrik nerakamu atau sebagai gantinya, akan kuberikan neraka untukmu. Apa yang kau inginkan dariku untuk menukar nyawaku hari ini?" Yah begitulah kira-kira ucapan gilanya yang kuingat," jawab Boleslav menghembuskan nafas panjang.


Nandra terkejut mendengar ucapan Boleslav barusan. Sia yang sudah mendengar cerita ini saat di pesawat hanya bisa tersenyum tipis karena baginya cukup unik.


"Sebenarnya cukup aneh dari permintaan Dewa Kematian itu. Kami semakin yakin, jika itu hanya akal-akalan Axton saja. Dia bilang jika Dewa Kematian menginginkan agar Axton selalu memanjakan semua wanita yang dekat dengannya seperti ia memanjakan ibunya. Namun, cara memanjakannya menyimpang. Jika dia menganggap para wanita itu seperti ibunya, kenapa ia menidurinya? Otaknya memang sangat bermasalah," tegas Boleslav geleng-geleng kepala.


"Kau melupakan satu hal, Tony," ucap Sherly tiba-tiba saat ia dan Ivan masuk ke kamar Nandra.


"Tak ada yang kulewatkan," jawab Boleslav cepat melirik Ivan tajam.


Ivan tersenyum dan dengan cepat Sherly menerjemahkan dari bahasa isyarat suaminya.

__ADS_1


"Saat semua orang mulai meninggalkan Axton karena omong kosongnya dan hanya tertinggal kau, aku dan Erik, Axton melanjutkan ceritanya."


Kening Boleslav berkerut. Ivan kembali tersenyum.


"Dewa Kematian meminta agar Axton membunuh orang-orang yang pernah menyakiti para wanita yang dekat dengannya dan kesepakatan terakhir itu menjadikan Axton seorang psikopat. Kau tak ingat, Axton bahkan tega membunuh ayahnya sendiri."


Sontak, ucapan terakhir yang diterjemahkan oleh Sherly membuat kaget semua orang. Boleslav terdiam selama beberapa saat.


"Ax-Axton membunuh ayahnya sendiri? Kenapa?" tanya Sia shock begitupula Nandra.


"Pihak Rumah Sakit dan Polisi mengatakan jika itu murni kecelakaan, tapi Axton tak pernah percaya. Hingga akhirnya, dia menyelidikinya sendiri dan mengetahui penyebabnya setelah menemukan buku diary yang disembunyikan ibunya di lemari pakaian. Ibunya meninggal karena berulang kali diselingkuhi oleh ayahnya. Depresi dan akhirnya bunuh diri dengan menceburkan diri ke sungai sembari mengendarai mobil. Ia sengaja mabuk bahkan menuangkan minuman keras di tempatnya duduk. Semua skenario kematiannya, tertulis persis dengan catatan kepolisian dan rumah sakit," jawab Boleslav terlihat serius.


Nandra dan Sia tertegun. Sherly dengan sigap mendatangi Sia dan menggendong bayi Ryan karena menangis.


"Axton mencintaimu, Nandra. Ini keputusannya. Ia tahu jika sudah waktunya untuk mati. Petualangannya sebagai Casanova dan Psikopat sudah membuatnya jenuh. Ia berpikir untuk mengakhirinya dan ia memilihmu sebagai pelabuhan terakhirnya," ucap Ivan yang diterjemahkan Sherly lagi.


"Lelaki yang menyakitimu, Rahul, telah tewas meski bukan ia yang membunuhnya. Namun, aku yakin jika Axton merasa jika dendam sudah dituntaskan," sahut Boleslav menatap Nandra tajam.


Nandra kembali menangis. Ia tak percaya dengan perasaan Axton padanya selama ini. Axton tak pernah mengatakan cinta bahkan memintanya untuk menikah.


Tangis Nandra makin menjadi. Ia tak sanggup membendung air matanya lagi.


Sia mendekatinya dan memeluknya. Sherly ikut mendatangi Nandra sembari memberikan bayinya yang merindukan kasih sayang Sang Ibu.


Nandra menggendong bayinya dengan penuh kasih. Ia menatap wajah putera kecilnya yang baginya mirip Axton. Nandra mencium kening anaknya lembut.


"Aku akan menjaga harta terakhirmu, Axton, anak kita. Satu-satunya cinta yang kau berikan hanya untukku. Terima kasih, Axton," ucap Nandra memeluk bayinya erat.


Sia dan Sherly ikut terharu. Tak lama, beberapa orang ikut masuk ke dalam. Diam-diam mereka menguping pembicaraan orang-orang dalam kamar itu.


Mereka mendekati Nandra dan meminta padanya agar bersabar serta kuat dalam menjalani hidup. Nandra mengangguk berterima kasih.


Siang itu, di halaman belakang mansion kediaman Axton. Peti jenazah Axton dibaringkan di sebelah makam sang Ibu, berjejer dengan kuburan kakek dan ayahnya.


Proses pemakaman berjalan hikmat meski Vesper, Amanda, Kai, Lysa, Torin, Sandara, Jordan dan tim mereka tak datang.


Orang-orang itu berkunjung ke Italia untuk menyiapkan Persidangan Raja Khrisna di mana Rohan ikut dibawa dan kini mendekam di penjara Markas Dewan Sekretariat 13 Demon Heads.

__ADS_1


__ADS_2